Pages

Tidak Ada yang Tidak Mungkin

Baka is Back :v

Balik-balik udah ngomong nda jelas. Tidak ada yang tidak mungkin katanya.

Kalimat yang kadang diucapkan kepada seseorang yang hampir putus asa, merasa tidak bisa melakukan sesuatu, dan sejenisnya. Kalimat yang terdengar klise, dan sering dianggap sebagai "nggo meneng-meneng" (ini bahasa indonesianya apa ya?)

Kata ini akhirnya saya ucapkan juga, tepatnya beberapa tahun lalu. Setelah mengalami kejadian yang cukup memukul sampai akhirnya berhasil keluar dari keterpukulan itu. (bahasanya semakin random)

Cerita dimulai ketika transfer windows dibuka -pengumuman penerimaan mahasiswa baru STAN maksudnya-dari jogja, saya ditransfer ke tangerang. Campur aduk perasaan kala itu karena sebelumnya saya juga tak terlalu berharap bisa masuk. Tapi setelah menimbang beberapa kemungkinan, akhirnya saya memilih risiko mengambil D1-STAN 2011/2012.

Tapi karena memang awalnya belum suka, belajar pun masih malas-malasan. pelajaran yang paling masuk itu cuma pengantar ilmu ekonomi yang entah bagaimana prosesnya tiba-tiba otak saya melakukan penggalian memori saat kelas 1 SMA dulu. Sementara itu materi yang menjadi momok adalah akuntansi.

Entah kenapa saya begitu malas dengan pelajaran yang satu ini.
kemalasan ini akhirnya menjerumuskan saya mencetak sejarah, mendapatkan nilai 24 di Ujian Tengah Semester. (23,8 sih kayaknya, tapi dibuletin jadi 24)

Angka itu mengejutkan? Sebenarnya ya memang segitu si. Mau gimana lagi? Namanya juga malas belajar, begitulah akibatnya :p

Akhirnya saya pun bertekad untuk memulai dari awal lagi. Dimulai dari meminjam buku di perpustakaan yang membuat akuntansi adalah satu-satunya pelajaran yang membuat kartu perpustakaan saya berfungsi), belajar kepada orang yang lebih tahu, dan lebih rajin berdoa (wew parah amat ya, bersyukur deh dapet nilai jelek, malah jadi tobat)

Dan akhirnya berkat bantuan dari segala pihak, saya menghadapi Ujian Semestar Gasal dengan tingkat kepercayaan diri yang lebih baik. Dari 5 soal yang diberikan, 4 soal selesai dengan baik menurut saya dan 1 soal baru sedikit langkah namun waktu tidak mengijinkan untuk menyelesaikan (padahal kalau ada waktu juga belum tentu bisa).

Dan akhirnya libur semester itu dipenuhi rasa tegang. bayang-bayang DO jika nilai kurang dari 60 terus menghantui. Saya semakin khusyuk saja berdoa :p Dan saya tetap optimis bisa meraih paling tidak 75.

Dan pengumuman kelulusan semester satu membuat saya entah senang atau bersedih. walau ada kata LULUS di pengumuman saya, namun hal itu terasa hambar karena ada salah seorang teman yang tidak lulus.

Dan akhirnya semester dua dimulai, di hari pertama itu, ketua kelas mengirim pesan kepada saya harus berangkat pagi karena dosen akuntansi mau bertemu. Apa? Apa terjadi kesalahan nilai yang membuat saya tidak jadi lulus? Pikiran itu sempat terlintas dan dengan segera saya tepis, semoga tidak terjadi apa-apa.

Dan kejutan itu pun datang, beliau tiba-tiba berkata selamat dan memberikan sebuah buku.
 Saya kaget, kok bisa ya?
beliau berkata, "Kamu dipanggil ke sini karena nilai Ujian Semester Gasal kamu paling tinggi diantara teman sekelas, 89. Sementara ketua kelasmu tertinggi jika nilai kedua semester itu digabung."
Saat itu aku merasakan perasaan yang aneh. entahlah, susah diungkapkan, apalagi dituliskan.


*sesuatu*

kejadian itu pun mengajarkan saya yang bodoh ini, sesuatu :

1. Jangan malas belajar kalau tidak mau mendapat nilai yang mengenaskan. Kecuali kamu memang bisa belajar dengan metode tidak belajar (?). Apa itu? kalau nda tau makanya belajar

2. Tidak ada yang tidak mungkin, kamu bisa menjadi yang terbaik walau sebelumnya menjadi yang terburuk. Jangan menyerah sebelum bertanding, kamu selalu punya kesempatan menjadi lebih baik dari yang kamu hadapi nantinya.

3. Jangan sombong kepada orang lain, bisa jadi orang yang saat ini kamu nilai jelek, suatu saat dia lebih baik dari kamu. ingat pepatah "jika kamu merasa lebih mulia dari pada anjing, maka kamu itu lebih hina darinya"

4. Terkadang kita harus menerima dua kenyataan yang manis dan pahit, kita sukses saat teman lain tidak atau saat kita gagal dan teman lain tidak. Sikapi dengan sewajarnya, jangan berlebihan. Hidup memang seperti ini, tetap bersyukur bagaimanapun keadaanmu saat ini.

Udah segitu dulu, karena orang bodoh ini tak terlalu pandai merangkai sesuatu yang memang biasa-biasa saja seperti ini.

Salam Baka,
Khae