Welcome Back :D
Baka kembali menuliskan kisahnya :v
Jadi beberapa bulan lalu saya mencoba sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. tepatnya hari sabtu di hari pertama bulan Juni. Ya di hari itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah SMA N 1 Purbalingga menggelar acara wisuda kelulusan angkatan 2013. Dan entah apa yang merasuki pikiran saya kala itu, saya mengajukan diri ke panitianya untuk mengisi acara tersebut sebagai komika (pembawa Stand Up Comedy).
Waktu itu entah mengapa ada dorongan saya harus tampil di acara itu. Acara yang entah tahun depan saya bisa mengisinya lagi atau tidak. Pikiran saya, event ini adalah event pasti terakhir yang mungkin saya bisa ikuti. Karena ke depannya saya tak tahu apakah saya masuh berada di tempat kelahiran saya lagi atau tidak. Dan entah mengapa saya kok ingin sekali mengisi di acara itu. Haha.
Sebelumnya saya tidak pernah melakukan Stand Up. Dulu pernah sahabat saya bilang "kamu coba aja stand up, kamu kan lucu". Segera dalam hati menjawab, "apa benar aku itu lucu". Jadi perjudian saya untuk mengisi di acara wisuda itu memang bertujuan untuk membuktikan bagaimana saya sebenarnya.
Hanya satu minggu, saya belajar untuk menulis materi dan berlatih membawakan lawakan. Ternyata menulis materi itu tidak mudah, tapi tidak susah juga. Dari berbagai lawakan yang aku tulis, akhirnya aku mencoba membuat urutan dalam membawakannya. Mulai dari perkenalan kemudian menyinggung sedikit tentang panitia yang saya sms waktu mengajukan diri untuk mengisi, tentang sekolah dan perpisahan (yang memiliki porsi cukup banyak karena menurut saya paling sesuai), dan satu materi yang saya sengaja tempatkan di akhir, calon istri idaman.
Akhirnya hari itu tiba juga, kami (setelah menculik salah satu teman saya biar tidak seperti orang hilang) pun ke SMA N 1 Purbalingga. Aku mencoba untuk berlatih untuk yang terakhir kalinya di sebuah kelas kosong. Teman saya sedikit mengoreksi beberapa bagian yang terasa kurang.
Prosesi Wisuda berlangsung dengan lancar, ya mungkin begitu, soalnya begitu saya datang mereka sedang menunggu pengalungan medali oleh wali kelas masing-masing. Setelah prosesi selesai, mulailah acara selingan. Setelah beberapa band tampil, pembawa acara mulai "memanggil" saya untuk hadir di atas panggung.
Ternyata panggung itu bikin grogi. Materi pertama bisa disampaikan dengan cukup baik, beberapa anak bisa tertawa. Sampai ke materi sekolah, tiba-tiba saya nge-blank. Hanya separuh materi tentang sekolah yang akhirnya saya bawakan, kemudian melompat ke calon istri idaman. Diluar dugaan, materi ini lumayan medapat respon yang cukup antusias dari penonton, khususnya penonton di bagian belakang.
Materi ini justru yang paling simple dalam membuatnya. Bermodal humor yang mungkin sudah umum (tentang istri idaman itu 3C, yaitu Cantik, Cerdas, dan Colehah) kemudian mendefinisikan arti masing-masing C menurut pandangan pribadi. Haha
Dan ketika mengakhiri penampilan itu, dalam hati saya masih merasa ada yang kurang. Entahlah, mungkin karena penonton yang tidak sebanyak yang dipikirkan. Hal yang kemudian saya sadari "Udah untung bisa tampil, daripada nda sama sekali"
Berminggu-minggu berlalu. Saya merasa bahwa penampilan saya seperti angin yang hanya sekadar lewat. Sampai akhirnya saya menemuan fakta bahwa beberapa anak masih mengingat penampilan yang "kurang maksimal" itu. Bahkan beberapa diantara mereka mengatakan bagus, lucu dan cukup menghibur.
Haha, entah apakah mereka benar-benar merasakan kelucuan dalam aksi saya, atau mereka segan karena saya itu kakak angkatan mereka :p Yang jelas, yang membuat materi terakhir itu ternyata mendapat antusias penonton sebelah belakang yang teriak-teriak itu karena konon ada perempuan yang mirip dengan kriteria yang saya bawakan (kerudung mewakili Colehah, kacamata mewakili Cerdas, dan andeng-andeng di wajah mewakili Cantik) . Haha
Intinya sih, jangan seperti orang tuli yang menampilkan karya, namun merasa tidak dilihat oleh orang lain karena di akhir penampilan tidak ada suara tepuk tangan.
Jangan merasa orang lain tidak menganggapmu, bisa jadi mereka menilaimu baik, hanya saja kau tidak tahu.
Mereka Melihatmu, Kaulah yang Tidak Mendengar Suara Mereka
Eh, ada lagi
Apa yang menurutmu biasa saja, bisa jadi menurut orang lain sudah luar biasa
Ya bener kan? apa yang menurut kita biasa saja, ternyata bisa jadi hal yang luar biasa buat orang lain, jadi jangan merasa minder untuk melakukan suatu yang menurutmu biasa saja
Minesweeper : Sebuah Renungan dari Permainan
![]() |
| Apa itu minesweeper? |
Minesweeper adalah sebuah game bawaan dari windows. Game yang akhir-akhir ini saya mainkan untuk mengatasi kejenuhan dari aktivitas harian.
Dulu, ketika masih di bangku SMP, saya menganggap bahwa game ini hanya mengandalkan keberuntungan. Asal klik, kalau beruntung ya selamat dari bom, kalau belum beruntung game over karena mengaktifkan bom yang tersembunyi.
Sampai akhirnya saat SMA, saya baru tahu bahwa game ini menggunakan logika. Jadi jika ketika kita klik suatu kotak dan tidak mengenai bom, terbukalah beberapa kotak dan terdapat kotak yang ada angkanya. Angka itu menunjukkan bahwa di sekeliling kotak tersebut terdapat berapa bom yang tersembunyi. Jika muncul angka "2", maka dipastikan hanya ada dua bom yang berada di dekat angka tersebut.
*Level Minesweeper*
Ada 3 tingkat kesulitan dalam permainan ini :
- Beginner (Papan 9x9 dengan 10 bom)
- Intermediate (Papan 16x16 dengan 40 bom)
- Expert (Papan 16x30 dengan 99 bom)
Ada lagi sih sebenarnya, Custom Mode. Tapi yang ini kan bebas kita yang nentuin besarnya papan dan banyaknya bom. Jadi anggap saja tidak ada.
Sehebat apapun orangnya, jika sedang tidak beruntung maka klik pertama pada papan permainan tersebut adalah bom. Tapi jarang hal itu terjadi. Biasanya klik pertama akan menghasilkan terbukanya beberapa kotak dan terdapat kotak yang menunjukkan angka.
Saya memulai game dari level beginner, dan setelah beberapa kali mencoba akhirnya bisa menamatkan game tersebut.
Setelah itu saya tertantang untuk menaklukan game intermediate. Cukup lama waktu yang dibutuhkan, ya cuma dua atau tiga hari si. Akhirnya membuat si kuning berkacamata tampak di layar.
Saya kembali tertantang untuk menaklukan level terakhir, expert. Hampir sebulan main beginian di waktu senggang, dan akhirnya jadi juga.
Hal yang membuat sering gagal di level expert adalah ketika tidak ada lagi clue yang di dapat, dan membuat memaksa harus memilih salah satu kotak dan akhirnya salah memilih dan DUAR. Permainan kembali diulang dari awal dan begitu seterusnya sampai akhirnya berhasil.
*Sesuatu*
Ada hal yang bisa diambil dari permainan sederhana ini. Sesuatu yang mungkin biasa saja namun dianggap luar biasa oleh orang bodoh seperti saya ini. Di antaranya :
1. Kita harus berani untuk meng-klik walau kita tak tahu apakah itu bom atau bukan. Keberanian itu merupakan awal untuk memulai sesuatu. Jika kita tidak berani untuk memulai, kita tidak akan pernah sampai akhir. Ambillah langkah, teguhkan hati, dan mulailah untuk berkreasi.
2. Pemula dalam minesweeper yang tak sadar apa arti dari angka-angka yang muncul, padahal itu adalah petunjuk agar bisa menyelesaikan permainan. Hal itu sama dengan kehidupan ini. Akan selalu ada petunjuk yang diberikan oleh-Nya kala kita menjalani kehidupan ini, pertanyaannya adalah apakah kita mau memikirkannya atau tidak.
3. Pemula bermain minesweeper langsung di level Expert? Walaupun ada yang berhasil, kebanyakan justru akan frustasi dan tidak melanjutkan game tersebut. Mulailah dengan bertahap, itu akan lebih mudah. Memulai dari level Beginner kemudian Intermediate dan Expert akan melatih kita sedikit demi sedikit memahami permainan itu. Sama seperti kita dalam menambah amalan. Mulailah dengan bertahap. Mulailah dengan "Sehari buat satu amalan" (kaya kata-kata Sun Gokong saja). Selanjutnya jika sudah istiqomah, tingkatkan amalan lainnya. Bertahap saja agar tidak memberatkan dan membuat menjadi terbiasa. Langsung banyak juga boleh asalkan mau istiqomah.
4. Akan ada saatnya kita tidak menemukan petunjuk lagi. Harus memilih beberapa kotak yang sama-sama dicurigai bahwa di sana ada bomnya. Maka kembalilah ke poin satu. Ambil keputusan. Bagaimana jika salah? Mengulang lagi dari awal? Menyesalkah karena salah memilih?
Selama kita sudah mempertimbangkan apa keputusan kita, dan tidak dengan main-main saat mengambil keputusan itu ternyata masih salah, bisa jadi memang kita belum waktunya untuk berhasil. Itu bukanlah suatu kesalahan, merupakan hal yang natural jika terkadang kita salah. Pertanyaannya adalah apakah kita mau mengulang lagi dari awal?
Tuh kan, biasa saja pemikiran dari seorang yang bodoh ini. Bukan hal yang luar biasa, haha it's just ordinary think.
Salam,
Bakalikur
Subscribe to:
Posts (Atom)

