Pages

Draft Enigmaze Side Story - Chapter Root Of Negative 3 - Sangilta Cup

“Kur, Kur, nek gemuyu aja kebablasen, mbok mengko malah dadi nangis”
[Kur, Kur, kalau tertawa jangan kelewatan, nanti malah jadi nangis]

Begitulah yang kakekku ucapkan ketika aku masih kecil dulu. Dulu entah kenapa setelah puas tertawa-tawa karena senangnya bermain, tiba-tiba saja ada hal yang membuat menangis, entah apa yang membuatku menangis, aku sendiri juga sudah lupa. Namun, hal ini adalah misteri yang masih menjadi misteri bagiku.

Seperti saat ini, setelah seminggu sebelumnya aku terlarut dalam kebahagiaan setelah menjadikan kelasku sebagai juara Sangilta Cup, aku dibuat ‘menangis’ melalui kasus tragis yang terjadi kemarin. Mungkin lebih baik aku sejenak melupakan kasus tragis itu dan mengenang kemenangan bersejarah minggu lalu agar aku merasa lebih baik.

Sebenarnya jika ditanya mengenai kemampuan sepakbola, maka jawabanku adalah nol besar. Ya bukan sepenuhnya nol juga sih, tapi bisa juga dikatakan nol. Fisikku yang kecil tak memungkinanku berduel dalam memperebutkan bola. Tendanganku pun tak sekeras temanku yang lain, keakuratannya pun tidak terlalu akurat.

Hal yang membuat aku ikut dalam tim kelasku hanyalah karena keterbatasan jumlah pemain. Ya, kelasku hanya memiliki sebelas orang laki-laki. Yang memaksaku agar ikut bermain dalam olahraga yang katanya pertama kali dikenalkan di Inggris tersebut. Padahal aku lebih suka menonton sepakbola saja.

Namun, aku mencoba untuk mengerahkan satu-satunya kemampuanku. Menganalisis permainan lawan selama babak pertama, dan membuat strategi untuk meng-counter taktik lawan di babak kedua. Aku pun mulai berpikir, apakah suatu saat nanti aku mencoba menjadi pelatih Timnas Indonesia saja.

Setiap tahun terdapat sepuluh tim yang mengikuti Sangilta Cup. Lima tim dari kelas X, dan lima tim dari kelas XI. Kelas XII tidak diikutsertakan.

Karena terdapat sepuluh tim, maka empat tim harus saling beradu terlebih dahulu agar memastikan tempat ke babak delapan besar, sementara enam tim lainnya sudah menunggu di babak delapan besar. Penentuan tim mana yang langsung lolos dan harus menjalani laga sebelum delapan besar murni dengan undian. Kebetulan kelas kami masuk ke dalam enam tim yang beruntung. Aku pun mensyukurinya hal tersebut.
Pertandingan pertama kelasku berada di babak delapan besar adalah menghadapi kelas X-1 yang secara mengejutkan mengalahkan XI IPS-2 dengan skor 2-1. Sementara di pertandingan lainnya X-4 bertemu XI Bahasa-1, kemudian X-3 bertemu X-5, dan yang terakhir XI IPS-1 yang sebelumnya melibas perlawanan X-2 dengan skor 4-0 bertemu dengan XI IPA-2.

Kami tidak bisa meremehkan kelas X-1, yang sebelumnya berhasil menundukkan kelas yang diunggulkan menjuarai Sangilta Cup selain, XI IPS-1. Pertandingan ini berlangsung sengit. Di sepanjang babak pertama yang berakhir dengan skor 0-0, aku mencoba mencari kelemahan yang dimiliki oleh kelas X-1. Dari pengamatanku, X-1 cenderung menekan melalui bagian kiri, dan ketika mereka keasyikan menyerang, sisi sebelah kiri lebih terbuka karena pemain belakang turut aktif menyerang. Aku pun memberikan instruksi kepada temanku pada jeda pertandingan kedua. “Seranglah sisi sebelah kiri ketika melancarkan serangan balik.”

Rencana berhasil. Taufik, temanku yang paling mahir bermain bola, melesakkan dua gol untuk kemenangan tim kami. Aku cukup puas dengan kemenangan ini. Walaupun aku hampir tidak pernah menyentuh bola di sepanjang pertandingan, instruksi yang kuberikan dalam jeda, mengubah arah permainan sehingga kami dapat lolos ke babak semifinal.

Di semifinal, XI Bahasa-1 yang mengakhiri perlawanan X-4 dengan adu penalti setelah ditahan 1-1 selama 120 menit telah menunggu. Sementara pertandingan semifinal lain mempertemukan X-5 yang berhasil melewati adangan X-3 melalui laga yang berkesudahan 1-0 dengan favorit juara XI IPS-1 yang mengandaskan perlawanan XI IPA-2 dengan skor 3-0.

Di babak ini, aku menggunakan cara yang sama dalam menghadapi XI Bahasa-1. Organisasi rapi yang diperagakan anak kelas XI Bahasa-1 membuat tim kami kecolongan satu gol di babak pertama. Walaupun agak ragu dengan analisisku, aku mencoba memberikan instruksi sebelum memasuki babak kedua. “Tim lawan bermain baik, tapi sepertinya mereka mengalami masalah jika harus beradu lari. Jadi kepada pemain tengah, buatlah umpan jauh kepada striker.”

Walau sempat ragu, dugaanku tidak meleset. Taufik, anak keriting dan berkulit sawo matang, berulang kali lolos dari kawalan pemain belakang lawan setelah beradu cepat memperebutkan bola. Namun, penjaga gawang XI Bahasa 1 lebih hebat dari dugaanku. Tiga kali peluang emas Taufik dimentahkannya. Aku pun kembali berpikir apa kelemahan penjaga gawang tersebut. Sampai akhirnya aku mendekati taufik dan berbisik. “Cobalah untuk menembak dengan menyusur tanah.”

Sekali lagi aku berhasil menganalisis kelemahan lawan. Dua kali tembakan menyusur tanah yang dilepaskan Taufik berhasil membuahkan gol. Menjelang berakhirnya pertandingan, Taufik dilanggar di kotak penalti. Aku mencoba untuk mengambil tendangan yang katanya sembilan puluh sembilan persen berbuah gol. Walapun tendanganku tidak terlalu keras, kalau sekadar sebelas-duabelas meter sampai lah. Aku pun mengambil langkah tenang dan mencoba membaca gerakan sang penjaga gawang. Aku menendang ke kanan gawang setelah sebelumya membaca gerakan tubuh penjaga gawang yang mulai bergerak ke kiri.

Gol. Pertandingan berakhir dengan skor 3-1. Sementara di pertandingan lain, XI IPS-1 meneruskan performa yang prima dengan mengalahkan X-5 dengan skor 5-0. Sebuah hasil yang fantastis. Dari tiga pertandingan sebelumnya mereka berhasil mencetak dua belas gol dan tidak pernah kebobolan.

Sebelum pertandingan final dimulai, aku meminta dukungan dari Avena yang langsung ditolaknya. Terang saja, Avena merupakan siswi dari kelas XI IPS-1. Sambil tersenyum kecil dia berucap “Semoga saja kau bisa bermain baik, walaupun kau akan kalah dari tim kami.”

Di bawah teriknya sinar matahari, pertandingan final segera dimulai.
*prit*
Pertandingan baru berjalan beberapa detik, sebuah serangan yang dibangun oleh XII IPS-1 nyaris menggetarkan jala gawang yang saat ini dijaga oleh Z. Bola tendangan Sukro, top skor sementara dengan lima golnya, hanya mengenai tiang gawang.

Serangan balik dilakukan, Z segera membuang bola ke tengah lapangan dan tepat menuju ke arahku. Aku berlari menyongsong bola, dan ketika aku mencoba mengoper kepada Adi, terjangan dari Sukro dengan tubuh besarnya menjatuhkanku. Tendangan bebas pun diberikan. Aku heran dengan kecepatan Sukro yang beberapa saat lalu masih berada di depan gawang sudah mendekati area tengah lapangan. Aku mengambil tendangan dan mengirimkan bola ke Taufik. Dengan luwesnya taufik membawa bola dan melewati adangan pemain belakang lawan. Taufik pun menendang bola ke arah gawang. Namun Sukro tiba-tiba datang mem-blok tendangan Taufik dan menghasilkan tendangan penjuru.

Tendangan penjuru dilakukan oleh Adi, anak berambut lurus berkulit putih. Tendangan yang diberikan Adi melewati Sukro dan Taufik yang beradu bola, beberapa pemain belakang. Aku yang berada di sudut jauh dari tendangan Adi menerima bola sendirian. Tidak ada orang yang mengawalku, dan sang penjaga gawang masih kebingungan menentukan dimana adanya bola itu. Dengan tenangnya, kuarahkan bola ke gawang.

*tang*

Bola mengenai sudut gawang sebelum akhirnya masuk ke jala gawang. Skor berubah 1-0. Pertandingan berlangsung semakin panas. Apalagi dengan teriknya matahari siang itu. Sukro berkali kali menembakkan bola ke gawang. Z berhasil menghalaunya. Aku pun takjub dengan kemampuan Z sebagai pejaga gawang. Babak pertama berakhir. Seperti biasa aku memberikan instruksi sebelum babak kedua dimulai.

“Sukro adalah pemain yang berbahaya. Lebih baik jangan sampai dia menembak terlalu banyak. Walau Z bermain gemilang di babak pertama, aku tak yakin apakah Z bisa bertahan jika terlalu sering menerima tendangan pemain bertubuh gendut itu. Gol yang diciptakan olehku adalah kesalahan dari pemain belakang lawan yang tidak menjagaku. Pemain belakang itu kurang cermat dalam menjaga pemain, sebisa mungkin buatlah gerakan yang membingungkannya jika sedang dikawal olehnya.”

Pertandingan babak kedua dimulai. Kali ini, tiba-tiba awan hitam mulai bergelayut. Pertanda akan terjadi hujan. Setelah kick-off, pemain XII IPS-1 dengan cepatnya membagun serangan. Sukro menerima umpan dari sebelah kanan dan saat ini hanya dikawal oleh Yadi, pemain belakang yang bertubuh mirip dengan Sukro. Dengan gerak tipunya, Sukro berhasil melewati Yadi dan kini situasi satu lawan satu dengan Z. Sukro maju mendekati gawang dan melakukan gerak tipu untuk memeperdaya Z. Sukro pun menendang bola ke gawang yang telah kosong tersebut. Gol.

*Jdar*

Bersamaan dengan gol penyama kedudukan tersebut, petir menggelegar. Hujan turun seakan terpanggil oleh petir tersebut. Dalam guyuran hujan, tim XII IPS-1 justru semakin tak terkendali. Mereka tetap lancer melakukan serangan. Sementara pemain belakang kami mulai kerepotan dengan lapangan yang menjadi lebih licin. Penguasaan bola didominasi oleh XII IPS-1.

Satu tendangan dilepaskan Sukro. Z mencoba untuk menepis tendagan itu, namun tendangan itu melewati tangan dari Z. Sepertinya gol kedua akan tercipta.

*tang*

Bola mengenai gawang, dan memantul ke luar lapangan. Tendangan gawang dilakukan. Bola menuju ke tengah lapangan dan medarat di kakiku. Ada dua pemain yang menjagaku. Aku pun mengoper ke belakang tanpa melihat siapa yang ada di belakangku, dengan harapan memang ada pemain yang berdiri di belakangku. Sayangnya, pemain d belakangku adalah pemain lawan yang segera mengoper kepada Sukro. Sukro kembali menendang bola dengan kaki kanannnya. Gol. Z tidak berdaya saat tendangan itu mengarah di sudut kanan atas gawangnya. Skor menjadi 2-1. Sepertinya sejarah akan terus berlanjut. IPS kembali menguasai Sangilta Cup.

Namun kami tak boleh lantas berputus asa. Dengan mengandalkan serangan balik, tim kami mendapatkan peluang emas. Taufik berhasil melewati semua pemain belakang dan tinggal berhadpan dengan penjaga gawang. Namun dari arah belakang, Sukro menerjang dan menjatuhkan Taufik di dalam kotak penalti. Tendangan penalti pun diberikan. Aku pun kembali bertindak sebagai algojo. Dengan tenangnya aku menembak ke arah kiri. Sang penjaga gawang telah tertipu dengan melompat ke arah kanan. Namun ternyata bola yang ku tendang sangat melebar dan hanya menghasilkan tendangan gawang.

Situasi menjadi lebih buruk. Dua kali aku melakukan kesalahan. Seharusnya tim kami sudah unggul jika aku tak berbuat kesalahan. Namun temanku adalah orang yang baik. Mereka tidak marah maupun kecewa. Mereka justru menyemangatiku agar tak berbuat kesalahan lagi. Aku pun tersenyum dan mencoba untuk bangkit.

Lima menit sebelum pertandingan berakhir, tim kami mendapatkan tendangan sudut kembali. Kali ini pemain belakang menjagaku dengan ketat, tak mau kecolongan lagi. Saat Adi menendang bola, aku bergerak mendekati gawang dan disusul oleh pemain belakang yang menjagaku. Aku melompat mencoba untuk menyundul bola. Namun bola itu hanya melewati kepalaku. Pemain belakang yang menjagaku pun tdak berhasil meghalau bola. Taufik yang berdiri bebas, melakukan tendangan voli yang menghujam ke gawang XI IPS-1. Gol. Kedudukan pun kembali seimbang.

XI IPS-1 semakin gencar menyerang agar menghasilkan gol tambahan. Tepat di menit terakhir, Sukro terjatuh di kotak penalti saat Yadi mencoba merebut bola darinya. Penalti pun diberikan. Aku pun merasa sepertinya ini adalah akhir dari perlawanan kami untuk menciptakan sejarah. Sukro mengambil sendiri tendangan penalti tersebut. Peluit berbunyi dan Sukro menendang menyusur tanah. Z menubruk ke sisi kanan gawang, namun ternyata bola mengarah ke kiri gawang. Bola itu semakin mendekati gawang dan …

Bola itu berhenti tepat di garis gawang. Adanya air yang berasal dari hujan itu menahan bola untuk memasuki gawang. Z pun segera berbalik mengambil bola yang terdiam di garis gawang tersebut dan membuang bola ke tengah lapangan. Taufik menerima bola itu dan berlari menuju gawang lawan. Melihat bola berada di kaki Taufik, aku segera berlari membuntuti anak keriting itu. Gerakan lincah Taufik dapat melewati tiga pemain yang mencoba menghentikannya. Ketika tinggal berduel satu lawan satu dengan penjaga gawang, Taufik mengoper bola kepadaku. Penjaga gawang yang kebingungan pun tak sempat menahan tendanganku yang mengarah ke tengah gawang. Gol. Skor berubah menjadi 3-2 untuk keunggulan tim kami. Bersamaan dengan gol itu, peluit panjang dibunyikan.

Sejarah pun tercipta, untuk pertama kalinya juara Sangilta Cup bukanlah berasal dari kelas IPS. Panitia menyematkan MVP kepadaku yang dianggap sebagai factor kunci kemenangan tim XI IPA-1. Sedangkan, gelar top skor atau pencetak gol terbanyak diberikan kepada Sukro, dengan tujuh gol.

Mengenang hal tersebut membuatku sedikit mengulum senyum. Aku harus segera bangkit dan tidak larut dalam kesedihan karena gagalnya kasus kemarin.  Aku harus mengingat pesan ayahku, kebenaran akan terungkap pada waktunya nanti.

0 comments:

Post a Comment