Pages

Draft Enigmaze - Chapter 0 part 1 - Psy-Goat-Path

Seperti biasa, aku berangkat sekolah. Jas berwarna hitam dengan aksen putih (belakang jas terdapat gambar '21') peninggalan ayahku selalu ku pakai ke sekolah. apalagi setelah kejadian beberapa bulan lalu. walaupun sempat dilarang guru BK, aku tetap bersikeras agar dibolehkan memakai jas itu ke sekolah. Ya, jas itulah yang bisa mengobati rasa kehilanganku atas ayah yang selama ini menjadi sosok yang aku teladani.

Hari itu jam pelajaran terakhir adalah matematika. Guru yang mengajar memang sedikit tidak disukai anak-anak di kelasku. Selain karena mengajarnya cepat, beliau juga memiliki tulisan sandi rumput yang bahkan aak pramuka saja tak bisa membacanya. Beliau selalu berkata 'jika  ada kesulitan, kami akan bantu menyelesaikan soalnya'. Aku sendiri heran, guru itu mengajar seorang diri tapi menyebut 'kami'. Jangan-jangan memang ada sesuatu disampingnya yang membuatnya bisa berpikir cepat. Ya, soal sudah selesai terjawb namun tangan beliau masih belum selesai menuliskan jawabannya. Beliau memang hebat. Seperti Manusia Setengah Dewa saja.

Bel pulang berdentang. Tugas meneliti air sungai (biologi) membuatku tak bisa pulang cepat hari ini. Tujuanku (bersama dengan Z) adalah Desa Karambing. Sebuah desa yang berjarak 2 km dari sekolah. Aku membonceng Z dengan motor yang selalu dipakainya untuk berangkat sekolah. Disepanjang perjalanan, panorama khas desa  tampak menyegarkan mata yang sudah terkontaminasi oleh polusi kota.

10 menit berselang, kami pun tiba di desa tersebut. Akan Tetapi, ketika kami mau menuju balai desa untuk meminta ijin, kami mendapati hal yang tidak biasa. Banyak warga berkumpul di balai desa tersebut. Aku berpikir, apakah sedang terjadi pemilihan Kepala Desa. Z tersenyum dengan pemikiranku. Aku memang bercanda dan sialnya Z tahu bahwa aku sedang bercanda.

Setelah mencoba untuk masuk, kami baru tahu bahwa telah terjadi pembunuhan kambing berturut-turut sejak sebulan yang lalu. Setiap hari selasa, kambing milik orang terkaya di desa tersebut hilang, dan ditemukan di hutan dalam keadaan tak bernyawa. Kasus yang aneh sebenarnya, namun cukup membangkitkan rasa penasaranku dan membuatku ingin mengungkap kasus tersebut.

Dari keterangan kepala desa, ada beberapa anak kecil yang menyaksikan tiga orang keluar dari hutan. Yaitu, Kakek Hadi yang diketahui memiliki hubungan yang buruk dengan Pak Aji, orang terkaya di desa itu. Mahasiswa Universitas Purwokerto, Palupi. Dan seorang lagi Pak Pardi, orang yang dulu memiliki kambing-kambing dan menjadi orang terkaya sebelum Pak Aji sekarang.

To Be Continued ...

0 comments:

Post a Comment