Sebelum
aku memulai analisis, Z pergi untuk mencari bukti lain katanya. Sebelum
pergi, Z menyerahkan sebuah cincin yang ia temukan di sekitar
puing-puing reruntuhan panggung. Aku pun berpikir cepat bahwa cincin itu
merupakan milik pelaku. Aku pun menyerahkan kepada Briptu Wulan agar
tim forensik mengetes sidik jari yang terdapat di cincin tersebut.
“Misteri ini sudah tak lagi menjadi misteri,” ucapku sambil membenarkan kacamata yang sebenarnya sudah benar posisinya, “Sebuah igniter memiliki batas jarak maksimal agar tombol pada remote igniter befungsi. Dan setelah penelusuran di sepanjang area konser, akhirnya ditemukan sebuah remote igniter
yang ditanam di dalam tanah. Dengan menginjaknya saja, igniter ini akan
aktif. Pelaku juga harus berada di tempat ini untuk memastikan bahwa
Sri Wahyuni berada di bawa titik ledak.
Dengan demikian jika
alibi keempat tersangka yang menyatakan bahwa mereka sedang berada di
rumahnya, maka pelaku bukanlah salah satu diantara mereka.
Sayangnya,keempat tersangka telah berbohong kepada polisi.”
Semua
orang yang berada di tempat itu tersentak mendengar ucapanku yang
mungkin tidak mereka duga. Sejenak kuamati reaksi keempat tersangka,
tapi aku tidak melihat keanehan. Semua terlihat terkejutdan terlihat
sama. Mungkin saja memang aku saja yang tak pandai membaca wajah
seseorang.
“Mataku memang tidak meliat mereka saat konser
berlangsung, namun bukti yang menempel pada baju para tersangka tidak
bisa berbohong.”
Semua memperhatikan baju yang dipakai keempat orang tersebut, mengamati apakah ada yang salah dengan baju yang mereka kenakan.
“Yono
mengenakan baju berwarna biru, Aziz dengan kaos warna merah, Barok
dengan kaos warna hitam dan yang terakhir Simon dengan baju tanpa lengan
berwarna abu-abu. Namun bukan warna baju tersebut yang aku
permasalahkan. Tetapi lihat bagian belakang dari baju tersebut, terdapat
stiker bergambar siluet perempuan yang sedang bernyanyi disertai dengan
tulisan ‘Konser Emas’.
Stiker itu ditempelkan oleh petugas di
pintu masuk. Sebelum masuk, petugas memberi tepukan ke punggung penonton
dan berkata ‘Selamat menyaksikan Konser Emas’ sambil tersenyum. Namun,
dibalik aksi tersebut, petugas itu menempelkan stiker kejutan tersebut
ke setiap orang yang datang untuk menonton.”
Keempat tersangka
diam membisu tanda tak bisa membantah perkataanku. Dengan ini, aku pun
semakin yakin bahwa Simon-lah pelaku yang membuat kegemparan di konser
perdana penyanyi cantik, Sri Wahyuni.
Setelah menunggu beberapa
saat, tim forensik datang dan melaporkan hasil penelitiannya.Sidik jari
yang ada dalam cincin itu adalah milik Simon. Dengan hal tersebut dengan
yakin aku menunjuk ke arah Simon, “Orang yang memasang igniter dan
membakar panggung ini adalah kau, Simon!”
“Likur, apa kau sudah
yakin dengan ini? Jangan seperti yang kemarin lagi,” bisik Vena yang
berdiri di belakangku. Aku hanya mengangguk kecil, tanda bahwa aku yakin
dengan apa yang aku utarakan pada saat itu. Kemudian Aku kembali
melanjutkan perkataanku. “Sebagai buktinya, lihatlah apa yang ditemukan
temanku saat mencari sesuatu di panggung ini,” kataku sambil menunjukkan
sebuah cincin, “Polisi telah memeriksa sidik jari pada cincin ini.
Simon
tercengang mendengar tuduhanku dan melihat ke jari tangannya yang
membuat dia semakin tercengang. Rupanya dia tidak sadar telah
meninggalkan bukti sekuat ini. Dia semakin terdiam. Akan tetapi
tiba-tiba sesosok perempuan cantik memecah keheningan. “Hey bocah sok
detektif. Analisismu menarik, namun jangan terburu-buru dengan
kesimpulannya.”
“Rossa?” ucap Simon terbata-bata saat mengenali siapa yang baru saja berbicara.
“Apa maksudmu dengan terburu-buru?” tanyaku penuh selidik.
“Bagaimana
kalau aku bisa membuktikan bahwa kakakku ini tidak bersalah?” tanya
Rossa seperti menantang. Ternyata dia meiliki hubungan darah dengan
Simon. Ketika aku hendak menjawab pertanyaan ini, tiba-tiba Simon
menyela pembicaraan.
“Sudah cukup Rossa, aku mengakuinya. Akulah
yang memasang bom pada atap dan meledakkannya. Aku melakukannya karena
aku benci dengan acara keramaian seperti ini.”
Kuperhatikan Rossa tertegun mendengar kakaknya yang tiba-tiba mengakui perbuatannya. Namun Rossa tak menyerah begitu saja.
“Kakak? Apa maksudmu dengan ini? Bukankah kakak memang tidak datang ke tempat ini kemarin?”
“Daritadi aku tak mengerti arah pembicaraanmu. Apa yang mau kamu buktikan sebenarnya?”
“Rossa, cukup. Polisi tangkap saya saja sekarang,” ucap Simon pasrah.
...........................................................................................................................................................
Sementara
itu di tempat lain, Z yang berpisah dengan Likur menyelidiki kembali
tentang Simon dan bergerak menuju Kepolisian Sangilta.Disaat ia melaju
pelan dengan sepatu rodanya, tanpa sengaja Z melihat televisi, yang
dipajang di depan toko televisi, sedang menayangkan ulang acara live
yang dilangsungkan kemarin di Purwokerto. Dia melihat jelas Simon
terlihat di kamera itu sedang berjalan dengan seorang perempuan dan
terlihat sedang terburu-buru untuk lari. Pemandu acara yang iseng
tiba-tiba menghentikan langkah mereka dan memberi pertanyaan. Walaupun
Simon terlihat tidak suka dengan perlakuan tersebut, namun perempuan
yang bersama Simon tersenyum ramah dan menjawab pertanyaan tidak penting
yang dilayangkan pemandu acara yang norak tersebut. Setelah itu kamera
berpindah ke “korban” lain yang didatangi pemandu acara untuk diberi
pertanyaan tidak penting lainnya.
Z pun tertegun, dan mencoba
menganalisis. Bagaimana kalau bukan Simon pelakunya dan ada orang kelima
selain keempat pekerja, yang menyelesaikan pemasangan pangung. Kemudian
dia meneruskan perjalanannya untuk menyelidiki profil Simon di
Kepolisian Sangilta. Dari data yang diberikan petugas kepolisian, Z
mengetahui bahwa Simon sudah berkeluarga. Istrinya adalah Nita, warga
asli Purwokerto yang merupakan seorang penyiar radio di Purwokerto. Z
semakin terkesima saat tahu bahwa istri dari Simon, meninggal sehari
yang lalu. Z pun yakin bahwa Simon tidak berada di tempat kejadian dan
ada orang kelima yang merupakan pelaku sebenarnya.
Mendapat fakta
yang baru membuat Z mencoba menghubungi Kalikur untuk
memberitahukannya. Sialnya, ternyata handphone yang dibawa oleh Kalikur
sedang tidak aktif karena kehabisan daya baterai. Sedangkan saat mencoba
menghubungi Avena, yang saat ini sedang bersama Kalikur, tidak ada
jawaban walaupun panggilan itu masuk. Z berpikir mungkin handphone Avena
terjatuh atau hilang saat kericuhan terjadi. Z pun memutuskan untuk
segera menuju Alun-Alun Sangilta.
...........................................................................................................................................................
Ketika polisi akan menangkap Simon yang telah mengakui perbuatannya, Rossa kembali membuka suaranya.
“Tunggu sebentar. Aku belum selesai bicara.”
“Mau bicara apalagi, dia sudah mengakuinya kok”
“Kemarin,
aku dan kakakku tidak berada disini. Kami sedang berada di Purwokerto,
untuk menemui istrinya yang sedang dirawat di Rumah Sakit Purwokerto. Di
tengah perjalanan, kami dicegat oleh pemandu acara dari acara yang
disiarkan secara langsung. Jika tidak percaya cobalah lihat di situs
penyedia video dan carilah dengan kata pencarian ‘Gak Penting-Penting
Amat 3 Maret 2012’. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke rumah
sakit, tetapi setelah kami sampai di sana, istri kak Simon sudah
meninggal dunia. Kami pun seharian berada di Purwokerto karena mengikuti
prosesi pemakaman.”
“Lalu, mengapa hari ini kalian berada di sini?” tanyaku heran.
“Itu
karena aku yang mencoba untuk menghibur kakakku, karena mendiang
istrinya berteman baik dengan Sri Wahyuni semasa SMA dulu.”
Kini gilaran aku yang terdiam. Aku tak mengerti dengan semua ini. Egoku terlalu tinggi untuk mengalah.
“Tapi dia sudah mengaku bahwa dia melakukannya. Cincin ini juga miliknya. Sudah pasti dia pelakunya.”
“Cukup
Likur. Aku kecewa padamu,” Briptu Wulan tiba-tiba memotong perkataanku,
“Kau sudah mempermalukan nama besar ayahmu. Jika kau tidak bisa
membantah keterangan yang dikatakan Rossa, tidak usah berbicara lagi.
Kurasa kau hanya beruntung saja bisa mengungkap kasus pembunuhan Pak
Demang kemarin.”
Aku semakin kesal. “Dia pasti melakukan trik
agar…” belum selesai aku berkata, Vena menamparku untuk yang kedua
kalinya seumur hidupku. Bedanya, kali ini bersarang di pipi sebelah
kiri.
“Likur, sadar Likur. Kau belum bisa membuktikan bahwa Simon pelakunya. Percayalah, kebenaran akan terungkap pada waktunya.”
Aku
tertegun dengan kata yang lebih ‘menampar’ dari tamparan Vena. Benar,
aku terlalu bodoh. Aku tak boleh membalas ucapan Rossa dengan emosi
semata. Aku mengutuk kebodohanku. Seketika itu, tiba-tiba aku teringat
dengan ucapan mendiang ayahku di saat aku kecil dulu. “Likur, kadangkala
kasus tak terpecahkan saat itu juga, namun kebenaran akan mengungkapnya
pada saatnya nanti.” Hampir mirip dengan apa yang dikatakan Vena saat
menenangkanku.
...........................................................................................................................................................
Z yang dengan sepatu rodanya akhirnya sampai juga ke sini. Z mendekatiku yang sedang down
dan mengatakan fakta-fakta yang ia temukan saat menyelidiki Simon serta
dugaannya terhadap orang kelima. Aku mendengar setiap penjelasannya dan
akhirnya mataku sedikit lebih terbuka. Kemudian aku kembali mengulangi
pertunjukan analisisku.
“Sebelumnya, aku meminta maaf kepada
semua yang ada disini karena sifat kekanak-kanakanku. Simon, Aku pun
meminta maaf padamu untuk tuduhanku yang hanya berdasarkan cincin. Tapi
aku mau kau berbicara jujur dengan menjawab pertanyaanku.”
Simon
hanya terdiam, malah Rossa yang angka bicara. “Baiklah aku akan
dengarkan, aku akan jawab pertanyaanmu sebagai ganti kakakku yang tak
mau membuka suaranya ini, jika aku bisa menjawabnya.”
“Baiklah,
sebelum bertanya aku akan mengemukakan analisisku setelah mendapat
informasi dari temanku yang baru saja datang. PT Karyadhi merupakan
perusahaan dengan sistem yang ketat. Bagi yang melanggar kontrak, PT
Karyadhi tidak segan-segan untuk memecatnya.
Dalam hal ini,
Simon telah dikontrak untuk menyelesaikan panggung oleh PT Karyadhi
bersama tiga temannya yang lain. Akan tetapi, di hari ketiga kontrak,
yaitu kemarin, Simon mendapat kabar bahwa kondisi istrinya yang sedang
di rumah sakit memburuk.
Dia pun segera berpikir bagaimana bisa
menemui istrinya tanpa melanggar kontrak. Dengan ini mungkin dia
mempekerjakan orang lain yagar bisa menggantikan dirinya bekerja agar
tak melanggar kontrak yang telah disetujui sebelumnya. Melihat ketiga
teman yang tidak curiga dengan orang yang menggantikannya, bisa jadi
orang tersebut memiliki kesan yang mirip dengan Simon. Bertato, dan
berambut panjang. Satu pertanyaanku. Siapa yang menggantikannya bekerja,
jika memang Simon tak datang kemarin?”
Rossa terdiam. Mungkin dia tidak tahu jawabannya. Sedangkan Simon masih saja belum mau membuka suara.
“Simon?
Aku tahu hidupmu berat. Kematian istrimu yang selama ini menjadi tulang
punggung keluarga, pasti membuatmu sangat terpukul, namun teruslah
berjuang Simon. Aku yakin, jika kau mampu bangkit dan bekerja keras
untuk menjalani hidup dengan semangat, pasti Istrimu akan bahagia di
alam sana.”
“Terima kasih bocah.” Untuk pertama kalinya Simon
mau berbicara. “Seperti yang tadi kamu jelaskan, semua sama. Saat
mendengar keadaan istriku memburuk, aku langsung merasa sedih. Aku harus
segera ke rumah sakit, namun aku tak boleh meninggalkan pekerjaan jika
aku tetap memiliki pekerjaan.
Tiba-tiba saja aku melihat
seseorang yang sedang bersenandung dengan gitarnya. Sesaat aku amati dan
dia memiliki postur tubuh yang sama denganku, berambut panjang serta
memiliki tato di lengan kirinya. Aku dekati dia dan mengatakan keadaanku
yang sebenarnya kepadanya. Aku pun memberinya uang agar dia mau
menggantikanku bekerja. Dia menyetujuinya dan bersalaman denganku.
Mungkin saat itulah cincin yang melingkar di jari manisku berpindah
tangan. Aku yang sedang kalut pun tidak menyadari hal tersebut.”
“Lalu, siapa nama orang yang menggantikanmu bekerja?”
“Namanya adalah … aaaaaaargh”
*gedebug*
Belum
sempat menyelesaikan perkataanya, tiba-tiba saja Simon terjatuh,
setelah sebelumnya berteriak. Mulutnya mengeluarkan darah segar.
Sepertinya ia telah menelan racun yang memiliki efek membunuh secara
perlahan. Semua orang menjadi panik. “Seseorang, secepatnya selamatkan
orang ini,” teriakku. Beberapa polisi segera membawa Simon ke rumah
sakit terdekat.
Aku terdiam membisu. Seperti kehilangan tenaga
untuk sekedar menggerakan tubuh. Kasus kali ini diluar bayanganku, dan
berakhir dengan tragis. Aku belum tahu siapa pelaku sebenarnya, dan
seseorang yang tak berdosa mati dihadapanku. Seseorang yang putus asa
setelah ditinggal istrinya yang menjadi tulang punggung keluarganya yang
baru seumur jagung. Semua ini karena kesalahan analisisku yang membuang
waktu yang sangat berharga. Jika saja aku bertanya lebih cepat, mungkin
Simon masih bisa memberitahukan pelaku sebenarnya. Jika aku mampu
berpikir lebih luas, mungkin aku bisa berpikir kemungkinan hal yang
dilakukan Simon yang tengah dilanda kekalutan.
Bunuh diri.
kumpulan kisah sang penulis dan kebodohannya dan ambisinya menulis novel/komik detektif
0 comments:
Post a Comment