“Kur, Kur, nek gemuyu aja kebablasen, mbok mengko malah dadi nangis”
[Kur, Kur, kalau tertawa jangan kelewatan, nanti malah jadi nangis]
Begitulah
yang kakekku ucapkan ketika aku masih kecil dulu. Dulu entah kenapa
setelah puas tertawa-tawa karena senangnya bermain, tiba-tiba saja ada
hal yang membuat menangis, entah apa yang membuatku menangis, aku
sendiri juga sudah lupa. Namun, hal ini adalah misteri yang masih
menjadi misteri bagiku.
Seperti saat ini, setelah seminggu
sebelumnya aku terlarut dalam kebahagiaan setelah menjadikan kelasku
sebagai juara Sangilta Cup, aku dibuat ‘menangis’ melalui kasus tragis
yang terjadi kemarin. Mungkin lebih baik aku sejenak melupakan kasus
tragis itu dan mengenang kemenangan bersejarah minggu lalu agar aku
merasa lebih baik.
Sebenarnya jika ditanya mengenai kemampuan
sepakbola, maka jawabanku adalah nol besar. Ya bukan sepenuhnya nol juga
sih, tapi bisa juga dikatakan nol. Fisikku yang kecil tak memungkinanku
berduel dalam memperebutkan bola. Tendanganku pun tak sekeras temanku
yang lain, keakuratannya pun tidak terlalu akurat.
Hal yang
membuat aku ikut dalam tim kelasku hanyalah karena keterbatasan jumlah
pemain. Ya, kelasku hanya memiliki sebelas orang laki-laki. Yang
memaksaku agar ikut bermain dalam olahraga yang katanya pertama kali
dikenalkan di Inggris tersebut. Padahal aku lebih suka menonton
sepakbola saja.
Namun, aku mencoba untuk mengerahkan satu-satunya
kemampuanku. Menganalisis permainan lawan selama babak pertama, dan
membuat strategi untuk meng-counter taktik lawan di babak kedua. Aku pun
mulai berpikir, apakah suatu saat nanti aku mencoba menjadi pelatih
Timnas Indonesia saja.
Setiap tahun terdapat sepuluh tim yang
mengikuti Sangilta Cup. Lima tim dari kelas X, dan lima tim dari kelas
XI. Kelas XII tidak diikutsertakan.
Karena terdapat sepuluh tim,
maka empat tim harus saling beradu terlebih dahulu agar memastikan
tempat ke babak delapan besar, sementara enam tim lainnya sudah menunggu
di babak delapan besar. Penentuan tim mana yang langsung lolos dan
harus menjalani laga sebelum delapan besar murni dengan undian.
Kebetulan kelas kami masuk ke dalam enam tim yang beruntung. Aku pun
mensyukurinya hal tersebut.
Pertandingan pertama kelasku berada di
babak delapan besar adalah menghadapi kelas X-1 yang secara mengejutkan
mengalahkan XI IPS-2 dengan skor 2-1. Sementara di pertandingan lainnya
X-4 bertemu XI Bahasa-1, kemudian X-3 bertemu X-5, dan yang terakhir XI
IPS-1 yang sebelumnya melibas perlawanan X-2 dengan skor 4-0 bertemu
dengan XI IPA-2.
Kami tidak bisa meremehkan kelas X-1, yang
sebelumnya berhasil menundukkan kelas yang diunggulkan menjuarai
Sangilta Cup selain, XI IPS-1. Pertandingan ini berlangsung sengit. Di
sepanjang babak pertama yang berakhir dengan skor 0-0, aku mencoba
mencari kelemahan yang dimiliki oleh kelas X-1. Dari pengamatanku, X-1
cenderung menekan melalui bagian kiri, dan ketika mereka keasyikan
menyerang, sisi sebelah kiri lebih terbuka karena pemain belakang turut
aktif menyerang. Aku pun memberikan instruksi kepada temanku pada jeda
pertandingan kedua. “Seranglah sisi sebelah kiri ketika melancarkan
serangan balik.”
Rencana berhasil. Taufik, temanku yang paling
mahir bermain bola, melesakkan dua gol untuk kemenangan tim kami. Aku
cukup puas dengan kemenangan ini. Walaupun aku hampir tidak pernah
menyentuh bola di sepanjang pertandingan, instruksi yang kuberikan dalam
jeda, mengubah arah permainan sehingga kami dapat lolos ke babak
semifinal.
Di semifinal, XI Bahasa-1 yang mengakhiri perlawanan
X-4 dengan adu penalti setelah ditahan 1-1 selama 120 menit telah
menunggu. Sementara pertandingan semifinal lain mempertemukan X-5 yang
berhasil melewati adangan X-3 melalui laga yang berkesudahan 1-0 dengan
favorit juara XI IPS-1 yang mengandaskan perlawanan XI IPA-2 dengan skor
3-0.
Di babak ini, aku menggunakan cara yang sama dalam
menghadapi XI Bahasa-1. Organisasi rapi yang diperagakan anak kelas XI
Bahasa-1 membuat tim kami kecolongan satu gol di babak pertama. Walaupun
agak ragu dengan analisisku, aku mencoba memberikan instruksi sebelum
memasuki babak kedua. “Tim lawan bermain baik, tapi sepertinya mereka
mengalami masalah jika harus beradu lari. Jadi kepada pemain tengah,
buatlah umpan jauh kepada striker.”
Walau sempat ragu, dugaanku
tidak meleset. Taufik, anak keriting dan berkulit sawo matang, berulang
kali lolos dari kawalan pemain belakang lawan setelah beradu cepat
memperebutkan bola. Namun, penjaga gawang XI Bahasa 1 lebih hebat dari
dugaanku. Tiga kali peluang emas Taufik dimentahkannya. Aku pun kembali
berpikir apa kelemahan penjaga gawang tersebut. Sampai akhirnya aku
mendekati taufik dan berbisik. “Cobalah untuk menembak dengan menyusur
tanah.”
Sekali lagi aku berhasil menganalisis kelemahan lawan.
Dua kali tembakan menyusur tanah yang dilepaskan Taufik berhasil
membuahkan gol. Menjelang berakhirnya pertandingan, Taufik dilanggar di
kotak penalti. Aku mencoba untuk mengambil tendangan yang katanya
sembilan puluh sembilan persen berbuah gol. Walapun tendanganku tidak
terlalu keras, kalau sekadar sebelas-duabelas meter sampai lah. Aku pun
mengambil langkah tenang dan mencoba membaca gerakan sang penjaga
gawang. Aku menendang ke kanan gawang setelah sebelumya membaca gerakan
tubuh penjaga gawang yang mulai bergerak ke kiri.
Gol.
Pertandingan berakhir dengan skor 3-1. Sementara di pertandingan lain,
XI IPS-1 meneruskan performa yang prima dengan mengalahkan X-5 dengan
skor 5-0. Sebuah hasil yang fantastis. Dari tiga pertandingan sebelumnya
mereka berhasil mencetak dua belas gol dan tidak pernah kebobolan.
Sebelum
pertandingan final dimulai, aku meminta dukungan dari Avena yang
langsung ditolaknya. Terang saja, Avena merupakan siswi dari kelas XI
IPS-1. Sambil tersenyum kecil dia berucap “Semoga saja kau bisa bermain
baik, walaupun kau akan kalah dari tim kami.”
Di bawah teriknya sinar matahari, pertandingan final segera dimulai.
*prit*
Pertandingan
baru berjalan beberapa detik, sebuah serangan yang dibangun oleh XII
IPS-1 nyaris menggetarkan jala gawang yang saat ini dijaga oleh Z. Bola
tendangan Sukro, top skor sementara dengan lima golnya, hanya mengenai
tiang gawang.
Serangan balik dilakukan, Z segera membuang bola
ke tengah lapangan dan tepat menuju ke arahku. Aku berlari menyongsong
bola, dan ketika aku mencoba mengoper kepada Adi, terjangan dari Sukro
dengan tubuh besarnya menjatuhkanku. Tendangan bebas pun diberikan. Aku
heran dengan kecepatan Sukro yang beberapa saat lalu masih berada di
depan gawang sudah mendekati area tengah lapangan. Aku mengambil
tendangan dan mengirimkan bola ke Taufik. Dengan luwesnya taufik membawa
bola dan melewati adangan pemain belakang lawan. Taufik pun menendang
bola ke arah gawang. Namun Sukro tiba-tiba datang mem-blok tendangan
Taufik dan menghasilkan tendangan penjuru.
Tendangan penjuru
dilakukan oleh Adi, anak berambut lurus berkulit putih. Tendangan yang
diberikan Adi melewati Sukro dan Taufik yang beradu bola, beberapa
pemain belakang. Aku yang berada di sudut jauh dari tendangan Adi
menerima bola sendirian. Tidak ada orang yang mengawalku, dan sang
penjaga gawang masih kebingungan menentukan dimana adanya bola itu.
Dengan tenangnya, kuarahkan bola ke gawang.
*tang*
Bola
mengenai sudut gawang sebelum akhirnya masuk ke jala gawang. Skor
berubah 1-0. Pertandingan berlangsung semakin panas. Apalagi dengan
teriknya matahari siang itu. Sukro berkali kali menembakkan bola ke
gawang. Z berhasil menghalaunya. Aku pun takjub dengan kemampuan Z
sebagai pejaga gawang. Babak pertama berakhir. Seperti biasa aku
memberikan instruksi sebelum babak kedua dimulai.
“Sukro adalah
pemain yang berbahaya. Lebih baik jangan sampai dia menembak terlalu
banyak. Walau Z bermain gemilang di babak pertama, aku tak yakin apakah Z
bisa bertahan jika terlalu sering menerima tendangan pemain bertubuh
gendut itu. Gol yang diciptakan olehku adalah kesalahan dari pemain
belakang lawan yang tidak menjagaku. Pemain belakang itu kurang cermat
dalam menjaga pemain, sebisa mungkin buatlah gerakan yang
membingungkannya jika sedang dikawal olehnya.”
Pertandingan babak
kedua dimulai. Kali ini, tiba-tiba awan hitam mulai bergelayut.
Pertanda akan terjadi hujan. Setelah kick-off, pemain XII IPS-1 dengan
cepatnya membagun serangan. Sukro menerima umpan dari sebelah kanan dan
saat ini hanya dikawal oleh Yadi, pemain belakang yang bertubuh mirip
dengan Sukro. Dengan gerak tipunya, Sukro berhasil melewati Yadi dan
kini situasi satu lawan satu dengan Z. Sukro maju mendekati gawang dan
melakukan gerak tipu untuk memeperdaya Z. Sukro pun menendang bola ke
gawang yang telah kosong tersebut. Gol.
*Jdar*
Bersamaan
dengan gol penyama kedudukan tersebut, petir menggelegar. Hujan turun
seakan terpanggil oleh petir tersebut. Dalam guyuran hujan, tim XII
IPS-1 justru semakin tak terkendali. Mereka tetap lancer melakukan
serangan. Sementara pemain belakang kami mulai kerepotan dengan lapangan
yang menjadi lebih licin. Penguasaan bola didominasi oleh XII IPS-1.
Satu
tendangan dilepaskan Sukro. Z mencoba untuk menepis tendagan itu, namun
tendangan itu melewati tangan dari Z. Sepertinya gol kedua akan
tercipta.
*tang*
Bola mengenai gawang, dan memantul ke
luar lapangan. Tendangan gawang dilakukan. Bola menuju ke tengah
lapangan dan medarat di kakiku. Ada dua pemain yang menjagaku. Aku pun
mengoper ke belakang tanpa melihat siapa yang ada di belakangku, dengan
harapan memang ada pemain yang berdiri di belakangku. Sayangnya, pemain d
belakangku adalah pemain lawan yang segera mengoper kepada Sukro. Sukro
kembali menendang bola dengan kaki kanannnya. Gol. Z tidak berdaya saat
tendangan itu mengarah di sudut kanan atas gawangnya. Skor menjadi 2-1.
Sepertinya sejarah akan terus berlanjut. IPS kembali menguasai Sangilta
Cup.
Namun kami tak boleh lantas berputus asa. Dengan
mengandalkan serangan balik, tim kami mendapatkan peluang emas. Taufik
berhasil melewati semua pemain belakang dan tinggal berhadpan dengan
penjaga gawang. Namun dari arah belakang, Sukro menerjang dan
menjatuhkan Taufik di dalam kotak penalti. Tendangan penalti pun
diberikan. Aku pun kembali bertindak sebagai algojo. Dengan tenangnya
aku menembak ke arah kiri. Sang penjaga gawang telah tertipu dengan
melompat ke arah kanan. Namun ternyata bola yang ku tendang sangat
melebar dan hanya menghasilkan tendangan gawang.
Situasi menjadi
lebih buruk. Dua kali aku melakukan kesalahan. Seharusnya tim kami
sudah unggul jika aku tak berbuat kesalahan. Namun temanku adalah orang
yang baik. Mereka tidak marah maupun kecewa. Mereka justru
menyemangatiku agar tak berbuat kesalahan lagi. Aku pun tersenyum dan
mencoba untuk bangkit.
Lima menit sebelum pertandingan berakhir,
tim kami mendapatkan tendangan sudut kembali. Kali ini pemain belakang
menjagaku dengan ketat, tak mau kecolongan lagi. Saat Adi menendang
bola, aku bergerak mendekati gawang dan disusul oleh pemain belakang
yang menjagaku. Aku melompat mencoba untuk menyundul bola. Namun bola
itu hanya melewati kepalaku. Pemain belakang yang menjagaku pun tdak
berhasil meghalau bola. Taufik yang berdiri bebas, melakukan tendangan
voli yang menghujam ke gawang XI IPS-1. Gol. Kedudukan pun kembali
seimbang.
XI IPS-1 semakin gencar menyerang agar menghasilkan gol
tambahan. Tepat di menit terakhir, Sukro terjatuh di kotak penalti saat
Yadi mencoba merebut bola darinya. Penalti pun diberikan. Aku pun
merasa sepertinya ini adalah akhir dari perlawanan kami untuk
menciptakan sejarah. Sukro mengambil sendiri tendangan penalti tersebut.
Peluit berbunyi dan Sukro menendang menyusur tanah. Z menubruk ke sisi
kanan gawang, namun ternyata bola mengarah ke kiri gawang. Bola itu
semakin mendekati gawang dan …
Bola itu berhenti tepat di garis
gawang. Adanya air yang berasal dari hujan itu menahan bola untuk
memasuki gawang. Z pun segera berbalik mengambil bola yang terdiam di
garis gawang tersebut dan membuang bola ke tengah lapangan. Taufik
menerima bola itu dan berlari menuju gawang lawan. Melihat bola berada
di kaki Taufik, aku segera berlari membuntuti anak keriting itu. Gerakan
lincah Taufik dapat melewati tiga pemain yang mencoba menghentikannya.
Ketika tinggal berduel satu lawan satu dengan penjaga gawang, Taufik
mengoper bola kepadaku. Penjaga gawang yang kebingungan pun tak sempat
menahan tendanganku yang mengarah ke tengah gawang. Gol. Skor berubah
menjadi 3-2 untuk keunggulan tim kami. Bersamaan dengan gol itu, peluit
panjang dibunyikan.
Sejarah pun tercipta, untuk pertama kalinya
juara Sangilta Cup bukanlah berasal dari kelas IPS. Panitia menyematkan
MVP kepadaku yang dianggap sebagai factor kunci kemenangan tim XI IPA-1.
Sedangkan, gelar top skor atau pencetak gol terbanyak diberikan kepada
Sukro, dengan tujuh gol.
Mengenang hal tersebut membuatku
sedikit mengulum senyum. Aku harus segera bangkit dan tidak larut dalam
kesedihan karena gagalnya kasus kemarin. Aku harus mengingat pesan
ayahku, kebenaran akan terungkap pada waktunya nanti.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment