“Kur, Kur, nek gemuyu aja kebablasen, mbok mengko malah dadi nangis”
[Kur, Kur, kalau tertawa jangan kelewatan, nanti malah jadi nangis]
Begitulah
yang kakekku ucapkan ketika aku masih kecil dulu. Dulu entah kenapa
setelah puas tertawa-tawa karena senangnya bermain, tiba-tiba saja ada
hal yang membuat menangis, entah apa yang membuatku menangis, aku
sendiri juga sudah lupa. Namun, hal ini adalah misteri yang masih
menjadi misteri bagiku.
Seperti saat ini, setelah seminggu
sebelumnya aku terlarut dalam kebahagiaan setelah menjadikan kelasku
sebagai juara Sangilta Cup, aku dibuat ‘menangis’ melalui kasus tragis
yang terjadi kemarin. Mungkin lebih baik aku sejenak melupakan kasus
tragis itu dan mengenang kemenangan bersejarah minggu lalu agar aku
merasa lebih baik.
Sebenarnya jika ditanya mengenai kemampuan
sepakbola, maka jawabanku adalah nol besar. Ya bukan sepenuhnya nol juga
sih, tapi bisa juga dikatakan nol. Fisikku yang kecil tak memungkinanku
berduel dalam memperebutkan bola. Tendanganku pun tak sekeras temanku
yang lain, keakuratannya pun tidak terlalu akurat.
Hal yang
membuat aku ikut dalam tim kelasku hanyalah karena keterbatasan jumlah
pemain. Ya, kelasku hanya memiliki sebelas orang laki-laki. Yang
memaksaku agar ikut bermain dalam olahraga yang katanya pertama kali
dikenalkan di Inggris tersebut. Padahal aku lebih suka menonton
sepakbola saja.
Namun, aku mencoba untuk mengerahkan satu-satunya
kemampuanku. Menganalisis permainan lawan selama babak pertama, dan
membuat strategi untuk meng-counter taktik lawan di babak kedua. Aku pun
mulai berpikir, apakah suatu saat nanti aku mencoba menjadi pelatih
Timnas Indonesia saja.
Setiap tahun terdapat sepuluh tim yang
mengikuti Sangilta Cup. Lima tim dari kelas X, dan lima tim dari kelas
XI. Kelas XII tidak diikutsertakan.
Karena terdapat sepuluh tim,
maka empat tim harus saling beradu terlebih dahulu agar memastikan
tempat ke babak delapan besar, sementara enam tim lainnya sudah menunggu
di babak delapan besar. Penentuan tim mana yang langsung lolos dan
harus menjalani laga sebelum delapan besar murni dengan undian.
Kebetulan kelas kami masuk ke dalam enam tim yang beruntung. Aku pun
mensyukurinya hal tersebut.
Pertandingan pertama kelasku berada di
babak delapan besar adalah menghadapi kelas X-1 yang secara mengejutkan
mengalahkan XI IPS-2 dengan skor 2-1. Sementara di pertandingan lainnya
X-4 bertemu XI Bahasa-1, kemudian X-3 bertemu X-5, dan yang terakhir XI
IPS-1 yang sebelumnya melibas perlawanan X-2 dengan skor 4-0 bertemu
dengan XI IPA-2.
Kami tidak bisa meremehkan kelas X-1, yang
sebelumnya berhasil menundukkan kelas yang diunggulkan menjuarai
Sangilta Cup selain, XI IPS-1. Pertandingan ini berlangsung sengit. Di
sepanjang babak pertama yang berakhir dengan skor 0-0, aku mencoba
mencari kelemahan yang dimiliki oleh kelas X-1. Dari pengamatanku, X-1
cenderung menekan melalui bagian kiri, dan ketika mereka keasyikan
menyerang, sisi sebelah kiri lebih terbuka karena pemain belakang turut
aktif menyerang. Aku pun memberikan instruksi kepada temanku pada jeda
pertandingan kedua. “Seranglah sisi sebelah kiri ketika melancarkan
serangan balik.”
Rencana berhasil. Taufik, temanku yang paling
mahir bermain bola, melesakkan dua gol untuk kemenangan tim kami. Aku
cukup puas dengan kemenangan ini. Walaupun aku hampir tidak pernah
menyentuh bola di sepanjang pertandingan, instruksi yang kuberikan dalam
jeda, mengubah arah permainan sehingga kami dapat lolos ke babak
semifinal.
Di semifinal, XI Bahasa-1 yang mengakhiri perlawanan
X-4 dengan adu penalti setelah ditahan 1-1 selama 120 menit telah
menunggu. Sementara pertandingan semifinal lain mempertemukan X-5 yang
berhasil melewati adangan X-3 melalui laga yang berkesudahan 1-0 dengan
favorit juara XI IPS-1 yang mengandaskan perlawanan XI IPA-2 dengan skor
3-0.
Di babak ini, aku menggunakan cara yang sama dalam
menghadapi XI Bahasa-1. Organisasi rapi yang diperagakan anak kelas XI
Bahasa-1 membuat tim kami kecolongan satu gol di babak pertama. Walaupun
agak ragu dengan analisisku, aku mencoba memberikan instruksi sebelum
memasuki babak kedua. “Tim lawan bermain baik, tapi sepertinya mereka
mengalami masalah jika harus beradu lari. Jadi kepada pemain tengah,
buatlah umpan jauh kepada striker.”
Walau sempat ragu, dugaanku
tidak meleset. Taufik, anak keriting dan berkulit sawo matang, berulang
kali lolos dari kawalan pemain belakang lawan setelah beradu cepat
memperebutkan bola. Namun, penjaga gawang XI Bahasa 1 lebih hebat dari
dugaanku. Tiga kali peluang emas Taufik dimentahkannya. Aku pun kembali
berpikir apa kelemahan penjaga gawang tersebut. Sampai akhirnya aku
mendekati taufik dan berbisik. “Cobalah untuk menembak dengan menyusur
tanah.”
Sekali lagi aku berhasil menganalisis kelemahan lawan.
Dua kali tembakan menyusur tanah yang dilepaskan Taufik berhasil
membuahkan gol. Menjelang berakhirnya pertandingan, Taufik dilanggar di
kotak penalti. Aku mencoba untuk mengambil tendangan yang katanya
sembilan puluh sembilan persen berbuah gol. Walapun tendanganku tidak
terlalu keras, kalau sekadar sebelas-duabelas meter sampai lah. Aku pun
mengambil langkah tenang dan mencoba membaca gerakan sang penjaga
gawang. Aku menendang ke kanan gawang setelah sebelumya membaca gerakan
tubuh penjaga gawang yang mulai bergerak ke kiri.
Gol.
Pertandingan berakhir dengan skor 3-1. Sementara di pertandingan lain,
XI IPS-1 meneruskan performa yang prima dengan mengalahkan X-5 dengan
skor 5-0. Sebuah hasil yang fantastis. Dari tiga pertandingan sebelumnya
mereka berhasil mencetak dua belas gol dan tidak pernah kebobolan.
Sebelum
pertandingan final dimulai, aku meminta dukungan dari Avena yang
langsung ditolaknya. Terang saja, Avena merupakan siswi dari kelas XI
IPS-1. Sambil tersenyum kecil dia berucap “Semoga saja kau bisa bermain
baik, walaupun kau akan kalah dari tim kami.”
Di bawah teriknya sinar matahari, pertandingan final segera dimulai.
*prit*
Pertandingan
baru berjalan beberapa detik, sebuah serangan yang dibangun oleh XII
IPS-1 nyaris menggetarkan jala gawang yang saat ini dijaga oleh Z. Bola
tendangan Sukro, top skor sementara dengan lima golnya, hanya mengenai
tiang gawang.
Serangan balik dilakukan, Z segera membuang bola
ke tengah lapangan dan tepat menuju ke arahku. Aku berlari menyongsong
bola, dan ketika aku mencoba mengoper kepada Adi, terjangan dari Sukro
dengan tubuh besarnya menjatuhkanku. Tendangan bebas pun diberikan. Aku
heran dengan kecepatan Sukro yang beberapa saat lalu masih berada di
depan gawang sudah mendekati area tengah lapangan. Aku mengambil
tendangan dan mengirimkan bola ke Taufik. Dengan luwesnya taufik membawa
bola dan melewati adangan pemain belakang lawan. Taufik pun menendang
bola ke arah gawang. Namun Sukro tiba-tiba datang mem-blok tendangan
Taufik dan menghasilkan tendangan penjuru.
Tendangan penjuru
dilakukan oleh Adi, anak berambut lurus berkulit putih. Tendangan yang
diberikan Adi melewati Sukro dan Taufik yang beradu bola, beberapa
pemain belakang. Aku yang berada di sudut jauh dari tendangan Adi
menerima bola sendirian. Tidak ada orang yang mengawalku, dan sang
penjaga gawang masih kebingungan menentukan dimana adanya bola itu.
Dengan tenangnya, kuarahkan bola ke gawang.
*tang*
Bola
mengenai sudut gawang sebelum akhirnya masuk ke jala gawang. Skor
berubah 1-0. Pertandingan berlangsung semakin panas. Apalagi dengan
teriknya matahari siang itu. Sukro berkali kali menembakkan bola ke
gawang. Z berhasil menghalaunya. Aku pun takjub dengan kemampuan Z
sebagai pejaga gawang. Babak pertama berakhir. Seperti biasa aku
memberikan instruksi sebelum babak kedua dimulai.
“Sukro adalah
pemain yang berbahaya. Lebih baik jangan sampai dia menembak terlalu
banyak. Walau Z bermain gemilang di babak pertama, aku tak yakin apakah Z
bisa bertahan jika terlalu sering menerima tendangan pemain bertubuh
gendut itu. Gol yang diciptakan olehku adalah kesalahan dari pemain
belakang lawan yang tidak menjagaku. Pemain belakang itu kurang cermat
dalam menjaga pemain, sebisa mungkin buatlah gerakan yang
membingungkannya jika sedang dikawal olehnya.”
Pertandingan babak
kedua dimulai. Kali ini, tiba-tiba awan hitam mulai bergelayut.
Pertanda akan terjadi hujan. Setelah kick-off, pemain XII IPS-1 dengan
cepatnya membagun serangan. Sukro menerima umpan dari sebelah kanan dan
saat ini hanya dikawal oleh Yadi, pemain belakang yang bertubuh mirip
dengan Sukro. Dengan gerak tipunya, Sukro berhasil melewati Yadi dan
kini situasi satu lawan satu dengan Z. Sukro maju mendekati gawang dan
melakukan gerak tipu untuk memeperdaya Z. Sukro pun menendang bola ke
gawang yang telah kosong tersebut. Gol.
*Jdar*
Bersamaan
dengan gol penyama kedudukan tersebut, petir menggelegar. Hujan turun
seakan terpanggil oleh petir tersebut. Dalam guyuran hujan, tim XII
IPS-1 justru semakin tak terkendali. Mereka tetap lancer melakukan
serangan. Sementara pemain belakang kami mulai kerepotan dengan lapangan
yang menjadi lebih licin. Penguasaan bola didominasi oleh XII IPS-1.
Satu
tendangan dilepaskan Sukro. Z mencoba untuk menepis tendagan itu, namun
tendangan itu melewati tangan dari Z. Sepertinya gol kedua akan
tercipta.
*tang*
Bola mengenai gawang, dan memantul ke
luar lapangan. Tendangan gawang dilakukan. Bola menuju ke tengah
lapangan dan medarat di kakiku. Ada dua pemain yang menjagaku. Aku pun
mengoper ke belakang tanpa melihat siapa yang ada di belakangku, dengan
harapan memang ada pemain yang berdiri di belakangku. Sayangnya, pemain d
belakangku adalah pemain lawan yang segera mengoper kepada Sukro. Sukro
kembali menendang bola dengan kaki kanannnya. Gol. Z tidak berdaya saat
tendangan itu mengarah di sudut kanan atas gawangnya. Skor menjadi 2-1.
Sepertinya sejarah akan terus berlanjut. IPS kembali menguasai Sangilta
Cup.
Namun kami tak boleh lantas berputus asa. Dengan
mengandalkan serangan balik, tim kami mendapatkan peluang emas. Taufik
berhasil melewati semua pemain belakang dan tinggal berhadpan dengan
penjaga gawang. Namun dari arah belakang, Sukro menerjang dan
menjatuhkan Taufik di dalam kotak penalti. Tendangan penalti pun
diberikan. Aku pun kembali bertindak sebagai algojo. Dengan tenangnya
aku menembak ke arah kiri. Sang penjaga gawang telah tertipu dengan
melompat ke arah kanan. Namun ternyata bola yang ku tendang sangat
melebar dan hanya menghasilkan tendangan gawang.
Situasi menjadi
lebih buruk. Dua kali aku melakukan kesalahan. Seharusnya tim kami
sudah unggul jika aku tak berbuat kesalahan. Namun temanku adalah orang
yang baik. Mereka tidak marah maupun kecewa. Mereka justru
menyemangatiku agar tak berbuat kesalahan lagi. Aku pun tersenyum dan
mencoba untuk bangkit.
Lima menit sebelum pertandingan berakhir,
tim kami mendapatkan tendangan sudut kembali. Kali ini pemain belakang
menjagaku dengan ketat, tak mau kecolongan lagi. Saat Adi menendang
bola, aku bergerak mendekati gawang dan disusul oleh pemain belakang
yang menjagaku. Aku melompat mencoba untuk menyundul bola. Namun bola
itu hanya melewati kepalaku. Pemain belakang yang menjagaku pun tdak
berhasil meghalau bola. Taufik yang berdiri bebas, melakukan tendangan
voli yang menghujam ke gawang XI IPS-1. Gol. Kedudukan pun kembali
seimbang.
XI IPS-1 semakin gencar menyerang agar menghasilkan gol
tambahan. Tepat di menit terakhir, Sukro terjatuh di kotak penalti saat
Yadi mencoba merebut bola darinya. Penalti pun diberikan. Aku pun
merasa sepertinya ini adalah akhir dari perlawanan kami untuk
menciptakan sejarah. Sukro mengambil sendiri tendangan penalti tersebut.
Peluit berbunyi dan Sukro menendang menyusur tanah. Z menubruk ke sisi
kanan gawang, namun ternyata bola mengarah ke kiri gawang. Bola itu
semakin mendekati gawang dan …
Bola itu berhenti tepat di garis
gawang. Adanya air yang berasal dari hujan itu menahan bola untuk
memasuki gawang. Z pun segera berbalik mengambil bola yang terdiam di
garis gawang tersebut dan membuang bola ke tengah lapangan. Taufik
menerima bola itu dan berlari menuju gawang lawan. Melihat bola berada
di kaki Taufik, aku segera berlari membuntuti anak keriting itu. Gerakan
lincah Taufik dapat melewati tiga pemain yang mencoba menghentikannya.
Ketika tinggal berduel satu lawan satu dengan penjaga gawang, Taufik
mengoper bola kepadaku. Penjaga gawang yang kebingungan pun tak sempat
menahan tendanganku yang mengarah ke tengah gawang. Gol. Skor berubah
menjadi 3-2 untuk keunggulan tim kami. Bersamaan dengan gol itu, peluit
panjang dibunyikan.
Sejarah pun tercipta, untuk pertama kalinya
juara Sangilta Cup bukanlah berasal dari kelas IPS. Panitia menyematkan
MVP kepadaku yang dianggap sebagai factor kunci kemenangan tim XI IPA-1.
Sedangkan, gelar top skor atau pencetak gol terbanyak diberikan kepada
Sukro, dengan tujuh gol.
Mengenang hal tersebut membuatku
sedikit mengulum senyum. Aku harus segera bangkit dan tidak larut dalam
kesedihan karena gagalnya kasus kemarin. Aku harus mengingat pesan
ayahku, kebenaran akan terungkap pada waktunya nanti.
Draft Enigmaze - Chapter 3 (end) - Orang Kelima?
Sebelum
aku memulai analisis, Z pergi untuk mencari bukti lain katanya. Sebelum
pergi, Z menyerahkan sebuah cincin yang ia temukan di sekitar
puing-puing reruntuhan panggung. Aku pun berpikir cepat bahwa cincin itu
merupakan milik pelaku. Aku pun menyerahkan kepada Briptu Wulan agar
tim forensik mengetes sidik jari yang terdapat di cincin tersebut.
“Misteri ini sudah tak lagi menjadi misteri,” ucapku sambil membenarkan kacamata yang sebenarnya sudah benar posisinya, “Sebuah igniter memiliki batas jarak maksimal agar tombol pada remote igniter befungsi. Dan setelah penelusuran di sepanjang area konser, akhirnya ditemukan sebuah remote igniter yang ditanam di dalam tanah. Dengan menginjaknya saja, igniter ini akan aktif. Pelaku juga harus berada di tempat ini untuk memastikan bahwa Sri Wahyuni berada di bawa titik ledak.
Dengan demikian jika alibi keempat tersangka yang menyatakan bahwa mereka sedang berada di rumahnya, maka pelaku bukanlah salah satu diantara mereka. Sayangnya,keempat tersangka telah berbohong kepada polisi.”
Semua orang yang berada di tempat itu tersentak mendengar ucapanku yang mungkin tidak mereka duga. Sejenak kuamati reaksi keempat tersangka, tapi aku tidak melihat keanehan. Semua terlihat terkejutdan terlihat sama. Mungkin saja memang aku saja yang tak pandai membaca wajah seseorang.
“Mataku memang tidak meliat mereka saat konser berlangsung, namun bukti yang menempel pada baju para tersangka tidak bisa berbohong.”
Semua memperhatikan baju yang dipakai keempat orang tersebut, mengamati apakah ada yang salah dengan baju yang mereka kenakan.
“Yono mengenakan baju berwarna biru, Aziz dengan kaos warna merah, Barok dengan kaos warna hitam dan yang terakhir Simon dengan baju tanpa lengan berwarna abu-abu. Namun bukan warna baju tersebut yang aku permasalahkan. Tetapi lihat bagian belakang dari baju tersebut, terdapat stiker bergambar siluet perempuan yang sedang bernyanyi disertai dengan tulisan ‘Konser Emas’.
Stiker itu ditempelkan oleh petugas di pintu masuk. Sebelum masuk, petugas memberi tepukan ke punggung penonton dan berkata ‘Selamat menyaksikan Konser Emas’ sambil tersenyum. Namun, dibalik aksi tersebut, petugas itu menempelkan stiker kejutan tersebut ke setiap orang yang datang untuk menonton.”
Keempat tersangka diam membisu tanda tak bisa membantah perkataanku. Dengan ini, aku pun semakin yakin bahwa Simon-lah pelaku yang membuat kegemparan di konser perdana penyanyi cantik, Sri Wahyuni.
Setelah menunggu beberapa saat, tim forensik datang dan melaporkan hasil penelitiannya.Sidik jari yang ada dalam cincin itu adalah milik Simon. Dengan hal tersebut dengan yakin aku menunjuk ke arah Simon, “Orang yang memasang igniter dan membakar panggung ini adalah kau, Simon!”
“Likur, apa kau sudah yakin dengan ini? Jangan seperti yang kemarin lagi,” bisik Vena yang berdiri di belakangku. Aku hanya mengangguk kecil, tanda bahwa aku yakin dengan apa yang aku utarakan pada saat itu. Kemudian Aku kembali melanjutkan perkataanku. “Sebagai buktinya, lihatlah apa yang ditemukan temanku saat mencari sesuatu di panggung ini,” kataku sambil menunjukkan sebuah cincin, “Polisi telah memeriksa sidik jari pada cincin ini.
Simon tercengang mendengar tuduhanku dan melihat ke jari tangannya yang membuat dia semakin tercengang. Rupanya dia tidak sadar telah meninggalkan bukti sekuat ini. Dia semakin terdiam. Akan tetapi tiba-tiba sesosok perempuan cantik memecah keheningan. “Hey bocah sok detektif. Analisismu menarik, namun jangan terburu-buru dengan kesimpulannya.”
“Rossa?” ucap Simon terbata-bata saat mengenali siapa yang baru saja berbicara.
“Apa maksudmu dengan terburu-buru?” tanyaku penuh selidik.
“Bagaimana kalau aku bisa membuktikan bahwa kakakku ini tidak bersalah?” tanya Rossa seperti menantang. Ternyata dia meiliki hubungan darah dengan Simon. Ketika aku hendak menjawab pertanyaan ini, tiba-tiba Simon menyela pembicaraan.
“Sudah cukup Rossa, aku mengakuinya. Akulah yang memasang bom pada atap dan meledakkannya. Aku melakukannya karena aku benci dengan acara keramaian seperti ini.”
Kuperhatikan Rossa tertegun mendengar kakaknya yang tiba-tiba mengakui perbuatannya. Namun Rossa tak menyerah begitu saja.
“Kakak? Apa maksudmu dengan ini? Bukankah kakak memang tidak datang ke tempat ini kemarin?”
“Daritadi aku tak mengerti arah pembicaraanmu. Apa yang mau kamu buktikan sebenarnya?”
“Rossa, cukup. Polisi tangkap saya saja sekarang,” ucap Simon pasrah.
...........................................................................................................................................................
Sementara itu di tempat lain, Z yang berpisah dengan Likur menyelidiki kembali tentang Simon dan bergerak menuju Kepolisian Sangilta.Disaat ia melaju pelan dengan sepatu rodanya, tanpa sengaja Z melihat televisi, yang dipajang di depan toko televisi, sedang menayangkan ulang acara live yang dilangsungkan kemarin di Purwokerto. Dia melihat jelas Simon terlihat di kamera itu sedang berjalan dengan seorang perempuan dan terlihat sedang terburu-buru untuk lari. Pemandu acara yang iseng tiba-tiba menghentikan langkah mereka dan memberi pertanyaan. Walaupun Simon terlihat tidak suka dengan perlakuan tersebut, namun perempuan yang bersama Simon tersenyum ramah dan menjawab pertanyaan tidak penting yang dilayangkan pemandu acara yang norak tersebut. Setelah itu kamera berpindah ke “korban” lain yang didatangi pemandu acara untuk diberi pertanyaan tidak penting lainnya.
Z pun tertegun, dan mencoba menganalisis. Bagaimana kalau bukan Simon pelakunya dan ada orang kelima selain keempat pekerja, yang menyelesaikan pemasangan pangung. Kemudian dia meneruskan perjalanannya untuk menyelidiki profil Simon di Kepolisian Sangilta. Dari data yang diberikan petugas kepolisian, Z mengetahui bahwa Simon sudah berkeluarga. Istrinya adalah Nita, warga asli Purwokerto yang merupakan seorang penyiar radio di Purwokerto. Z semakin terkesima saat tahu bahwa istri dari Simon, meninggal sehari yang lalu. Z pun yakin bahwa Simon tidak berada di tempat kejadian dan ada orang kelima yang merupakan pelaku sebenarnya.
Mendapat fakta yang baru membuat Z mencoba menghubungi Kalikur untuk memberitahukannya. Sialnya, ternyata handphone yang dibawa oleh Kalikur sedang tidak aktif karena kehabisan daya baterai. Sedangkan saat mencoba menghubungi Avena, yang saat ini sedang bersama Kalikur, tidak ada jawaban walaupun panggilan itu masuk. Z berpikir mungkin handphone Avena terjatuh atau hilang saat kericuhan terjadi. Z pun memutuskan untuk segera menuju Alun-Alun Sangilta.
...........................................................................................................................................................
Ketika polisi akan menangkap Simon yang telah mengakui perbuatannya, Rossa kembali membuka suaranya.
“Tunggu sebentar. Aku belum selesai bicara.”
“Mau bicara apalagi, dia sudah mengakuinya kok”
“Kemarin, aku dan kakakku tidak berada disini. Kami sedang berada di Purwokerto, untuk menemui istrinya yang sedang dirawat di Rumah Sakit Purwokerto. Di tengah perjalanan, kami dicegat oleh pemandu acara dari acara yang disiarkan secara langsung. Jika tidak percaya cobalah lihat di situs penyedia video dan carilah dengan kata pencarian ‘Gak Penting-Penting Amat 3 Maret 2012’. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke rumah sakit, tetapi setelah kami sampai di sana, istri kak Simon sudah meninggal dunia. Kami pun seharian berada di Purwokerto karena mengikuti prosesi pemakaman.”
“Lalu, mengapa hari ini kalian berada di sini?” tanyaku heran.
“Itu karena aku yang mencoba untuk menghibur kakakku, karena mendiang istrinya berteman baik dengan Sri Wahyuni semasa SMA dulu.”
Kini gilaran aku yang terdiam. Aku tak mengerti dengan semua ini. Egoku terlalu tinggi untuk mengalah.
“Tapi dia sudah mengaku bahwa dia melakukannya. Cincin ini juga miliknya. Sudah pasti dia pelakunya.”
“Cukup Likur. Aku kecewa padamu,” Briptu Wulan tiba-tiba memotong perkataanku, “Kau sudah mempermalukan nama besar ayahmu. Jika kau tidak bisa membantah keterangan yang dikatakan Rossa, tidak usah berbicara lagi. Kurasa kau hanya beruntung saja bisa mengungkap kasus pembunuhan Pak Demang kemarin.”
Aku semakin kesal. “Dia pasti melakukan trik agar…” belum selesai aku berkata, Vena menamparku untuk yang kedua kalinya seumur hidupku. Bedanya, kali ini bersarang di pipi sebelah kiri.
“Likur, sadar Likur. Kau belum bisa membuktikan bahwa Simon pelakunya. Percayalah, kebenaran akan terungkap pada waktunya.”
Aku tertegun dengan kata yang lebih ‘menampar’ dari tamparan Vena. Benar, aku terlalu bodoh. Aku tak boleh membalas ucapan Rossa dengan emosi semata. Aku mengutuk kebodohanku. Seketika itu, tiba-tiba aku teringat dengan ucapan mendiang ayahku di saat aku kecil dulu. “Likur, kadangkala kasus tak terpecahkan saat itu juga, namun kebenaran akan mengungkapnya pada saatnya nanti.” Hampir mirip dengan apa yang dikatakan Vena saat menenangkanku.
...........................................................................................................................................................
Z yang dengan sepatu rodanya akhirnya sampai juga ke sini. Z mendekatiku yang sedang down dan mengatakan fakta-fakta yang ia temukan saat menyelidiki Simon serta dugaannya terhadap orang kelima. Aku mendengar setiap penjelasannya dan akhirnya mataku sedikit lebih terbuka. Kemudian aku kembali mengulangi pertunjukan analisisku.
“Sebelumnya, aku meminta maaf kepada semua yang ada disini karena sifat kekanak-kanakanku. Simon, Aku pun meminta maaf padamu untuk tuduhanku yang hanya berdasarkan cincin. Tapi aku mau kau berbicara jujur dengan menjawab pertanyaanku.”
Simon hanya terdiam, malah Rossa yang angka bicara. “Baiklah aku akan dengarkan, aku akan jawab pertanyaanmu sebagai ganti kakakku yang tak mau membuka suaranya ini, jika aku bisa menjawabnya.”
“Baiklah, sebelum bertanya aku akan mengemukakan analisisku setelah mendapat informasi dari temanku yang baru saja datang. PT Karyadhi merupakan perusahaan dengan sistem yang ketat. Bagi yang melanggar kontrak, PT Karyadhi tidak segan-segan untuk memecatnya.
Dalam hal ini, Simon telah dikontrak untuk menyelesaikan panggung oleh PT Karyadhi bersama tiga temannya yang lain. Akan tetapi, di hari ketiga kontrak, yaitu kemarin, Simon mendapat kabar bahwa kondisi istrinya yang sedang di rumah sakit memburuk.
Dia pun segera berpikir bagaimana bisa menemui istrinya tanpa melanggar kontrak. Dengan ini mungkin dia mempekerjakan orang lain yagar bisa menggantikan dirinya bekerja agar tak melanggar kontrak yang telah disetujui sebelumnya. Melihat ketiga teman yang tidak curiga dengan orang yang menggantikannya, bisa jadi orang tersebut memiliki kesan yang mirip dengan Simon. Bertato, dan berambut panjang. Satu pertanyaanku. Siapa yang menggantikannya bekerja, jika memang Simon tak datang kemarin?”
Rossa terdiam. Mungkin dia tidak tahu jawabannya. Sedangkan Simon masih saja belum mau membuka suara.
“Simon? Aku tahu hidupmu berat. Kematian istrimu yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga, pasti membuatmu sangat terpukul, namun teruslah berjuang Simon. Aku yakin, jika kau mampu bangkit dan bekerja keras untuk menjalani hidup dengan semangat, pasti Istrimu akan bahagia di alam sana.”
“Terima kasih bocah.” Untuk pertama kalinya Simon mau berbicara. “Seperti yang tadi kamu jelaskan, semua sama. Saat mendengar keadaan istriku memburuk, aku langsung merasa sedih. Aku harus segera ke rumah sakit, namun aku tak boleh meninggalkan pekerjaan jika aku tetap memiliki pekerjaan.
Tiba-tiba saja aku melihat seseorang yang sedang bersenandung dengan gitarnya. Sesaat aku amati dan dia memiliki postur tubuh yang sama denganku, berambut panjang serta memiliki tato di lengan kirinya. Aku dekati dia dan mengatakan keadaanku yang sebenarnya kepadanya. Aku pun memberinya uang agar dia mau menggantikanku bekerja. Dia menyetujuinya dan bersalaman denganku. Mungkin saat itulah cincin yang melingkar di jari manisku berpindah tangan. Aku yang sedang kalut pun tidak menyadari hal tersebut.”
“Lalu, siapa nama orang yang menggantikanmu bekerja?”
“Namanya adalah … aaaaaaargh”
*gedebug*
Belum sempat menyelesaikan perkataanya, tiba-tiba saja Simon terjatuh, setelah sebelumnya berteriak. Mulutnya mengeluarkan darah segar. Sepertinya ia telah menelan racun yang memiliki efek membunuh secara perlahan. Semua orang menjadi panik. “Seseorang, secepatnya selamatkan orang ini,” teriakku. Beberapa polisi segera membawa Simon ke rumah sakit terdekat.
Aku terdiam membisu. Seperti kehilangan tenaga untuk sekedar menggerakan tubuh. Kasus kali ini diluar bayanganku, dan berakhir dengan tragis. Aku belum tahu siapa pelaku sebenarnya, dan seseorang yang tak berdosa mati dihadapanku. Seseorang yang putus asa setelah ditinggal istrinya yang menjadi tulang punggung keluarganya yang baru seumur jagung. Semua ini karena kesalahan analisisku yang membuang waktu yang sangat berharga. Jika saja aku bertanya lebih cepat, mungkin Simon masih bisa memberitahukan pelaku sebenarnya. Jika aku mampu berpikir lebih luas, mungkin aku bisa berpikir kemungkinan hal yang dilakukan Simon yang tengah dilanda kekalutan.
Bunuh diri.
“Misteri ini sudah tak lagi menjadi misteri,” ucapku sambil membenarkan kacamata yang sebenarnya sudah benar posisinya, “Sebuah igniter memiliki batas jarak maksimal agar tombol pada remote igniter befungsi. Dan setelah penelusuran di sepanjang area konser, akhirnya ditemukan sebuah remote igniter yang ditanam di dalam tanah. Dengan menginjaknya saja, igniter ini akan aktif. Pelaku juga harus berada di tempat ini untuk memastikan bahwa Sri Wahyuni berada di bawa titik ledak.
Dengan demikian jika alibi keempat tersangka yang menyatakan bahwa mereka sedang berada di rumahnya, maka pelaku bukanlah salah satu diantara mereka. Sayangnya,keempat tersangka telah berbohong kepada polisi.”
Semua orang yang berada di tempat itu tersentak mendengar ucapanku yang mungkin tidak mereka duga. Sejenak kuamati reaksi keempat tersangka, tapi aku tidak melihat keanehan. Semua terlihat terkejutdan terlihat sama. Mungkin saja memang aku saja yang tak pandai membaca wajah seseorang.
“Mataku memang tidak meliat mereka saat konser berlangsung, namun bukti yang menempel pada baju para tersangka tidak bisa berbohong.”
Semua memperhatikan baju yang dipakai keempat orang tersebut, mengamati apakah ada yang salah dengan baju yang mereka kenakan.
“Yono mengenakan baju berwarna biru, Aziz dengan kaos warna merah, Barok dengan kaos warna hitam dan yang terakhir Simon dengan baju tanpa lengan berwarna abu-abu. Namun bukan warna baju tersebut yang aku permasalahkan. Tetapi lihat bagian belakang dari baju tersebut, terdapat stiker bergambar siluet perempuan yang sedang bernyanyi disertai dengan tulisan ‘Konser Emas’.
Stiker itu ditempelkan oleh petugas di pintu masuk. Sebelum masuk, petugas memberi tepukan ke punggung penonton dan berkata ‘Selamat menyaksikan Konser Emas’ sambil tersenyum. Namun, dibalik aksi tersebut, petugas itu menempelkan stiker kejutan tersebut ke setiap orang yang datang untuk menonton.”
Keempat tersangka diam membisu tanda tak bisa membantah perkataanku. Dengan ini, aku pun semakin yakin bahwa Simon-lah pelaku yang membuat kegemparan di konser perdana penyanyi cantik, Sri Wahyuni.
Setelah menunggu beberapa saat, tim forensik datang dan melaporkan hasil penelitiannya.Sidik jari yang ada dalam cincin itu adalah milik Simon. Dengan hal tersebut dengan yakin aku menunjuk ke arah Simon, “Orang yang memasang igniter dan membakar panggung ini adalah kau, Simon!”
“Likur, apa kau sudah yakin dengan ini? Jangan seperti yang kemarin lagi,” bisik Vena yang berdiri di belakangku. Aku hanya mengangguk kecil, tanda bahwa aku yakin dengan apa yang aku utarakan pada saat itu. Kemudian Aku kembali melanjutkan perkataanku. “Sebagai buktinya, lihatlah apa yang ditemukan temanku saat mencari sesuatu di panggung ini,” kataku sambil menunjukkan sebuah cincin, “Polisi telah memeriksa sidik jari pada cincin ini.
Simon tercengang mendengar tuduhanku dan melihat ke jari tangannya yang membuat dia semakin tercengang. Rupanya dia tidak sadar telah meninggalkan bukti sekuat ini. Dia semakin terdiam. Akan tetapi tiba-tiba sesosok perempuan cantik memecah keheningan. “Hey bocah sok detektif. Analisismu menarik, namun jangan terburu-buru dengan kesimpulannya.”
“Rossa?” ucap Simon terbata-bata saat mengenali siapa yang baru saja berbicara.
“Apa maksudmu dengan terburu-buru?” tanyaku penuh selidik.
“Bagaimana kalau aku bisa membuktikan bahwa kakakku ini tidak bersalah?” tanya Rossa seperti menantang. Ternyata dia meiliki hubungan darah dengan Simon. Ketika aku hendak menjawab pertanyaan ini, tiba-tiba Simon menyela pembicaraan.
“Sudah cukup Rossa, aku mengakuinya. Akulah yang memasang bom pada atap dan meledakkannya. Aku melakukannya karena aku benci dengan acara keramaian seperti ini.”
Kuperhatikan Rossa tertegun mendengar kakaknya yang tiba-tiba mengakui perbuatannya. Namun Rossa tak menyerah begitu saja.
“Kakak? Apa maksudmu dengan ini? Bukankah kakak memang tidak datang ke tempat ini kemarin?”
“Daritadi aku tak mengerti arah pembicaraanmu. Apa yang mau kamu buktikan sebenarnya?”
“Rossa, cukup. Polisi tangkap saya saja sekarang,” ucap Simon pasrah.
...........................................................................................................................................................
Sementara itu di tempat lain, Z yang berpisah dengan Likur menyelidiki kembali tentang Simon dan bergerak menuju Kepolisian Sangilta.Disaat ia melaju pelan dengan sepatu rodanya, tanpa sengaja Z melihat televisi, yang dipajang di depan toko televisi, sedang menayangkan ulang acara live yang dilangsungkan kemarin di Purwokerto. Dia melihat jelas Simon terlihat di kamera itu sedang berjalan dengan seorang perempuan dan terlihat sedang terburu-buru untuk lari. Pemandu acara yang iseng tiba-tiba menghentikan langkah mereka dan memberi pertanyaan. Walaupun Simon terlihat tidak suka dengan perlakuan tersebut, namun perempuan yang bersama Simon tersenyum ramah dan menjawab pertanyaan tidak penting yang dilayangkan pemandu acara yang norak tersebut. Setelah itu kamera berpindah ke “korban” lain yang didatangi pemandu acara untuk diberi pertanyaan tidak penting lainnya.
Z pun tertegun, dan mencoba menganalisis. Bagaimana kalau bukan Simon pelakunya dan ada orang kelima selain keempat pekerja, yang menyelesaikan pemasangan pangung. Kemudian dia meneruskan perjalanannya untuk menyelidiki profil Simon di Kepolisian Sangilta. Dari data yang diberikan petugas kepolisian, Z mengetahui bahwa Simon sudah berkeluarga. Istrinya adalah Nita, warga asli Purwokerto yang merupakan seorang penyiar radio di Purwokerto. Z semakin terkesima saat tahu bahwa istri dari Simon, meninggal sehari yang lalu. Z pun yakin bahwa Simon tidak berada di tempat kejadian dan ada orang kelima yang merupakan pelaku sebenarnya.
Mendapat fakta yang baru membuat Z mencoba menghubungi Kalikur untuk memberitahukannya. Sialnya, ternyata handphone yang dibawa oleh Kalikur sedang tidak aktif karena kehabisan daya baterai. Sedangkan saat mencoba menghubungi Avena, yang saat ini sedang bersama Kalikur, tidak ada jawaban walaupun panggilan itu masuk. Z berpikir mungkin handphone Avena terjatuh atau hilang saat kericuhan terjadi. Z pun memutuskan untuk segera menuju Alun-Alun Sangilta.
...........................................................................................................................................................
Ketika polisi akan menangkap Simon yang telah mengakui perbuatannya, Rossa kembali membuka suaranya.
“Tunggu sebentar. Aku belum selesai bicara.”
“Mau bicara apalagi, dia sudah mengakuinya kok”
“Kemarin, aku dan kakakku tidak berada disini. Kami sedang berada di Purwokerto, untuk menemui istrinya yang sedang dirawat di Rumah Sakit Purwokerto. Di tengah perjalanan, kami dicegat oleh pemandu acara dari acara yang disiarkan secara langsung. Jika tidak percaya cobalah lihat di situs penyedia video dan carilah dengan kata pencarian ‘Gak Penting-Penting Amat 3 Maret 2012’. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke rumah sakit, tetapi setelah kami sampai di sana, istri kak Simon sudah meninggal dunia. Kami pun seharian berada di Purwokerto karena mengikuti prosesi pemakaman.”
“Lalu, mengapa hari ini kalian berada di sini?” tanyaku heran.
“Itu karena aku yang mencoba untuk menghibur kakakku, karena mendiang istrinya berteman baik dengan Sri Wahyuni semasa SMA dulu.”
Kini gilaran aku yang terdiam. Aku tak mengerti dengan semua ini. Egoku terlalu tinggi untuk mengalah.
“Tapi dia sudah mengaku bahwa dia melakukannya. Cincin ini juga miliknya. Sudah pasti dia pelakunya.”
“Cukup Likur. Aku kecewa padamu,” Briptu Wulan tiba-tiba memotong perkataanku, “Kau sudah mempermalukan nama besar ayahmu. Jika kau tidak bisa membantah keterangan yang dikatakan Rossa, tidak usah berbicara lagi. Kurasa kau hanya beruntung saja bisa mengungkap kasus pembunuhan Pak Demang kemarin.”
Aku semakin kesal. “Dia pasti melakukan trik agar…” belum selesai aku berkata, Vena menamparku untuk yang kedua kalinya seumur hidupku. Bedanya, kali ini bersarang di pipi sebelah kiri.
“Likur, sadar Likur. Kau belum bisa membuktikan bahwa Simon pelakunya. Percayalah, kebenaran akan terungkap pada waktunya.”
Aku tertegun dengan kata yang lebih ‘menampar’ dari tamparan Vena. Benar, aku terlalu bodoh. Aku tak boleh membalas ucapan Rossa dengan emosi semata. Aku mengutuk kebodohanku. Seketika itu, tiba-tiba aku teringat dengan ucapan mendiang ayahku di saat aku kecil dulu. “Likur, kadangkala kasus tak terpecahkan saat itu juga, namun kebenaran akan mengungkapnya pada saatnya nanti.” Hampir mirip dengan apa yang dikatakan Vena saat menenangkanku.
...........................................................................................................................................................
Z yang dengan sepatu rodanya akhirnya sampai juga ke sini. Z mendekatiku yang sedang down dan mengatakan fakta-fakta yang ia temukan saat menyelidiki Simon serta dugaannya terhadap orang kelima. Aku mendengar setiap penjelasannya dan akhirnya mataku sedikit lebih terbuka. Kemudian aku kembali mengulangi pertunjukan analisisku.
“Sebelumnya, aku meminta maaf kepada semua yang ada disini karena sifat kekanak-kanakanku. Simon, Aku pun meminta maaf padamu untuk tuduhanku yang hanya berdasarkan cincin. Tapi aku mau kau berbicara jujur dengan menjawab pertanyaanku.”
Simon hanya terdiam, malah Rossa yang angka bicara. “Baiklah aku akan dengarkan, aku akan jawab pertanyaanmu sebagai ganti kakakku yang tak mau membuka suaranya ini, jika aku bisa menjawabnya.”
“Baiklah, sebelum bertanya aku akan mengemukakan analisisku setelah mendapat informasi dari temanku yang baru saja datang. PT Karyadhi merupakan perusahaan dengan sistem yang ketat. Bagi yang melanggar kontrak, PT Karyadhi tidak segan-segan untuk memecatnya.
Dalam hal ini, Simon telah dikontrak untuk menyelesaikan panggung oleh PT Karyadhi bersama tiga temannya yang lain. Akan tetapi, di hari ketiga kontrak, yaitu kemarin, Simon mendapat kabar bahwa kondisi istrinya yang sedang di rumah sakit memburuk.
Dia pun segera berpikir bagaimana bisa menemui istrinya tanpa melanggar kontrak. Dengan ini mungkin dia mempekerjakan orang lain yagar bisa menggantikan dirinya bekerja agar tak melanggar kontrak yang telah disetujui sebelumnya. Melihat ketiga teman yang tidak curiga dengan orang yang menggantikannya, bisa jadi orang tersebut memiliki kesan yang mirip dengan Simon. Bertato, dan berambut panjang. Satu pertanyaanku. Siapa yang menggantikannya bekerja, jika memang Simon tak datang kemarin?”
Rossa terdiam. Mungkin dia tidak tahu jawabannya. Sedangkan Simon masih saja belum mau membuka suara.
“Simon? Aku tahu hidupmu berat. Kematian istrimu yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga, pasti membuatmu sangat terpukul, namun teruslah berjuang Simon. Aku yakin, jika kau mampu bangkit dan bekerja keras untuk menjalani hidup dengan semangat, pasti Istrimu akan bahagia di alam sana.”
“Terima kasih bocah.” Untuk pertama kalinya Simon mau berbicara. “Seperti yang tadi kamu jelaskan, semua sama. Saat mendengar keadaan istriku memburuk, aku langsung merasa sedih. Aku harus segera ke rumah sakit, namun aku tak boleh meninggalkan pekerjaan jika aku tetap memiliki pekerjaan.
Tiba-tiba saja aku melihat seseorang yang sedang bersenandung dengan gitarnya. Sesaat aku amati dan dia memiliki postur tubuh yang sama denganku, berambut panjang serta memiliki tato di lengan kirinya. Aku dekati dia dan mengatakan keadaanku yang sebenarnya kepadanya. Aku pun memberinya uang agar dia mau menggantikanku bekerja. Dia menyetujuinya dan bersalaman denganku. Mungkin saat itulah cincin yang melingkar di jari manisku berpindah tangan. Aku yang sedang kalut pun tidak menyadari hal tersebut.”
“Lalu, siapa nama orang yang menggantikanmu bekerja?”
“Namanya adalah … aaaaaaargh”
*gedebug*
Belum sempat menyelesaikan perkataanya, tiba-tiba saja Simon terjatuh, setelah sebelumnya berteriak. Mulutnya mengeluarkan darah segar. Sepertinya ia telah menelan racun yang memiliki efek membunuh secara perlahan. Semua orang menjadi panik. “Seseorang, secepatnya selamatkan orang ini,” teriakku. Beberapa polisi segera membawa Simon ke rumah sakit terdekat.
Aku terdiam membisu. Seperti kehilangan tenaga untuk sekedar menggerakan tubuh. Kasus kali ini diluar bayanganku, dan berakhir dengan tragis. Aku belum tahu siapa pelaku sebenarnya, dan seseorang yang tak berdosa mati dihadapanku. Seseorang yang putus asa setelah ditinggal istrinya yang menjadi tulang punggung keluarganya yang baru seumur jagung. Semua ini karena kesalahan analisisku yang membuang waktu yang sangat berharga. Jika saja aku bertanya lebih cepat, mungkin Simon masih bisa memberitahukan pelaku sebenarnya. Jika aku mampu berpikir lebih luas, mungkin aku bisa berpikir kemungkinan hal yang dilakukan Simon yang tengah dilanda kekalutan.
Bunuh diri.
Draft Enigmaze - Chapter 3 (middle) - Igniter
Tanpa
kusadari Z mengikuti di belakangku. Aku memang gegabah, hampir saja aku
tertimpa reruntuhan atap panggung, namun Z dengan tangkasnya mendorong
tubuhku. Keadaan di panggung sungguh mengenaskan, beberapa kru ada yang
melarikan diri. Ada pula yang kebingungan karena Sri Wahyuni yang
tiba-tiba menghilang.
Aku edarkan pandanganku dan menemukan sesosok manusia diantara reruntuhan atap gedung. Aku dan Z menghampiri dan menolong orang yang ternyata adalah Sri Wahyuni yang sedang tergolek tak sadarkan diri.
Dengan bantuan beberapa kru yang masih ada di atas panggung, Sri Wahyuni berhasil diselamatkan dan segera dibawa ke rumah sakit. Pemadam kebakaran pun datang sesaat setelah ambulance mengantar Sri Wahyuni ke rumah sakit Sangilta, rumah sakit yang sama ketika aku ditikam perempuan misterius dalam kasus di desa Karambing.
Setelah api padam, kami kembali ke panggung untuk mencari tahu penyebab kebakaran yang terjadi. Setelah beberapa saat, tiba-tiba aku melihat Z tersenyum. "Z, Kau kenapa? Tiba-tiba tersenyum" tanyaku penasaran.
"Kasus ini sepertinya menarik," katanya sambil tersenyum.
"Kasus apaan sih? Bisa saja ini kecelakaan biasa kan."ucapku cuek.
"Kalau ini kecelakaan biasa, tidak mungkin ada igniter disini. Pasti hal ini sudah direncanakan,” katanya sambil menunjuk suatu benda yang sudah terbakar itu.

Aku pun melihat ke arah yang ditunjuk Z. Memang terlihat seperti sebuah igniter walau sudah rusak parah. Igniter atau yang bisa disebut pemantik api adalah alat ini dikendalikan dengan suatu remote yang ketika tombol pada remote itu ditekan maka muncul api pada alat itu. Dengan adanya ledakan yang terjadi, besar kemungkinan igniter itu diisi dengan bubuk mesiu. Ada dua igniter yang kami temukan. Pertama, di bagian kiri panggung, yang reruntuhannya hampir menimpaku. Kedua, di bagian tengah panggung, tempat dimana Sri Wahyuni ditemukan pingsan setelah reruntuhan jatuh di sebelahnya.
Kami pun yakin bahwa kasus ini memang direncanakan.Kami pun segera mencari informasi tentang panggung dan konser ini. Orang yang pertama kami temui adalah penyelenggara konser ini, Pak Sumitra.
...........................................................................................................................................................
“Permisi pak, menganggu sebentar. Perkenalkan, saya Kalikur, dan ini teman saya Z. Saya ingin sedikit bertanya mengenai panggung ini, siapa yang mengonsep panggung?”
“Oh ya tidak apa-apa. Saya memang penyelenggara konser ini, namun Sri Wahyuni lah yang membuat konsep tentang panggung ini. Aksesoris yang kebanyakan berwarna emas ini, beliau sendiri yang mengonsepnya.”
“Lalu siapa pihak yang menyewakan panggung?”
“PT Karyadhi. Pengusaha baru di kota Sangilta ini. Kami memilihnya karena biaya sewanya tidak terlalu tinggi, dan Sri Wahyuni juga tidak ingin panggung yang terlalu mewah.”
“Oh, begitu. Lalu siapa saja yang memasang panggung dan bagaimana proses pemasangan panggung?”
“PT Karyadhi mengirimkan empat orang pekerja untuk menyelesaikan panggung ini. Panggung ini dibuat selama 3 hari. Pada hari pertama, panggung dikerjakan dengan menata panggung sesuai konsep dari Sri Wahyuni. Kemudian pada hari kedua mulai memasang aksesoris. Sedangkan pada hari terakhir adalah pemasangan atap panggung dan penyelesaian panggung.”
Setelah mendengar keterangan tersebut, kemungkinan yang paling logis adalah, salah satu diantara pekerja pembuang panggunglah tersangkanya. Terlalu aneh kalau Sri Wahyuni sendiri yang melakukaannya, walaupun bisa saja dilakukannya dengan harapan membuat sensasi agar albumnya terkenal nantinya.
“Bolehkah kami tahu siapa empat pekerja itu, dan bisakah anda membawa mereka kemari. Sebentar lagi polisi datang dan kami berpikir mereka akan berbuat hal sama setelah mendengar cerita anda.”
“Baiklah, saya akan menghubungi PT Karyadhi dan membawa keempat pekerja tersebut.”
...........................................................................................................................................................
Setelah beberapa saat polisi datang, dan tidak lama setelah itu keempat pekerja yang telah dihubungi Pak Sumitra datang ke tempat kejadian perkara. Polisi menginterogasi keempat pekerja tersebut.
Aku bertanya kepada salah satu polisi, polwan lebih tepanya, setelah proses interogasi selesai. Polwan yang di seragamnya tertulis 'Wulandari' tersebut pun menjelaskan beberapa hal yang didapat dari interogasi tadi.
“Pengerjaan panggung ini dilakukan oleh empat orang pekerja yang baru saja kami interogasi. Berdasarkan pengakuan mereka, Mereka saling berbagi tugas satu sama lainnya. Yono, pemuda tambun itu mengerjakan bagian dasar panggung. Barok, pemuda ceking dengan rambut keriting itu mengerjakan sound system. Aziz, pemuda yang berkacamata itu mengursi aksesoris panggung. Sedangkan Simon, pemuda dengan tato di tangan kirinya itu mendapat bagian pemasangan atap panggung.
Walaupun demikian, mereka saling bantu. Tapi hanya pemasangan atap yang dilakukan sendiri oleh Simon. Yaitu pada hari ketiga pengerjaan, atau kemarin. Saat terjadi insiden, mereka mengaku berada di rumahnya masing-masing. Dan seketika mendapat telepon untuk berkumpul mereka datang dengan urutan kedatangan Aziz sebagai orang pertama, Barok, Yono, dan Simon yang paling akhir.”
Kecurigaan pun tertuju pada Simon. Dialah orang terakhir yang menyentuh atap panggung, dan hanya dia sendiri yang mengerjakan. Namun tidak secepat itu, ada yang masih mengganjal pikiranku. Igniter hanya bekerja pada jarak dekat, dengan demikian pelaku yang berada di sekitar panggung saat kejadianlah yang paling mungkin sebagai pelakunya. Kedatangan Aziz sebagai orang pertama yang datang pun terbilang wajar karena diantara mereka berempat rumah Aziz merupakan yang terdekat.
Setelah berpikir beberapa saat, aku pun mengambil keputusan.
“Briptu Wulan, ijinkan aku menyampaikan pendapatku, kumpulkan semua pelaku untuk datang ke tempat ini.”
“Sepertinya darah keturunan mengalir lancar ke dalam dirimu, melihat gayamu, aku jadi teringat kepada almarhum Budi Suraja, mantan Kapolres Sangilta,” ucapnya sambil tersenyum.
Aku edarkan pandanganku dan menemukan sesosok manusia diantara reruntuhan atap gedung. Aku dan Z menghampiri dan menolong orang yang ternyata adalah Sri Wahyuni yang sedang tergolek tak sadarkan diri.
Dengan bantuan beberapa kru yang masih ada di atas panggung, Sri Wahyuni berhasil diselamatkan dan segera dibawa ke rumah sakit. Pemadam kebakaran pun datang sesaat setelah ambulance mengantar Sri Wahyuni ke rumah sakit Sangilta, rumah sakit yang sama ketika aku ditikam perempuan misterius dalam kasus di desa Karambing.
Setelah api padam, kami kembali ke panggung untuk mencari tahu penyebab kebakaran yang terjadi. Setelah beberapa saat, tiba-tiba aku melihat Z tersenyum. "Z, Kau kenapa? Tiba-tiba tersenyum" tanyaku penasaran.
"Kasus ini sepertinya menarik," katanya sambil tersenyum.
"Kasus apaan sih? Bisa saja ini kecelakaan biasa kan."ucapku cuek.
"Kalau ini kecelakaan biasa, tidak mungkin ada igniter disini. Pasti hal ini sudah direncanakan,” katanya sambil menunjuk suatu benda yang sudah terbakar itu.

Aku pun melihat ke arah yang ditunjuk Z. Memang terlihat seperti sebuah igniter walau sudah rusak parah. Igniter atau yang bisa disebut pemantik api adalah alat ini dikendalikan dengan suatu remote yang ketika tombol pada remote itu ditekan maka muncul api pada alat itu. Dengan adanya ledakan yang terjadi, besar kemungkinan igniter itu diisi dengan bubuk mesiu. Ada dua igniter yang kami temukan. Pertama, di bagian kiri panggung, yang reruntuhannya hampir menimpaku. Kedua, di bagian tengah panggung, tempat dimana Sri Wahyuni ditemukan pingsan setelah reruntuhan jatuh di sebelahnya.
Kami pun yakin bahwa kasus ini memang direncanakan.Kami pun segera mencari informasi tentang panggung dan konser ini. Orang yang pertama kami temui adalah penyelenggara konser ini, Pak Sumitra.
...........................................................................................................................................................
“Permisi pak, menganggu sebentar. Perkenalkan, saya Kalikur, dan ini teman saya Z. Saya ingin sedikit bertanya mengenai panggung ini, siapa yang mengonsep panggung?”
“Oh ya tidak apa-apa. Saya memang penyelenggara konser ini, namun Sri Wahyuni lah yang membuat konsep tentang panggung ini. Aksesoris yang kebanyakan berwarna emas ini, beliau sendiri yang mengonsepnya.”
“Lalu siapa pihak yang menyewakan panggung?”
“PT Karyadhi. Pengusaha baru di kota Sangilta ini. Kami memilihnya karena biaya sewanya tidak terlalu tinggi, dan Sri Wahyuni juga tidak ingin panggung yang terlalu mewah.”
“Oh, begitu. Lalu siapa saja yang memasang panggung dan bagaimana proses pemasangan panggung?”
“PT Karyadhi mengirimkan empat orang pekerja untuk menyelesaikan panggung ini. Panggung ini dibuat selama 3 hari. Pada hari pertama, panggung dikerjakan dengan menata panggung sesuai konsep dari Sri Wahyuni. Kemudian pada hari kedua mulai memasang aksesoris. Sedangkan pada hari terakhir adalah pemasangan atap panggung dan penyelesaian panggung.”
Setelah mendengar keterangan tersebut, kemungkinan yang paling logis adalah, salah satu diantara pekerja pembuang panggunglah tersangkanya. Terlalu aneh kalau Sri Wahyuni sendiri yang melakukaannya, walaupun bisa saja dilakukannya dengan harapan membuat sensasi agar albumnya terkenal nantinya.
“Bolehkah kami tahu siapa empat pekerja itu, dan bisakah anda membawa mereka kemari. Sebentar lagi polisi datang dan kami berpikir mereka akan berbuat hal sama setelah mendengar cerita anda.”
“Baiklah, saya akan menghubungi PT Karyadhi dan membawa keempat pekerja tersebut.”
...........................................................................................................................................................
Setelah beberapa saat polisi datang, dan tidak lama setelah itu keempat pekerja yang telah dihubungi Pak Sumitra datang ke tempat kejadian perkara. Polisi menginterogasi keempat pekerja tersebut.
Aku bertanya kepada salah satu polisi, polwan lebih tepanya, setelah proses interogasi selesai. Polwan yang di seragamnya tertulis 'Wulandari' tersebut pun menjelaskan beberapa hal yang didapat dari interogasi tadi.
“Pengerjaan panggung ini dilakukan oleh empat orang pekerja yang baru saja kami interogasi. Berdasarkan pengakuan mereka, Mereka saling berbagi tugas satu sama lainnya. Yono, pemuda tambun itu mengerjakan bagian dasar panggung. Barok, pemuda ceking dengan rambut keriting itu mengerjakan sound system. Aziz, pemuda yang berkacamata itu mengursi aksesoris panggung. Sedangkan Simon, pemuda dengan tato di tangan kirinya itu mendapat bagian pemasangan atap panggung.
Walaupun demikian, mereka saling bantu. Tapi hanya pemasangan atap yang dilakukan sendiri oleh Simon. Yaitu pada hari ketiga pengerjaan, atau kemarin. Saat terjadi insiden, mereka mengaku berada di rumahnya masing-masing. Dan seketika mendapat telepon untuk berkumpul mereka datang dengan urutan kedatangan Aziz sebagai orang pertama, Barok, Yono, dan Simon yang paling akhir.”
Kecurigaan pun tertuju pada Simon. Dialah orang terakhir yang menyentuh atap panggung, dan hanya dia sendiri yang mengerjakan. Namun tidak secepat itu, ada yang masih mengganjal pikiranku. Igniter hanya bekerja pada jarak dekat, dengan demikian pelaku yang berada di sekitar panggung saat kejadianlah yang paling mungkin sebagai pelakunya. Kedatangan Aziz sebagai orang pertama yang datang pun terbilang wajar karena diantara mereka berempat rumah Aziz merupakan yang terdekat.
Setelah berpikir beberapa saat, aku pun mengambil keputusan.
“Briptu Wulan, ijinkan aku menyampaikan pendapatku, kumpulkan semua pelaku untuk datang ke tempat ini.”
“Sepertinya darah keturunan mengalir lancar ke dalam dirimu, melihat gayamu, aku jadi teringat kepada almarhum Budi Suraja, mantan Kapolres Sangilta,” ucapnya sambil tersenyum.
Subscribe to:
Posts (Atom)