Pages

Draft Enigmaze - Chapter 3 (end) - Orang Kelima?

Sebelum aku memulai analisis, Z pergi untuk mencari bukti lain katanya. Sebelum pergi, Z menyerahkan sebuah cincin yang ia temukan di sekitar puing-puing reruntuhan panggung. Aku pun berpikir cepat bahwa cincin itu merupakan milik pelaku. Aku pun menyerahkan kepada Briptu Wulan agar tim forensik mengetes sidik jari yang terdapat di cincin tersebut.

“Misteri ini sudah tak lagi menjadi misteri,” ucapku sambil membenarkan kacamata yang sebenarnya sudah benar posisinya, “Sebuah igniter memiliki batas jarak maksimal agar tombol pada remote igniter befungsi. Dan setelah penelusuran di sepanjang area konser, akhirnya ditemukan sebuah remote igniter yang ditanam di dalam tanah. Dengan menginjaknya saja, igniter ini akan aktif. Pelaku juga harus berada di tempat ini untuk memastikan bahwa Sri Wahyuni berada di bawa titik ledak.

Dengan demikian jika alibi keempat tersangka yang menyatakan bahwa mereka sedang berada di rumahnya, maka pelaku bukanlah salah satu diantara mereka. Sayangnya,keempat tersangka telah berbohong kepada polisi.”

Semua orang yang berada di tempat itu tersentak mendengar ucapanku yang mungkin tidak mereka duga. Sejenak kuamati reaksi keempat tersangka, tapi aku tidak melihat keanehan. Semua terlihat terkejutdan terlihat sama. Mungkin saja memang aku saja yang tak pandai membaca wajah seseorang.

“Mataku memang tidak meliat mereka saat konser berlangsung, namun bukti yang menempel pada baju para tersangka tidak bisa berbohong.”

Semua memperhatikan baju yang dipakai keempat orang tersebut, mengamati apakah ada yang salah dengan baju yang mereka kenakan.

“Yono mengenakan baju berwarna biru, Aziz dengan kaos warna merah, Barok dengan kaos warna hitam dan yang terakhir Simon dengan baju tanpa lengan berwarna abu-abu. Namun bukan warna baju tersebut yang aku permasalahkan. Tetapi lihat bagian belakang dari baju tersebut, terdapat stiker bergambar siluet perempuan yang sedang bernyanyi disertai dengan tulisan ‘Konser Emas’.

Stiker itu ditempelkan oleh petugas di pintu masuk. Sebelum masuk, petugas memberi tepukan ke punggung penonton dan berkata ‘Selamat menyaksikan Konser Emas’ sambil tersenyum. Namun, dibalik aksi tersebut, petugas itu menempelkan stiker kejutan tersebut ke setiap orang yang datang untuk menonton.”

Keempat tersangka diam membisu tanda tak bisa membantah perkataanku. Dengan ini, aku pun semakin yakin bahwa Simon-lah pelaku yang membuat kegemparan di konser perdana penyanyi cantik, Sri Wahyuni.

Setelah menunggu beberapa saat, tim forensik datang dan melaporkan hasil penelitiannya.Sidik jari yang ada dalam cincin itu adalah milik Simon. Dengan hal tersebut dengan yakin aku menunjuk ke arah Simon, “Orang yang memasang igniter dan membakar panggung ini adalah kau, Simon!”

“Likur, apa kau sudah yakin dengan ini? Jangan seperti yang kemarin lagi,” bisik Vena yang berdiri di belakangku. Aku hanya mengangguk kecil, tanda bahwa aku yakin dengan apa yang aku utarakan pada saat itu. Kemudian Aku kembali melanjutkan perkataanku. “Sebagai buktinya, lihatlah apa yang ditemukan temanku saat mencari sesuatu di panggung ini,” kataku sambil menunjukkan sebuah cincin, “Polisi telah memeriksa sidik jari pada cincin ini.

Simon tercengang mendengar tuduhanku dan melihat ke jari tangannya yang membuat dia semakin tercengang. Rupanya dia tidak sadar telah meninggalkan bukti sekuat ini. Dia semakin terdiam. Akan tetapi tiba-tiba sesosok perempuan cantik memecah keheningan. “Hey bocah sok detektif. Analisismu menarik, namun jangan terburu-buru dengan kesimpulannya.”

“Rossa?” ucap Simon terbata-bata saat mengenali siapa yang baru saja berbicara.

 “Apa maksudmu dengan terburu-buru?” tanyaku penuh selidik.

“Bagaimana kalau aku bisa membuktikan bahwa kakakku ini tidak bersalah?” tanya Rossa seperti menantang. Ternyata dia meiliki hubungan darah dengan Simon. Ketika aku hendak menjawab pertanyaan ini, tiba-tiba Simon menyela pembicaraan.

“Sudah cukup Rossa, aku mengakuinya. Akulah yang memasang bom pada atap dan meledakkannya. Aku melakukannya karena aku benci dengan acara keramaian seperti ini.”

Kuperhatikan Rossa tertegun mendengar kakaknya yang tiba-tiba mengakui perbuatannya. Namun Rossa tak menyerah begitu saja.

“Kakak? Apa maksudmu dengan ini? Bukankah kakak memang tidak datang ke tempat ini kemarin?”

“Daritadi aku tak mengerti arah pembicaraanmu. Apa yang mau kamu buktikan sebenarnya?”

“Rossa, cukup. Polisi tangkap saya saja sekarang,” ucap Simon pasrah.
...........................................................................................................................................................

Sementara itu di tempat lain, Z yang berpisah dengan Likur menyelidiki kembali tentang Simon dan bergerak menuju Kepolisian Sangilta.Disaat ia melaju pelan dengan sepatu rodanya, tanpa sengaja Z melihat televisi, yang dipajang di depan toko televisi, sedang menayangkan ulang acara live yang dilangsungkan kemarin di Purwokerto. Dia melihat jelas Simon terlihat di kamera itu sedang berjalan dengan seorang perempuan dan terlihat sedang terburu-buru untuk lari. Pemandu acara yang iseng tiba-tiba menghentikan langkah mereka dan memberi pertanyaan. Walaupun Simon terlihat tidak suka dengan perlakuan tersebut, namun perempuan yang bersama Simon tersenyum ramah dan menjawab pertanyaan tidak penting yang dilayangkan pemandu acara yang norak tersebut. Setelah itu kamera berpindah ke “korban” lain yang didatangi pemandu acara untuk diberi pertanyaan tidak penting lainnya.

Z pun tertegun, dan mencoba menganalisis. Bagaimana kalau bukan Simon pelakunya dan ada orang kelima selain keempat pekerja, yang menyelesaikan pemasangan pangung. Kemudian dia meneruskan perjalanannya untuk menyelidiki profil Simon di Kepolisian Sangilta. Dari data yang diberikan petugas kepolisian, Z mengetahui bahwa Simon sudah berkeluarga. Istrinya adalah Nita, warga asli Purwokerto yang merupakan seorang penyiar radio di Purwokerto. Z semakin terkesima saat tahu bahwa istri dari Simon, meninggal sehari yang lalu. Z pun yakin bahwa Simon tidak berada di tempat kejadian dan ada orang kelima yang merupakan pelaku sebenarnya.

Mendapat fakta yang baru membuat Z mencoba menghubungi Kalikur untuk memberitahukannya. Sialnya, ternyata handphone yang dibawa oleh Kalikur sedang tidak aktif karena kehabisan daya baterai. Sedangkan saat mencoba menghubungi Avena, yang saat ini sedang bersama Kalikur, tidak ada jawaban walaupun panggilan itu masuk. Z berpikir mungkin handphone Avena terjatuh atau hilang saat kericuhan terjadi. Z pun memutuskan untuk segera menuju Alun-Alun Sangilta.
...........................................................................................................................................................

Ketika polisi akan menangkap Simon yang telah mengakui perbuatannya, Rossa kembali membuka suaranya.

“Tunggu sebentar. Aku belum selesai bicara.”

“Mau bicara apalagi, dia sudah mengakuinya kok”

 “Kemarin, aku dan kakakku tidak berada disini. Kami sedang berada di Purwokerto, untuk menemui istrinya yang sedang dirawat di Rumah Sakit Purwokerto. Di tengah perjalanan, kami dicegat oleh pemandu acara dari acara yang disiarkan secara langsung. Jika tidak percaya cobalah lihat di situs penyedia video dan carilah dengan kata pencarian ‘Gak Penting-Penting Amat 3 Maret 2012’. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke rumah sakit, tetapi setelah kami sampai di sana, istri kak Simon sudah meninggal dunia. Kami pun seharian berada di Purwokerto karena mengikuti prosesi pemakaman.”

 “Lalu, mengapa hari ini kalian berada di sini?” tanyaku heran.

 “Itu karena aku yang mencoba untuk menghibur kakakku, karena mendiang istrinya berteman baik dengan Sri Wahyuni semasa SMA dulu.”

 Kini gilaran aku yang terdiam. Aku tak mengerti dengan semua ini. Egoku terlalu tinggi untuk mengalah.

 “Tapi dia sudah mengaku bahwa dia melakukannya. Cincin ini juga miliknya. Sudah pasti dia pelakunya.”

 “Cukup Likur. Aku kecewa padamu,” Briptu Wulan tiba-tiba memotong perkataanku, “Kau sudah mempermalukan nama besar ayahmu. Jika kau tidak bisa membantah keterangan yang dikatakan Rossa, tidak usah berbicara lagi. Kurasa kau hanya beruntung saja bisa mengungkap kasus pembunuhan Pak Demang kemarin.”

 Aku semakin kesal. “Dia pasti melakukan trik agar…” belum selesai aku berkata, Vena menamparku untuk yang kedua kalinya seumur hidupku. Bedanya, kali ini bersarang di pipi sebelah kiri.

 “Likur, sadar Likur. Kau belum bisa membuktikan bahwa Simon pelakunya. Percayalah, kebenaran akan terungkap pada waktunya.”

 Aku tertegun dengan kata yang lebih ‘menampar’ dari tamparan Vena. Benar, aku terlalu bodoh. Aku tak boleh membalas ucapan Rossa dengan emosi semata. Aku mengutuk kebodohanku. Seketika itu, tiba-tiba aku teringat dengan ucapan mendiang ayahku di saat aku kecil dulu. “Likur, kadangkala kasus tak terpecahkan saat itu juga, namun kebenaran akan mengungkapnya pada saatnya nanti.” Hampir mirip dengan apa yang dikatakan Vena saat menenangkanku.
...........................................................................................................................................................

 Z yang dengan sepatu rodanya akhirnya sampai juga ke sini. Z mendekatiku yang sedang down dan mengatakan fakta-fakta yang ia temukan saat menyelidiki Simon serta dugaannya terhadap orang kelima. Aku mendengar setiap penjelasannya dan akhirnya mataku sedikit lebih terbuka. Kemudian aku kembali mengulangi pertunjukan analisisku.

 “Sebelumnya, aku meminta maaf kepada semua yang ada disini karena sifat kekanak-kanakanku. Simon, Aku pun meminta maaf padamu untuk tuduhanku yang hanya berdasarkan cincin. Tapi aku mau kau berbicara jujur dengan menjawab pertanyaanku.”

 Simon hanya terdiam, malah Rossa yang angka bicara. “Baiklah aku akan dengarkan, aku akan jawab pertanyaanmu sebagai ganti kakakku yang tak mau membuka suaranya ini, jika aku bisa menjawabnya.”

 “Baiklah, sebelum bertanya aku akan mengemukakan analisisku setelah mendapat informasi dari temanku yang baru saja datang. PT Karyadhi merupakan perusahaan dengan sistem yang ketat. Bagi yang melanggar kontrak, PT Karyadhi tidak segan-segan untuk memecatnya.

Dalam hal ini, Simon telah dikontrak untuk menyelesaikan panggung oleh PT Karyadhi bersama tiga temannya yang lain. Akan tetapi, di hari ketiga kontrak, yaitu kemarin, Simon mendapat kabar bahwa kondisi istrinya yang sedang di rumah sakit memburuk.

Dia pun segera berpikir bagaimana bisa menemui istrinya tanpa melanggar kontrak. Dengan ini mungkin dia mempekerjakan orang lain yagar bisa menggantikan dirinya bekerja agar tak melanggar kontrak yang telah disetujui sebelumnya. Melihat ketiga teman yang tidak curiga dengan orang yang menggantikannya, bisa jadi orang tersebut memiliki kesan yang mirip dengan Simon. Bertato, dan berambut panjang. Satu pertanyaanku. Siapa yang menggantikannya bekerja, jika memang Simon tak datang kemarin?”

 Rossa terdiam. Mungkin dia tidak tahu jawabannya. Sedangkan Simon masih saja belum mau membuka suara.

“Simon? Aku tahu hidupmu berat. Kematian istrimu yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga, pasti membuatmu sangat terpukul, namun teruslah berjuang Simon. Aku yakin, jika kau mampu bangkit dan bekerja keras untuk menjalani hidup dengan semangat, pasti Istrimu akan bahagia di alam sana.”

 “Terima kasih bocah.” Untuk pertama kalinya Simon mau berbicara. “Seperti yang tadi kamu jelaskan, semua sama. Saat mendengar keadaan istriku memburuk, aku langsung merasa sedih. Aku harus segera ke rumah sakit, namun aku tak boleh meninggalkan pekerjaan jika aku tetap memiliki pekerjaan.

 Tiba-tiba saja aku melihat seseorang yang sedang bersenandung dengan gitarnya. Sesaat aku amati dan dia memiliki postur tubuh yang sama denganku, berambut panjang serta memiliki tato di lengan kirinya. Aku dekati dia dan mengatakan keadaanku yang sebenarnya kepadanya. Aku pun memberinya uang agar dia mau menggantikanku bekerja. Dia menyetujuinya dan bersalaman denganku. Mungkin saat itulah cincin yang melingkar di jari manisku berpindah tangan. Aku yang sedang kalut pun tidak menyadari hal tersebut.”

“Lalu, siapa nama orang yang menggantikanmu bekerja?”

“Namanya adalah … aaaaaaargh”

*gedebug*

Belum sempat menyelesaikan perkataanya, tiba-tiba saja Simon terjatuh, setelah sebelumnya berteriak. Mulutnya mengeluarkan darah segar. Sepertinya ia telah menelan racun yang memiliki efek membunuh secara perlahan. Semua orang menjadi panik. “Seseorang, secepatnya selamatkan orang ini,” teriakku. Beberapa polisi segera membawa Simon ke rumah sakit terdekat.

Aku terdiam membisu. Seperti kehilangan tenaga untuk sekedar menggerakan tubuh. Kasus kali ini diluar bayanganku, dan berakhir dengan tragis. Aku belum tahu siapa pelaku sebenarnya, dan seseorang yang tak berdosa mati dihadapanku. Seseorang yang putus asa setelah ditinggal istrinya yang menjadi tulang punggung keluarganya yang baru seumur jagung. Semua ini karena kesalahan analisisku yang membuang waktu yang sangat berharga. Jika saja aku bertanya lebih cepat, mungkin Simon masih bisa memberitahukan pelaku sebenarnya. Jika aku mampu berpikir lebih luas, mungkin aku bisa berpikir kemungkinan hal yang dilakukan Simon yang tengah dilanda kekalutan.
Bunuh diri.

0 comments:

Post a Comment