Pages

Tidak Ada yang Tidak Mungkin

Baka is Back :v

Balik-balik udah ngomong nda jelas. Tidak ada yang tidak mungkin katanya.

Kalimat yang kadang diucapkan kepada seseorang yang hampir putus asa, merasa tidak bisa melakukan sesuatu, dan sejenisnya. Kalimat yang terdengar klise, dan sering dianggap sebagai "nggo meneng-meneng" (ini bahasa indonesianya apa ya?)

Kata ini akhirnya saya ucapkan juga, tepatnya beberapa tahun lalu. Setelah mengalami kejadian yang cukup memukul sampai akhirnya berhasil keluar dari keterpukulan itu. (bahasanya semakin random)

Cerita dimulai ketika transfer windows dibuka -pengumuman penerimaan mahasiswa baru STAN maksudnya-dari jogja, saya ditransfer ke tangerang. Campur aduk perasaan kala itu karena sebelumnya saya juga tak terlalu berharap bisa masuk. Tapi setelah menimbang beberapa kemungkinan, akhirnya saya memilih risiko mengambil D1-STAN 2011/2012.

Tapi karena memang awalnya belum suka, belajar pun masih malas-malasan. pelajaran yang paling masuk itu cuma pengantar ilmu ekonomi yang entah bagaimana prosesnya tiba-tiba otak saya melakukan penggalian memori saat kelas 1 SMA dulu. Sementara itu materi yang menjadi momok adalah akuntansi.

Entah kenapa saya begitu malas dengan pelajaran yang satu ini.
kemalasan ini akhirnya menjerumuskan saya mencetak sejarah, mendapatkan nilai 24 di Ujian Tengah Semester. (23,8 sih kayaknya, tapi dibuletin jadi 24)

Angka itu mengejutkan? Sebenarnya ya memang segitu si. Mau gimana lagi? Namanya juga malas belajar, begitulah akibatnya :p

Akhirnya saya pun bertekad untuk memulai dari awal lagi. Dimulai dari meminjam buku di perpustakaan yang membuat akuntansi adalah satu-satunya pelajaran yang membuat kartu perpustakaan saya berfungsi), belajar kepada orang yang lebih tahu, dan lebih rajin berdoa (wew parah amat ya, bersyukur deh dapet nilai jelek, malah jadi tobat)

Dan akhirnya berkat bantuan dari segala pihak, saya menghadapi Ujian Semestar Gasal dengan tingkat kepercayaan diri yang lebih baik. Dari 5 soal yang diberikan, 4 soal selesai dengan baik menurut saya dan 1 soal baru sedikit langkah namun waktu tidak mengijinkan untuk menyelesaikan (padahal kalau ada waktu juga belum tentu bisa).

Dan akhirnya libur semester itu dipenuhi rasa tegang. bayang-bayang DO jika nilai kurang dari 60 terus menghantui. Saya semakin khusyuk saja berdoa :p Dan saya tetap optimis bisa meraih paling tidak 75.

Dan pengumuman kelulusan semester satu membuat saya entah senang atau bersedih. walau ada kata LULUS di pengumuman saya, namun hal itu terasa hambar karena ada salah seorang teman yang tidak lulus.

Dan akhirnya semester dua dimulai, di hari pertama itu, ketua kelas mengirim pesan kepada saya harus berangkat pagi karena dosen akuntansi mau bertemu. Apa? Apa terjadi kesalahan nilai yang membuat saya tidak jadi lulus? Pikiran itu sempat terlintas dan dengan segera saya tepis, semoga tidak terjadi apa-apa.

Dan kejutan itu pun datang, beliau tiba-tiba berkata selamat dan memberikan sebuah buku.
 Saya kaget, kok bisa ya?
beliau berkata, "Kamu dipanggil ke sini karena nilai Ujian Semester Gasal kamu paling tinggi diantara teman sekelas, 89. Sementara ketua kelasmu tertinggi jika nilai kedua semester itu digabung."
Saat itu aku merasakan perasaan yang aneh. entahlah, susah diungkapkan, apalagi dituliskan.


*sesuatu*

kejadian itu pun mengajarkan saya yang bodoh ini, sesuatu :

1. Jangan malas belajar kalau tidak mau mendapat nilai yang mengenaskan. Kecuali kamu memang bisa belajar dengan metode tidak belajar (?). Apa itu? kalau nda tau makanya belajar

2. Tidak ada yang tidak mungkin, kamu bisa menjadi yang terbaik walau sebelumnya menjadi yang terburuk. Jangan menyerah sebelum bertanding, kamu selalu punya kesempatan menjadi lebih baik dari yang kamu hadapi nantinya.

3. Jangan sombong kepada orang lain, bisa jadi orang yang saat ini kamu nilai jelek, suatu saat dia lebih baik dari kamu. ingat pepatah "jika kamu merasa lebih mulia dari pada anjing, maka kamu itu lebih hina darinya"

4. Terkadang kita harus menerima dua kenyataan yang manis dan pahit, kita sukses saat teman lain tidak atau saat kita gagal dan teman lain tidak. Sikapi dengan sewajarnya, jangan berlebihan. Hidup memang seperti ini, tetap bersyukur bagaimanapun keadaanmu saat ini.

Udah segitu dulu, karena orang bodoh ini tak terlalu pandai merangkai sesuatu yang memang biasa-biasa saja seperti ini.

Salam Baka,
Khae   

Mereka Melihatmu, Kaulah yang Tidak Mendengar Suara Mereka

Welcome Back :D
Baka kembali menuliskan kisahnya :v

Jadi beberapa bulan lalu saya mencoba sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. tepatnya hari sabtu di hari pertama bulan  Juni. Ya di hari itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah SMA N 1 Purbalingga menggelar acara wisuda kelulusan angkatan 2013. Dan entah apa yang merasuki pikiran saya kala itu, saya mengajukan diri ke panitianya untuk mengisi acara tersebut sebagai komika (pembawa Stand Up Comedy).




Waktu itu entah mengapa ada dorongan saya harus tampil di acara itu. Acara yang entah tahun depan saya bisa mengisinya lagi atau tidak. Pikiran saya, event ini adalah event pasti terakhir yang mungkin saya bisa ikuti. Karena ke depannya saya tak tahu apakah saya masuh berada di tempat kelahiran saya lagi atau tidak. Dan entah mengapa saya kok ingin sekali mengisi di acara itu. Haha.

Sebelumnya saya tidak pernah melakukan Stand Up. Dulu pernah sahabat saya bilang "kamu coba aja stand up, kamu kan lucu". Segera dalam hati menjawab, "apa benar aku itu lucu". Jadi perjudian saya untuk mengisi di acara wisuda itu memang bertujuan untuk membuktikan bagaimana saya sebenarnya.

Hanya satu minggu, saya belajar untuk menulis materi dan berlatih membawakan lawakan. Ternyata menulis materi itu tidak mudah, tapi tidak susah juga. Dari berbagai lawakan yang aku tulis, akhirnya aku mencoba membuat urutan dalam membawakannya. Mulai dari perkenalan kemudian menyinggung sedikit tentang panitia yang saya sms waktu mengajukan diri untuk mengisi, tentang sekolah dan perpisahan (yang memiliki porsi cukup banyak karena menurut saya paling sesuai), dan satu materi yang saya sengaja tempatkan di akhir, calon istri idaman.

Akhirnya hari itu tiba juga, kami (setelah menculik salah satu teman saya biar tidak seperti orang hilang) pun ke SMA N 1 Purbalingga. Aku mencoba untuk berlatih untuk yang terakhir kalinya di sebuah kelas kosong. Teman saya sedikit mengoreksi beberapa bagian yang terasa kurang.

Prosesi Wisuda berlangsung dengan lancar, ya mungkin begitu, soalnya begitu saya datang mereka sedang menunggu pengalungan medali oleh wali kelas masing-masing. Setelah prosesi selesai, mulailah acara selingan. Setelah beberapa band tampil, pembawa acara mulai "memanggil" saya untuk hadir di atas panggung.

Ternyata panggung itu bikin grogi. Materi pertama bisa disampaikan dengan cukup baik, beberapa anak bisa tertawa. Sampai ke materi sekolah, tiba-tiba saya nge-blank. Hanya separuh materi tentang sekolah yang akhirnya saya bawakan, kemudian melompat ke calon istri idaman. Diluar dugaan, materi ini lumayan medapat respon yang cukup antusias dari penonton, khususnya penonton di bagian belakang.

Materi ini justru yang paling simple dalam membuatnya. Bermodal humor yang mungkin sudah umum (tentang istri idaman itu 3C, yaitu Cantik, Cerdas, dan Colehah) kemudian mendefinisikan arti masing-masing C menurut pandangan pribadi. Haha

Dan ketika mengakhiri penampilan itu, dalam hati saya masih merasa ada yang kurang. Entahlah, mungkin karena penonton yang tidak sebanyak yang dipikirkan. Hal yang kemudian saya sadari "Udah untung bisa tampil, daripada nda sama sekali"

Berminggu-minggu berlalu. Saya merasa bahwa penampilan saya seperti angin yang hanya sekadar lewat. Sampai akhirnya saya menemuan fakta bahwa beberapa anak masih mengingat penampilan yang "kurang maksimal" itu. Bahkan beberapa diantara mereka mengatakan bagus, lucu dan cukup menghibur.

Haha, entah apakah mereka benar-benar merasakan kelucuan dalam aksi saya, atau mereka segan karena saya itu kakak angkatan mereka :p Yang jelas, yang membuat materi terakhir itu ternyata mendapat antusias penonton sebelah belakang yang teriak-teriak itu karena konon ada perempuan yang mirip dengan kriteria yang saya bawakan (kerudung mewakili Colehah, kacamata mewakili Cerdas, dan andeng-andeng di wajah mewakili Cantik) . Haha

Intinya sih, jangan seperti orang tuli yang menampilkan karya, namun merasa tidak dilihat oleh orang lain karena di akhir penampilan tidak ada suara tepuk tangan.
Jangan merasa orang lain tidak menganggapmu, bisa jadi mereka menilaimu baik, hanya saja kau tidak tahu.

Mereka Melihatmu, Kaulah yang Tidak Mendengar Suara Mereka
 
Eh, ada lagi
Apa yang menurutmu biasa saja, bisa jadi menurut orang lain sudah luar biasa 

Ya bener kan? apa yang menurut kita biasa saja, ternyata bisa jadi hal yang luar biasa buat orang lain, jadi jangan merasa minder untuk melakukan suatu yang menurutmu biasa saja

Minesweeper : Sebuah Renungan dari Permainan


Apa itu minesweeper?

Minesweeper adalah sebuah game bawaan dari windows. Game yang akhir-akhir ini saya mainkan untuk mengatasi kejenuhan dari aktivitas harian.

Dulu, ketika masih di bangku SMP, saya menganggap bahwa game ini hanya mengandalkan keberuntungan. Asal klik, kalau beruntung ya selamat dari bom, kalau belum beruntung game over karena mengaktifkan bom yang tersembunyi.

Sampai akhirnya saat SMA, saya baru tahu bahwa game ini menggunakan logika. Jadi jika ketika kita klik suatu kotak dan tidak mengenai bom, terbukalah beberapa kotak dan terdapat kotak yang ada angkanya. Angka itu menunjukkan bahwa di sekeliling kotak tersebut terdapat berapa bom yang tersembunyi. Jika muncul angka "2", maka dipastikan hanya ada dua bom yang berada di dekat angka tersebut.


*Level Minesweeper*
Ada 3 tingkat kesulitan dalam permainan ini :
- Beginner (Papan 9x9 dengan 10 bom)
- Intermediate (Papan 16x16 dengan 40 bom)
- Expert (Papan 16x30 dengan 99 bom)

Ada lagi sih sebenarnya, Custom Mode. Tapi yang ini kan bebas kita yang nentuin besarnya papan dan banyaknya bom. Jadi anggap saja tidak ada.

Sehebat apapun orangnya, jika sedang tidak beruntung maka klik pertama pada papan permainan tersebut adalah bom. Tapi jarang hal itu terjadi. Biasanya klik pertama akan menghasilkan terbukanya beberapa kotak dan terdapat kotak yang menunjukkan angka.

Saya memulai game dari level beginner, dan setelah beberapa kali mencoba akhirnya bisa menamatkan game tersebut.
Setelah itu saya tertantang untuk menaklukan game intermediate. Cukup lama waktu yang dibutuhkan, ya cuma dua atau tiga hari si. Akhirnya membuat si kuning berkacamata tampak di layar.
Saya kembali tertantang untuk menaklukan level terakhir, expert. Hampir sebulan main beginian di waktu senggang, dan akhirnya jadi juga.

Hal yang membuat sering gagal di level expert adalah ketika tidak ada lagi clue yang di dapat, dan membuat memaksa harus memilih salah satu kotak dan akhirnya salah memilih dan DUAR. Permainan kembali diulang dari awal dan begitu seterusnya sampai akhirnya berhasil.

*Sesuatu*

Ada hal yang bisa diambil dari permainan sederhana ini. Sesuatu yang mungkin biasa saja namun dianggap luar biasa oleh orang bodoh seperti saya ini. Di antaranya :

1. Kita harus berani untuk meng-klik walau kita tak tahu apakah itu bom atau bukan. Keberanian itu merupakan awal untuk memulai sesuatu. Jika kita tidak berani untuk memulai, kita tidak akan pernah sampai akhir. Ambillah langkah, teguhkan hati, dan mulailah untuk berkreasi.

2. Pemula dalam minesweeper yang tak sadar apa arti dari angka-angka yang muncul, padahal itu adalah petunjuk agar bisa menyelesaikan permainan. Hal itu sama dengan kehidupan ini. Akan selalu ada petunjuk yang diberikan oleh-Nya kala kita menjalani kehidupan ini, pertanyaannya adalah apakah kita mau memikirkannya atau tidak.

3. Pemula bermain minesweeper langsung di level Expert? Walaupun ada yang berhasil, kebanyakan justru akan frustasi dan tidak melanjutkan game tersebut. Mulailah dengan bertahap, itu akan lebih mudah. Memulai dari level Beginner kemudian Intermediate dan Expert akan melatih kita sedikit demi sedikit memahami permainan itu. Sama seperti kita dalam menambah amalan. Mulailah dengan bertahap. Mulailah dengan "Sehari buat satu amalan" (kaya kata-kata Sun Gokong saja). Selanjutnya jika sudah istiqomah, tingkatkan amalan lainnya. Bertahap saja agar tidak memberatkan dan membuat menjadi terbiasa. Langsung banyak juga boleh asalkan mau istiqomah.


4. Akan ada saatnya kita tidak menemukan petunjuk lagi. Harus memilih beberapa kotak yang sama-sama dicurigai bahwa di sana ada bomnya. Maka kembalilah ke poin satu. Ambil keputusan. Bagaimana jika salah? Mengulang lagi dari awal? Menyesalkah karena salah memilih?
Selama kita sudah mempertimbangkan apa keputusan kita, dan tidak dengan main-main saat mengambil keputusan itu ternyata masih salah, bisa jadi memang kita belum waktunya untuk berhasil. Itu bukanlah suatu kesalahan, merupakan hal yang natural jika terkadang kita salah. Pertanyaannya adalah apakah kita mau mengulang lagi dari awal?




Tuh kan, biasa saja pemikiran dari seorang yang bodoh ini. Bukan hal yang luar biasa, haha it's just ordinary think.

Salam,
Bakalikur

Enigmaze - Chapter negative 1 - Dawn To Detective


*JENJET*
Mataku yang sebelumnya terpejam perlahan menampakkan bola matanya.Yang kulihat adalah ruangan serba putih. Aku menerawang jauh dan bertanya pada diri sendiri “apakah ini kehidupan setelah kematian?”.Wajar aku berpikir seperti itu, sebab terakhir kuingat punggungku tertusuk sesuatu yang mungkin adalah sebuah pisau.Saat itu aku sedang mengejar pelaku pembunuhan misterius di Desa Karambing.Aku mencoba untuk duduk walau masih terasa sulit karena sakit di punggungku.Kemudian aku mencoba berdiri di atas ranjang dan melompat.Kemudian aku pun jatuh tersungkur. “kok aku tak bisa terbang ya? Ah, berarti aku masih hidup kalau begitu,” gumamku.Aku pun kembali duduk diatas ranjang itu dan sekali lagi aku menerawang.Pikiranku menerawang pada peristiwa itu kembali dan juga beberapa hari sebelum terjadinya peristiwa itu.
*********************
Hari itu adalah hari yang biasa saja, kecuali bertepatan dengan hari pertama masuknya sekolah SMA Sangilta setelah libur semester satu.Seperti biasa aku terbangun dengan santainya di pagi yang biasa saja, tanpa hujan yang biasanya turun di bulan ini. Eh, berarti bukan hari biasa ya, hanya cuacanya yang biasa saja.Cuaca ini membuatku cepat terbangun dibandingkan ketika hujan datang.Simpel saja, gemericik air yang turun bagi telingaku seakan melantunkan nada yang indah sehingga membuatku tenggelam dalam alunan melodi hujan dan tertidur lagi.Setelah mengucek mata, aku terdiam sejenak menikmati udara pagi dan akhirnya berteriak kulihat jam dinding tua dengan jarum panjang di angka enam dan jarum pendek di pertengahan angka enam dan tujuh.
"Hah?! Udah jam setengah tujuh, wew, ini kan hari pertama masuk sekolah."
Aku pun beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.Mandi sekenanya dengan gerakan yang dipaksa cepat.Karena tak terbiasa, gayung terlempar dari tanganku dan mengenai kepalaku yang tak berdos.Aku hanya bisa meringis.Setelah kuselesaikan mandiku, dengan bergegas aku mengganti pakaianku.Mungkin aku harus ikut kompetisi mengganti pakaian dengan cepat suatu saat nanti.Kondisi yang buru-buru ini membuatku tak sempat menyantap sarapan pagi itu.
Segera aku berlari menuju sekolah yang berjarak enam ratus meter dari rumah kakekku.Setelah sekian menit, aku pun tiba di sekolah.Aku pun masih berlari dan segera menuju ruang fisika yang terletak di dekat aula yang berada tak jauh dari pintu gerbang.Kudapati kelas masih kosong.Salah jadwalkah?Kubuka tasku yang berwarna hitam dan melihat jadwal dan ruangan kelasku dan tak ada yang salah dengan jadwal dan ruangan. Akhirnya semua terjawab ketika aku memutuskan masuk dan melihat jam dinding yang seolah tersenyum mengejekku.
"Wew, jam di kamarku kan memang sudah lama mati.Pantas saja kakek tak membangunkanku karena memang aku tak kesiangan"
Dengan sedikit rasa kesal di hati aku pun melangkah ke salah satu bangku dan merebahkan tubuhku dengan malas. Kujadikan tas sebagai pengganti bantal. Kulanjutkan tidurku yang berkurang jatahnya gara-gara kepanikan pagi hari.
Entah berapa lama aku tidur, aku mulai terusik dengan ramainya suasana kelas.Dengan mata yang masih mengantuk, aku tegakkan badanku.Selang beberapa saat, bel masuk berdentang.Pak Nurdin dengan rambut ala tentara dan kacamata bulatnyamemasuki ruang kelas.
“Baik anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru yang baru saja pindah kesini.Silahkan memperkenalkan diri.”
Anak baru itu memiliki sorot mata yang aneh.Kulihat anak itu pun mendekap sebuah buku. Entah apakah itu memang kebiasaannya atau apa. Dia melihat sekeliling dengan tatapan yang menurutku aneh sebelum kemudian memperkenalkan dirinya.
“Selamat Pagi.Perkenalkan, nama saya Z. Sekian dari saya, terima kasih,” ucapnya seraya menuliskan huruf “Z” di papan tulis.
Hampir seluruh kelas tiba-tiba tertawa. Entah apa yang ada di pikiran mereka. Anehkah seseorang dengan nama satu karakter? Tapi lama-lama aku pun tertawa.Bukan karena terbawa arus tertawa dari teman, tapi karena pikiranku sendiri. Pikiranku mengatakan bahwa kemungkinan orang tua Z adalah orang yang sangat hemat dalam hal apapun termasuk saat menamai anak sendiri atau jangan-jangan orang tua Z memutuskan memberi nama satu karakter agar mendapat keringanan saat membuat Akta Kelahiran agar biaya “menulis nama” tidak terlalu mahal.Apa pula itu, memangnya biaya menulis nama di Akta Kelahiran seperti iklan operator yang menawarkan biaya pesan singkat (SMS) satu rupiah per karakter.
“Diam, ya cukup.Silahkan duduk Z,” perintah Pak Nurdin. Kelas pun kembali diam, sementara aku masih berusaha menahan tawa gara-gara pikiranku sendiri.
Z terlihat tak mengacuhkan tertawaan dari teman-temannya. Ekspresinya tetap sama. Z mencari tempat duduk dan dia pun duduk di sebelahku karena memang hanya itulah tempat duduk yang tersisa.Aku pun mengajaknya berkenalan.
“Perkenalkan, namaku M Kalikur.Nama depanku memang ‘M’ saja, tidak ada kepanjangannya lagi.Tapi mendiang ayahku pernah berkata bahwa ‘M’ itu singkatan dari ‘moon’.Ibuku kebetulan bernama Wulan yang artinya bulan.”
“Namaku Z” jawabnya dengan wajah tanpa ekspresi.
“Iya aku sudah tahu. Ngomong-ngomong, saudaramu dua puluh lima ya jumlahnya. A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, U, V, W, X, Y. Dan kamu Z. Seberapa besar ya rumahmu,” ejekku.
 “Kamu jugakan? Kamu punya dua puluh kakak?Selikur itu Bahasa Jawa dan artiya dua puluh satu” balasnya.
“Hey, namaku Kalikur bukan Selikur.Tapi tetap saja dua puluh lima itu lebih banyak dari pada dua puluh satu” balasku lagi.
*WUUUUNG*
* PLAK*
Sebuah penghapus mengenai kacamataku dan membuat kacamataku terjatuh, perdebatanku dengan Z pun terhenti.
“Hey, kamu,kerjakan soal nomor dua puluh satu di halaman seratus dua puluh satu,” perintah Pak Nurdin setelah melayangkan penghapusnya.Kuakui kalau Pak Nurdin adalah guru fisika sejati.Bidikannya selalu tepat dimanapun tempat aku duduk. Beliau pasti sudah menguasai segala rumus tentang gaya dan gravitasi yang membuat penghapus selalu tepat mengenaiku.
“Kamu memang Selikur,” kata Z mengejekku.
Aku pun maju ke papan tulis dan menyelesaikan soal tentang Teoroma Toricelli.Dengan beberapa langkah soal tersebut kuselesaikan dengan benar.
 “Yak, Bagus. Jangan berbicara di pelajaran saya.Sudah berkali-kali kamu tidak memperhatikan saya saat menjelaskan.Pokoknyaperhatikan terus agar kamu tetap bisa konek dengan materi saya,” ucap Pak Nurdin dengan gayanya yang khas.
 “Siap Pak,” jawabku.
Walaupun jawabanku begitu diam-diam aku kembali mengobrol dengan murid baru ini.Dengan suara yang lebih pelan tentunya.
“Z itu artinya apa si?” tanyaku penasaran.
“Namaku diambil dari Notasi Z dari Zermelo-Fraenkel,” terang Z.
“Oh, jadi orang tuamu menyukai matematika ya.Unik juga asal-usulmu. Kukira karena kamu suka tidur waktu bayi,” ucapku mencoba meledek Z .
“Begitulah,” jawabnya tanpa senyum sedikit pun.Mungkin memang leluconku yang tidak lucu.
“Sekarang kamu tinggal dimana?” tanyaku lagi.
“Sangilta RT 02 RW 04,” jawabnya pendek.
“Berarti rumahmu mungkin berjarak beberapa rumah saja denganku.Kapan-kapan main ya.”
“Begitulah.”
*********************
Awalnya hubunganku dengan Z sebenarnya biasa saja, cenderung beku malah karena dia sangat pendiam.Namun lama kelamaan sifat pendiamnya sedikit berkurang jika sedang mengobrol denganku. Ya, saat mengobrol dengan yang lain dia masih cenderung tak bersuara. Entah kenapa aku merasa Z dliputi suatu misteri.Dan entah kenapa keinginanku untuk menguak misteri kematian ayahku bertambah setelah adanya Z.
Suatu kali aku bertanya, “Z, apakah kau suka dengan misteri?”
“Sedikit,” jawabnya seperti biasa.Singkat.Pendek.
“Sebenarnya aku pun ingin mengungkap sebuah misteri yang selama setahun ini menghantuiku,” ucapku serius.
“Misteri apa?” tanyanya tanpa ekspresi.
“Ayahku meninggal, dan aku ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi,” jawabku dengan muka yang semakin serius.
“Bukankah kematian itu pasti terjadi?” balasnya masih tanpa ekspresi.
“Ayahku dibunuh, dan pembunuhan ini masih menjadi misteri.Kepolisian pun tak bisa mengungkapkan siapa pembunuh ayahku sebenarnya,” jawabku lagi berapi-api.
“Karena kau teman pertamaku, aku siap membantumu.”
“Terimakasih kawan.”
Untuk kali pertama kulihat Z tersenyum.Aku pun semakin yakin bahwa aku harus bergerak cepat mengusut kematian ayahku agar hal-hal yang berkaitan dengan kematian ayahku tak lantas hilang.
*********************
Setelah beberapa minggu, aku mendapatkan tugas biologi dari Bu Mulia Widiasari.Tugas itu adalah menemukan sepuluh tumbuhan yang ada di suatu desa dan mencatat ciri-ciri tumbuhan tersebut.Z dan aku, kebagian tuas meneliti tumbuhan di desa Karambing.Tugas inilah yang mengantarkanku berhadapan dengan kasus pertamaku.Entah suatu takdir atau apa, kehadiran Z seperti mengawali petualanganku untuk memecahkan misteri kematian ayahku dengan datangnya suatu kasus yang aneh. Kasus yang tak lazim dan tak mampu membuat polisi untuk datang menanganinya.Kasus yang kami namai sebagai kasus “Psikambing”.                                                                                       

Draft Enigmaze Chapter 4 (end) - Berakhir dengan Berita Utama


Avena tergugu. Tubuhnya kaku. Sementara Nadia menangis sesenggukan. Melihat keramaian di depan rumahnya,
ibu Yani pun keluar. Beliau pingsan begitu mengetahui anak semata wayangnya tergantung di pohon nangka. Aku tak tahu harus menenenangkan siapa terlebih dahulu, akhirnya kuputuskan untuk menelpon polisi dan mengumpulkan warga dengan caraku.Aku berusaha mencari sebuah kayu ataupun bambu. Kutemukan sebuah bambu dan kupukul keras dengan irama satu-satu sebagai tanda kematian. Warga desa itu pun menuju ke sumber suara yang kubuat itu.“Siapa kau? Beraninya membuat keributan disini?”
“Ada kematian, makanya aku membunyikannya dengan irama satu-satu.”
“Kenapa kau tidak mendatagi warga baik-baik. Keributanmu membuat anak-anak menangis.”
Aku baru menyadari bahwa aku sedang berada di luar Sangilta. Membunyikan kentongan itu biasa jika terjadi pembunuhan, pencurian, kebakaran, bencana alam, dan pencurian hewan sebagai kode memanggil warga. Memang setiap daerah di Indonesia memiliki budaya sendiri-sendiri.
“Maaf pak, bukan maksudnya membuat keributan disini.”

…………………………………………………………………………

Ibu Yani telah siuman dari pingsannya. Ibu Yani pun menjelaskan tentang putrinya. Beliau memang sedang mengkhawatirkan tingkah anaknya yang sering mengurung diri di kamar. Itu dikarenakan anaknya yang lulusan kuliah di salah satu sekolah tinggi belum jua mendapat kabar tentang masa depannya. Sudah lima bulan bahkan enam bulan sejak kelulusannya, namun belum juga mendapat pengumuman resmi tentang masa depannya.Mendengar itu, Aku menarik Avena untuk menyelidiki kamar Yani.
Sebelum pergi aku sempat memandangi mayat Yani dengan senter dan merasakan adanya kejanggalan. Saat Yani akan pergi ke luar rumah, raut mukanya tampak murung, tapi sekarang kulihat wajahnya menampakan sedikit senyuman di tengah wajah yang seperti menahan sakit. Apakah benar itu bunuh diri?
“Ven, carikan buku diari Yani. Jika memang bunuh diri, mungkin ada pesan yang ia tinggalkan.”
Avena akhirnya menemukan buku diari yang ditemukannya di sebuah laci di meja belajar Yani. Aku pun membuka buku diari itu guna mencari petunjuk. Dan aku pun terperanjat melihatnya. Bukan karena aku menemukan sesuatu, melainkan karena diari itu ditulis dalam bahasa sunda. Dan aku tak tahu bahasa sunda.


19-9-2011 : akhirna abdi lulus kuliah, abdi teu nyangka bisa jadi jadi pinunjul di dieu

9-10-2011 : wisuda nu endah. teu puguh raraosan pas salaman sareng pa menteri 

11-11-2011 : sabulan saatos wisuda teu acan aya wae panggilan ti anjeun teh 

13-12-2011 : abdi yakin sakedap deui bakal aya panggilan ti anjeun 

18-1-2012 : ieu hujan lir ibarat perasaan kuring nu nuju nungguan anjeun 

21-2-2012 : naha can datang wae? naha kedah abdi nungguan leuwih lami? 

14-3-2012 : geuningan, nungguan anjeun teh lir ibarat nungguan pati, teu apal iraha datangna tapi kuring kudu siap ti ayeuna keneh

“Jadi Yani bunuh diri karena putus asa menunggu keputusan itu?”
“Eh, Vena. Kamu paham bahasa Sunda ya? Beritahu aku artinya dong”
“Wani piro?” tanyanya meledek dengan gaya meniru iklan di televisi.
“Emang kamu harganya berapa?” ucapku asal.
“LIkur, jangan kurang ajar!” serunya sambil menjitak kepalaku
.“Maaf. Aku hanya bercanda kok. Lagian kamu yang mulai bercanda duluan. Tolong beritahu artinya dong, Ven.”
“Nggak mau. Kamu jahat”
“Ih, aku kan cuma bercanda.”
“Bercanda juga ada batasnya kali.”
 “Iya aku beneran minta maaf deh, …”
“Berarti daritadi kamu nggak minta maaf beneran?” potongnya sebelum aku menyelesaikan kata-kataku.
“Fyuh, memang susah berbicara dengan perempuan yang sedang kesal,” ucapku dalam hati.
“Maaf Ven. Aku menyesal sudah bercanda seperti itu. Tapi tolong beritahu apa yang Yani tulis di diari itu. Demi kebenaran kasus ini.”
“OK. Kali ini aku maafiin. Awas kalau lain kali kamu mengulanginya lagi. Jadi arti dari diari itu adalah :

19-9-2011 : Akhirnya aku lulus kuliah, dan aku tak menyangka bisa menjadi yang terbaik disini

9-10-2011 : Wisuda yang indah. Rasanya tegang saat bersalaman langsung dengan pak menteri

11-11-2011 : Sebulan setelah wisuda berlalu, belum ada panggilan darimu

13-12-2011 : Aku yakin sebentar lagi panggilanmu akan datang

18-1-2012 : Hujan ini seperti mewakili perasaanku yang sedang menunggumu

21-2-2012 : Mengapa belum datang juga? Haruskah ku menunggu lebih lama

14-3-2012: Ternyata menunggumu bagaikan menunggu kematian, tak tau kapan tiba waktunya, tapi aku harus siap mulai dari sekarang”

“Jadi begitu? Ven, akau mau tanya satu hal kepadamu.”
“Apa, awas kalau pertanyaannya aneh.”
“Aku tak tahu ini aneh atau tidak, tapi anehkah seseorang yang bunuh diri itu tersenyum? Entah mengapa aku merasa bahwa kasus ini bukan bunuh diri biasa.”

…………………………………………………………………………

Setelah sekitar satu jam, Polisi akhirnya datang ke tempat itu. Aku memperkenalkan diriku kepada polisi sebagai saudara jauh mendiang Yani, sehingga polisi mau melibatkanku dalam menangani kasus. Setelah itu, mayat Yani pun diturunkan. Aku melihat kembali mayat Yani dan menyadari suatu hal. Orang yang bunuh diri biasanya memiliki livor mortis, salah satu tanda kematian yang ditandai dengan mengendapnya darah ke bagian bawah tubuh dan menyebabkan warna merah keunguan di kulit.Tim forensik pun memeriksa mayat Yani dan menemukan ponsel di saku roknya. Dari ponsel tersebut, diketahui bahwa hari ini ada dua orang yang menghubungi Yani. Maman Karmaman dan Cecep Maecep. Mungkin salah satu dari merekalah pelaku yang merekayasa kematian Yani. Aku pun berpesan kepada tim forensik untuk mengetes sidik jari pada tali yang digunakan untuk menggantung perempuan malang itu. Saat aku beranjak dari tempat kejadian perkara, kakiku menginjak sesuatu. Aku pun melihat kebawah dan menemukan sebuah korek api. Walaupun sedikit basah, namun untuk berjaga-jaga, aku pun menyerahkan korek api itu kepada petugas untuk dites sidik jari juga.


Setelah itu, Aku mendengarkan interogasi polisi kepada Maman dan Cecep. Nadia berdiri dibelakangku karena dia ingin sekali melihat bagaimana kasus itu terungkap. Sementara itu Avena sedang menemani ibu Yani yang masih shock.
“Saat kejadian, aku sedang di rumah menonton televise. Mengapa aku menelpon? Sebagai teman boleh saja kan menelpon. Aku Cuma menanyakan kabarnya saja.” jawab Cecep saat ditanya alibinya dan mengapa ia menelpon Yani.
“Apakah kau merokok?” tanyaku tiba-tiba. “Bagaimana kau bisa tahu. Ya aku sangat suka merokok.”

Selanjutnya polisi menanyai Maman tentang alibinya.“A-aku… m-memang… m-menemui… Y-yani… s-sebelumnya… t-tapi… a-aku… t-tidak… m-melakukannya…” jawab Maman dengan gemetar.Ada apa dengan orang ini, pikirku. Apakah dia yang melakukannya, mengapa ia sangat gemetar. Dan lagi, bukankah belum ada orang yang tahu bahwa ini pembunuhan yang disamarkan.
“Haha, pasti kau yang membunuhnya kan?” tuduh Cecep.“B-bukan… a-aku… t-tidak… m-melakukannya...”
“Beri dia minum. Man, kalau kau memang tak bersalah, harusnya kau tak perlu gemetar seperti itu.” ucapku tiba-tiba, mencoba menenangkan pemuda yang gemetaran itu

.…………………………………………………………………………

Nadia membawa sebotol air mineral yang ia ambil dari rumah Yani dan memberikannya kepadaku. Aku menyerahkannya kepada Maman. Ia pun langsung meminumnya.
“Apakah kau merokok, Man?” tanyaku.
“Aku tidak suka merokok.”
“Baiklah. Sekarang bisa kau ceritakan pertemuanmu dengan Yani?”
“Hmm… Aku menelpon Yani pagi ini dan mengajaknya bertemu. Jam tujuh malam di sebuah taman yang terletak tidak jauh dari sini. Aku hanya mengobrol biasa dengannya. Selama sekitar dua puluh menit saja sebelum akhirnya kami pulang ke rumah masing-masing…”
Di tengah cerita itu, tim forensik datang. Terdapat sidik jari Maman di tali itu, sedangkan tidak terdeteksi sidik jari selain aku di korek api. Mungkin karena korek api itu basah dan menghapus semua sidik jari sebelumnya.“Bisa kau jelaskan mengapa sidik jarimu tertanam di tali ini, Man?”
“Aargh! B-b-bukan aku yang melakukannyaaa. S-s-sungguh, bukan aku”
“hahaha, sudah pasti dia pelakunya,” potong Cecep tiba-tiba.“Kamu diam saja,” entah mengapa aku kesal dengan tingkah Cecep, “Kita dengarkan penjelasan Maman terlebih dahulu. Silakan minum terlebih dahulu supaya kamu lebih tenang
”Sebenarnya aku memberikannya minum bukan saja karena aku kasihan dengan Maman. Tapi jika dia terus gemetaran, maka sulit bagiku untuk mencerna kata apa yang ia ucapkan nantinya. Maman pun kembali meneguk air mineral, dan mulai berbicara.“Baiklah, aku akan menceritakan semuanya.”

………………………………………………………

“Malam itu aku berjanji untuk bertemu Yani. Saat itu aku memiliki niat untuk membunuhnya dan bunuh diri setelahnya karena keegoisan dan kebodohanku. Namun ternyata aku salah dan mengurungkan niatku membunuhnya. Akulah yang membawa tali itu, namun aku lupa untuk membawanya pulang kembali.

Aku berkata kepadanya seperti ini : Yan, aku heran mengapa kita selalu berbeda. Walau akhirnya kuliah di tempat yang sama, kamu jadi wisudawan terbaik dengan IPK mendekati sempurna, sedangkan aku hanya bisa lulus dengan nilai standar minimal, dan merupakan yang terburuk di tempat itu. Kamu cantik, sedangkan aku jelek. Kamu anak pertama, sedangkan aku anak terakhir. Hmm, mengapa kita bisa begitu berbeda?

Wajah Yani yang sebelumnya tampak murung tiba-tiba tersenyum dan berkata : Eh, Terus kenapa kalau berbeda? Justru karena berbeda manusia bisa belajar. Sebenarnya aku kagum denganmu. Aku tak bisa melupakan apa yang terjadi saat aku masih kelas 1 SMA. Saat itu aku menangis saat pembagian rapor karena nilai matematika dan biologiku turun. Aku tak bisa ikut PMDK lagi karena syarat PMDK itu tidak boleh ada nilai yang turu dari semester satu sampai lima. Tiba-tiba kamu datang dan bilang ‘Nilai sebagus itu saja nangis, gimana kalau kamu jadi aku? Orang pinter memang aneh ya, gagal sedikit, langsung down, merasa bersalah. Sekali-kali contohlah orang macam aku ini, gagal berapa kali pun, tetap semangat, karena aku yakin sudah mengeluarkan semua yang aku bisa. Kalau kita gagal itu, ya rejeki kita baru sampai situ. Kita bisa coba lagi walau belum tahu akan gagal lagi atau berhasil. Kegagalan yang sebenarnya bukanlah saat kita terjatuh, melainkan saat kita tidak bisa bangkit lagi setelahnya’. Aku pun tertegun dengan ucapanmu kala itu. Ucapanmu membuat hatiku tenang dan akhirnya setiap kali aku menemui kegagalan, aku mengingat ucapanmu, sehingga aku tak bersedih hati lagi. Kamu lucu deh, masa kamu yang dulu nasihatin aku malah sekarang keliatan down.

Aku terpana sejenak karena Yani masih mengingat pertemuan itu Aku pun mencoba mengalihkan pembicaraan dengan Yani : Eh Yan, ngomong-ngomong selama menunggu penempatan kita, kamu nggak down lagi kaya pas nilai matem dan biologimu turun kan?

Yani menjawabnya : Nggak lah, kan aku sudah belajar sabar dari kamu. Kamu bikin aku nunggu lama makanya aku kesal. Sampai akhirnya kamu malah bikin aku ingin ketawa karena tiba-tiba kamu yang ceria berubah kaya gitu. Hahaha. Lagian masalah penempatan kan sudah diatur.Aku pun bertanya kembali : Apakah kamu nggak mau ikut-ikutan mengeluh kayak temen-temenmu yang lain?Yani pun menjawab kembali : Buat apa mengeluh. Kita kan sudah berjanji dengan Bapak Direktur untuk menaati semua peraturan yang berlaku baik selama perkuliahan maupun setelah perkuliahan. Rakyat membayar pajak dengan baik sehingga kita bisa sekolah tanpa harus mengeluarkan biaya, mengapa kita tidak mensyukuri itu semua? Salah satu cara mensyukurinya adalah dengan sabar menunggu penempatan kita ini dengan berlaku baik dan tidak mengeluh. Bagaimana integritas kita kuat kala disuruh sabar saja tidak mau? Bagaimana bisa profesionalisme kita hebat kalau tak sabar menunggu? Bagaimana sinergi itu muncul tanpa kesabaran? Bagaimana kita bisa meberikan pelayanan kalau kita saja tidak sabaran? Bagaimana kita bisa menuju kesempurnaan jika untuk sabar saja sulit?

Aku pun tersenyum mendengarnya. Sebelum berpisah aku mengucapkan sesuatu untuknya : Yan, jika suatu saat nanti kita masuk D3 khusus, aku akan berjuang untuk melampaui prestasimu dan jika itu terjadi aku akan melamarmu, kamu mau kan?Yani tertegun namun menjawab dengan sedikit bercanda : Bagaimana kalau saat itu undang-undang yang tidak memperbolehkan menikah jika instantsinya sama sudah berlaku?

Aku pun menjawab : Jika harus begitu, aku bersedia untuk mengundurkan diri dan mencari pekerjaan lain …
Yani memotong ucapanku : Jangan deh, aku aja yang resign. Jadi ibu rumah tangga yang baik juga boleh kan?  Kami berdua tersenyum, kemudian kami berdua pulang. Aku bukanlah pembunuhnya, tolong percayalah padaku.”

Begitulah cerita dari Maman yang sesekali meneteskan air mata saat menceritakan percakapannya dengan Yani. Aku melihat mata yang jujur dari Maman. Seperti yang sebelumnya kulihat dari Simon di kasus yang lalu. Tapi seorang detektif kan tidak boleh melibatkan perasaan, begitu kata tokoh detektif dalam anime. Ah, benar juga. Aku pun segera membisikkan sesuatu kepada polisi. Polisi mengangguk setuju.
“Man. Mendengar ceritamu dari sudut manapun, aku hanya bisa menyimpulkan bahwa kau adalah pelakunya. Lebih baik kamu mengakuinya di kantor polisi.”
“Bukan. Bukan Aku pelakunya.”
“Kecuali pelaku itu meninggalkan bukti semisal benda yang terjatuh, maka pelakunya tidak lain dan tidak buka adalah kau. Kau pun bisa saja yang meninggalkan bukti tersebut.”
“Tidaak. Bukan aku”

Polisi pun segera mengamankan Maman dan membawanya ke kantor polisi. Kerumunan warga pun bubar. Mereka kembali ke tempat masing-masing

.………………………………………………………

“Kaka kaka Likur hebat deh. Cepet banget kasusnya selesai,” ujar Nadia melontarkan kekagumannya walaupun rasa sedih masih terpancar di wajahnya.
Aku tidak mengacuhkan ucapan Nadia, aku segera ke rumah Yani dan menemui Avena untuk membisikkan sesuatu kepadanya.
“Hah? Harus seperti itu ya?”

………………………………………………………

Malam itu bulan purnama bersinar terang, seorang pemuda muncul dari pekatnya malam. Pemuda itu seakan mencari-cari sesuatu.

"Nuju milarian ieu kang?"
[Lagi nyari ini kang?]

"Yani? Naha anjeun teh geus paeh kan?"
[Yani, bukannya kau telah mati?]

"Naha anjeun yakin geus maehan urang?"
[apa kau yakin sudah membunuhku?]

"Aing yakin geus neunggar hulu maneh ti tukang nepi ka paeh, mun maneh masih hirup tinggal urang bunuh deui kan ?"
[aku yakin sudah memukul kepalamu dari belakang smpai kau tewas, Jika kau masih hidup, tinggal kubunuh lagi kan?]

"Yani, yani. naon sih hebatna si maman? naha maneh teu milih urang nu kamampuanna sapadan jeung maneh?"
[Yani, yani. Apa sih hebatnya Maman itu? Mengapa kau tak memilihku yang kepandaiannya sepadan denganmu?]


Cecep segera mengejar Yani guna membunuhnya. Sebuah pukulan akan ia lontarkan ke wajah tak bersalah Yani. Namun, saat itu aku muncul di balik persembunyianku dan menahan tangan kotor itu, dan memukulnya dengan sekuat tenagaku. Cecep pun tersungkur.

“Misteri ini sudah tak lagi menjadi misteri,” ucapku sambil membenarkan posisi kacamata.
“Jadi Maman memang tidak bersalah seperti yang kurasakan sebelumnya. Kini, pelaku sebenarnya pun terungkap. Kurasa Yani pun bisa tenang di alam sana.”
“Apa? Ini semua jebakan?” Cecep terkejut dengan apa yang aku kemukakan.Dalam keterkejutannya, dengan tangkasnya polisi membekuk Cecep yang baru saja berusaha untuk bangun dan memborgolnya. Sebelum polisi membawanya ke kantor polisi, Avena pun bertanya kepada Cecep mengapa dia bisa mempunyai niat membunuh saudaranya tersebut.

"Ngadangu janji Yani jeung Maman, kuring haneueul pisan. Saenggeus Yani papisah, kuring nyekap manehna terus neunggarkeun kai kana mastakana. Kuring karak nyadar geus ngabunuh Yani. Kuring panik tapi akhirna kuring manggihan tali. Mayitna tuluy kuring bawa ka tangkal nangka eta, tuluy kuring gantung"
[Mendengar janji Yani dan Maman itu membuatku gelap mata. Begitu Yani berpisah dengan Maman, aku mengikuti Yani dan akhirnya membekap mulutnya agar dia tak bisa berteriak, sebelum ku ayunkan kayu di belakang kepalanya. Dan disaat kebingunganku karena aku baru sadar aku sudah membunuhnya, tiba-tiba aku melihat tali. Tali yang membuat Maman sekarang mendekam di penjara. Aku pun membawa jasadnya ke depan rumah yang jarang dilalui warga dan menggantungnya di pohon nangka]
…………………………………………………………………………

Malam itu aku tak bisa tidur, aku terus memikirkan tentang kisah Yani dan Maman yang romantis walau berakhir tragis. Kisah mereka mengajarkanku tentang kesabaran. Sampai tak terasa pagi menjelang. Aku pun bersiap untuk pulang ke Sangilta.Di tengah perjalanan pulang itu Avena berkata, ”Aku akan meneruskan cita-cita kak Yani.”
“Termasuk janjinya dengan si Maman?” ledekku.
“Memangnya kamu rela?” balas Avena.
“Dasar, mau meledek malah diledek balik,” ucapku dalam hati.
“Nggak kok bercanda,” sambung Avena,
“Aku hanya ingin meneruskan perjuangan kak Yani sampai akhirnya aku bisa jadi apa yang selama ini masih kak Yani tunggu. Dan mendedikasikannya buat kak Yani”
“Lalu bagaimana dengan cita-citamu yang ingin membuat Home Sweet Home?”
“Bisa kan selama menunggu aku bikin usaha jualan kue?”
Aku tersenyum mendengar jawaban Avena. Sepertinya dia tak berlarut-larut dalam kesedihan ditinggal oleh seseorang yang sudah dianggapnya seperti kakak kandungnya sendiri. Justru Avena terlihat semakin kuat setelah mengalami kasus ini.

“Likur, ngomong-ngomong kenapa kau tidak langsung bilang bahwa pelakunya adalah Cecep?”
“Aku hanya menuruti kata-katamu agar aku tak mengambil keputusan saat semua belum pasti. Korek api yang kemarin kamu pegang itu belum jelas siapa pemiliknya. Tes sidik jari yang dilakukan tim forensik pun tidak menunjukkan siapa pemilik korek itu karena korek itu basah saat kutemukan. Ketika aku menanyakan tentang rokok, sebenarnya aku hanya berpikir kemungkinan bahwa jika pelaku membawa korek, mungkin dia seorang perokok. Dan diakhir kesimpulanku sebelum menangkap Maman, Cecep seperti mencoba merogoh saku celananya dan terlihat sedikit panik.”

…………………………………………………………………………

Akhirnya kami pun kembali ke Sangilta. Aku mengantarkan Vena dan Nadia sampai rumahnya terlebih dahulu sebelum akhirnya pulang ke rumah. Dirumah, aku pun melepas lelah di bangku yang berada di beranda depan rumahku. Tiba-tiba seorang loper koran datang dan memberikan surat kabar sore langganan kakekku. Aku terpana melihat headline di sebuah surat kabar tersebut. “Kembalinya Budi Suraja”

Draft Enigmaze Chapter 4 (begin) - Berawal dari Seekor Kucing

Seminggu beralalu sejak kasus yang memilukan itu. Aku sudah tidak terlalu terpukul dan mulai move on dari kasus itu. Saat ini aku harus tetap fokus pada tujuanku semula. Mencari tahu misteri kematian ayahku. Namun, sejak kasus meledaknya gedung kuning, Profesor FAQ belum jua memberi kabar. Beliau pergi ke luar kota untuk mencari data katanya.
…………………………………………………………………………

Pada hari minggu, cuaca cerah berawan. Aku sudah berjanji datang ke rumah Avena, mencoba rainbow cake buatannya. Avena memang sedang giat belajar membuat kue, dia memiliki obsesi memiliki toko kue sendiri. Home Sweet Home, itulah nama yang ia rencanakan untuk membuat tokonya nanti.

Di tengah perjalanan menuju rumah Avena, suara kucing mengusikku. Suara itu berasal dari sebuah pohon. Jangan-jangan pohon ini jelmaan siluman kucing, pikirku. Pikiran macam apa itu, pikirku lagi. Ku edarkan pandanganku, sampai akhirnya kutemukan sesosok makhluk mungil bermata kuning, dengan bulu yang belang berwarna kuning belang putih serta kalung melingkar di lehernya. Sebuah kucing yang manis terjebak diatas pohon. Entah apa yang dia lakukan sebelumnya sampai bisa ada di atas pohon tersebut.



Aku pun berinisiatif untuk memanjat pohon itu dan menurunkan kucing malang tersebut. Setelah kucing itu kuselamatkan, aku kembali berjalan menuju rumah Avena. Namun sang kucing tetap mengikuti sambil mengeong manja. Akhirnya aku putuskan untuk membawa serta kucing tersebut ke rumah Avena. Avena pernah bercerita kalau adiknya memelihara kucing, siapa tahu kucing ini bisa dipeliharanya juga, pikirku.
…………………………………………………………………………

*ting-tong*
*klak*

Seorang remaja putri membukakan pintu. Kali ini bukan Avena yang membuka pintu, melainkan adiknya yang sekarang bersekolah di SMP 1 Sangilta. Nadiavina Alamanda, begitulah nama yang ia sebut saat berkenalan dulu.

“Dian?”

Aku kaget. Sejak kapan Avena mengajari adiknya untuk memanggilku ‘Dian’.  Tapi aku berpikir cepat, mata Nadia tak menatap mataku. Matanya tertuju pada makhluk mungil yang ada di pundakku saat ini.

“Kaka Kaka Likur nemuin Dian dimana? Nadia dari kemarin nyariin nggak ketemu-temu.”

“Tadi aku tidak sengaja menemukannya kok. Saat jalan ke sini, tiba-tiba ada suara mengeong dari pohon. Aku yang penasaran mencari sumber suara dan menemukan kucing malang ini tersangkut di pohon. Jadi aku menurunkannya. Setelah turun, aku mau meninggalkannya, eh, kucing ini malah meminta ikut denganku.”

“Makasih ya Kaka Kaka Likur. Oh iya, masuk-masuk dulu. Kak Vena belum selesai bikin rotinya. Dian, ayo sini, jangan nakal sama Kaka Kaka Likur.”

Kucing itu kuserahkan kepada Nadia. Nadia pun masuk ke dalam rumah. Aku pun ikut masuk ke rumah yang mewah itu. Di ruang tamu, aku menduduki sofa tempat biasa aku duduk saat bertamu di rumah ini. Avena dan Nadia kembali lagi ke ruang tamu membawa teh manis.

“Likur, maaf ya kuenya masih belum jadi, tapi tinggal sebentar lagi kok. Nadia kamu temenin Kak Likur dulu ya,” ucap Vena sambil berlalu menuju dapur kembali.

“Iya Kak.”

“Tidak usah terburu-buru Ven, ntar malah jadi tidak sempurna kuenya.”

“Iya deh iya.”
…………………………………………………………………………

“Makasih ya Kaka Kaka Likur. Nadia seneng banget Dian udah ketemu.”

“Iya, sama-sama. Makanya kucingnya dikasih makan, biar tidak kabur-kabur lagi.”

“Ih Kaka Kaka Likur jahat. Masa nuduh Nadia nggak ngasih makan kucing. Kemarin kan Dian yang nakal, ninggalin Nadia pas jalan-jalan. Masa tiba-tiba Dian melompat dari tangan Nadia. Terus Dian kukejar, eh Nadia malah kesandung batu. Begitu bangun udah nggak tahu Dian kemana.”

Aku tertawa kecil mendengar keluguan dari anak SMP ini. Kebiasaannya memanggil namaku dengan ‘Kaka Kaka Likur’ pun menurutku lucu. JIka dia memanggil kakaknya dengan ‘Kak Vena’ mengapa dia tidak memanggilku dengan ‘Kak Likur’ atau ‘Kak Kalikur’?

Saat aku meminum teh manis pemberiannya, tiba-tiba Nadia berkata, “Kaka Kaka Likur suka sama Kak Vena ya?”

Aku tersedak mendengar ucapannya yang tiba-tiba saja berubah topik itu. Aku sampai terbatuk-batuk. Mendengar keributan yang dibuat olehku, Avena bergegas ke ruang tamu.

“Kamu kenapa Likur? Apa tehnya tidak enak?”

Belum sempat kujawab, Nadia segera menyambar “Nadia lagi tanya sama Kaka Kaka Likur, tapi belum dijawab malah batuk-batuk.”

“Memangnya kamu tanya apa?”

“Nadia tadi tanya apa Kaka Kaka Likur suka sama Kak Vena.”

Dengan wajah memerah Avena menjawab, “Apa-apaan sih kamu. Udah Likur nggak usah denger ucapan adikku yang nakal ini.”

Avena pun kembali ke dapur. Nadia tertawa kecil melihat reaksi kakaknya. Perbincangan antara Nadia denganku pun kembali berlanjut. Nadia menceritakan tentang kehidupan sekolahnya. Sejak SD sampai sekarang di SMP Sangilta, dia selalu mendapatkan peringkat pertama. Dia sangat senang dengan prestasinya tersebut menyamai prestasi kakaknya. Aku pun menceritakan kisahku dari psikambing sampai konser emas kemarin.

“Jadi Kaka Kaka Likur itu detektif?”

“Bukan kok, aku cuma anak SMA biasa.”

“Tapi kan bisa kayak detektif gitu, ngaku aja deh. Hebat deh. Pantes bisa nemuin Dian.”

“Ah kalo yang hari ini Cuma kebetulan saja kok.”

Setelah menunggu beberapa menit, Avena kembali dari dapur dan membawa kue pelangi bikinannya. Avena pun menawarkan, “Silahkan dicicipi, maaf kalau kurang enak. Aku masih belajar.”



Kucicipi kue dengan tujuh warna tersebut. Seperti yang sudah kuduga, Avena memang memiliki bakat membuat kue. “Enak kok, udah kayak master patisserie saja.”

“Ah, kamu bisa saja.”

“Kak Vena, kapan-kapan ajarin Nadia ya.”

“Iya. Kakak ajarin nanti.”
…………………………………………………………………………

Waktu begitu cepat berlalu, langit tampak jingga, pertanda hari sudah letih dan ingin beristirahat, digantikan oleh malam. Aku pun berpamitan. Ketika sudah keluar dari pintu, iba-tiba Nadia memanggilku.

“Kaka Kaka Likur, ada acara nggak sabtu dan minggu depan?”

“Sepertinya tidak, memangnya kenapa?”

“Ikut kak Vena sama Nadia yuk ke Tasikmalaya?”

Ngapain? Beli es buah rumput laut?”

“Ih, bukan. Ada saudara yang ulang tahun. Sekalian kan Kaka Kaka Likur bisa liburan disana. Pemandangannya bagus lho, dijamin deh nggak nyesel kalau ikutan.”

“Emm, gimana ya? Ven, gimana nih?”

“Terserah kamu saja. Kalau mau ya ikut saja. Ultahnya di hari minggunya. Kita berangkat dari sini Sabtu pagi saja. Kebetulan sekolah libur kan”

“Oke deh. Seumur-umur baru pernah pergi ke luar Sangilta dan Purwokerto. Makasih ya sudah mau mengajak.”

Nadia tersenyum senang. Aku pun kembali pulang ke rumah kakekku yang sederhana.
…………………………………………………………………………

Seminggu pun berlalu dengan cepat. Aku sebenarnya mengajak Z untuk ikut serta ke Tasikmalaya, tapi dia lebih memilih untuk tinggal di rumah. Mungkin dia sudah ada janji dengan Yasmin.

Perjalanan lintas provinsi ini dimulai pukul sembilan pagi. Aku, Vena, dan Nadia berkumpul di tempat Avena sebelum berangkat. Kami berencana menaiki kereta api. Dengan angkot nomer 7 dengan jurusan Stasiun Nyangidadhah, kami pun menuju stasiun tempat keberangkatan kami. Kereta itu akan berhenti di Stasiun Tasikmalaya.
…………………………………………………………………………

Setelah menghabiskan waktu 4 jam lebih sedikit, akhirnya kami tiba di Stasiun Tasikmalaya.  Kami pun mencari angkot yang menuju jalur jalan provinsi, perbatasan kota dan kabupaten Tasikmalaya. Setelah melewati waktu setengah jam di angkot, kami tiba di sebuah desa yang berada di perbatasan kota dan kabupaten Tasikmalaya itu.

Kami pun berjalan menyusuri desa, dan akhirnya sampailah kami di tempat saudaranya Vena. Sebuah rumah yang memiliki lokasi strategis. Dari depan rumah saja, kami bisa melihat pemandangan. Ada dua gunung terlihat dari sini, yaitu Gunung Galunggung, dan Gunung Syawal. Tidak jauh dari rumah itu, terlihat sawah dan sungai kecil yang mengalir. Banyak juga burung yang beterbangan. Tepat seperti pemandangan yang sering kugambar sewaktu aku masih di SD dulu. Kurasa, matahari pun muncul dibalik kedua gunung iu di pagi harinya.



Pintu rumah terbuka, sesosok perempuan manis menyambut kedatangan kami bertiga. Aku sempat kaget ketika melihat wajahnya yang bagai pinang dibelah dua dengan Avena. Dia pun kaget melihat keberadaanku.

“Vena, Dia, kalian bersama siapa ke sini?”

“Oh, ini Kaka Kaka Likur. Nadia yang ngajak dia kemari. Dia hebat lho Kak Yani, kayak detektif. Kemarin-kemarin saja kucing Nadia hilang, Kaka Kaka Likur yang nemuin,” jelas Nadia dengan nadanya yang menggemaskan.

“Perkenalkan, M Kalikur. Maaf kalau kedatanganku yang tak diundang ini merepotkan,” ucapku sambil mengajak bersalaman.

“Yani Heriyani. Tidak apa-apa kok, aku cuma kaget aja karena kukira mereka datang berdua. Silahkan masuk.”

Kami pun masuk ke rumah yang lumayan besar itu. Ibu Yani pun memberi sambutan yang hangat. Aku dipersilakan untuk menempati kamar yang biasa digunakan oleh Ayah Yani yang kebetulan sedang tugas bekerja di luar kota. Aku pun segera melepas lelah, membersihkan diri dan berganti pakaian.
…………………………………………………………………………

Malam pun datang. Ibu Yani telah mempersiapkan makan malam untuk kami. Sebuah masakan khas sunda, Nasi timbel. Nasi ini dimasak dengan membungkus nasi panas di dalam daun pisang. Panas nasi menjadikan aroma daun pisang luruh dan menambah aroma nasi. Nasi inilah yang katanya menjadi cikal bakal nasi bakar. Begitulah yang kubaca di sebuah artikel majalah kuliner. Aku pun mencoba untuk memakannya untuk yang pertama kali. Ternyata rasanya enak juga, pikirku dalam hati.

Di tengah makan malam, tiba-tiba Yani meminta ijin untuk pergi. “Bu, Yani mau keluar sebentar ya, ada yang perlu dibeli.”

“Ditemani Vena atau Nadia ya?”

Teu usah Bu, Yani sendiri saja.”

“Ati-ati ya neng.”

Walaupun ibu Yani mengijinkan anaknya pergi, namun aku melihat raut khawatir di wajah beliau. Sepertinya beliau sangat mengkhawatirkan putri semata wayangnya tersebut.
…………………………………………………………………………

Setelah lebih dari satu jam, Yani tak kunjung kembali. Ibu Yani pun panik. “Vena, Nadia, coba cari Yani. Sudah satu jam belum balik juga.”

Vena dan Nadia beranjak keluar rumah. Aku pun mengikuti kepergian mereka. Begitu membuka pintu, kami bertiga menghambur keluar. Setelah beberapa saat mencari, mataku tertahan pada sebuah pohon nangka di depan rumah. Pohon itu kusorot dengan senter yang tadi kubawa. Aku hampir tak memercayai penglihatanku saat ini.  Orang yang baru kutemui sore ini dan kuajak bersalaman itu, tergantung di atas pohon di tengah gelapnya, sunyinya, dan dinginnya malam.

Draft Enigmaze Side Story - Chapter Root Of Negative 3 - Sangilta Cup

“Kur, Kur, nek gemuyu aja kebablasen, mbok mengko malah dadi nangis”
[Kur, Kur, kalau tertawa jangan kelewatan, nanti malah jadi nangis]

Begitulah yang kakekku ucapkan ketika aku masih kecil dulu. Dulu entah kenapa setelah puas tertawa-tawa karena senangnya bermain, tiba-tiba saja ada hal yang membuat menangis, entah apa yang membuatku menangis, aku sendiri juga sudah lupa. Namun, hal ini adalah misteri yang masih menjadi misteri bagiku.

Seperti saat ini, setelah seminggu sebelumnya aku terlarut dalam kebahagiaan setelah menjadikan kelasku sebagai juara Sangilta Cup, aku dibuat ‘menangis’ melalui kasus tragis yang terjadi kemarin. Mungkin lebih baik aku sejenak melupakan kasus tragis itu dan mengenang kemenangan bersejarah minggu lalu agar aku merasa lebih baik.

Sebenarnya jika ditanya mengenai kemampuan sepakbola, maka jawabanku adalah nol besar. Ya bukan sepenuhnya nol juga sih, tapi bisa juga dikatakan nol. Fisikku yang kecil tak memungkinanku berduel dalam memperebutkan bola. Tendanganku pun tak sekeras temanku yang lain, keakuratannya pun tidak terlalu akurat.

Hal yang membuat aku ikut dalam tim kelasku hanyalah karena keterbatasan jumlah pemain. Ya, kelasku hanya memiliki sebelas orang laki-laki. Yang memaksaku agar ikut bermain dalam olahraga yang katanya pertama kali dikenalkan di Inggris tersebut. Padahal aku lebih suka menonton sepakbola saja.

Namun, aku mencoba untuk mengerahkan satu-satunya kemampuanku. Menganalisis permainan lawan selama babak pertama, dan membuat strategi untuk meng-counter taktik lawan di babak kedua. Aku pun mulai berpikir, apakah suatu saat nanti aku mencoba menjadi pelatih Timnas Indonesia saja.

Setiap tahun terdapat sepuluh tim yang mengikuti Sangilta Cup. Lima tim dari kelas X, dan lima tim dari kelas XI. Kelas XII tidak diikutsertakan.

Karena terdapat sepuluh tim, maka empat tim harus saling beradu terlebih dahulu agar memastikan tempat ke babak delapan besar, sementara enam tim lainnya sudah menunggu di babak delapan besar. Penentuan tim mana yang langsung lolos dan harus menjalani laga sebelum delapan besar murni dengan undian. Kebetulan kelas kami masuk ke dalam enam tim yang beruntung. Aku pun mensyukurinya hal tersebut.
Pertandingan pertama kelasku berada di babak delapan besar adalah menghadapi kelas X-1 yang secara mengejutkan mengalahkan XI IPS-2 dengan skor 2-1. Sementara di pertandingan lainnya X-4 bertemu XI Bahasa-1, kemudian X-3 bertemu X-5, dan yang terakhir XI IPS-1 yang sebelumnya melibas perlawanan X-2 dengan skor 4-0 bertemu dengan XI IPA-2.

Kami tidak bisa meremehkan kelas X-1, yang sebelumnya berhasil menundukkan kelas yang diunggulkan menjuarai Sangilta Cup selain, XI IPS-1. Pertandingan ini berlangsung sengit. Di sepanjang babak pertama yang berakhir dengan skor 0-0, aku mencoba mencari kelemahan yang dimiliki oleh kelas X-1. Dari pengamatanku, X-1 cenderung menekan melalui bagian kiri, dan ketika mereka keasyikan menyerang, sisi sebelah kiri lebih terbuka karena pemain belakang turut aktif menyerang. Aku pun memberikan instruksi kepada temanku pada jeda pertandingan kedua. “Seranglah sisi sebelah kiri ketika melancarkan serangan balik.”

Rencana berhasil. Taufik, temanku yang paling mahir bermain bola, melesakkan dua gol untuk kemenangan tim kami. Aku cukup puas dengan kemenangan ini. Walaupun aku hampir tidak pernah menyentuh bola di sepanjang pertandingan, instruksi yang kuberikan dalam jeda, mengubah arah permainan sehingga kami dapat lolos ke babak semifinal.

Di semifinal, XI Bahasa-1 yang mengakhiri perlawanan X-4 dengan adu penalti setelah ditahan 1-1 selama 120 menit telah menunggu. Sementara pertandingan semifinal lain mempertemukan X-5 yang berhasil melewati adangan X-3 melalui laga yang berkesudahan 1-0 dengan favorit juara XI IPS-1 yang mengandaskan perlawanan XI IPA-2 dengan skor 3-0.

Di babak ini, aku menggunakan cara yang sama dalam menghadapi XI Bahasa-1. Organisasi rapi yang diperagakan anak kelas XI Bahasa-1 membuat tim kami kecolongan satu gol di babak pertama. Walaupun agak ragu dengan analisisku, aku mencoba memberikan instruksi sebelum memasuki babak kedua. “Tim lawan bermain baik, tapi sepertinya mereka mengalami masalah jika harus beradu lari. Jadi kepada pemain tengah, buatlah umpan jauh kepada striker.”

Walau sempat ragu, dugaanku tidak meleset. Taufik, anak keriting dan berkulit sawo matang, berulang kali lolos dari kawalan pemain belakang lawan setelah beradu cepat memperebutkan bola. Namun, penjaga gawang XI Bahasa 1 lebih hebat dari dugaanku. Tiga kali peluang emas Taufik dimentahkannya. Aku pun kembali berpikir apa kelemahan penjaga gawang tersebut. Sampai akhirnya aku mendekati taufik dan berbisik. “Cobalah untuk menembak dengan menyusur tanah.”

Sekali lagi aku berhasil menganalisis kelemahan lawan. Dua kali tembakan menyusur tanah yang dilepaskan Taufik berhasil membuahkan gol. Menjelang berakhirnya pertandingan, Taufik dilanggar di kotak penalti. Aku mencoba untuk mengambil tendangan yang katanya sembilan puluh sembilan persen berbuah gol. Walapun tendanganku tidak terlalu keras, kalau sekadar sebelas-duabelas meter sampai lah. Aku pun mengambil langkah tenang dan mencoba membaca gerakan sang penjaga gawang. Aku menendang ke kanan gawang setelah sebelumya membaca gerakan tubuh penjaga gawang yang mulai bergerak ke kiri.

Gol. Pertandingan berakhir dengan skor 3-1. Sementara di pertandingan lain, XI IPS-1 meneruskan performa yang prima dengan mengalahkan X-5 dengan skor 5-0. Sebuah hasil yang fantastis. Dari tiga pertandingan sebelumnya mereka berhasil mencetak dua belas gol dan tidak pernah kebobolan.

Sebelum pertandingan final dimulai, aku meminta dukungan dari Avena yang langsung ditolaknya. Terang saja, Avena merupakan siswi dari kelas XI IPS-1. Sambil tersenyum kecil dia berucap “Semoga saja kau bisa bermain baik, walaupun kau akan kalah dari tim kami.”

Di bawah teriknya sinar matahari, pertandingan final segera dimulai.
*prit*
Pertandingan baru berjalan beberapa detik, sebuah serangan yang dibangun oleh XII IPS-1 nyaris menggetarkan jala gawang yang saat ini dijaga oleh Z. Bola tendangan Sukro, top skor sementara dengan lima golnya, hanya mengenai tiang gawang.

Serangan balik dilakukan, Z segera membuang bola ke tengah lapangan dan tepat menuju ke arahku. Aku berlari menyongsong bola, dan ketika aku mencoba mengoper kepada Adi, terjangan dari Sukro dengan tubuh besarnya menjatuhkanku. Tendangan bebas pun diberikan. Aku heran dengan kecepatan Sukro yang beberapa saat lalu masih berada di depan gawang sudah mendekati area tengah lapangan. Aku mengambil tendangan dan mengirimkan bola ke Taufik. Dengan luwesnya taufik membawa bola dan melewati adangan pemain belakang lawan. Taufik pun menendang bola ke arah gawang. Namun Sukro tiba-tiba datang mem-blok tendangan Taufik dan menghasilkan tendangan penjuru.

Tendangan penjuru dilakukan oleh Adi, anak berambut lurus berkulit putih. Tendangan yang diberikan Adi melewati Sukro dan Taufik yang beradu bola, beberapa pemain belakang. Aku yang berada di sudut jauh dari tendangan Adi menerima bola sendirian. Tidak ada orang yang mengawalku, dan sang penjaga gawang masih kebingungan menentukan dimana adanya bola itu. Dengan tenangnya, kuarahkan bola ke gawang.

*tang*

Bola mengenai sudut gawang sebelum akhirnya masuk ke jala gawang. Skor berubah 1-0. Pertandingan berlangsung semakin panas. Apalagi dengan teriknya matahari siang itu. Sukro berkali kali menembakkan bola ke gawang. Z berhasil menghalaunya. Aku pun takjub dengan kemampuan Z sebagai pejaga gawang. Babak pertama berakhir. Seperti biasa aku memberikan instruksi sebelum babak kedua dimulai.

“Sukro adalah pemain yang berbahaya. Lebih baik jangan sampai dia menembak terlalu banyak. Walau Z bermain gemilang di babak pertama, aku tak yakin apakah Z bisa bertahan jika terlalu sering menerima tendangan pemain bertubuh gendut itu. Gol yang diciptakan olehku adalah kesalahan dari pemain belakang lawan yang tidak menjagaku. Pemain belakang itu kurang cermat dalam menjaga pemain, sebisa mungkin buatlah gerakan yang membingungkannya jika sedang dikawal olehnya.”

Pertandingan babak kedua dimulai. Kali ini, tiba-tiba awan hitam mulai bergelayut. Pertanda akan terjadi hujan. Setelah kick-off, pemain XII IPS-1 dengan cepatnya membagun serangan. Sukro menerima umpan dari sebelah kanan dan saat ini hanya dikawal oleh Yadi, pemain belakang yang bertubuh mirip dengan Sukro. Dengan gerak tipunya, Sukro berhasil melewati Yadi dan kini situasi satu lawan satu dengan Z. Sukro maju mendekati gawang dan melakukan gerak tipu untuk memeperdaya Z. Sukro pun menendang bola ke gawang yang telah kosong tersebut. Gol.

*Jdar*

Bersamaan dengan gol penyama kedudukan tersebut, petir menggelegar. Hujan turun seakan terpanggil oleh petir tersebut. Dalam guyuran hujan, tim XII IPS-1 justru semakin tak terkendali. Mereka tetap lancer melakukan serangan. Sementara pemain belakang kami mulai kerepotan dengan lapangan yang menjadi lebih licin. Penguasaan bola didominasi oleh XII IPS-1.

Satu tendangan dilepaskan Sukro. Z mencoba untuk menepis tendagan itu, namun tendangan itu melewati tangan dari Z. Sepertinya gol kedua akan tercipta.

*tang*

Bola mengenai gawang, dan memantul ke luar lapangan. Tendangan gawang dilakukan. Bola menuju ke tengah lapangan dan medarat di kakiku. Ada dua pemain yang menjagaku. Aku pun mengoper ke belakang tanpa melihat siapa yang ada di belakangku, dengan harapan memang ada pemain yang berdiri di belakangku. Sayangnya, pemain d belakangku adalah pemain lawan yang segera mengoper kepada Sukro. Sukro kembali menendang bola dengan kaki kanannnya. Gol. Z tidak berdaya saat tendangan itu mengarah di sudut kanan atas gawangnya. Skor menjadi 2-1. Sepertinya sejarah akan terus berlanjut. IPS kembali menguasai Sangilta Cup.

Namun kami tak boleh lantas berputus asa. Dengan mengandalkan serangan balik, tim kami mendapatkan peluang emas. Taufik berhasil melewati semua pemain belakang dan tinggal berhadpan dengan penjaga gawang. Namun dari arah belakang, Sukro menerjang dan menjatuhkan Taufik di dalam kotak penalti. Tendangan penalti pun diberikan. Aku pun kembali bertindak sebagai algojo. Dengan tenangnya aku menembak ke arah kiri. Sang penjaga gawang telah tertipu dengan melompat ke arah kanan. Namun ternyata bola yang ku tendang sangat melebar dan hanya menghasilkan tendangan gawang.

Situasi menjadi lebih buruk. Dua kali aku melakukan kesalahan. Seharusnya tim kami sudah unggul jika aku tak berbuat kesalahan. Namun temanku adalah orang yang baik. Mereka tidak marah maupun kecewa. Mereka justru menyemangatiku agar tak berbuat kesalahan lagi. Aku pun tersenyum dan mencoba untuk bangkit.

Lima menit sebelum pertandingan berakhir, tim kami mendapatkan tendangan sudut kembali. Kali ini pemain belakang menjagaku dengan ketat, tak mau kecolongan lagi. Saat Adi menendang bola, aku bergerak mendekati gawang dan disusul oleh pemain belakang yang menjagaku. Aku melompat mencoba untuk menyundul bola. Namun bola itu hanya melewati kepalaku. Pemain belakang yang menjagaku pun tdak berhasil meghalau bola. Taufik yang berdiri bebas, melakukan tendangan voli yang menghujam ke gawang XI IPS-1. Gol. Kedudukan pun kembali seimbang.

XI IPS-1 semakin gencar menyerang agar menghasilkan gol tambahan. Tepat di menit terakhir, Sukro terjatuh di kotak penalti saat Yadi mencoba merebut bola darinya. Penalti pun diberikan. Aku pun merasa sepertinya ini adalah akhir dari perlawanan kami untuk menciptakan sejarah. Sukro mengambil sendiri tendangan penalti tersebut. Peluit berbunyi dan Sukro menendang menyusur tanah. Z menubruk ke sisi kanan gawang, namun ternyata bola mengarah ke kiri gawang. Bola itu semakin mendekati gawang dan …

Bola itu berhenti tepat di garis gawang. Adanya air yang berasal dari hujan itu menahan bola untuk memasuki gawang. Z pun segera berbalik mengambil bola yang terdiam di garis gawang tersebut dan membuang bola ke tengah lapangan. Taufik menerima bola itu dan berlari menuju gawang lawan. Melihat bola berada di kaki Taufik, aku segera berlari membuntuti anak keriting itu. Gerakan lincah Taufik dapat melewati tiga pemain yang mencoba menghentikannya. Ketika tinggal berduel satu lawan satu dengan penjaga gawang, Taufik mengoper bola kepadaku. Penjaga gawang yang kebingungan pun tak sempat menahan tendanganku yang mengarah ke tengah gawang. Gol. Skor berubah menjadi 3-2 untuk keunggulan tim kami. Bersamaan dengan gol itu, peluit panjang dibunyikan.

Sejarah pun tercipta, untuk pertama kalinya juara Sangilta Cup bukanlah berasal dari kelas IPS. Panitia menyematkan MVP kepadaku yang dianggap sebagai factor kunci kemenangan tim XI IPA-1. Sedangkan, gelar top skor atau pencetak gol terbanyak diberikan kepada Sukro, dengan tujuh gol.

Mengenang hal tersebut membuatku sedikit mengulum senyum. Aku harus segera bangkit dan tidak larut dalam kesedihan karena gagalnya kasus kemarin.  Aku harus mengingat pesan ayahku, kebenaran akan terungkap pada waktunya nanti.

Draft Enigmaze - Chapter 3 (end) - Orang Kelima?

Sebelum aku memulai analisis, Z pergi untuk mencari bukti lain katanya. Sebelum pergi, Z menyerahkan sebuah cincin yang ia temukan di sekitar puing-puing reruntuhan panggung. Aku pun berpikir cepat bahwa cincin itu merupakan milik pelaku. Aku pun menyerahkan kepada Briptu Wulan agar tim forensik mengetes sidik jari yang terdapat di cincin tersebut.

“Misteri ini sudah tak lagi menjadi misteri,” ucapku sambil membenarkan kacamata yang sebenarnya sudah benar posisinya, “Sebuah igniter memiliki batas jarak maksimal agar tombol pada remote igniter befungsi. Dan setelah penelusuran di sepanjang area konser, akhirnya ditemukan sebuah remote igniter yang ditanam di dalam tanah. Dengan menginjaknya saja, igniter ini akan aktif. Pelaku juga harus berada di tempat ini untuk memastikan bahwa Sri Wahyuni berada di bawa titik ledak.

Dengan demikian jika alibi keempat tersangka yang menyatakan bahwa mereka sedang berada di rumahnya, maka pelaku bukanlah salah satu diantara mereka. Sayangnya,keempat tersangka telah berbohong kepada polisi.”

Semua orang yang berada di tempat itu tersentak mendengar ucapanku yang mungkin tidak mereka duga. Sejenak kuamati reaksi keempat tersangka, tapi aku tidak melihat keanehan. Semua terlihat terkejutdan terlihat sama. Mungkin saja memang aku saja yang tak pandai membaca wajah seseorang.

“Mataku memang tidak meliat mereka saat konser berlangsung, namun bukti yang menempel pada baju para tersangka tidak bisa berbohong.”

Semua memperhatikan baju yang dipakai keempat orang tersebut, mengamati apakah ada yang salah dengan baju yang mereka kenakan.

“Yono mengenakan baju berwarna biru, Aziz dengan kaos warna merah, Barok dengan kaos warna hitam dan yang terakhir Simon dengan baju tanpa lengan berwarna abu-abu. Namun bukan warna baju tersebut yang aku permasalahkan. Tetapi lihat bagian belakang dari baju tersebut, terdapat stiker bergambar siluet perempuan yang sedang bernyanyi disertai dengan tulisan ‘Konser Emas’.

Stiker itu ditempelkan oleh petugas di pintu masuk. Sebelum masuk, petugas memberi tepukan ke punggung penonton dan berkata ‘Selamat menyaksikan Konser Emas’ sambil tersenyum. Namun, dibalik aksi tersebut, petugas itu menempelkan stiker kejutan tersebut ke setiap orang yang datang untuk menonton.”

Keempat tersangka diam membisu tanda tak bisa membantah perkataanku. Dengan ini, aku pun semakin yakin bahwa Simon-lah pelaku yang membuat kegemparan di konser perdana penyanyi cantik, Sri Wahyuni.

Setelah menunggu beberapa saat, tim forensik datang dan melaporkan hasil penelitiannya.Sidik jari yang ada dalam cincin itu adalah milik Simon. Dengan hal tersebut dengan yakin aku menunjuk ke arah Simon, “Orang yang memasang igniter dan membakar panggung ini adalah kau, Simon!”

“Likur, apa kau sudah yakin dengan ini? Jangan seperti yang kemarin lagi,” bisik Vena yang berdiri di belakangku. Aku hanya mengangguk kecil, tanda bahwa aku yakin dengan apa yang aku utarakan pada saat itu. Kemudian Aku kembali melanjutkan perkataanku. “Sebagai buktinya, lihatlah apa yang ditemukan temanku saat mencari sesuatu di panggung ini,” kataku sambil menunjukkan sebuah cincin, “Polisi telah memeriksa sidik jari pada cincin ini.

Simon tercengang mendengar tuduhanku dan melihat ke jari tangannya yang membuat dia semakin tercengang. Rupanya dia tidak sadar telah meninggalkan bukti sekuat ini. Dia semakin terdiam. Akan tetapi tiba-tiba sesosok perempuan cantik memecah keheningan. “Hey bocah sok detektif. Analisismu menarik, namun jangan terburu-buru dengan kesimpulannya.”

“Rossa?” ucap Simon terbata-bata saat mengenali siapa yang baru saja berbicara.

 “Apa maksudmu dengan terburu-buru?” tanyaku penuh selidik.

“Bagaimana kalau aku bisa membuktikan bahwa kakakku ini tidak bersalah?” tanya Rossa seperti menantang. Ternyata dia meiliki hubungan darah dengan Simon. Ketika aku hendak menjawab pertanyaan ini, tiba-tiba Simon menyela pembicaraan.

“Sudah cukup Rossa, aku mengakuinya. Akulah yang memasang bom pada atap dan meledakkannya. Aku melakukannya karena aku benci dengan acara keramaian seperti ini.”

Kuperhatikan Rossa tertegun mendengar kakaknya yang tiba-tiba mengakui perbuatannya. Namun Rossa tak menyerah begitu saja.

“Kakak? Apa maksudmu dengan ini? Bukankah kakak memang tidak datang ke tempat ini kemarin?”

“Daritadi aku tak mengerti arah pembicaraanmu. Apa yang mau kamu buktikan sebenarnya?”

“Rossa, cukup. Polisi tangkap saya saja sekarang,” ucap Simon pasrah.
...........................................................................................................................................................

Sementara itu di tempat lain, Z yang berpisah dengan Likur menyelidiki kembali tentang Simon dan bergerak menuju Kepolisian Sangilta.Disaat ia melaju pelan dengan sepatu rodanya, tanpa sengaja Z melihat televisi, yang dipajang di depan toko televisi, sedang menayangkan ulang acara live yang dilangsungkan kemarin di Purwokerto. Dia melihat jelas Simon terlihat di kamera itu sedang berjalan dengan seorang perempuan dan terlihat sedang terburu-buru untuk lari. Pemandu acara yang iseng tiba-tiba menghentikan langkah mereka dan memberi pertanyaan. Walaupun Simon terlihat tidak suka dengan perlakuan tersebut, namun perempuan yang bersama Simon tersenyum ramah dan menjawab pertanyaan tidak penting yang dilayangkan pemandu acara yang norak tersebut. Setelah itu kamera berpindah ke “korban” lain yang didatangi pemandu acara untuk diberi pertanyaan tidak penting lainnya.

Z pun tertegun, dan mencoba menganalisis. Bagaimana kalau bukan Simon pelakunya dan ada orang kelima selain keempat pekerja, yang menyelesaikan pemasangan pangung. Kemudian dia meneruskan perjalanannya untuk menyelidiki profil Simon di Kepolisian Sangilta. Dari data yang diberikan petugas kepolisian, Z mengetahui bahwa Simon sudah berkeluarga. Istrinya adalah Nita, warga asli Purwokerto yang merupakan seorang penyiar radio di Purwokerto. Z semakin terkesima saat tahu bahwa istri dari Simon, meninggal sehari yang lalu. Z pun yakin bahwa Simon tidak berada di tempat kejadian dan ada orang kelima yang merupakan pelaku sebenarnya.

Mendapat fakta yang baru membuat Z mencoba menghubungi Kalikur untuk memberitahukannya. Sialnya, ternyata handphone yang dibawa oleh Kalikur sedang tidak aktif karena kehabisan daya baterai. Sedangkan saat mencoba menghubungi Avena, yang saat ini sedang bersama Kalikur, tidak ada jawaban walaupun panggilan itu masuk. Z berpikir mungkin handphone Avena terjatuh atau hilang saat kericuhan terjadi. Z pun memutuskan untuk segera menuju Alun-Alun Sangilta.
...........................................................................................................................................................

Ketika polisi akan menangkap Simon yang telah mengakui perbuatannya, Rossa kembali membuka suaranya.

“Tunggu sebentar. Aku belum selesai bicara.”

“Mau bicara apalagi, dia sudah mengakuinya kok”

 “Kemarin, aku dan kakakku tidak berada disini. Kami sedang berada di Purwokerto, untuk menemui istrinya yang sedang dirawat di Rumah Sakit Purwokerto. Di tengah perjalanan, kami dicegat oleh pemandu acara dari acara yang disiarkan secara langsung. Jika tidak percaya cobalah lihat di situs penyedia video dan carilah dengan kata pencarian ‘Gak Penting-Penting Amat 3 Maret 2012’. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke rumah sakit, tetapi setelah kami sampai di sana, istri kak Simon sudah meninggal dunia. Kami pun seharian berada di Purwokerto karena mengikuti prosesi pemakaman.”

 “Lalu, mengapa hari ini kalian berada di sini?” tanyaku heran.

 “Itu karena aku yang mencoba untuk menghibur kakakku, karena mendiang istrinya berteman baik dengan Sri Wahyuni semasa SMA dulu.”

 Kini gilaran aku yang terdiam. Aku tak mengerti dengan semua ini. Egoku terlalu tinggi untuk mengalah.

 “Tapi dia sudah mengaku bahwa dia melakukannya. Cincin ini juga miliknya. Sudah pasti dia pelakunya.”

 “Cukup Likur. Aku kecewa padamu,” Briptu Wulan tiba-tiba memotong perkataanku, “Kau sudah mempermalukan nama besar ayahmu. Jika kau tidak bisa membantah keterangan yang dikatakan Rossa, tidak usah berbicara lagi. Kurasa kau hanya beruntung saja bisa mengungkap kasus pembunuhan Pak Demang kemarin.”

 Aku semakin kesal. “Dia pasti melakukan trik agar…” belum selesai aku berkata, Vena menamparku untuk yang kedua kalinya seumur hidupku. Bedanya, kali ini bersarang di pipi sebelah kiri.

 “Likur, sadar Likur. Kau belum bisa membuktikan bahwa Simon pelakunya. Percayalah, kebenaran akan terungkap pada waktunya.”

 Aku tertegun dengan kata yang lebih ‘menampar’ dari tamparan Vena. Benar, aku terlalu bodoh. Aku tak boleh membalas ucapan Rossa dengan emosi semata. Aku mengutuk kebodohanku. Seketika itu, tiba-tiba aku teringat dengan ucapan mendiang ayahku di saat aku kecil dulu. “Likur, kadangkala kasus tak terpecahkan saat itu juga, namun kebenaran akan mengungkapnya pada saatnya nanti.” Hampir mirip dengan apa yang dikatakan Vena saat menenangkanku.
...........................................................................................................................................................

 Z yang dengan sepatu rodanya akhirnya sampai juga ke sini. Z mendekatiku yang sedang down dan mengatakan fakta-fakta yang ia temukan saat menyelidiki Simon serta dugaannya terhadap orang kelima. Aku mendengar setiap penjelasannya dan akhirnya mataku sedikit lebih terbuka. Kemudian aku kembali mengulangi pertunjukan analisisku.

 “Sebelumnya, aku meminta maaf kepada semua yang ada disini karena sifat kekanak-kanakanku. Simon, Aku pun meminta maaf padamu untuk tuduhanku yang hanya berdasarkan cincin. Tapi aku mau kau berbicara jujur dengan menjawab pertanyaanku.”

 Simon hanya terdiam, malah Rossa yang angka bicara. “Baiklah aku akan dengarkan, aku akan jawab pertanyaanmu sebagai ganti kakakku yang tak mau membuka suaranya ini, jika aku bisa menjawabnya.”

 “Baiklah, sebelum bertanya aku akan mengemukakan analisisku setelah mendapat informasi dari temanku yang baru saja datang. PT Karyadhi merupakan perusahaan dengan sistem yang ketat. Bagi yang melanggar kontrak, PT Karyadhi tidak segan-segan untuk memecatnya.

Dalam hal ini, Simon telah dikontrak untuk menyelesaikan panggung oleh PT Karyadhi bersama tiga temannya yang lain. Akan tetapi, di hari ketiga kontrak, yaitu kemarin, Simon mendapat kabar bahwa kondisi istrinya yang sedang di rumah sakit memburuk.

Dia pun segera berpikir bagaimana bisa menemui istrinya tanpa melanggar kontrak. Dengan ini mungkin dia mempekerjakan orang lain yagar bisa menggantikan dirinya bekerja agar tak melanggar kontrak yang telah disetujui sebelumnya. Melihat ketiga teman yang tidak curiga dengan orang yang menggantikannya, bisa jadi orang tersebut memiliki kesan yang mirip dengan Simon. Bertato, dan berambut panjang. Satu pertanyaanku. Siapa yang menggantikannya bekerja, jika memang Simon tak datang kemarin?”

 Rossa terdiam. Mungkin dia tidak tahu jawabannya. Sedangkan Simon masih saja belum mau membuka suara.

“Simon? Aku tahu hidupmu berat. Kematian istrimu yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga, pasti membuatmu sangat terpukul, namun teruslah berjuang Simon. Aku yakin, jika kau mampu bangkit dan bekerja keras untuk menjalani hidup dengan semangat, pasti Istrimu akan bahagia di alam sana.”

 “Terima kasih bocah.” Untuk pertama kalinya Simon mau berbicara. “Seperti yang tadi kamu jelaskan, semua sama. Saat mendengar keadaan istriku memburuk, aku langsung merasa sedih. Aku harus segera ke rumah sakit, namun aku tak boleh meninggalkan pekerjaan jika aku tetap memiliki pekerjaan.

 Tiba-tiba saja aku melihat seseorang yang sedang bersenandung dengan gitarnya. Sesaat aku amati dan dia memiliki postur tubuh yang sama denganku, berambut panjang serta memiliki tato di lengan kirinya. Aku dekati dia dan mengatakan keadaanku yang sebenarnya kepadanya. Aku pun memberinya uang agar dia mau menggantikanku bekerja. Dia menyetujuinya dan bersalaman denganku. Mungkin saat itulah cincin yang melingkar di jari manisku berpindah tangan. Aku yang sedang kalut pun tidak menyadari hal tersebut.”

“Lalu, siapa nama orang yang menggantikanmu bekerja?”

“Namanya adalah … aaaaaaargh”

*gedebug*

Belum sempat menyelesaikan perkataanya, tiba-tiba saja Simon terjatuh, setelah sebelumnya berteriak. Mulutnya mengeluarkan darah segar. Sepertinya ia telah menelan racun yang memiliki efek membunuh secara perlahan. Semua orang menjadi panik. “Seseorang, secepatnya selamatkan orang ini,” teriakku. Beberapa polisi segera membawa Simon ke rumah sakit terdekat.

Aku terdiam membisu. Seperti kehilangan tenaga untuk sekedar menggerakan tubuh. Kasus kali ini diluar bayanganku, dan berakhir dengan tragis. Aku belum tahu siapa pelaku sebenarnya, dan seseorang yang tak berdosa mati dihadapanku. Seseorang yang putus asa setelah ditinggal istrinya yang menjadi tulang punggung keluarganya yang baru seumur jagung. Semua ini karena kesalahan analisisku yang membuang waktu yang sangat berharga. Jika saja aku bertanya lebih cepat, mungkin Simon masih bisa memberitahukan pelaku sebenarnya. Jika aku mampu berpikir lebih luas, mungkin aku bisa berpikir kemungkinan hal yang dilakukan Simon yang tengah dilanda kekalutan.
Bunuh diri.