Draft Enigmaze - Chapter 2 (begin) - Brownies
"Jadi sebenarnya mereka itu siapa, Prof?"
"Mereka adalah organisasi misterius yang sedang aku, mendiang ayahmu dan seorang temannya lagi yang bernama Phiocus Ramanez selidiki. Kami berusaha mencari tahu seluk beluk organisasi tersebut. Bahkan Phiocus sampai melibatkan dirinya untuk masuk ke dalam organisasi tersebut. Mungkin ayahmu berpesan bahwa kau harus bertemu Phiocus, namun sayang dia juga meninggal."
"..."
Aku kembali terdiam. Kemarin psikopat, sekarang organisasi yang tidak jelas, entah besok apa yang harus aku hadapi. Mungkin alien yang akan menginvasi bumikah?
Aku menghela nafas.
"Kalikur, aku kemarin iseng membuat sepatu roda yang menggunakan mesin yang memungkinkan penggunanya berlari sampai kecepatan 40km/jam. Hati-hati menggunakannya."
"Sial, aku jadi kelinci percobaan ni?"
....................................
Seminggu setelah kejadian itu, aku semakin akrab dengan Z. Kami saling berkomunikasi satu sama lain dan membahas tentang organisasi aneh itu sambil terkadang bercanda. Aku heran, mengapa organisasi itu memakai warna emas sebagai kebanggaannya, namun anehnya, hal itu tak terlihat mencolok, dan tidak pernah ada berita yang memuat, seorang om-om atau tante-tante aneh berpakaian emas terlihat mengitari kota. Yah, aku tak tahu cara kerja mereka, dan sekarang adalah waktunya mencari tahu.
Z berasumsi bahwa emas mungkin merupakan lambang dari kemuliaan bagi para anggotanya. Anggota organisasi itu adalah orang-orang "mulia" sehingga untuk mencari jejaknya saja susah. Apapun itu, saat ini aku mencari refreshing agar tak terlalu gila menangani kasus yang entah bisa disebut kasus ataupun tidak.
.....................................
Ting-Tong
Avena membuka pintu rumahnya. Di depan rumahnya aku dengan wajah yang apa adanya menyambut dengan senyum.
"Likur, tumben kamu kesini, sini-sini masuk, silahkan duduk."
Aku pun masuk "Ya, iseng aja main."
"Beneran? Bentar ya, kebetulan aku lagi buat brownies bareng sama ibu."
"Iya-iya. Jadi laper nih."
"Bisa aja kamu," ucapnya sambil berlalu menuju dalam rumahnya.
Setelah beberapa saat, bronis pun terhidang di depanku. Baunya harum, membangkitkan selera untuk makan.
"Maaf ya kalau tidak enak, sebenarnya aku sendiri yang buat. Ibu hanya memberitahu langkah-langkahnya."
"Ooh. Jadi ingat waktu kamu ngasih aku bekal. Kata-katamu sama. 'maaf ya kalau tidak enak' tapi nyatanya enak" ucapku sambil mengiris brownies.
"Iya, aku kan sedang belajar masak. Jadi maklum kalau ada yang kurang." ucapnya sambil tersenyum.
Aku menicipi bronis tersebut. "Enak kok, kamu memang berbakat. Buat makanan apa aja enak."
"Haha, bisa aja. Kamu kesini mau apa sebenarnya? Jujur?" tanyanya
"Kalo lagi ngga sibuk, temenin aku jalan-jalan ke toko buku."
"Mau beli buku?"
"Ya, kalau ada yang cocok beli."
"Yaudah, kamu tunggu bentar ya, mau ganti baju sama ijin ke ibu dulu." katanya sambil segera kembali ke dalam rumahnya.
...............................
Aku berjalan kaki bersama Vena. Vena sendiri tak merasa keberatan. Jalan kaki kan lebih sehat, begitulah alasan yang tidak bisa dipertangungjawabkan sebenarnya.
Ketika melewati sebuah komplek, tiba-tiba ada kerumunan orang. Naluriku bangkit, segera ku berlari dan membuat Vena kaget karena tiba-tiba berlari.
"Apa-apaan si? tiba-tiba lari tidak bilang-bilang dulu." keluhnya
"Maaf, itu ada kerumunan orang. mencurigakan. jangan-jangan ada sesuatu."
Ketika mendekat aku bertanya kepada salah seorang.
"Pak Demang, meninggal dunia dengan luka tusukan yang mengenai jantungnya."
Draft Enigmaze - Chapter 1 (end) - Temung Nyudhing Hurthonyergo
"Profesor, apakah anda dulu lahir di Jogja?" kataku.
"Ya benar"
"Kakaka, kalo begitu misteri ini sudah tak lagi menjadi misteri"
"Maksudmu? kau sudah mengetahui arti pesan ini?"
"Kuncinya sederhana. Orang jawa memiliki sandi yang unik. Sandi yang menukar bait pertama aksara jawa dengan bait yang ketiga, sementara yang kedua menajdi yang keempat. Itulah mengapa DAGANYU slogannya adalah MATAKU."
Z yang melihat Professor FAQ kebingungan mungkin di dalam hatinya meragukan apakah orang ini benar-benar Professor. Dia segera menambahkan ucapanku.
" Ha Na Ca Ra Ka disusun menjadi Pa Dha Ja Ya Nya
Da Ta Sa Wa LA disusun Ma Ga Ba Tha Nga
Jadi Temung Nyudhing Huythonyergo adalah Gedung Kuning Purwokerto"
"Wah, anak muda memang semangat ya. Dulu waktu aku seumuran kalian, pasti juga bisa menebak kode ini."
Aku dan Z hanya tersenyum sinis, tak percaya dengan perkataan beliau.
"Kalo begitu, ayo kita segera menuju ke Gedung Kuning itu, siapa tahu kita menemukan petunjuk tentang kematian ayahmu."
Hatiku berdebar, apakah aku akan berhasil mengungkap kasus 3 bulan yang lalu. Ataukah aku terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan bahwa aku mulai mendekati kebanaran 3 bulan yang lalu.
Dengan mobilnya, Professor segera meningalkan kota Sangilta menuju ke Purwokerto. Gedung Kuning terletak di bagian barat kota tersebut. Tempatnya tak terlalu ramai, cocok sebagai gedung rahasia, pikirku. Gedung Kuning mulai terlihat. 5 menit lagi mobil akan sampai.
:::::::
BOOOOOOMMMM!!!!!!
:::::::
Tak disangka, gedung itu meledak.
Aku sangat terpukul dibuatnya. Harapan mendekati kebenaran kasus 3 bulan yang lalu pupus begitu saja. Hatiku semakin kalut, dan merasa tak berguna. Aku merasa gagal dua kali. Namun, Professor FAQ berusaha untuk menenangkanku.
"Semua ada waktunya, Likur, kita baru memulai, lawan kita bukanlah lawan yang sembarangan. Mereka terorganisir dan bergerak dengan rapi, nyaris tanpa celah, namun suatu saat kita pasti bisa mengikuti gerakan tersebut dan mengungkap semua ini."
"Terimakasih Prof, aku akan berusaha bangkit dari rasa terpuruk ini."
:::::::::::
Seminggu setelah ini, aku masih saja terpikir dengan dua kejadian yang sedikit tak termaafkan. Kaburnya Palupi dan meledaknya Gedung Kuning itu. Namun, dukungan yang diberikan Avena membuatku malu untuk terus menerus bersedih. Aku mulai menjalani hidup dengan normal.
:::::::::::
Ketika aku sedang berjalan-jalan di dekat indomarket, aku tak sengaja menangkap pembicaraan orang yang mengenakan baju warna kuning-keemasan. Dengan lammbang seperti bunga matahari di lengan kanannya.
"Bos kita memang aneh, mengapa kita menunggu hingga kemarin untuk meledakkan Gedung Kuning itu."
"Bukankah Phiocus sudah dieksekusi tiga bulan yang lalu?"
"Dasar bodoh kau. Kita menunggu tiga bulan karena mengambil informasi dan menghapus jejak di gedung itu terlebih dahulu. Banyak peninggalan Phioucus yang membahayakan organisasi kita."
::::::::::::
Aku tak mengikuti mereka lagi. Aku ingat pesan Avena. aku tak boleh gegabah, aku belum tahu siapa yang aku hadapi saat ini. Aku aktifkan jam tangan pemberian Professor FAQ yang memungkinkan untuk saling terhubung dan bisa berkomunikasi asalkan dalam jarak 50km.
"Prof, sepertinya kita harus bertemu."
"Ada apa?"
"Kujelaskan nanti, Kutunggu di rumah kakekku."
Continued Soon...
Draft Enigmaze - Chapter 1 (begin) - Hospitalized
Aku
masih membayangkan peristiwa saat itu. Disaat rasa sakit yang mendalam
karena tak berhasil menangkap pelaku, tiba-tiba aku melihat sesosok
bayangan mendekatiku. Pandanganku yang sedikit samar, melihat orang
tersebut membawa pisau. Aku langsung terbayang kepada peristiwa saat
itu. Apa mereka tak puas sebelum aku mati, mencariku hingga ke rumah
sakit yang aku saja belum tahu rumah sakit mana. Namun jika sedikit
menebak, ini pasti Black Hospital yang merupakan RSUD di kota Sangilta.
"Sial, aku tak mungkin untuk berlari, aku tak tahu bagaimana cara keluar dari sini,", gumamku dalam hati.
"Jika aku berteriak, walaupun ada yang datang, bisa saja dibunuh oleh psikopat ini, jadi aku mengorbankan nyawa orang lain yang seharusnya tak terlibat. Wahai Yang Maha Kuasa, ampuni dosa-dosaku selama ini."
Orang tersebut samakin mendekat...
....
....
....
....
"Likur, kamu sudah sadar?'
"Sial, kau Z, kukira kaulah psikopat yang tak puas sebelum memastikanku mati."
"Tega sekali kau menyamakanku dengan orang jahat?"
"Bagaimana aku tak mengiramu sebagai pembunuh, pisau di tanganmu itu, untuk apa coba?"
"Ah, iya. Aku sedang mengupas buah apel. tiba-tiba melihat kau mulai sedikit bergerak, dan aku mendekatimu."
...
Aku mulai sedikit tenang. Ternyata lukaku tak separah yang kuduga. Aku sudah bisa unuk duduk. Memakan apel yang tadi diiris oleh Z.
"Bagaimana bisa aku disini? Siapa yang membawaku?"
"Aku pertama kali menemukanmu tergeletak di dekat jalan. Kemudian warga datang. Kau diantar dengan mobil ambulans rumah sakit ini setelah aku menelponnya."
"Terima kasih Z. Berapa lama aku disini?"
"Sudah dua hari kau tak sadarkan diri disini. Oh, ya. Kau mendapatkan ucapan terimakasih oleh Pak Pardi, karena setelah pengungkapan kasus itu, hubungan Pak Pardi dengan tetangganya menjadi baik kembali. Sebelumnya hampir seluruh desa menganggapnya sebagai pelaku dan warga ketakutan bahwa suau hari bisa saja Pak Pardi melampiaskan kepada siapa saja karena dulunya Pak Pardi juga mantan preman pada saat dia muda."
"Oh, begitu. Pantas sepertinya warga menjaga jarak dengan Pak Pardi."
"Z, tahukah kau bahwa Palupi memiliki teman lain. Dia seorang perempuan. Aku menggambar simbol venus saat aku hampir tak sadarkan diri. Siapa tahu aku meninggal dan kau melanjutkan penyelidikanku terhadap kematian ayahku ditambah dengan misteri kematianku."
"Ah, jadi gambar yang tidak jelas itu maksudnya itu? Kau menggambar dengan sangat buruk. Walaupun aku tahu kau tak bisa menggambar, paling tidak gambar kode secara jelas."
"Yah, maaf ya. Aku memang tak bisa menggambar. Ayahku juga begitu, bahkan kakekku pun juga tak bisa menggambar. Hahaha. Bagaimana Nasib Palupi?"
"Setelah polisi melakukan penyidikan, ternyata dia menggunakan dokumen palsu dan di Universitasnya tak ada yang mengenal Palupi."
"Sial, berarti dia memang orang yang berbahaya"
Setelah berbicara panjang lebar. Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang terdengar seperti terburu-buru. Aku memasang telinga baik-baik. Suara tersebut berhenti di depan kamarku.
...
...
...
Ternyata, Vena, temanku menjengukku.
*PLAKK
Tamparannya mengenai tepat di pipi kananku yang tak sempat menghindar.
"Bodoh"
"Jangan libatkan dirimu dalam bahaya."
"Bagaimana seandainya Z tak dapat mengejarmu?"
"Maaf. Vena, aku tak bisa diam melihat kejahatan terlintas di depanku. Seperti mengerjakan soal matematika, kita harus tahu caranya, tak bisa langsung menjawabnya begitu saja, walaupun benar. Walau kita tahu siapa pelakunya, semua tiada artinya jika tak menangkapnya."
Kulihat Vena mengusap sedikit air matanya. Kurasa, baru pertama kali aku melihatnya menangis.
Hatiku juga merasa tidak nyaman melihatnya menangis. Apalagi dia menangis karena aku yang ceroboh, tak memikirkan pelaku memiliki teman atau membawa senjata.
Z, hanya bisa diam termenung. Dia tak tahu harus memihak siapa. Apalagi watak asli Z (pendiam) selalu muncul jika ada orang selain aku,
"Aku tak suka melihatmu menangis, seperti bukan dirimu sjaa yang selalu ceria. Vena, tersenyumlah. Aku tak terluka parah kok."
Vena pun tersenyum. Entah terpaksa, ataukah memang dia telah tenang.
Sheilavena Amaryllis - Vena
....
....
....
Hari ini, sekolahku libur. Aku dan Z pun menggunakan waktu ini untuk berdiskusi tentang kemungkinan adanya kelompok yang beranggotakan para psikopat yang kemarin menyerangku. Kami menamainya "X" karena, dalam matematika, sesuatu yang tidak diketahui dilambangkan dengan X.
Ketika sedang berdiskusi di rumah kakekku. Terdengar klakson mobil. Mobil Putih terlihat di depan rumah. Seorang separuh baya dengan kumis dan jenggot yang panjang dan sangat kontras dengan rambutnya mengucap salam. Aku menjawabnya dan mempersilahkan masuk.
"Kalikur, kan? Aku Fajar Aulia Qomar, atau bisa dipanggil Professor Faq. Aku teman dari ayahmu. Aku tak menyangka kau sudah sebesar ini sekarang. Kau mirip juga dengan ayahmu."
Aku gugup mendapati ucapannya yang tiba-tiba menyebut kata 'ayah'. Aku, ingat. Beliau adalah teman ayahku, seorang profesor yang hebat kata ayahku.Beliau lahir di Jogja, namun dibesarkan di Sangilta. Beliau merupakan teman dekat ayahku dan aku sering melihatnya bersama ayahku. Aku sebenarnya heran, bagaimana bisa polisi berhubungan dengan profesor. Namun itulah persahabatan ayahku.
Fajar Aulia Qomar - Prof.FAQ
...
...
...
"Likur, sebenarnya ada titipan dari ayahmu. Ini adalah sebuah kode yang dia tulis dengan bahasa yang aneh. Dia hanya berpesan "Jika kau ingin memecahkannya, ingatlah tempat pertamamu di dunia"
Aku melihatnya, sebuah tulisan dengan aksara jawa, namun terbaca aneh.
"te mu ng nyu dhi ng hu r tho nye r go"
....
To Be Continued ...
"Sial, aku tak mungkin untuk berlari, aku tak tahu bagaimana cara keluar dari sini,", gumamku dalam hati.
"Jika aku berteriak, walaupun ada yang datang, bisa saja dibunuh oleh psikopat ini, jadi aku mengorbankan nyawa orang lain yang seharusnya tak terlibat. Wahai Yang Maha Kuasa, ampuni dosa-dosaku selama ini."
Orang tersebut samakin mendekat...
....
....
....
....
"Likur, kamu sudah sadar?'
"Sial, kau Z, kukira kaulah psikopat yang tak puas sebelum memastikanku mati."
"Tega sekali kau menyamakanku dengan orang jahat?"
"Bagaimana aku tak mengiramu sebagai pembunuh, pisau di tanganmu itu, untuk apa coba?"
"Ah, iya. Aku sedang mengupas buah apel. tiba-tiba melihat kau mulai sedikit bergerak, dan aku mendekatimu."
...
Aku mulai sedikit tenang. Ternyata lukaku tak separah yang kuduga. Aku sudah bisa unuk duduk. Memakan apel yang tadi diiris oleh Z.
"Bagaimana bisa aku disini? Siapa yang membawaku?"
"Aku pertama kali menemukanmu tergeletak di dekat jalan. Kemudian warga datang. Kau diantar dengan mobil ambulans rumah sakit ini setelah aku menelponnya."
"Terima kasih Z. Berapa lama aku disini?"
"Sudah dua hari kau tak sadarkan diri disini. Oh, ya. Kau mendapatkan ucapan terimakasih oleh Pak Pardi, karena setelah pengungkapan kasus itu, hubungan Pak Pardi dengan tetangganya menjadi baik kembali. Sebelumnya hampir seluruh desa menganggapnya sebagai pelaku dan warga ketakutan bahwa suau hari bisa saja Pak Pardi melampiaskan kepada siapa saja karena dulunya Pak Pardi juga mantan preman pada saat dia muda."
"Oh, begitu. Pantas sepertinya warga menjaga jarak dengan Pak Pardi."
"Z, tahukah kau bahwa Palupi memiliki teman lain. Dia seorang perempuan. Aku menggambar simbol venus saat aku hampir tak sadarkan diri. Siapa tahu aku meninggal dan kau melanjutkan penyelidikanku terhadap kematian ayahku ditambah dengan misteri kematianku."
"Ah, jadi gambar yang tidak jelas itu maksudnya itu? Kau menggambar dengan sangat buruk. Walaupun aku tahu kau tak bisa menggambar, paling tidak gambar kode secara jelas."
"Yah, maaf ya. Aku memang tak bisa menggambar. Ayahku juga begitu, bahkan kakekku pun juga tak bisa menggambar. Hahaha. Bagaimana Nasib Palupi?"
"Setelah polisi melakukan penyidikan, ternyata dia menggunakan dokumen palsu dan di Universitasnya tak ada yang mengenal Palupi."
"Sial, berarti dia memang orang yang berbahaya"
Setelah berbicara panjang lebar. Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang terdengar seperti terburu-buru. Aku memasang telinga baik-baik. Suara tersebut berhenti di depan kamarku.
...
...
...
Ternyata, Vena, temanku menjengukku.
*PLAKK
Tamparannya mengenai tepat di pipi kananku yang tak sempat menghindar.
"Bodoh"
"Jangan libatkan dirimu dalam bahaya."
"Bagaimana seandainya Z tak dapat mengejarmu?"
"Maaf. Vena, aku tak bisa diam melihat kejahatan terlintas di depanku. Seperti mengerjakan soal matematika, kita harus tahu caranya, tak bisa langsung menjawabnya begitu saja, walaupun benar. Walau kita tahu siapa pelakunya, semua tiada artinya jika tak menangkapnya."
Kulihat Vena mengusap sedikit air matanya. Kurasa, baru pertama kali aku melihatnya menangis.
Hatiku juga merasa tidak nyaman melihatnya menangis. Apalagi dia menangis karena aku yang ceroboh, tak memikirkan pelaku memiliki teman atau membawa senjata.
Z, hanya bisa diam termenung. Dia tak tahu harus memihak siapa. Apalagi watak asli Z (pendiam) selalu muncul jika ada orang selain aku,
"Aku tak suka melihatmu menangis, seperti bukan dirimu sjaa yang selalu ceria. Vena, tersenyumlah. Aku tak terluka parah kok."
Vena pun tersenyum. Entah terpaksa, ataukah memang dia telah tenang.
Sheilavena Amaryllis - Vena
....
....
....
Hari ini, sekolahku libur. Aku dan Z pun menggunakan waktu ini untuk berdiskusi tentang kemungkinan adanya kelompok yang beranggotakan para psikopat yang kemarin menyerangku. Kami menamainya "X" karena, dalam matematika, sesuatu yang tidak diketahui dilambangkan dengan X.
Ketika sedang berdiskusi di rumah kakekku. Terdengar klakson mobil. Mobil Putih terlihat di depan rumah. Seorang separuh baya dengan kumis dan jenggot yang panjang dan sangat kontras dengan rambutnya mengucap salam. Aku menjawabnya dan mempersilahkan masuk.
"Kalikur, kan? Aku Fajar Aulia Qomar, atau bisa dipanggil Professor Faq. Aku teman dari ayahmu. Aku tak menyangka kau sudah sebesar ini sekarang. Kau mirip juga dengan ayahmu."
Aku gugup mendapati ucapannya yang tiba-tiba menyebut kata 'ayah'. Aku, ingat. Beliau adalah teman ayahku, seorang profesor yang hebat kata ayahku.Beliau lahir di Jogja, namun dibesarkan di Sangilta. Beliau merupakan teman dekat ayahku dan aku sering melihatnya bersama ayahku. Aku sebenarnya heran, bagaimana bisa polisi berhubungan dengan profesor. Namun itulah persahabatan ayahku.
Fajar Aulia Qomar - Prof.FAQ...
...
...
"Likur, sebenarnya ada titipan dari ayahmu. Ini adalah sebuah kode yang dia tulis dengan bahasa yang aneh. Dia hanya berpesan "Jika kau ingin memecahkannya, ingatlah tempat pertamamu di dunia"
Aku melihatnya, sebuah tulisan dengan aksara jawa, namun terbaca aneh.
"te mu ng nyu dhi ng hu r tho nye r go"
....
To Be Continued ...
Draft Enigmaze - Chapter 0 part 3 - Psy-Goat-Path
Kami pun menyampaikan kesimpulan kepada kepala desa, dan akhirnya kami dipertemukan dengan keempat tersangka tersebut.
"Kasus ini memang menarik, dan entah mengapa jawaban dari kasus ini berbeda dengan apa yang kami simpulkan pada awal mengetahui kasus ini. Semua teka-teki ini telah dipecahkan. Dan misteri ini sudah tak lagi menjadi misteri." ucapku yakin.
"Pak Pardi, jelas andalah yang paling bisa melakukan hal tersebut dengan mudah."
Semua tegang, dan aku langsung melanjutkan pembicaraanku yang belum sampai akarnya.
"Namun, itu hanyalah dugaan sebelum semuanya terkuak."
"Kambing-kambing itu telah menuntun kami untuk menemukan siapa pelaku sebenarnya."
"Dan Pak Pardi pun takkan tega membunuh kambing yang dulu dia anggap sebagai keluarganya sendiri."
"Pertama, Keterangan dari anak-anak adalah benar adanya. Sepatu dari keempat tersangka ini sedikit kotor jika dibandingkan dengan warga lain, karena hutan itu sedikit basah. Kedua, setelah kami meneliti, ternyata pelaku meninggalkan sedikit jejak berupa lambang burung hantu. Yang memang tak begitu tampak diantara darah kambing tersebut.Palupi, bolehkah aku pinjam tasmu?"
"Baik"
Kukeluarkan sebuah pengaris dari tas tersebut.
"Dan lambang itu adalah "OWL RULER". Penggaris yang terbuat dari bahan yang cukup tajam. dengan mengasahnya sedikit, pengaris itu sudah bisa menjadi pedang."
"Untuk membuktikannya, aku yang kebetulan membawa alat dari ayahku, tabung untuk melakukan reaksi luminol, akan membuktikan bahwa apakah kau bersalah atau tidak, Palupi."
Ku semprotkan tabung tersebut pada penggaris yang terlihat bersih tersebut. Muncul cahaya biru yang mengindikasikan adanya darah yang bereaksi dengan luminol.
Palupi yang merasa terdesak tiba-tiba keluar kabur dari ruangan tersebut. Dia berlari dengan cepatnya. Namun Aku tak tinggal diam. Aku pun turut mengejar Palupi. Palupi melewati hutan dan Aku terus mengejarnya. Semakin lama, Palupi yang mencapai ujung hutan, namun aku tetap mengejarnya. Di dekat jalan besar setelah melewati hutan, Aku berhasil menubruknya. Namun, begitu aku berhasil membekuknya, tusukan pisau tertuju pada punggungku. Aku pun mulai kehilangan kesadaran. Dalam sadar dan tidak, aku mendengar percakapan mereka.
"Bodoh sekali, bagaimana jika aku tak ada disini."
"Maaf boss, aku tak menyangka aku bakal ketahuan oleh cecunguk seperti dia, padahal mukanya terlihat bodoh."
"Sudah, ayo kita pergi sebelum ada orang yang melihat."
Di sisa tenagaku yang terakhir, ku mencoba tuk menengok ke belakang. Dan ternyata, teman dari Palupi tersebut adalah seorang perempuan berambut panjang dengan senyum yang dingin.
............
Itulah yang menyebabkan aku berada disini, di rumah sakit yang serba putih ini.
....
Continued...???
Draft Enigmaze - Chapter 0 part 2 - Psy-Goat-Path
Kambing yang hilang, lalu kepala kambing pun sudah hilang saat
ditemukan warga. Kasus yang aneh.Begitu pikirku. Ada tiga tersangka.
Bukan, empat. Pak Aji adalah orang pertama yang menuju ke tempat
kejadian setelah diberi tahu oleh anak kecil tersebut. Pak Aji yang
merupakan pemilik kambing bisa saja menjadi pelaku. Namun apa motifnya.
Kakek Hadi memeliki hubungan yang buruk bisa saja dendam dan melampiaskan kepada kambing. Pak Pardi juga memiliki motif kepada Pak Aji. Sedangkan Palupi, seorang mahasiswa, apa yang dilakukannya di hutan itu?
Setelah menanyai mereka berempat aku mendapat keterangan sebagai berikut :
- Kakek Hadi : Seperti biasa, beliau mengunjungi makam anaknya yang meninggal setahun lalu. Kakek Hadi mengetahui bahwa penabrak adalah Pak Aji. Namun Kakek Hadi tak bisa berbuat apa-apa karena percuma melawan orang kaya.
- Pak Pardi : Beliau mencari kayu bakar untuk dijual lagi. Beliau berkata bahwa Pak Aji telah merampas hidupnya. Beliau merasa dibohongi oleh Pak Aji. Pak Aji membeli semua kambing dengan seperempat harga setelah meyakinkan penduduk bahwa kambing itu telah terkontaminasi penyakit. Pak Aji kemudian mendapat untung besar dengan menjualnya lagi. Pak Pardi yang tidak begitu mengerti tentang penyakit pun percaya saja dengan Pak Aji.
- Palupi : Dia berkata bahwa ada objek penelitian di hutan untuk tugas kuliahnya. Jawaban yang sangat singkat. Dan kami juga tak bisa bertanya lebih jauh lagi karena dia yang paling tidak ada hubungan apapun dengan korban.
- Pak Aji : Setelah mendengar informasi dari anak kecil, beliau segera menuju hutan dan mendapati kambingnya telah tewas. Beliau membantah tuduhan Pak Pardi dan tidak tahu menahu tentang kematian putra dari Kakek Hadi.
Setelah itu Aku dan Z terus berpikir tentang siapa dan apa motifnya. Keempat orang tersebut masih memeliki persentase yang sama sebagai pelaku. Kasus yang tidak biasa ini bahkan tak mampu membuat polisi datang. Polisi paling-paling menganggap ini sebagai kasus yang biasa saja dan tidak membutuhkan bantuan polisi,
Aku dan Z, akhirnya mencoba menuju ke tempat kejadian. Di tempat itu, kami lihat bahwa ada sesuatu yang menarik. Di sebelah kambing yang sudah tak bernyawa itu, ada sebuah gambar aneh yang terukir dalam tanah. Kami pun segera mencari tahu dimana tempat kambing yang sebelumnya ditemukan. Dugaan kami tidak sepenuhnya salah. Ada gambar aneh, seperti gabar burung hantu. Aku sedikit bercanda bahwa sang kambinglah yang menulis pesan kematian ini.
Kami kembali ke tempat kejadian tadi siang. Kambing itu terlihat tidak mengenakkan. Tanpa kepala. Z melihat bekas tebasan di leher kambing, dan berpikir bahwa senjata yang digunakan bukan pisau biasa, dan juga bukan gergaji ataupun parang/gobed. Sisa tebasannya yang terlihat seperti hanya ditebas sekali membuat kami berpikir bahwa pelaku menggunakan pedang.
Namun, kepala desa meyakinkan bahwa tidak ada penduduk yang mempunyai pedang. Keempat orang tersangka pun digeledah dan memang tak terdapat pedang. Setelah berpikir, akhirnya Aku mengerti pedang yang digunakan pelaku untuk melancarkan aksinya. Pelaku adalah orang yang berusaha untuk membohongi kami. Dan aku yakin bahwa dia adalah seorang psikopat yang memiliki masa lalu yang buruk dengan kambing.
To Be Continued...
Kakek Hadi memeliki hubungan yang buruk bisa saja dendam dan melampiaskan kepada kambing. Pak Pardi juga memiliki motif kepada Pak Aji. Sedangkan Palupi, seorang mahasiswa, apa yang dilakukannya di hutan itu?
Setelah menanyai mereka berempat aku mendapat keterangan sebagai berikut :
- Kakek Hadi : Seperti biasa, beliau mengunjungi makam anaknya yang meninggal setahun lalu. Kakek Hadi mengetahui bahwa penabrak adalah Pak Aji. Namun Kakek Hadi tak bisa berbuat apa-apa karena percuma melawan orang kaya.
- Pak Pardi : Beliau mencari kayu bakar untuk dijual lagi. Beliau berkata bahwa Pak Aji telah merampas hidupnya. Beliau merasa dibohongi oleh Pak Aji. Pak Aji membeli semua kambing dengan seperempat harga setelah meyakinkan penduduk bahwa kambing itu telah terkontaminasi penyakit. Pak Aji kemudian mendapat untung besar dengan menjualnya lagi. Pak Pardi yang tidak begitu mengerti tentang penyakit pun percaya saja dengan Pak Aji.
- Palupi : Dia berkata bahwa ada objek penelitian di hutan untuk tugas kuliahnya. Jawaban yang sangat singkat. Dan kami juga tak bisa bertanya lebih jauh lagi karena dia yang paling tidak ada hubungan apapun dengan korban.
- Pak Aji : Setelah mendengar informasi dari anak kecil, beliau segera menuju hutan dan mendapati kambingnya telah tewas. Beliau membantah tuduhan Pak Pardi dan tidak tahu menahu tentang kematian putra dari Kakek Hadi.
Setelah itu Aku dan Z terus berpikir tentang siapa dan apa motifnya. Keempat orang tersebut masih memeliki persentase yang sama sebagai pelaku. Kasus yang tidak biasa ini bahkan tak mampu membuat polisi datang. Polisi paling-paling menganggap ini sebagai kasus yang biasa saja dan tidak membutuhkan bantuan polisi,
Aku dan Z, akhirnya mencoba menuju ke tempat kejadian. Di tempat itu, kami lihat bahwa ada sesuatu yang menarik. Di sebelah kambing yang sudah tak bernyawa itu, ada sebuah gambar aneh yang terukir dalam tanah. Kami pun segera mencari tahu dimana tempat kambing yang sebelumnya ditemukan. Dugaan kami tidak sepenuhnya salah. Ada gambar aneh, seperti gabar burung hantu. Aku sedikit bercanda bahwa sang kambinglah yang menulis pesan kematian ini.
Kami kembali ke tempat kejadian tadi siang. Kambing itu terlihat tidak mengenakkan. Tanpa kepala. Z melihat bekas tebasan di leher kambing, dan berpikir bahwa senjata yang digunakan bukan pisau biasa, dan juga bukan gergaji ataupun parang/gobed. Sisa tebasannya yang terlihat seperti hanya ditebas sekali membuat kami berpikir bahwa pelaku menggunakan pedang.
Namun, kepala desa meyakinkan bahwa tidak ada penduduk yang mempunyai pedang. Keempat orang tersangka pun digeledah dan memang tak terdapat pedang. Setelah berpikir, akhirnya Aku mengerti pedang yang digunakan pelaku untuk melancarkan aksinya. Pelaku adalah orang yang berusaha untuk membohongi kami. Dan aku yakin bahwa dia adalah seorang psikopat yang memiliki masa lalu yang buruk dengan kambing.
To Be Continued...
Draft Enigmaze - Chapter 0 part 1 - Psy-Goat-Path
Seperti biasa, aku berangkat sekolah. Jas berwarna hitam dengan aksen
putih (belakang jas terdapat gambar '21') peninggalan ayahku selalu ku
pakai ke sekolah. apalagi setelah kejadian beberapa bulan lalu. walaupun
sempat dilarang guru BK, aku tetap bersikeras agar dibolehkan memakai
jas itu ke sekolah. Ya, jas itulah yang bisa mengobati rasa kehilanganku
atas ayah yang selama ini menjadi sosok yang aku teladani.
Hari itu jam pelajaran terakhir adalah matematika. Guru yang mengajar memang sedikit tidak disukai anak-anak di kelasku. Selain karena mengajarnya cepat, beliau juga memiliki tulisan sandi rumput yang bahkan aak pramuka saja tak bisa membacanya. Beliau selalu berkata 'jika ada kesulitan, kami akan bantu menyelesaikan soalnya'. Aku sendiri heran, guru itu mengajar seorang diri tapi menyebut 'kami'. Jangan-jangan memang ada sesuatu disampingnya yang membuatnya bisa berpikir cepat. Ya, soal sudah selesai terjawb namun tangan beliau masih belum selesai menuliskan jawabannya. Beliau memang hebat. Seperti Manusia Setengah Dewa saja.
Bel pulang berdentang. Tugas meneliti air sungai (biologi) membuatku tak bisa pulang cepat hari ini. Tujuanku (bersama dengan Z) adalah Desa Karambing. Sebuah desa yang berjarak 2 km dari sekolah. Aku membonceng Z dengan motor yang selalu dipakainya untuk berangkat sekolah. Disepanjang perjalanan, panorama khas desa tampak menyegarkan mata yang sudah terkontaminasi oleh polusi kota.
10 menit berselang, kami pun tiba di desa tersebut. Akan Tetapi, ketika kami mau menuju balai desa untuk meminta ijin, kami mendapati hal yang tidak biasa. Banyak warga berkumpul di balai desa tersebut. Aku berpikir, apakah sedang terjadi pemilihan Kepala Desa. Z tersenyum dengan pemikiranku. Aku memang bercanda dan sialnya Z tahu bahwa aku sedang bercanda.
Setelah mencoba untuk masuk, kami baru tahu bahwa telah terjadi pembunuhan kambing berturut-turut sejak sebulan yang lalu. Setiap hari selasa, kambing milik orang terkaya di desa tersebut hilang, dan ditemukan di hutan dalam keadaan tak bernyawa. Kasus yang aneh sebenarnya, namun cukup membangkitkan rasa penasaranku dan membuatku ingin mengungkap kasus tersebut.
Dari keterangan kepala desa, ada beberapa anak kecil yang menyaksikan tiga orang keluar dari hutan. Yaitu, Kakek Hadi yang diketahui memiliki hubungan yang buruk dengan Pak Aji, orang terkaya di desa itu. Mahasiswa Universitas Purwokerto, Palupi. Dan seorang lagi Pak Pardi, orang yang dulu memiliki kambing-kambing dan menjadi orang terkaya sebelum Pak Aji sekarang.
To Be Continued ...
Hari itu jam pelajaran terakhir adalah matematika. Guru yang mengajar memang sedikit tidak disukai anak-anak di kelasku. Selain karena mengajarnya cepat, beliau juga memiliki tulisan sandi rumput yang bahkan aak pramuka saja tak bisa membacanya. Beliau selalu berkata 'jika ada kesulitan, kami akan bantu menyelesaikan soalnya'. Aku sendiri heran, guru itu mengajar seorang diri tapi menyebut 'kami'. Jangan-jangan memang ada sesuatu disampingnya yang membuatnya bisa berpikir cepat. Ya, soal sudah selesai terjawb namun tangan beliau masih belum selesai menuliskan jawabannya. Beliau memang hebat. Seperti Manusia Setengah Dewa saja.
Bel pulang berdentang. Tugas meneliti air sungai (biologi) membuatku tak bisa pulang cepat hari ini. Tujuanku (bersama dengan Z) adalah Desa Karambing. Sebuah desa yang berjarak 2 km dari sekolah. Aku membonceng Z dengan motor yang selalu dipakainya untuk berangkat sekolah. Disepanjang perjalanan, panorama khas desa tampak menyegarkan mata yang sudah terkontaminasi oleh polusi kota.
10 menit berselang, kami pun tiba di desa tersebut. Akan Tetapi, ketika kami mau menuju balai desa untuk meminta ijin, kami mendapati hal yang tidak biasa. Banyak warga berkumpul di balai desa tersebut. Aku berpikir, apakah sedang terjadi pemilihan Kepala Desa. Z tersenyum dengan pemikiranku. Aku memang bercanda dan sialnya Z tahu bahwa aku sedang bercanda.
Setelah mencoba untuk masuk, kami baru tahu bahwa telah terjadi pembunuhan kambing berturut-turut sejak sebulan yang lalu. Setiap hari selasa, kambing milik orang terkaya di desa tersebut hilang, dan ditemukan di hutan dalam keadaan tak bernyawa. Kasus yang aneh sebenarnya, namun cukup membangkitkan rasa penasaranku dan membuatku ingin mengungkap kasus tersebut.
Dari keterangan kepala desa, ada beberapa anak kecil yang menyaksikan tiga orang keluar dari hutan. Yaitu, Kakek Hadi yang diketahui memiliki hubungan yang buruk dengan Pak Aji, orang terkaya di desa itu. Mahasiswa Universitas Purwokerto, Palupi. Dan seorang lagi Pak Pardi, orang yang dulu memiliki kambing-kambing dan menjadi orang terkaya sebelum Pak Aji sekarang.
To Be Continued ...
Draft Enigmaze Chapter Negative 1 - Dawn To Detective
Jenjet...
Mataku terbuka, dan mendapati diriku terbaring di suatu tempat yang berbeda dari sebelumnya. Semua serba putih. Terakhir kali ku ingat bahwa aku tertusuk pisau dari belakang oleh seseorang yang aku rasa adalah seorang perempuan dengan parfum berbau bunga mawar. Saat itu aku sedang mengejar pelaku pembunuhan misterius di desa Karambing.
Aku adalah seorang anak polisi yang saat ini hidup bersama kakek di desa Sangilta. Ibuku adalah seorang Dosen yang sekarang tinggal di luar negeri. Saat ini ayahku sudah tiada. 3 bulan yang lalu, aku melihat nama dan foto beliau terpampang jelas di televisi dan koran dengan headline 'Kepala Polisi Sangilta Meninggal". Beliau ditemukan meninggal di sebuah gedung kosong. Kejadian inilah yang membuatku ingin menjadi detektif karena ingin mengungkap kasus yang membuat ayahku meninggal.
Flash back ke seminggu sebelum aku berada di tempat yang nantinya aku sadari adalah rumah sakit.
Seperti biasa aku terbangun di pagi yang biasa saja. kulihat jam dinding tua di kamar menunjukkan pukul 6 pagi. Pikiran kosong saat bangun tidur membuatku terdiam beberapa saat dan akhirnya berteriak.
"Ha??? Udah jam setengah tujuh, sial, ini hari pertama masuk sekolah pula."
Segera ku beranjak dari tempat tidur dan mandi sekenanya dan tak sempat menyantap sarapan pagi itu. Segera ku berlari menuju sekolah yang berjarak enam ratus meter dari rumah kakekku.Saat tiba di sekolah, aku terkejut melihat banyak bangku kosong di kelasku. Kukira aku salah masuk kelas, namun pandanganku yang terarah pada dinding belakang menjawab semua.
"Sial, jam di kamarku kan memang sudah lama mati. Jebakan psikologis."
Setelah itu akupun dengan tenangnya menuju bangku dan merebahkan tubuh dengan malas.
Selang beberapa saat, bel berdentang masuk. Pak Nurdin segera memasuki kelas dan mengabarkan bahwa kelasku XI IPA 1, kedatangan murid baru. Murid itu bernama Z. Perkenalan berlangsung singkat. Z hanya mengucapkan salam seraya memperkenalkan namanya dan langsung diakhiri dengan 'terima kasih'. Sorot matanya yang aneh membuatku tertarik untukk berteman dengannya. Kurasa Z sebenarnya adalah orang yang baik. Z duduk di sebelahku karena memang hanya itulah tempat duduk yang tersisa.
Hubungan yang awalnya beku, lama kelamaan berujung pada persahabatan yang hangat. Entah sejak kapan akhirnya kami bisa akrab. Z mulai bisa menerimaku sebagai sahabat, bahkan Z ingin membantuku menyelesaikan kasus kematian ayahku suatu hari nanti.
Suatu ketika kami mendapatkan tugas biologi. Tugas inilah yang mengantarkanku berhadapan dengan kasus pertamaku dan juga Z tentunya. Kasus ini tidak lazim sebenarnya. Kasus itu kami namai 'Psikambing'
To Be Continued...
Mataku terbuka, dan mendapati diriku terbaring di suatu tempat yang berbeda dari sebelumnya. Semua serba putih. Terakhir kali ku ingat bahwa aku tertusuk pisau dari belakang oleh seseorang yang aku rasa adalah seorang perempuan dengan parfum berbau bunga mawar. Saat itu aku sedang mengejar pelaku pembunuhan misterius di desa Karambing.
Aku adalah seorang anak polisi yang saat ini hidup bersama kakek di desa Sangilta. Ibuku adalah seorang Dosen yang sekarang tinggal di luar negeri. Saat ini ayahku sudah tiada. 3 bulan yang lalu, aku melihat nama dan foto beliau terpampang jelas di televisi dan koran dengan headline 'Kepala Polisi Sangilta Meninggal". Beliau ditemukan meninggal di sebuah gedung kosong. Kejadian inilah yang membuatku ingin menjadi detektif karena ingin mengungkap kasus yang membuat ayahku meninggal.
Flash back ke seminggu sebelum aku berada di tempat yang nantinya aku sadari adalah rumah sakit.
Seperti biasa aku terbangun di pagi yang biasa saja. kulihat jam dinding tua di kamar menunjukkan pukul 6 pagi. Pikiran kosong saat bangun tidur membuatku terdiam beberapa saat dan akhirnya berteriak.
"Ha??? Udah jam setengah tujuh, sial, ini hari pertama masuk sekolah pula."
Segera ku beranjak dari tempat tidur dan mandi sekenanya dan tak sempat menyantap sarapan pagi itu. Segera ku berlari menuju sekolah yang berjarak enam ratus meter dari rumah kakekku.Saat tiba di sekolah, aku terkejut melihat banyak bangku kosong di kelasku. Kukira aku salah masuk kelas, namun pandanganku yang terarah pada dinding belakang menjawab semua.
"Sial, jam di kamarku kan memang sudah lama mati. Jebakan psikologis."
Setelah itu akupun dengan tenangnya menuju bangku dan merebahkan tubuh dengan malas.
Selang beberapa saat, bel berdentang masuk. Pak Nurdin segera memasuki kelas dan mengabarkan bahwa kelasku XI IPA 1, kedatangan murid baru. Murid itu bernama Z. Perkenalan berlangsung singkat. Z hanya mengucapkan salam seraya memperkenalkan namanya dan langsung diakhiri dengan 'terima kasih'. Sorot matanya yang aneh membuatku tertarik untukk berteman dengannya. Kurasa Z sebenarnya adalah orang yang baik. Z duduk di sebelahku karena memang hanya itulah tempat duduk yang tersisa.
Hubungan yang awalnya beku, lama kelamaan berujung pada persahabatan yang hangat. Entah sejak kapan akhirnya kami bisa akrab. Z mulai bisa menerimaku sebagai sahabat, bahkan Z ingin membantuku menyelesaikan kasus kematian ayahku suatu hari nanti.
Suatu ketika kami mendapatkan tugas biologi. Tugas inilah yang mengantarkanku berhadapan dengan kasus pertamaku dan juga Z tentunya. Kasus ini tidak lazim sebenarnya. Kasus itu kami namai 'Psikambing'
To Be Continued...
Cerpen Bahasa Indonesia
(cerita ini hanyalah fiksi
belaka, jika ada kesamaan tokoh dan karakter mungkin juga sengaja atau
tidak sengaja, peluang = 50:50)
☼ MATAHARI ☼
Akhir pekan di Bulan November. Tak seperti biasanya, aku kembali ke Purbalingga. Entah angin apa yang membawaku, namun langkahku jelas menuju ke taman kota. Aku memilih duduk di sebuah kursi yang ditemani meja bundar serta payung menjulang keatas. Termangu kududuk, sampai kuingat sesuatu.
Masih tergambar di benakku memori dua tahun silam. Vena, teman sekelasku di SMA Gajah Duduk, dengan malu-malu kupinta mengajariku fisika sembari menikmati hidangan sore sang surya. Walaupun aku tergolong lumayan di matematika, saat bersamanya rasanya kemampuanku jadi seperti bohongan. Bahkan, jika saja ditanya satu ditambah satu, mungkin menunggu sampai malam baru terucap jawaban dua dari otak yang selama ini kuasah dengan angka-angka. Vena, yang merupakan anak kedua dari tiga bersaudara itu, tidak hanya berparas cantik, namun kecerdasannya juga melebihi jumlah uang yang dikantongi koruptor di negeri ini. Suaranya yang indah mengalun lembut saat mengajariku rumus fisika yang entah aku bisa menghafalnya. Akupun tersadar bahwa wajahnya terlihat lebih cantik saat beradu dengan cahaya oranye sore ini.
Huh, waktu terasa cepat seklai berlalu. Baru saja mulai mengerti kandungan rumus yang diciptakan ilmuwan-ilmuwan hebat yang namanya masih dikenang hingga saat ini, matahari sudah ingin cepat-cepat tidur. Kontras dengan tukang sate yang mungkin baru bangun dan berjualan untuk mencari nafkah di taman kota ini.
“Terima kasih ya Ven, aku jadi sedikit mengerti tentang materi yang selama ini tidak aku kuasai,” ucapku tulus.
“Nda papa, aku juga jadi belajar sekalian,” balasnya diiringi senyum.
“Ven, tunggu sebentar?”
“Ada apa? Masih ada yang belum jelas?”
“Ehm, bukan.. E..sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan?”
“Apaan?”
“Ven, aku sayang padamu.”
“Bercanda ya?”
“Serius, sudah lama aku suka padamu, namun baru kali ini aku berani bicara.”
Matanya mulai berkaca-kaca. Dia terlihat ingin menangis.
“Maaf, aku ... Aku nda boleh pacaran sama orangtuaku,” katanya terbata-bata.
“Siapa yang bilang ingin pacaran? Haha, emang kalau suka harus pacaran ya? Jangan dipikirkan. Sekarang pulang dulu saja, sepertinya mobil hitam bapakmu sudah nunggu tuh,” jawabku menghibur diri yang sedang menjaga agar tak kelihatan sedih di depannya.
“Sekali lagi, ... aku minta maaf, duluan ya, Li!” katanya yang suaranya masih seperti orang asma yang sedang kumat.
Aku hanya bisa memandang kepergiannya saat itu. Menahan perih, menahan sebisa mungkin untuk tetap tegar. Mobil hitam dengan plat nomor R 212 WS terlihat menghilang di pertigaan pos polisi. Kuminum air mineral yang kubawa, dengan harapan mendinginkan hatiku.
Dua tahun telah berlalu, aku tak begitu tahu dimana Vena sekarang. Karena setelah kenaikan kelas, keluarganya berpindah ke Solo. Tempat yang pernah kusinggahi saat diundang paman mengikuti lomba matematika.
Kini, aku duduk di tempat yang sama dengan dua tahun yang lalu. Kukeluarkan air mineral dari tas. Udara panas merangsang tenggorokan untuk melakukan aksi demonstrasi meminta air membasahinya, mirip dengan rakyat kecil yang meminta penguasa menurunkan harga cabai.
Glek.Glek.Uhuk.Uhuk.
Ketika minum, seseorang yang menepuk pundakku membuatku terbatuk-batuk. Jaket biru yang sering menemaniku pergi pun basah karenanya. Orang tersebut langsung meminta maaf. Suaranya begitu terdengar familiar. Siapa gerangan yang membuatku jadi basah ini?
“Kalau mau nepuk, jangan keras-keras, kaget tahu!” ujarku sekenana
“Maaf deh mas. Nda sengaja. Sebenarnya mau bertanya. Boleh nda duduk disebelahmu, kebetulan Cuma di sebelahmu yang kosong,” balasnya yang semakin membuatku merasa dekat dengan pemilik suara ini.
Ketika kulihat wajahnya, jantungku berdegup. Tidak begitu kencang, namun jelas tidak seperti biasanya. Wajah yang dua tahun lalu juga berada disini. Bukan! Bukan wajah tukang sate yang baru datang menjelang malam.
“Ve-Vena?” tebakku yang kadang memang sukar menghafal wajah orang.
“Lho, Ali ya!” serunya seperti adegan sinetron yang mempertemukan ibu dan anaknya.
Setelah itu, kami berdua banyak mengobrol tentang kehidupannya di Solo, dan aku di Purbalingga. Dari percakapan tersebut aku tahu Vena telah kuliah di salah satu perguruan tinggi di kota Solo. Kepintaranya jauh bertambah dibandingkan denganku, bahkan dia menjadi asisten dosen disana.
“Kamu masih tetep cantik kaya dulu ya, pinternya nambah lagi. Pasti pacarmu bahagia deh punya kekasih sepertimu,” kataku, entah apa yang sedang aku pikirkan.
“Iih, kamu masih nakal yah, kaya dulu. Aku belum mau pacaran kok,” katanya dengan nada bicara yang sangat menggemaskan namun tidak berlebihan seperti anak ABG yang terkena virus alay.
“Ooh, gitu. Kalau aku masih sayang sama kamu gimana?”
“Wah, mulai bercanda lagi nih. Sudah punya pacarkan?”
“Haha, dasar. Belum kok. Soalnya, aku masih sayang sama kamu.”
“Maaf, aku belum mau pacaran.”
“Siapa bilang ingin pacaran? Haha, dasar. Mikirnya seperti itu terus.”
Jleb. Saat berbicara seperti itu, rasa sakit kembali datang. Vena seperti tahu saja apa yang ada di pikiranku. Jujur saja, aku ingin jadi orang yang bisa melindunginya. Akan tetapi, aku malu untuk mengakuinya.
“Ven, tahu nda matahari,” kataku setelah cukup lama kami saling diam.
“Ya tahu lah. Bintang besar yang memancarkan sinar ultraviolet serta sumber vitamin D saat pagi dan sore hari. Memangnya kenapa?”
“Kalau begitu, pernah nda, matahari minta sinar yang sudah diberikan ke bumi?”
“Jadi, Bumi menerangi matahari gitu?”
“Haha, kamu lucu juga ya, anak pintar namun masih bisa bingung juga. Yang ingin aku katakan adalah matahari itu hanya memberi sinar dan tak berharap sinar itu dikembalikan oleh bumi. Mungkin untuk rasa sayangku padamu juga sama. Aku sayang kamu, namun aku tak terlalu berharap kamu punya rasa yang sama denganku. Bisa duduk berdua seperti ini setelah lama tak jumpa saja sudah cukup bagiku. Terima kasih sudah sering meluangkan waktu untukku ya, Claudia Rachmadavena.”
“Hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya, menyinari dunia,” tiba-tiba mulutku tergerak melantunkan lagu anak-anak yang sering kunyanyikan saat taman kanak-kanak. Aku terkejut. Untuk pertama kalinya kulihat wajah cantiknya menangis. Aku merasa menjadi anak nakal yang mengambil balon dari anak kecil yang lugu. Sambil mengusap air matanya, aku berusaha menenangkannya. Seketika itu juga aku teringat kado yang belum tersampaikan karena vena sudah pindah duluan. Sebuah ornamen biasa, berwarna biru dan kuning, berbentuk bintang, masih tergolek di tas yang kubawa.
“Sudah, Ven. Jangan nangis lagi, hari ini, kamu ulang tahun yang ke-19 kan?”
Vena pun menerimanya, dan berterimakasih dengan suara yang masih tertutup oleh tangisnya. Sampai akhirnya Vena bisa menenangkan dirinya. Aku menawarkan diri mengantarnya pulang, karena arahnya memang searah denganku. Dia mengangguk tanda setuju. Sesaat sebelum keluar dari taman kota, lagu di radio bergema menembus gerimis yang mulai jatuh.
“Kupetik bintang, untuk kau simpan,
cahayanya terang, berikan kau perlindungan,
sebagai pengingat teman,
juga sebagai jawaban,
semua tantangan”
(lirik lagu Melompat Lebih Tinggi oleh Sheila On Seven)
( Senin, 10 Januari 2011)
☼ MATAHARI ☼
Akhir pekan di Bulan November. Tak seperti biasanya, aku kembali ke Purbalingga. Entah angin apa yang membawaku, namun langkahku jelas menuju ke taman kota. Aku memilih duduk di sebuah kursi yang ditemani meja bundar serta payung menjulang keatas. Termangu kududuk, sampai kuingat sesuatu.
Masih tergambar di benakku memori dua tahun silam. Vena, teman sekelasku di SMA Gajah Duduk, dengan malu-malu kupinta mengajariku fisika sembari menikmati hidangan sore sang surya. Walaupun aku tergolong lumayan di matematika, saat bersamanya rasanya kemampuanku jadi seperti bohongan. Bahkan, jika saja ditanya satu ditambah satu, mungkin menunggu sampai malam baru terucap jawaban dua dari otak yang selama ini kuasah dengan angka-angka. Vena, yang merupakan anak kedua dari tiga bersaudara itu, tidak hanya berparas cantik, namun kecerdasannya juga melebihi jumlah uang yang dikantongi koruptor di negeri ini. Suaranya yang indah mengalun lembut saat mengajariku rumus fisika yang entah aku bisa menghafalnya. Akupun tersadar bahwa wajahnya terlihat lebih cantik saat beradu dengan cahaya oranye sore ini.
Huh, waktu terasa cepat seklai berlalu. Baru saja mulai mengerti kandungan rumus yang diciptakan ilmuwan-ilmuwan hebat yang namanya masih dikenang hingga saat ini, matahari sudah ingin cepat-cepat tidur. Kontras dengan tukang sate yang mungkin baru bangun dan berjualan untuk mencari nafkah di taman kota ini.
“Terima kasih ya Ven, aku jadi sedikit mengerti tentang materi yang selama ini tidak aku kuasai,” ucapku tulus.
“Nda papa, aku juga jadi belajar sekalian,” balasnya diiringi senyum.
“Ven, tunggu sebentar?”
“Ada apa? Masih ada yang belum jelas?”
“Ehm, bukan.. E..sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan?”
“Apaan?”
“Ven, aku sayang padamu.”
“Bercanda ya?”
“Serius, sudah lama aku suka padamu, namun baru kali ini aku berani bicara.”
Matanya mulai berkaca-kaca. Dia terlihat ingin menangis.
“Maaf, aku ... Aku nda boleh pacaran sama orangtuaku,” katanya terbata-bata.
“Siapa yang bilang ingin pacaran? Haha, emang kalau suka harus pacaran ya? Jangan dipikirkan. Sekarang pulang dulu saja, sepertinya mobil hitam bapakmu sudah nunggu tuh,” jawabku menghibur diri yang sedang menjaga agar tak kelihatan sedih di depannya.
“Sekali lagi, ... aku minta maaf, duluan ya, Li!” katanya yang suaranya masih seperti orang asma yang sedang kumat.
Aku hanya bisa memandang kepergiannya saat itu. Menahan perih, menahan sebisa mungkin untuk tetap tegar. Mobil hitam dengan plat nomor R 212 WS terlihat menghilang di pertigaan pos polisi. Kuminum air mineral yang kubawa, dengan harapan mendinginkan hatiku.
Dua tahun telah berlalu, aku tak begitu tahu dimana Vena sekarang. Karena setelah kenaikan kelas, keluarganya berpindah ke Solo. Tempat yang pernah kusinggahi saat diundang paman mengikuti lomba matematika.
Kini, aku duduk di tempat yang sama dengan dua tahun yang lalu. Kukeluarkan air mineral dari tas. Udara panas merangsang tenggorokan untuk melakukan aksi demonstrasi meminta air membasahinya, mirip dengan rakyat kecil yang meminta penguasa menurunkan harga cabai.
Glek.Glek.Uhuk.Uhuk.
Ketika minum, seseorang yang menepuk pundakku membuatku terbatuk-batuk. Jaket biru yang sering menemaniku pergi pun basah karenanya. Orang tersebut langsung meminta maaf. Suaranya begitu terdengar familiar. Siapa gerangan yang membuatku jadi basah ini?
“Kalau mau nepuk, jangan keras-keras, kaget tahu!” ujarku sekenana
“Maaf deh mas. Nda sengaja. Sebenarnya mau bertanya. Boleh nda duduk disebelahmu, kebetulan Cuma di sebelahmu yang kosong,” balasnya yang semakin membuatku merasa dekat dengan pemilik suara ini.
Ketika kulihat wajahnya, jantungku berdegup. Tidak begitu kencang, namun jelas tidak seperti biasanya. Wajah yang dua tahun lalu juga berada disini. Bukan! Bukan wajah tukang sate yang baru datang menjelang malam.
“Ve-Vena?” tebakku yang kadang memang sukar menghafal wajah orang.
“Lho, Ali ya!” serunya seperti adegan sinetron yang mempertemukan ibu dan anaknya.
Setelah itu, kami berdua banyak mengobrol tentang kehidupannya di Solo, dan aku di Purbalingga. Dari percakapan tersebut aku tahu Vena telah kuliah di salah satu perguruan tinggi di kota Solo. Kepintaranya jauh bertambah dibandingkan denganku, bahkan dia menjadi asisten dosen disana.
“Kamu masih tetep cantik kaya dulu ya, pinternya nambah lagi. Pasti pacarmu bahagia deh punya kekasih sepertimu,” kataku, entah apa yang sedang aku pikirkan.
“Iih, kamu masih nakal yah, kaya dulu. Aku belum mau pacaran kok,” katanya dengan nada bicara yang sangat menggemaskan namun tidak berlebihan seperti anak ABG yang terkena virus alay.
“Ooh, gitu. Kalau aku masih sayang sama kamu gimana?”
“Wah, mulai bercanda lagi nih. Sudah punya pacarkan?”
“Haha, dasar. Belum kok. Soalnya, aku masih sayang sama kamu.”
“Maaf, aku belum mau pacaran.”
“Siapa bilang ingin pacaran? Haha, dasar. Mikirnya seperti itu terus.”
Jleb. Saat berbicara seperti itu, rasa sakit kembali datang. Vena seperti tahu saja apa yang ada di pikiranku. Jujur saja, aku ingin jadi orang yang bisa melindunginya. Akan tetapi, aku malu untuk mengakuinya.
“Ven, tahu nda matahari,” kataku setelah cukup lama kami saling diam.
“Ya tahu lah. Bintang besar yang memancarkan sinar ultraviolet serta sumber vitamin D saat pagi dan sore hari. Memangnya kenapa?”
“Kalau begitu, pernah nda, matahari minta sinar yang sudah diberikan ke bumi?”
“Jadi, Bumi menerangi matahari gitu?”
“Haha, kamu lucu juga ya, anak pintar namun masih bisa bingung juga. Yang ingin aku katakan adalah matahari itu hanya memberi sinar dan tak berharap sinar itu dikembalikan oleh bumi. Mungkin untuk rasa sayangku padamu juga sama. Aku sayang kamu, namun aku tak terlalu berharap kamu punya rasa yang sama denganku. Bisa duduk berdua seperti ini setelah lama tak jumpa saja sudah cukup bagiku. Terima kasih sudah sering meluangkan waktu untukku ya, Claudia Rachmadavena.”
“Hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya, menyinari dunia,” tiba-tiba mulutku tergerak melantunkan lagu anak-anak yang sering kunyanyikan saat taman kanak-kanak. Aku terkejut. Untuk pertama kalinya kulihat wajah cantiknya menangis. Aku merasa menjadi anak nakal yang mengambil balon dari anak kecil yang lugu. Sambil mengusap air matanya, aku berusaha menenangkannya. Seketika itu juga aku teringat kado yang belum tersampaikan karena vena sudah pindah duluan. Sebuah ornamen biasa, berwarna biru dan kuning, berbentuk bintang, masih tergolek di tas yang kubawa.
“Sudah, Ven. Jangan nangis lagi, hari ini, kamu ulang tahun yang ke-19 kan?”
Vena pun menerimanya, dan berterimakasih dengan suara yang masih tertutup oleh tangisnya. Sampai akhirnya Vena bisa menenangkan dirinya. Aku menawarkan diri mengantarnya pulang, karena arahnya memang searah denganku. Dia mengangguk tanda setuju. Sesaat sebelum keluar dari taman kota, lagu di radio bergema menembus gerimis yang mulai jatuh.
“Kupetik bintang, untuk kau simpan,
cahayanya terang, berikan kau perlindungan,
sebagai pengingat teman,
juga sebagai jawaban,
semua tantangan”
(lirik lagu Melompat Lebih Tinggi oleh Sheila On Seven)
( Senin, 10 Januari 2011)
Subscribe to:
Posts (Atom)