…………………………………………………………………………
Pada hari minggu, cuaca cerah berawan. Aku sudah berjanji datang ke rumah Avena, mencoba rainbow cake buatannya. Avena memang sedang giat belajar membuat kue, dia memiliki obsesi memiliki toko kue sendiri. Home Sweet Home, itulah nama yang ia rencanakan untuk membuat tokonya nanti.
Di tengah perjalanan menuju rumah Avena, suara kucing mengusikku. Suara itu berasal dari sebuah pohon. Jangan-jangan pohon ini jelmaan siluman kucing, pikirku. Pikiran macam apa itu, pikirku lagi. Ku edarkan pandanganku, sampai akhirnya kutemukan sesosok makhluk mungil bermata kuning, dengan bulu yang belang berwarna kuning belang putih serta kalung melingkar di lehernya. Sebuah kucing yang manis terjebak diatas pohon. Entah apa yang dia lakukan sebelumnya sampai bisa ada di atas pohon tersebut.

Aku pun berinisiatif untuk memanjat pohon itu dan menurunkan kucing malang tersebut. Setelah kucing itu kuselamatkan, aku kembali berjalan menuju rumah Avena. Namun sang kucing tetap mengikuti sambil mengeong manja. Akhirnya aku putuskan untuk membawa serta kucing tersebut ke rumah Avena. Avena pernah bercerita kalau adiknya memelihara kucing, siapa tahu kucing ini bisa dipeliharanya juga, pikirku.
…………………………………………………………………………
*ting-tong*
*klak*
Seorang remaja putri membukakan pintu. Kali ini bukan Avena yang membuka pintu, melainkan adiknya yang sekarang bersekolah di SMP 1 Sangilta. Nadiavina Alamanda, begitulah nama yang ia sebut saat berkenalan dulu.
“Dian?”
Aku kaget. Sejak kapan Avena mengajari adiknya untuk memanggilku ‘Dian’. Tapi aku berpikir cepat, mata Nadia tak menatap mataku. Matanya tertuju pada makhluk mungil yang ada di pundakku saat ini.
“Kaka Kaka Likur nemuin Dian dimana? Nadia dari kemarin nyariin nggak ketemu-temu.”
“Tadi aku tidak sengaja menemukannya kok. Saat jalan ke sini, tiba-tiba ada suara mengeong dari pohon. Aku yang penasaran mencari sumber suara dan menemukan kucing malang ini tersangkut di pohon. Jadi aku menurunkannya. Setelah turun, aku mau meninggalkannya, eh, kucing ini malah meminta ikut denganku.”
“Makasih ya Kaka Kaka Likur. Oh iya, masuk-masuk dulu. Kak Vena belum selesai bikin rotinya. Dian, ayo sini, jangan nakal sama Kaka Kaka Likur.”
Kucing itu kuserahkan kepada Nadia. Nadia pun masuk ke dalam rumah. Aku pun ikut masuk ke rumah yang mewah itu. Di ruang tamu, aku menduduki sofa tempat biasa aku duduk saat bertamu di rumah ini. Avena dan Nadia kembali lagi ke ruang tamu membawa teh manis.
“Likur, maaf ya kuenya masih belum jadi, tapi tinggal sebentar lagi kok. Nadia kamu temenin Kak Likur dulu ya,” ucap Vena sambil berlalu menuju dapur kembali.
“Iya Kak.”
“Tidak usah terburu-buru Ven, ntar malah jadi tidak sempurna kuenya.”
“Iya deh iya.”
…………………………………………………………………………
“Makasih ya Kaka Kaka Likur. Nadia seneng banget Dian udah ketemu.”
“Iya, sama-sama. Makanya kucingnya dikasih makan, biar tidak kabur-kabur lagi.”
“Ih Kaka Kaka Likur jahat. Masa nuduh Nadia nggak ngasih makan kucing. Kemarin kan Dian yang nakal, ninggalin Nadia pas jalan-jalan. Masa tiba-tiba Dian melompat dari tangan Nadia. Terus Dian kukejar, eh Nadia malah kesandung batu. Begitu bangun udah nggak tahu Dian kemana.”
Aku tertawa kecil mendengar keluguan dari anak SMP ini. Kebiasaannya memanggil namaku dengan ‘Kaka Kaka Likur’ pun menurutku lucu. JIka dia memanggil kakaknya dengan ‘Kak Vena’ mengapa dia tidak memanggilku dengan ‘Kak Likur’ atau ‘Kak Kalikur’?
Saat aku meminum teh manis pemberiannya, tiba-tiba Nadia berkata, “Kaka Kaka Likur suka sama Kak Vena ya?”
Aku tersedak mendengar ucapannya yang tiba-tiba saja berubah topik itu. Aku sampai terbatuk-batuk. Mendengar keributan yang dibuat olehku, Avena bergegas ke ruang tamu.
“Kamu kenapa Likur? Apa tehnya tidak enak?”
Belum sempat kujawab, Nadia segera menyambar “Nadia lagi tanya sama Kaka Kaka Likur, tapi belum dijawab malah batuk-batuk.”
“Memangnya kamu tanya apa?”
“Nadia tadi tanya apa Kaka Kaka Likur suka sama Kak Vena.”
Dengan wajah memerah Avena menjawab, “Apa-apaan sih kamu. Udah Likur nggak usah denger ucapan adikku yang nakal ini.”
Avena pun kembali ke dapur. Nadia tertawa kecil melihat reaksi kakaknya. Perbincangan antara Nadia denganku pun kembali berlanjut. Nadia menceritakan tentang kehidupan sekolahnya. Sejak SD sampai sekarang di SMP Sangilta, dia selalu mendapatkan peringkat pertama. Dia sangat senang dengan prestasinya tersebut menyamai prestasi kakaknya. Aku pun menceritakan kisahku dari psikambing sampai konser emas kemarin.
“Jadi Kaka Kaka Likur itu detektif?”
“Bukan kok, aku cuma anak SMA biasa.”
“Tapi kan bisa kayak detektif gitu, ngaku aja deh. Hebat deh. Pantes bisa nemuin Dian.”
“Ah kalo yang hari ini Cuma kebetulan saja kok.”
Setelah menunggu beberapa menit, Avena kembali dari dapur dan membawa kue pelangi bikinannya. Avena pun menawarkan, “Silahkan dicicipi, maaf kalau kurang enak. Aku masih belajar.”

Kucicipi kue dengan tujuh warna tersebut. Seperti yang sudah kuduga, Avena memang memiliki bakat membuat kue. “Enak kok, udah kayak master patisserie saja.”
“Ah, kamu bisa saja.”
“Kak Vena, kapan-kapan ajarin Nadia ya.”
“Iya. Kakak ajarin nanti.”
…………………………………………………………………………
Waktu begitu cepat berlalu, langit tampak jingga, pertanda hari sudah letih dan ingin beristirahat, digantikan oleh malam. Aku pun berpamitan. Ketika sudah keluar dari pintu, iba-tiba Nadia memanggilku.
“Kaka Kaka Likur, ada acara nggak sabtu dan minggu depan?”
“Sepertinya tidak, memangnya kenapa?”
“Ikut kak Vena sama Nadia yuk ke Tasikmalaya?”
“Ngapain? Beli es buah rumput laut?”
“Ih, bukan. Ada saudara yang ulang tahun. Sekalian kan Kaka Kaka Likur bisa liburan disana. Pemandangannya bagus lho, dijamin deh nggak nyesel kalau ikutan.”
“Emm, gimana ya? Ven, gimana nih?”
“Terserah kamu saja. Kalau mau ya ikut saja. Ultahnya di hari minggunya. Kita berangkat dari sini Sabtu pagi saja. Kebetulan sekolah libur kan”
“Oke deh. Seumur-umur baru pernah pergi ke luar Sangilta dan Purwokerto. Makasih ya sudah mau mengajak.”
Nadia tersenyum senang. Aku pun kembali pulang ke rumah kakekku yang sederhana.
…………………………………………………………………………
Seminggu pun berlalu dengan cepat. Aku sebenarnya mengajak Z untuk ikut serta ke Tasikmalaya, tapi dia lebih memilih untuk tinggal di rumah. Mungkin dia sudah ada janji dengan Yasmin.
Perjalanan lintas provinsi ini dimulai pukul sembilan pagi. Aku, Vena, dan Nadia berkumpul di tempat Avena sebelum berangkat. Kami berencana menaiki kereta api. Dengan angkot nomer 7 dengan jurusan Stasiun Nyangidadhah, kami pun menuju stasiun tempat keberangkatan kami. Kereta itu akan berhenti di Stasiun Tasikmalaya.
…………………………………………………………………………
Setelah menghabiskan waktu 4 jam lebih sedikit, akhirnya kami tiba di Stasiun Tasikmalaya. Kami pun mencari angkot yang menuju jalur jalan provinsi, perbatasan kota dan kabupaten Tasikmalaya. Setelah melewati waktu setengah jam di angkot, kami tiba di sebuah desa yang berada di perbatasan kota dan kabupaten Tasikmalaya itu.
Kami pun berjalan menyusuri desa, dan akhirnya sampailah kami di tempat saudaranya Vena. Sebuah rumah yang memiliki lokasi strategis. Dari depan rumah saja, kami bisa melihat pemandangan. Ada dua gunung terlihat dari sini, yaitu Gunung Galunggung, dan Gunung Syawal. Tidak jauh dari rumah itu, terlihat sawah dan sungai kecil yang mengalir. Banyak juga burung yang beterbangan. Tepat seperti pemandangan yang sering kugambar sewaktu aku masih di SD dulu. Kurasa, matahari pun muncul dibalik kedua gunung iu di pagi harinya.

Pintu rumah terbuka, sesosok perempuan manis menyambut kedatangan kami bertiga. Aku sempat kaget ketika melihat wajahnya yang bagai pinang dibelah dua dengan Avena. Dia pun kaget melihat keberadaanku.
“Vena, Dia, kalian bersama siapa ke sini?”
“Oh, ini Kaka Kaka Likur. Nadia yang ngajak dia kemari. Dia hebat lho Kak Yani, kayak detektif. Kemarin-kemarin saja kucing Nadia hilang, Kaka Kaka Likur yang nemuin,” jelas Nadia dengan nadanya yang menggemaskan.
“Perkenalkan, M Kalikur. Maaf kalau kedatanganku yang tak diundang ini merepotkan,” ucapku sambil mengajak bersalaman.
“Yani Heriyani. Tidak apa-apa kok, aku cuma kaget aja karena kukira mereka datang berdua. Silahkan masuk.”
Kami pun masuk ke rumah yang lumayan besar itu. Ibu Yani pun memberi sambutan yang hangat. Aku dipersilakan untuk menempati kamar yang biasa digunakan oleh Ayah Yani yang kebetulan sedang tugas bekerja di luar kota. Aku pun segera melepas lelah, membersihkan diri dan berganti pakaian.
…………………………………………………………………………
Malam pun datang. Ibu Yani telah mempersiapkan makan malam untuk kami. Sebuah masakan khas sunda, Nasi timbel. Nasi ini dimasak dengan membungkus nasi panas di dalam daun pisang. Panas nasi menjadikan aroma daun pisang luruh dan menambah aroma nasi. Nasi inilah yang katanya menjadi cikal bakal nasi bakar. Begitulah yang kubaca di sebuah artikel majalah kuliner. Aku pun mencoba untuk memakannya untuk yang pertama kali. Ternyata rasanya enak juga, pikirku dalam hati.
Di tengah makan malam, tiba-tiba Yani meminta ijin untuk pergi. “Bu, Yani mau keluar sebentar ya, ada yang perlu dibeli.”
“Ditemani Vena atau Nadia ya?”
“Teu usah Bu, Yani sendiri saja.”
“Ati-ati ya neng.”
Walaupun ibu Yani mengijinkan anaknya pergi, namun aku melihat raut khawatir di wajah beliau. Sepertinya beliau sangat mengkhawatirkan putri semata wayangnya tersebut.
…………………………………………………………………………
Setelah lebih dari satu jam, Yani tak kunjung kembali. Ibu Yani pun panik. “Vena, Nadia, coba cari Yani. Sudah satu jam belum balik juga.”
Vena dan Nadia beranjak keluar rumah. Aku pun mengikuti kepergian mereka. Begitu membuka pintu, kami bertiga menghambur keluar. Setelah beberapa saat mencari, mataku tertahan pada sebuah pohon nangka di depan rumah. Pohon itu kusorot dengan senter yang tadi kubawa. Aku hampir tak memercayai penglihatanku saat ini. Orang yang baru kutemui sore ini dan kuajak bersalaman itu, tergantung di atas pohon di tengah gelapnya, sunyinya, dan dinginnya malam.
0 comments:
Post a Comment