Pages

Cerpen Bahasa Indonesia

(cerita ini hanyalah fiksi belaka, jika ada kesamaan tokoh dan karakter mungkin juga sengaja atau tidak sengaja, peluang = 50:50)

MATAHARI

Akhir pekan di Bulan November. Tak seperti biasanya, aku kembali ke Purbalingga. Entah angin apa yang membawaku, namun langkahku jelas menuju ke taman kota. Aku memilih duduk di sebuah kursi yang ditemani meja bundar serta payung menjulang keatas. Termangu kududuk, sampai kuingat sesuatu.
Masih tergambar di benakku memori dua tahun silam. Vena, teman sekelasku di SMA Gajah Duduk, dengan malu-malu kupinta mengajariku fisika sembari menikmati hidangan sore sang surya. Walaupun aku tergolong lumayan di matematika, saat bersamanya rasanya kemampuanku jadi seperti bohongan. Bahkan, jika saja ditanya satu ditambah satu, mungkin menunggu sampai malam baru terucap jawaban dua dari otak yang selama ini kuasah dengan angka-angka. Vena, yang merupakan anak kedua dari tiga bersaudara itu, tidak hanya berparas cantik, namun kecerdasannya juga melebihi jumlah uang yang dikantongi koruptor di negeri ini. Suaranya yang indah mengalun lembut saat mengajariku rumus fisika yang entah aku bisa menghafalnya. Akupun tersadar bahwa wajahnya terlihat lebih cantik saat beradu dengan cahaya oranye sore ini.
Huh, waktu terasa cepat seklai berlalu. Baru saja mulai mengerti kandungan rumus yang diciptakan ilmuwan-ilmuwan hebat yang namanya masih dikenang hingga saat ini, matahari sudah ingin cepat-cepat tidur. Kontras dengan tukang sate yang mungkin baru bangun dan berjualan untuk mencari nafkah di taman kota ini.
“Terima kasih ya Ven, aku jadi sedikit mengerti tentang materi yang selama ini tidak aku kuasai,” ucapku tulus.
“Nda papa, aku juga jadi belajar sekalian,” balasnya diiringi senyum.
“Ven, tunggu sebentar?”
“Ada apa? Masih ada yang belum jelas?”
“Ehm, bukan.. E..sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan?”
“Apaan?”
“Ven, aku sayang padamu.”
“Bercanda ya?”
“Serius, sudah lama aku suka padamu, namun baru kali ini aku berani bicara.”
Matanya mulai berkaca-kaca. Dia terlihat ingin menangis.
“Maaf, aku ... Aku nda boleh pacaran sama orangtuaku,” katanya terbata-bata.
“Siapa yang bilang ingin pacaran? Haha, emang kalau suka harus pacaran ya? Jangan dipikirkan. Sekarang pulang dulu saja, sepertinya mobil hitam bapakmu sudah nunggu tuh,” jawabku menghibur diri yang sedang menjaga agar tak kelihatan sedih di depannya.
“Sekali lagi, ... aku minta maaf, duluan ya, Li!” katanya yang suaranya masih seperti orang asma yang sedang kumat.
Aku hanya bisa memandang kepergiannya saat itu. Menahan perih, menahan sebisa mungkin untuk tetap tegar. Mobil hitam dengan plat nomor R 212 WS terlihat menghilang di pertigaan pos polisi. Kuminum air mineral yang kubawa, dengan harapan mendinginkan hatiku.
Dua tahun telah berlalu, aku tak begitu tahu dimana Vena sekarang. Karena setelah kenaikan kelas, keluarganya berpindah ke Solo. Tempat yang pernah kusinggahi saat diundang paman mengikuti lomba matematika.
Kini, aku duduk di tempat yang sama dengan dua tahun yang lalu. Kukeluarkan air mineral dari tas. Udara panas merangsang tenggorokan untuk melakukan aksi demonstrasi meminta air membasahinya, mirip dengan rakyat kecil yang meminta penguasa menurunkan harga cabai.
Glek.Glek.Uhuk.Uhuk.
Ketika minum, seseorang yang menepuk pundakku membuatku terbatuk-batuk. Jaket biru yang sering menemaniku pergi pun basah karenanya. Orang tersebut langsung meminta maaf. Suaranya begitu terdengar familiar. Siapa gerangan yang membuatku jadi basah ini?
“Kalau mau nepuk, jangan keras-keras, kaget tahu!” ujarku sekenana
“Maaf deh mas. Nda sengaja. Sebenarnya mau bertanya. Boleh nda duduk disebelahmu, kebetulan Cuma di sebelahmu yang kosong,” balasnya yang semakin membuatku merasa dekat dengan pemilik suara ini.
Ketika kulihat wajahnya, jantungku berdegup. Tidak begitu kencang, namun jelas tidak seperti biasanya. Wajah yang dua tahun lalu juga berada disini. Bukan! Bukan wajah tukang sate yang baru datang menjelang malam.
“Ve-Vena?” tebakku yang kadang memang sukar menghafal wajah orang.
“Lho, Ali ya!” serunya seperti adegan sinetron yang mempertemukan ibu dan anaknya.
Setelah itu, kami berdua banyak mengobrol tentang kehidupannya di Solo, dan aku di Purbalingga. Dari percakapan tersebut aku tahu Vena telah kuliah di salah satu perguruan tinggi di kota Solo. Kepintaranya jauh bertambah dibandingkan denganku, bahkan dia menjadi asisten dosen disana.
“Kamu masih tetep cantik kaya dulu ya, pinternya nambah lagi. Pasti pacarmu bahagia deh punya kekasih sepertimu,” kataku, entah apa yang sedang aku pikirkan.
“Iih, kamu masih nakal yah, kaya dulu. Aku belum mau pacaran kok,” katanya dengan nada bicara yang sangat menggemaskan namun tidak berlebihan seperti anak ABG yang terkena virus alay.
“Ooh, gitu. Kalau aku masih sayang sama kamu gimana?”
“Wah, mulai bercanda lagi nih. Sudah punya pacarkan?”
“Haha, dasar. Belum kok. Soalnya, aku masih sayang sama kamu.”
“Maaf, aku belum mau pacaran.”
“Siapa bilang ingin pacaran? Haha, dasar. Mikirnya seperti itu terus.”
Jleb. Saat berbicara seperti itu, rasa sakit kembali datang. Vena seperti tahu saja apa yang ada di pikiranku. Jujur saja, aku ingin jadi orang yang bisa melindunginya. Akan tetapi, aku malu untuk mengakuinya.
“Ven, tahu nda matahari,” kataku setelah cukup lama kami saling diam.
“Ya tahu lah. Bintang besar yang memancarkan sinar ultraviolet serta sumber vitamin D saat pagi dan sore hari. Memangnya kenapa?”
“Kalau begitu, pernah nda, matahari minta sinar yang sudah diberikan ke bumi?”
“Jadi, Bumi menerangi matahari gitu?”
“Haha, kamu lucu juga ya, anak pintar namun masih bisa bingung juga. Yang ingin aku katakan adalah matahari itu hanya memberi sinar dan tak berharap sinar itu dikembalikan oleh bumi. Mungkin untuk rasa sayangku padamu juga sama. Aku sayang kamu, namun aku tak terlalu berharap kamu punya rasa yang sama denganku. Bisa duduk berdua seperti ini setelah lama tak jumpa saja sudah cukup bagiku. Terima kasih sudah sering meluangkan waktu untukku ya, Claudia Rachmadavena.”
“Hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya, menyinari dunia,” tiba-tiba mulutku tergerak melantunkan lagu anak-anak yang sering kunyanyikan saat taman kanak-kanak. Aku terkejut. Untuk pertama kalinya kulihat wajah cantiknya menangis. Aku merasa menjadi anak nakal yang mengambil balon dari anak kecil yang lugu. Sambil mengusap air matanya, aku berusaha menenangkannya. Seketika itu juga aku teringat kado yang belum tersampaikan karena vena sudah pindah duluan. Sebuah ornamen biasa, berwarna biru dan kuning, berbentuk bintang, masih tergolek di tas yang kubawa.
“Sudah, Ven. Jangan nangis lagi, hari ini, kamu ulang tahun yang ke-19 kan?”
Vena pun menerimanya, dan berterimakasih dengan suara yang masih tertutup oleh tangisnya. Sampai akhirnya Vena bisa menenangkan dirinya. Aku menawarkan diri mengantarnya pulang, karena arahnya memang searah denganku. Dia mengangguk tanda setuju. Sesaat sebelum keluar dari taman kota, lagu di radio bergema menembus gerimis yang mulai jatuh.
“Kupetik bintang, untuk kau simpan,
cahayanya terang, berikan kau perlindungan,
sebagai pengingat teman,
juga sebagai jawaban,
semua tantangan”
(lirik lagu Melompat Lebih Tinggi oleh Sheila On Seven)

( Senin, 10 Januari 2011)