Pages

Draft Enigmaze Chapter 4 (end) - Berakhir dengan Berita Utama


Avena tergugu. Tubuhnya kaku. Sementara Nadia menangis sesenggukan. Melihat keramaian di depan rumahnya,
ibu Yani pun keluar. Beliau pingsan begitu mengetahui anak semata wayangnya tergantung di pohon nangka. Aku tak tahu harus menenenangkan siapa terlebih dahulu, akhirnya kuputuskan untuk menelpon polisi dan mengumpulkan warga dengan caraku.Aku berusaha mencari sebuah kayu ataupun bambu. Kutemukan sebuah bambu dan kupukul keras dengan irama satu-satu sebagai tanda kematian. Warga desa itu pun menuju ke sumber suara yang kubuat itu.“Siapa kau? Beraninya membuat keributan disini?”
“Ada kematian, makanya aku membunyikannya dengan irama satu-satu.”
“Kenapa kau tidak mendatagi warga baik-baik. Keributanmu membuat anak-anak menangis.”
Aku baru menyadari bahwa aku sedang berada di luar Sangilta. Membunyikan kentongan itu biasa jika terjadi pembunuhan, pencurian, kebakaran, bencana alam, dan pencurian hewan sebagai kode memanggil warga. Memang setiap daerah di Indonesia memiliki budaya sendiri-sendiri.
“Maaf pak, bukan maksudnya membuat keributan disini.”

…………………………………………………………………………

Ibu Yani telah siuman dari pingsannya. Ibu Yani pun menjelaskan tentang putrinya. Beliau memang sedang mengkhawatirkan tingkah anaknya yang sering mengurung diri di kamar. Itu dikarenakan anaknya yang lulusan kuliah di salah satu sekolah tinggi belum jua mendapat kabar tentang masa depannya. Sudah lima bulan bahkan enam bulan sejak kelulusannya, namun belum juga mendapat pengumuman resmi tentang masa depannya.Mendengar itu, Aku menarik Avena untuk menyelidiki kamar Yani.
Sebelum pergi aku sempat memandangi mayat Yani dengan senter dan merasakan adanya kejanggalan. Saat Yani akan pergi ke luar rumah, raut mukanya tampak murung, tapi sekarang kulihat wajahnya menampakan sedikit senyuman di tengah wajah yang seperti menahan sakit. Apakah benar itu bunuh diri?
“Ven, carikan buku diari Yani. Jika memang bunuh diri, mungkin ada pesan yang ia tinggalkan.”
Avena akhirnya menemukan buku diari yang ditemukannya di sebuah laci di meja belajar Yani. Aku pun membuka buku diari itu guna mencari petunjuk. Dan aku pun terperanjat melihatnya. Bukan karena aku menemukan sesuatu, melainkan karena diari itu ditulis dalam bahasa sunda. Dan aku tak tahu bahasa sunda.


19-9-2011 : akhirna abdi lulus kuliah, abdi teu nyangka bisa jadi jadi pinunjul di dieu

9-10-2011 : wisuda nu endah. teu puguh raraosan pas salaman sareng pa menteri 

11-11-2011 : sabulan saatos wisuda teu acan aya wae panggilan ti anjeun teh 

13-12-2011 : abdi yakin sakedap deui bakal aya panggilan ti anjeun 

18-1-2012 : ieu hujan lir ibarat perasaan kuring nu nuju nungguan anjeun 

21-2-2012 : naha can datang wae? naha kedah abdi nungguan leuwih lami? 

14-3-2012 : geuningan, nungguan anjeun teh lir ibarat nungguan pati, teu apal iraha datangna tapi kuring kudu siap ti ayeuna keneh

“Jadi Yani bunuh diri karena putus asa menunggu keputusan itu?”
“Eh, Vena. Kamu paham bahasa Sunda ya? Beritahu aku artinya dong”
“Wani piro?” tanyanya meledek dengan gaya meniru iklan di televisi.
“Emang kamu harganya berapa?” ucapku asal.
“LIkur, jangan kurang ajar!” serunya sambil menjitak kepalaku
.“Maaf. Aku hanya bercanda kok. Lagian kamu yang mulai bercanda duluan. Tolong beritahu artinya dong, Ven.”
“Nggak mau. Kamu jahat”
“Ih, aku kan cuma bercanda.”
“Bercanda juga ada batasnya kali.”
 “Iya aku beneran minta maaf deh, …”
“Berarti daritadi kamu nggak minta maaf beneran?” potongnya sebelum aku menyelesaikan kata-kataku.
“Fyuh, memang susah berbicara dengan perempuan yang sedang kesal,” ucapku dalam hati.
“Maaf Ven. Aku menyesal sudah bercanda seperti itu. Tapi tolong beritahu apa yang Yani tulis di diari itu. Demi kebenaran kasus ini.”
“OK. Kali ini aku maafiin. Awas kalau lain kali kamu mengulanginya lagi. Jadi arti dari diari itu adalah :

19-9-2011 : Akhirnya aku lulus kuliah, dan aku tak menyangka bisa menjadi yang terbaik disini

9-10-2011 : Wisuda yang indah. Rasanya tegang saat bersalaman langsung dengan pak menteri

11-11-2011 : Sebulan setelah wisuda berlalu, belum ada panggilan darimu

13-12-2011 : Aku yakin sebentar lagi panggilanmu akan datang

18-1-2012 : Hujan ini seperti mewakili perasaanku yang sedang menunggumu

21-2-2012 : Mengapa belum datang juga? Haruskah ku menunggu lebih lama

14-3-2012: Ternyata menunggumu bagaikan menunggu kematian, tak tau kapan tiba waktunya, tapi aku harus siap mulai dari sekarang”

“Jadi begitu? Ven, akau mau tanya satu hal kepadamu.”
“Apa, awas kalau pertanyaannya aneh.”
“Aku tak tahu ini aneh atau tidak, tapi anehkah seseorang yang bunuh diri itu tersenyum? Entah mengapa aku merasa bahwa kasus ini bukan bunuh diri biasa.”

…………………………………………………………………………

Setelah sekitar satu jam, Polisi akhirnya datang ke tempat itu. Aku memperkenalkan diriku kepada polisi sebagai saudara jauh mendiang Yani, sehingga polisi mau melibatkanku dalam menangani kasus. Setelah itu, mayat Yani pun diturunkan. Aku melihat kembali mayat Yani dan menyadari suatu hal. Orang yang bunuh diri biasanya memiliki livor mortis, salah satu tanda kematian yang ditandai dengan mengendapnya darah ke bagian bawah tubuh dan menyebabkan warna merah keunguan di kulit.Tim forensik pun memeriksa mayat Yani dan menemukan ponsel di saku roknya. Dari ponsel tersebut, diketahui bahwa hari ini ada dua orang yang menghubungi Yani. Maman Karmaman dan Cecep Maecep. Mungkin salah satu dari merekalah pelaku yang merekayasa kematian Yani. Aku pun berpesan kepada tim forensik untuk mengetes sidik jari pada tali yang digunakan untuk menggantung perempuan malang itu. Saat aku beranjak dari tempat kejadian perkara, kakiku menginjak sesuatu. Aku pun melihat kebawah dan menemukan sebuah korek api. Walaupun sedikit basah, namun untuk berjaga-jaga, aku pun menyerahkan korek api itu kepada petugas untuk dites sidik jari juga.


Setelah itu, Aku mendengarkan interogasi polisi kepada Maman dan Cecep. Nadia berdiri dibelakangku karena dia ingin sekali melihat bagaimana kasus itu terungkap. Sementara itu Avena sedang menemani ibu Yani yang masih shock.
“Saat kejadian, aku sedang di rumah menonton televise. Mengapa aku menelpon? Sebagai teman boleh saja kan menelpon. Aku Cuma menanyakan kabarnya saja.” jawab Cecep saat ditanya alibinya dan mengapa ia menelpon Yani.
“Apakah kau merokok?” tanyaku tiba-tiba. “Bagaimana kau bisa tahu. Ya aku sangat suka merokok.”

Selanjutnya polisi menanyai Maman tentang alibinya.“A-aku… m-memang… m-menemui… Y-yani… s-sebelumnya… t-tapi… a-aku… t-tidak… m-melakukannya…” jawab Maman dengan gemetar.Ada apa dengan orang ini, pikirku. Apakah dia yang melakukannya, mengapa ia sangat gemetar. Dan lagi, bukankah belum ada orang yang tahu bahwa ini pembunuhan yang disamarkan.
“Haha, pasti kau yang membunuhnya kan?” tuduh Cecep.“B-bukan… a-aku… t-tidak… m-melakukannya...”
“Beri dia minum. Man, kalau kau memang tak bersalah, harusnya kau tak perlu gemetar seperti itu.” ucapku tiba-tiba, mencoba menenangkan pemuda yang gemetaran itu

.…………………………………………………………………………

Nadia membawa sebotol air mineral yang ia ambil dari rumah Yani dan memberikannya kepadaku. Aku menyerahkannya kepada Maman. Ia pun langsung meminumnya.
“Apakah kau merokok, Man?” tanyaku.
“Aku tidak suka merokok.”
“Baiklah. Sekarang bisa kau ceritakan pertemuanmu dengan Yani?”
“Hmm… Aku menelpon Yani pagi ini dan mengajaknya bertemu. Jam tujuh malam di sebuah taman yang terletak tidak jauh dari sini. Aku hanya mengobrol biasa dengannya. Selama sekitar dua puluh menit saja sebelum akhirnya kami pulang ke rumah masing-masing…”
Di tengah cerita itu, tim forensik datang. Terdapat sidik jari Maman di tali itu, sedangkan tidak terdeteksi sidik jari selain aku di korek api. Mungkin karena korek api itu basah dan menghapus semua sidik jari sebelumnya.“Bisa kau jelaskan mengapa sidik jarimu tertanam di tali ini, Man?”
“Aargh! B-b-bukan aku yang melakukannyaaa. S-s-sungguh, bukan aku”
“hahaha, sudah pasti dia pelakunya,” potong Cecep tiba-tiba.“Kamu diam saja,” entah mengapa aku kesal dengan tingkah Cecep, “Kita dengarkan penjelasan Maman terlebih dahulu. Silakan minum terlebih dahulu supaya kamu lebih tenang
”Sebenarnya aku memberikannya minum bukan saja karena aku kasihan dengan Maman. Tapi jika dia terus gemetaran, maka sulit bagiku untuk mencerna kata apa yang ia ucapkan nantinya. Maman pun kembali meneguk air mineral, dan mulai berbicara.“Baiklah, aku akan menceritakan semuanya.”

………………………………………………………

“Malam itu aku berjanji untuk bertemu Yani. Saat itu aku memiliki niat untuk membunuhnya dan bunuh diri setelahnya karena keegoisan dan kebodohanku. Namun ternyata aku salah dan mengurungkan niatku membunuhnya. Akulah yang membawa tali itu, namun aku lupa untuk membawanya pulang kembali.

Aku berkata kepadanya seperti ini : Yan, aku heran mengapa kita selalu berbeda. Walau akhirnya kuliah di tempat yang sama, kamu jadi wisudawan terbaik dengan IPK mendekati sempurna, sedangkan aku hanya bisa lulus dengan nilai standar minimal, dan merupakan yang terburuk di tempat itu. Kamu cantik, sedangkan aku jelek. Kamu anak pertama, sedangkan aku anak terakhir. Hmm, mengapa kita bisa begitu berbeda?

Wajah Yani yang sebelumnya tampak murung tiba-tiba tersenyum dan berkata : Eh, Terus kenapa kalau berbeda? Justru karena berbeda manusia bisa belajar. Sebenarnya aku kagum denganmu. Aku tak bisa melupakan apa yang terjadi saat aku masih kelas 1 SMA. Saat itu aku menangis saat pembagian rapor karena nilai matematika dan biologiku turun. Aku tak bisa ikut PMDK lagi karena syarat PMDK itu tidak boleh ada nilai yang turu dari semester satu sampai lima. Tiba-tiba kamu datang dan bilang ‘Nilai sebagus itu saja nangis, gimana kalau kamu jadi aku? Orang pinter memang aneh ya, gagal sedikit, langsung down, merasa bersalah. Sekali-kali contohlah orang macam aku ini, gagal berapa kali pun, tetap semangat, karena aku yakin sudah mengeluarkan semua yang aku bisa. Kalau kita gagal itu, ya rejeki kita baru sampai situ. Kita bisa coba lagi walau belum tahu akan gagal lagi atau berhasil. Kegagalan yang sebenarnya bukanlah saat kita terjatuh, melainkan saat kita tidak bisa bangkit lagi setelahnya’. Aku pun tertegun dengan ucapanmu kala itu. Ucapanmu membuat hatiku tenang dan akhirnya setiap kali aku menemui kegagalan, aku mengingat ucapanmu, sehingga aku tak bersedih hati lagi. Kamu lucu deh, masa kamu yang dulu nasihatin aku malah sekarang keliatan down.

Aku terpana sejenak karena Yani masih mengingat pertemuan itu Aku pun mencoba mengalihkan pembicaraan dengan Yani : Eh Yan, ngomong-ngomong selama menunggu penempatan kita, kamu nggak down lagi kaya pas nilai matem dan biologimu turun kan?

Yani menjawabnya : Nggak lah, kan aku sudah belajar sabar dari kamu. Kamu bikin aku nunggu lama makanya aku kesal. Sampai akhirnya kamu malah bikin aku ingin ketawa karena tiba-tiba kamu yang ceria berubah kaya gitu. Hahaha. Lagian masalah penempatan kan sudah diatur.Aku pun bertanya kembali : Apakah kamu nggak mau ikut-ikutan mengeluh kayak temen-temenmu yang lain?Yani pun menjawab kembali : Buat apa mengeluh. Kita kan sudah berjanji dengan Bapak Direktur untuk menaati semua peraturan yang berlaku baik selama perkuliahan maupun setelah perkuliahan. Rakyat membayar pajak dengan baik sehingga kita bisa sekolah tanpa harus mengeluarkan biaya, mengapa kita tidak mensyukuri itu semua? Salah satu cara mensyukurinya adalah dengan sabar menunggu penempatan kita ini dengan berlaku baik dan tidak mengeluh. Bagaimana integritas kita kuat kala disuruh sabar saja tidak mau? Bagaimana bisa profesionalisme kita hebat kalau tak sabar menunggu? Bagaimana sinergi itu muncul tanpa kesabaran? Bagaimana kita bisa meberikan pelayanan kalau kita saja tidak sabaran? Bagaimana kita bisa menuju kesempurnaan jika untuk sabar saja sulit?

Aku pun tersenyum mendengarnya. Sebelum berpisah aku mengucapkan sesuatu untuknya : Yan, jika suatu saat nanti kita masuk D3 khusus, aku akan berjuang untuk melampaui prestasimu dan jika itu terjadi aku akan melamarmu, kamu mau kan?Yani tertegun namun menjawab dengan sedikit bercanda : Bagaimana kalau saat itu undang-undang yang tidak memperbolehkan menikah jika instantsinya sama sudah berlaku?

Aku pun menjawab : Jika harus begitu, aku bersedia untuk mengundurkan diri dan mencari pekerjaan lain …
Yani memotong ucapanku : Jangan deh, aku aja yang resign. Jadi ibu rumah tangga yang baik juga boleh kan?  Kami berdua tersenyum, kemudian kami berdua pulang. Aku bukanlah pembunuhnya, tolong percayalah padaku.”

Begitulah cerita dari Maman yang sesekali meneteskan air mata saat menceritakan percakapannya dengan Yani. Aku melihat mata yang jujur dari Maman. Seperti yang sebelumnya kulihat dari Simon di kasus yang lalu. Tapi seorang detektif kan tidak boleh melibatkan perasaan, begitu kata tokoh detektif dalam anime. Ah, benar juga. Aku pun segera membisikkan sesuatu kepada polisi. Polisi mengangguk setuju.
“Man. Mendengar ceritamu dari sudut manapun, aku hanya bisa menyimpulkan bahwa kau adalah pelakunya. Lebih baik kamu mengakuinya di kantor polisi.”
“Bukan. Bukan Aku pelakunya.”
“Kecuali pelaku itu meninggalkan bukti semisal benda yang terjatuh, maka pelakunya tidak lain dan tidak buka adalah kau. Kau pun bisa saja yang meninggalkan bukti tersebut.”
“Tidaak. Bukan aku”

Polisi pun segera mengamankan Maman dan membawanya ke kantor polisi. Kerumunan warga pun bubar. Mereka kembali ke tempat masing-masing

.………………………………………………………

“Kaka kaka Likur hebat deh. Cepet banget kasusnya selesai,” ujar Nadia melontarkan kekagumannya walaupun rasa sedih masih terpancar di wajahnya.
Aku tidak mengacuhkan ucapan Nadia, aku segera ke rumah Yani dan menemui Avena untuk membisikkan sesuatu kepadanya.
“Hah? Harus seperti itu ya?”

………………………………………………………

Malam itu bulan purnama bersinar terang, seorang pemuda muncul dari pekatnya malam. Pemuda itu seakan mencari-cari sesuatu.

"Nuju milarian ieu kang?"
[Lagi nyari ini kang?]

"Yani? Naha anjeun teh geus paeh kan?"
[Yani, bukannya kau telah mati?]

"Naha anjeun yakin geus maehan urang?"
[apa kau yakin sudah membunuhku?]

"Aing yakin geus neunggar hulu maneh ti tukang nepi ka paeh, mun maneh masih hirup tinggal urang bunuh deui kan ?"
[aku yakin sudah memukul kepalamu dari belakang smpai kau tewas, Jika kau masih hidup, tinggal kubunuh lagi kan?]

"Yani, yani. naon sih hebatna si maman? naha maneh teu milih urang nu kamampuanna sapadan jeung maneh?"
[Yani, yani. Apa sih hebatnya Maman itu? Mengapa kau tak memilihku yang kepandaiannya sepadan denganmu?]


Cecep segera mengejar Yani guna membunuhnya. Sebuah pukulan akan ia lontarkan ke wajah tak bersalah Yani. Namun, saat itu aku muncul di balik persembunyianku dan menahan tangan kotor itu, dan memukulnya dengan sekuat tenagaku. Cecep pun tersungkur.

“Misteri ini sudah tak lagi menjadi misteri,” ucapku sambil membenarkan posisi kacamata.
“Jadi Maman memang tidak bersalah seperti yang kurasakan sebelumnya. Kini, pelaku sebenarnya pun terungkap. Kurasa Yani pun bisa tenang di alam sana.”
“Apa? Ini semua jebakan?” Cecep terkejut dengan apa yang aku kemukakan.Dalam keterkejutannya, dengan tangkasnya polisi membekuk Cecep yang baru saja berusaha untuk bangun dan memborgolnya. Sebelum polisi membawanya ke kantor polisi, Avena pun bertanya kepada Cecep mengapa dia bisa mempunyai niat membunuh saudaranya tersebut.

"Ngadangu janji Yani jeung Maman, kuring haneueul pisan. Saenggeus Yani papisah, kuring nyekap manehna terus neunggarkeun kai kana mastakana. Kuring karak nyadar geus ngabunuh Yani. Kuring panik tapi akhirna kuring manggihan tali. Mayitna tuluy kuring bawa ka tangkal nangka eta, tuluy kuring gantung"
[Mendengar janji Yani dan Maman itu membuatku gelap mata. Begitu Yani berpisah dengan Maman, aku mengikuti Yani dan akhirnya membekap mulutnya agar dia tak bisa berteriak, sebelum ku ayunkan kayu di belakang kepalanya. Dan disaat kebingunganku karena aku baru sadar aku sudah membunuhnya, tiba-tiba aku melihat tali. Tali yang membuat Maman sekarang mendekam di penjara. Aku pun membawa jasadnya ke depan rumah yang jarang dilalui warga dan menggantungnya di pohon nangka]
…………………………………………………………………………

Malam itu aku tak bisa tidur, aku terus memikirkan tentang kisah Yani dan Maman yang romantis walau berakhir tragis. Kisah mereka mengajarkanku tentang kesabaran. Sampai tak terasa pagi menjelang. Aku pun bersiap untuk pulang ke Sangilta.Di tengah perjalanan pulang itu Avena berkata, ”Aku akan meneruskan cita-cita kak Yani.”
“Termasuk janjinya dengan si Maman?” ledekku.
“Memangnya kamu rela?” balas Avena.
“Dasar, mau meledek malah diledek balik,” ucapku dalam hati.
“Nggak kok bercanda,” sambung Avena,
“Aku hanya ingin meneruskan perjuangan kak Yani sampai akhirnya aku bisa jadi apa yang selama ini masih kak Yani tunggu. Dan mendedikasikannya buat kak Yani”
“Lalu bagaimana dengan cita-citamu yang ingin membuat Home Sweet Home?”
“Bisa kan selama menunggu aku bikin usaha jualan kue?”
Aku tersenyum mendengar jawaban Avena. Sepertinya dia tak berlarut-larut dalam kesedihan ditinggal oleh seseorang yang sudah dianggapnya seperti kakak kandungnya sendiri. Justru Avena terlihat semakin kuat setelah mengalami kasus ini.

“Likur, ngomong-ngomong kenapa kau tidak langsung bilang bahwa pelakunya adalah Cecep?”
“Aku hanya menuruti kata-katamu agar aku tak mengambil keputusan saat semua belum pasti. Korek api yang kemarin kamu pegang itu belum jelas siapa pemiliknya. Tes sidik jari yang dilakukan tim forensik pun tidak menunjukkan siapa pemilik korek itu karena korek itu basah saat kutemukan. Ketika aku menanyakan tentang rokok, sebenarnya aku hanya berpikir kemungkinan bahwa jika pelaku membawa korek, mungkin dia seorang perokok. Dan diakhir kesimpulanku sebelum menangkap Maman, Cecep seperti mencoba merogoh saku celananya dan terlihat sedikit panik.”

…………………………………………………………………………

Akhirnya kami pun kembali ke Sangilta. Aku mengantarkan Vena dan Nadia sampai rumahnya terlebih dahulu sebelum akhirnya pulang ke rumah. Dirumah, aku pun melepas lelah di bangku yang berada di beranda depan rumahku. Tiba-tiba seorang loper koran datang dan memberikan surat kabar sore langganan kakekku. Aku terpana melihat headline di sebuah surat kabar tersebut. “Kembalinya Budi Suraja”

0 comments:

Post a Comment