Seperti biasa, aku berangkat sekolah. Jas berwarna hitam dengan aksen
putih (belakang jas terdapat gambar '21') peninggalan ayahku selalu ku
pakai ke sekolah. apalagi setelah kejadian beberapa bulan lalu. walaupun
sempat dilarang guru BK, aku tetap bersikeras agar dibolehkan memakai
jas itu ke sekolah. Ya, jas itulah yang bisa mengobati rasa kehilanganku
atas ayah yang selama ini menjadi sosok yang aku teladani.
Hari
itu jam pelajaran terakhir adalah matematika. Guru yang mengajar memang
sedikit tidak disukai anak-anak di kelasku. Selain karena mengajarnya
cepat, beliau juga memiliki tulisan sandi rumput yang bahkan aak pramuka
saja tak bisa membacanya. Beliau selalu berkata 'jika ada kesulitan,
kami akan bantu menyelesaikan soalnya'. Aku sendiri heran, guru itu
mengajar seorang diri tapi menyebut 'kami'. Jangan-jangan memang ada
sesuatu disampingnya yang membuatnya bisa berpikir cepat. Ya, soal sudah
selesai terjawb namun tangan beliau masih belum selesai menuliskan
jawabannya. Beliau memang hebat. Seperti Manusia Setengah Dewa saja.
Bel
pulang berdentang. Tugas meneliti air sungai (biologi) membuatku tak
bisa pulang cepat hari ini. Tujuanku (bersama dengan Z) adalah Desa
Karambing. Sebuah desa yang berjarak 2 km dari sekolah. Aku membonceng Z
dengan motor yang selalu dipakainya untuk berangkat sekolah.
Disepanjang perjalanan, panorama khas desa tampak menyegarkan mata yang
sudah terkontaminasi oleh polusi kota.
10 menit
berselang, kami pun tiba di desa tersebut. Akan Tetapi, ketika kami mau
menuju balai desa untuk meminta ijin, kami mendapati hal yang tidak
biasa. Banyak warga berkumpul di balai desa tersebut. Aku berpikir,
apakah sedang terjadi pemilihan Kepala Desa. Z tersenyum dengan
pemikiranku. Aku memang bercanda dan sialnya Z tahu bahwa aku sedang
bercanda.
Setelah mencoba untuk masuk, kami baru tahu
bahwa telah terjadi pembunuhan kambing berturut-turut sejak sebulan yang
lalu. Setiap hari selasa, kambing milik orang terkaya di desa tersebut
hilang, dan ditemukan di hutan dalam keadaan tak bernyawa. Kasus yang
aneh sebenarnya, namun cukup membangkitkan rasa penasaranku dan
membuatku ingin mengungkap kasus tersebut.
Dari keterangan
kepala desa, ada beberapa anak kecil yang menyaksikan tiga orang keluar
dari hutan. Yaitu, Kakek Hadi yang diketahui memiliki hubungan yang
buruk dengan Pak Aji, orang terkaya di desa itu. Mahasiswa Universitas
Purwokerto, Palupi. Dan seorang lagi Pak Pardi, orang yang dulu memiliki
kambing-kambing dan menjadi orang terkaya sebelum Pak Aji sekarang.
To Be Continued ...
kumpulan kisah sang penulis dan kebodohannya dan ambisinya menulis novel/komik detektif
0 comments:
Post a Comment