Pages

Enigmaze - Chapter negative 1 - Dawn To Detective


*JENJET*
Mataku yang sebelumnya terpejam perlahan menampakkan bola matanya.Yang kulihat adalah ruangan serba putih. Aku menerawang jauh dan bertanya pada diri sendiri “apakah ini kehidupan setelah kematian?”.Wajar aku berpikir seperti itu, sebab terakhir kuingat punggungku tertusuk sesuatu yang mungkin adalah sebuah pisau.Saat itu aku sedang mengejar pelaku pembunuhan misterius di Desa Karambing.Aku mencoba untuk duduk walau masih terasa sulit karena sakit di punggungku.Kemudian aku mencoba berdiri di atas ranjang dan melompat.Kemudian aku pun jatuh tersungkur. “kok aku tak bisa terbang ya? Ah, berarti aku masih hidup kalau begitu,” gumamku.Aku pun kembali duduk diatas ranjang itu dan sekali lagi aku menerawang.Pikiranku menerawang pada peristiwa itu kembali dan juga beberapa hari sebelum terjadinya peristiwa itu.
*********************
Hari itu adalah hari yang biasa saja, kecuali bertepatan dengan hari pertama masuknya sekolah SMA Sangilta setelah libur semester satu.Seperti biasa aku terbangun dengan santainya di pagi yang biasa saja, tanpa hujan yang biasanya turun di bulan ini. Eh, berarti bukan hari biasa ya, hanya cuacanya yang biasa saja.Cuaca ini membuatku cepat terbangun dibandingkan ketika hujan datang.Simpel saja, gemericik air yang turun bagi telingaku seakan melantunkan nada yang indah sehingga membuatku tenggelam dalam alunan melodi hujan dan tertidur lagi.Setelah mengucek mata, aku terdiam sejenak menikmati udara pagi dan akhirnya berteriak kulihat jam dinding tua dengan jarum panjang di angka enam dan jarum pendek di pertengahan angka enam dan tujuh.
"Hah?! Udah jam setengah tujuh, wew, ini kan hari pertama masuk sekolah."
Aku pun beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.Mandi sekenanya dengan gerakan yang dipaksa cepat.Karena tak terbiasa, gayung terlempar dari tanganku dan mengenai kepalaku yang tak berdos.Aku hanya bisa meringis.Setelah kuselesaikan mandiku, dengan bergegas aku mengganti pakaianku.Mungkin aku harus ikut kompetisi mengganti pakaian dengan cepat suatu saat nanti.Kondisi yang buru-buru ini membuatku tak sempat menyantap sarapan pagi itu.
Segera aku berlari menuju sekolah yang berjarak enam ratus meter dari rumah kakekku.Setelah sekian menit, aku pun tiba di sekolah.Aku pun masih berlari dan segera menuju ruang fisika yang terletak di dekat aula yang berada tak jauh dari pintu gerbang.Kudapati kelas masih kosong.Salah jadwalkah?Kubuka tasku yang berwarna hitam dan melihat jadwal dan ruangan kelasku dan tak ada yang salah dengan jadwal dan ruangan. Akhirnya semua terjawab ketika aku memutuskan masuk dan melihat jam dinding yang seolah tersenyum mengejekku.
"Wew, jam di kamarku kan memang sudah lama mati.Pantas saja kakek tak membangunkanku karena memang aku tak kesiangan"
Dengan sedikit rasa kesal di hati aku pun melangkah ke salah satu bangku dan merebahkan tubuhku dengan malas. Kujadikan tas sebagai pengganti bantal. Kulanjutkan tidurku yang berkurang jatahnya gara-gara kepanikan pagi hari.
Entah berapa lama aku tidur, aku mulai terusik dengan ramainya suasana kelas.Dengan mata yang masih mengantuk, aku tegakkan badanku.Selang beberapa saat, bel masuk berdentang.Pak Nurdin dengan rambut ala tentara dan kacamata bulatnyamemasuki ruang kelas.
“Baik anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru yang baru saja pindah kesini.Silahkan memperkenalkan diri.”
Anak baru itu memiliki sorot mata yang aneh.Kulihat anak itu pun mendekap sebuah buku. Entah apakah itu memang kebiasaannya atau apa. Dia melihat sekeliling dengan tatapan yang menurutku aneh sebelum kemudian memperkenalkan dirinya.
“Selamat Pagi.Perkenalkan, nama saya Z. Sekian dari saya, terima kasih,” ucapnya seraya menuliskan huruf “Z” di papan tulis.
Hampir seluruh kelas tiba-tiba tertawa. Entah apa yang ada di pikiran mereka. Anehkah seseorang dengan nama satu karakter? Tapi lama-lama aku pun tertawa.Bukan karena terbawa arus tertawa dari teman, tapi karena pikiranku sendiri. Pikiranku mengatakan bahwa kemungkinan orang tua Z adalah orang yang sangat hemat dalam hal apapun termasuk saat menamai anak sendiri atau jangan-jangan orang tua Z memutuskan memberi nama satu karakter agar mendapat keringanan saat membuat Akta Kelahiran agar biaya “menulis nama” tidak terlalu mahal.Apa pula itu, memangnya biaya menulis nama di Akta Kelahiran seperti iklan operator yang menawarkan biaya pesan singkat (SMS) satu rupiah per karakter.
“Diam, ya cukup.Silahkan duduk Z,” perintah Pak Nurdin. Kelas pun kembali diam, sementara aku masih berusaha menahan tawa gara-gara pikiranku sendiri.
Z terlihat tak mengacuhkan tertawaan dari teman-temannya. Ekspresinya tetap sama. Z mencari tempat duduk dan dia pun duduk di sebelahku karena memang hanya itulah tempat duduk yang tersisa.Aku pun mengajaknya berkenalan.
“Perkenalkan, namaku M Kalikur.Nama depanku memang ‘M’ saja, tidak ada kepanjangannya lagi.Tapi mendiang ayahku pernah berkata bahwa ‘M’ itu singkatan dari ‘moon’.Ibuku kebetulan bernama Wulan yang artinya bulan.”
“Namaku Z” jawabnya dengan wajah tanpa ekspresi.
“Iya aku sudah tahu. Ngomong-ngomong, saudaramu dua puluh lima ya jumlahnya. A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T, U, V, W, X, Y. Dan kamu Z. Seberapa besar ya rumahmu,” ejekku.
 “Kamu jugakan? Kamu punya dua puluh kakak?Selikur itu Bahasa Jawa dan artiya dua puluh satu” balasnya.
“Hey, namaku Kalikur bukan Selikur.Tapi tetap saja dua puluh lima itu lebih banyak dari pada dua puluh satu” balasku lagi.
*WUUUUNG*
* PLAK*
Sebuah penghapus mengenai kacamataku dan membuat kacamataku terjatuh, perdebatanku dengan Z pun terhenti.
“Hey, kamu,kerjakan soal nomor dua puluh satu di halaman seratus dua puluh satu,” perintah Pak Nurdin setelah melayangkan penghapusnya.Kuakui kalau Pak Nurdin adalah guru fisika sejati.Bidikannya selalu tepat dimanapun tempat aku duduk. Beliau pasti sudah menguasai segala rumus tentang gaya dan gravitasi yang membuat penghapus selalu tepat mengenaiku.
“Kamu memang Selikur,” kata Z mengejekku.
Aku pun maju ke papan tulis dan menyelesaikan soal tentang Teoroma Toricelli.Dengan beberapa langkah soal tersebut kuselesaikan dengan benar.
 “Yak, Bagus. Jangan berbicara di pelajaran saya.Sudah berkali-kali kamu tidak memperhatikan saya saat menjelaskan.Pokoknyaperhatikan terus agar kamu tetap bisa konek dengan materi saya,” ucap Pak Nurdin dengan gayanya yang khas.
 “Siap Pak,” jawabku.
Walaupun jawabanku begitu diam-diam aku kembali mengobrol dengan murid baru ini.Dengan suara yang lebih pelan tentunya.
“Z itu artinya apa si?” tanyaku penasaran.
“Namaku diambil dari Notasi Z dari Zermelo-Fraenkel,” terang Z.
“Oh, jadi orang tuamu menyukai matematika ya.Unik juga asal-usulmu. Kukira karena kamu suka tidur waktu bayi,” ucapku mencoba meledek Z .
“Begitulah,” jawabnya tanpa senyum sedikit pun.Mungkin memang leluconku yang tidak lucu.
“Sekarang kamu tinggal dimana?” tanyaku lagi.
“Sangilta RT 02 RW 04,” jawabnya pendek.
“Berarti rumahmu mungkin berjarak beberapa rumah saja denganku.Kapan-kapan main ya.”
“Begitulah.”
*********************
Awalnya hubunganku dengan Z sebenarnya biasa saja, cenderung beku malah karena dia sangat pendiam.Namun lama kelamaan sifat pendiamnya sedikit berkurang jika sedang mengobrol denganku. Ya, saat mengobrol dengan yang lain dia masih cenderung tak bersuara. Entah kenapa aku merasa Z dliputi suatu misteri.Dan entah kenapa keinginanku untuk menguak misteri kematian ayahku bertambah setelah adanya Z.
Suatu kali aku bertanya, “Z, apakah kau suka dengan misteri?”
“Sedikit,” jawabnya seperti biasa.Singkat.Pendek.
“Sebenarnya aku pun ingin mengungkap sebuah misteri yang selama setahun ini menghantuiku,” ucapku serius.
“Misteri apa?” tanyanya tanpa ekspresi.
“Ayahku meninggal, dan aku ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi,” jawabku dengan muka yang semakin serius.
“Bukankah kematian itu pasti terjadi?” balasnya masih tanpa ekspresi.
“Ayahku dibunuh, dan pembunuhan ini masih menjadi misteri.Kepolisian pun tak bisa mengungkapkan siapa pembunuh ayahku sebenarnya,” jawabku lagi berapi-api.
“Karena kau teman pertamaku, aku siap membantumu.”
“Terimakasih kawan.”
Untuk kali pertama kulihat Z tersenyum.Aku pun semakin yakin bahwa aku harus bergerak cepat mengusut kematian ayahku agar hal-hal yang berkaitan dengan kematian ayahku tak lantas hilang.
*********************
Setelah beberapa minggu, aku mendapatkan tugas biologi dari Bu Mulia Widiasari.Tugas itu adalah menemukan sepuluh tumbuhan yang ada di suatu desa dan mencatat ciri-ciri tumbuhan tersebut.Z dan aku, kebagian tuas meneliti tumbuhan di desa Karambing.Tugas inilah yang mengantarkanku berhadapan dengan kasus pertamaku.Entah suatu takdir atau apa, kehadiran Z seperti mengawali petualanganku untuk memecahkan misteri kematian ayahku dengan datangnya suatu kasus yang aneh. Kasus yang tak lazim dan tak mampu membuat polisi untuk datang menanganinya.Kasus yang kami namai sebagai kasus “Psikambing”.                                                                                       

4 comments:

Unknown said...

Aigooo....ending nya gimana??? o.o

Unknown said...
This comment has been removed by the author.
Unknown said...
This comment has been removed by the author.
Bakalikur said...

bisa ke fbnya enigmaze buat draft cerita lanjutannya -> www.facebook.com/enigmaze

Post a Comment