Sangilta Cup telah usai. Kami kembali beraktifitas di sekolah seperti
biasa. Hari ini hampir semua anak ribut. Sri Wahyuni, penyanyi yang
sedang naik daun, dikabarkan akan melakukan konser dan launching album perdananya di Alun-alun Sangilta. Konser itu terbuka untuk umum dan gratis. Apa? Hari gini masih ada yang gratis?
"Sri
Wahyuni lahir di Sangilta. Karena alasan itulah dia rela menggelar
konser tanpa memungut bayaran. Dia mengatakannya dalam konferensi pers
baru-baru ini. Dia ingin berterimakasih kepada tanah kelahirannya,"
terang Avena. "Minggu, kita datang ya?" pintanya dengan muka yang yah
begitulah, tak bisa kujelaskan.
"Boleh deh. Kebetulan memang sedang tidak ada acara."
"Syukurlah. Jangan lupa pulangnya traktir es krim lagi. Kamu dapat gelar MVP kan di final Sangilta."
"Iya deh, kalau bukan karena keajaiban di detik akhir itu mungkin si Sukro yang jadi MVP-nya. Kelasmu memang tangguh dan cerdas. Taktik kelasku bisa dibaca dengan baik."
"Walau
badannya besar, main bolanya jago. Aku sempat kagum dengan kelihaiannya
mengolah bola. Beda denganmu yang mengandalkan analisis yang belum
pasti. Hahaha."
*Teettttt*
"Wah sudah
masuk pelajaran berikutnya," ucap Avena. Kami pun segera keluar dari
perpustakaan. "Sampai nanti ya, Likur. Belajar yang bener lho."
"Iya kamu juga, Ven. Sukses ulangannya."
...........................................................................................................................................................
Saat
aku berlari aku tersandung batu. Tiba-tiba saja ada uluran tangan yang
membantuku untuk bangun. Terkejut aku saat melihat siapa yang
menolongku.
"Kau?"
"Sudah lama kita tak bertemu."
"Kenapa kau bisa berada disini? Apa kau membuntutiku?"
"Hahaha. Anak ingusan yang memergoki kejahatanku memutilasi kepala kambing. Apa kau takut denganku?"
Entah
mengapa jalanan sepi. Hanya ada Palupi dan aku disitu. Kulihat ia
memegang penggaris yang dulu ia gunakan dalam kasus Psikambing.
"Kau sudah membuka kedokku. Kau harus mati. Hahaha."
Aku
tercekat dan tubuhku tak bisa digerakkan. Kulihat dia mengayunkan
penggarisnya hendak menebas leherku. Aku sempat menghindar, tetapi
penggaris itu mengenai kepalaku.
*Splak*
"Likur!
Jangan tidur di pelajaran saya!" bentak Pak Sadi sambil memukul
penggaris kayu ke kepalaku. "Bagaimana mau pintar kalau sekolah cuma
tidur."
Sambil memegang kepalaku, aku terbangun dari
mimpi burukku. Kulihat sekelilingku dan semua orang tertawa kecuali Z.
Sial, kenapa Z tidak membangunkanku.
"Maaf Pak. Tidak akan syaa ulangi lagi"
"Cepat kerjakan soal di papan tulis. Kalau sampai tidak bisa, kamu saya skors dari pelajaran saya sampai akhir semester."
Akupun
maju ke depan, mengerjakan soal tentang trigonometri. Soal yang dijawab
dengan mantra, begitu kata teman-temanku. Sijum Sikojumkosi lah, Simin
Sikominkosi lah, Cojum Cocominsisi lah, Comin Cocojumsisi lah, begitulah
hapalan mantra mereka. Namun, Pak Sadi bukanlah orang yang suka cara
tersebut, beliau merupakan orang yang lebih suka jika orang memahami
sesuatu dengan cara yang wajar, bukan dengan nyanyian ataupun mantra
seperti tadi.
[NB: Sin Jumlah (A+B) = Sin A Cos B + Cos A Sin B
Sin Minus (A-B) = Sin A Cos B - Cos A Sin B
Cos Jumlah (A+B) = Cos A Cos B - Sin A Sin B
Cos Minus (A-B) = Cos A Cos B + Sin A Sin B]
Setelah
beberapa saat, semua soal di depan sudah kukerjakan. Pak Sadi merasa
kalah saat aku berhasil mengerjakan semuanya dengan tepat.
"Ya sudah, duduk. Lain kali jangan tertidur lagi."
...........................................................................................................................................................
Minggu
pagi, aku berangkat ke Alun-Alun Sangilta. Suasana ramai sekali.
Bagaimana tidak ramai, kan gratis. Dari kejauhan aku melihat dua sosok
yang sedang memakai sepatu roda mendekat.
"Z? Katanya kamu tidak tahan dengan bisingnya musik?"
"Yasmin, kamu datang juga akhirnya?"
Ucapku dan Avena nyaris bebarengan.
"Kebetulan
saja lewat sini kok," Jawab Z dan Yasmin, kompak. "Mumpung disini,
mampir sebentar juga tidak apa-apa. Kalau aku sudah tak kuat dengan
musiknya, ya maaf, aku harus segera pergi," lanjut Z.
Akhirnya
kami berempat masuk ke dalam panggung yang sederhana. Tempat
diluncurkannya album perdana Sri Wahyuni yang bertajuk "Masa Keemasan".
Saat pembawa acara mulai membuka acaranya, semua penonton berteriak
gembira.
"Marilah kita sambut, Sri Wahyuni"
Sri Wahyuni memasuki panggung dan mulai menyapa.
"Apa kabar Sangilta?"
"Baik"
Setelah
menyapa penonton, Sri Wahyuni mulai membawakan single dari album
perdananya "Persahabatan Emas", lagu yang mengisahkan tentang dua orang
sahabat yang selalu bersama dan saling menghormati satu sama lainnya
walau berbeda. Lagu baru saja akan mulai memasuki reffrain,
tapi tiba-tiba saja bagian atap panggung roboh setelah sebelumnya
terdengar ledakan dan tiba-tiba saja api berkobar tanpa ada peringatan
sebelumnya. Penonton mulai panik dan suasana pun menjadi kacau. Aku
tanpa berpikir justru mengkhawatirkan orang yang sedang berada di atas
panggung itu, Sri Wahyuni.
"Z, Vena, Yasmin, panggil polisi dan pemadam kebakaran, aku segera kembali," perintahku sambil berlalu begitu saja.
Draft Enigmaze Side Story - Chapter Root Of Negative 2 - Hana Yasmini
"Sebaiknya kalau kamu belum tahu tak usah sok jadi detektif, nanti kamu bisa kena batunya."
"Ya mau gimana lagi. Namanya juga usaha."
"Tadi sebenarnya kau belum tahu pelaku sebenarnya saat mengumpulkan ketiga tersangka kan?"
"Iya sih. Tapi yang aku pikirkan satu-satunya cara memancing pelaku supaya bisa menemukan bukti kuat ya cuma itu."
"Ya sudah, lain kali jangan seperti itu lagi."
Dasar, walaupun sempat marah-marah, akhirnya tersenyum juga. Setelah makan es krim bareng dengan Avena, aku pun pulang. Di tengah perjalanan, aku baru ingat kalau aku lupa ke toko buku gara-gara kasus Pak Demang kemarin. Ya sudahlah lain kali saja, pikirku dalam hati.
Malamnya, aku pergi ke rumah Z. Hanya ingin bercerita tentang kasus yang kuhadapi tadi siang.
"Kamu berani sekali menuduh walau belum yakin seratus persen?"
"Sudah-sudah, aku sudah kenyang diomelin Vena. Ngomong-ngomong kenapa hari ini kau terlambat? Tumben sekali"
" Ceritanya panjang"
"Ya sudah cerita saja "
"Ini beneran panjang lho"
"Udah cerita aja"
---
"Baiklah kalau kamu maunya begitu. Hari ini alarm telepon genggam tak mempan lagi di telingaku sehingga 15 menit sebelum KBM dimulai aku masih terbaring di sofa tempatku tidur semalam. Ditambah lagi rumahku kosong karena Ayah dan Ibu sedang berlibur.
Dengan secepat kilat ―tanpa mandi, sarapan, dan merapikan buku hari ini― aku sudah siap di depan pintu rumah dengan seragam lengkap. Kupakai sepatu roda mesin yang diberikan professor FAQ minggu lalu. Sempat takut memang, terakhir kupakai hampir saja kandang ayam milik salah satu penduduk desa Karambing tertabrak.
Kusingkirkan ketakutan sejenak dan langsung kutembus angin dengan kecepatan 60 mil per jam. Sengaja kulalui jalan sepi agar tak terjadi kecelakaan dan kemungkinan dikejar polisi. Dalam perjalanan, aku melewati rumah yang halaman depannya penuh dengan bunga mawar, aromanya sungguh menusuk hidung. Tiba-tiba saja aku melihat kilasan dalam pikiranku yang memperlihatkan sesosok wanita beraroma mawar yang menodongkan pistol ke arahku.
Pikiranku buyar begitu saja, sehingga aku tak menyadari ada seseorang yang sedang berjalan di depanku dengan tergesa-gesa sambil membawa map. Sudah sangat dekat jaraknya, masihkah sempat aku menghindar? Tak mungkin sempat jika aku menggunakan rem. Dengan waktu sesingkat itu, aku berusaha memiringkan tubuh berharap tak terjadi turbulensi. Sialnya, meski tak terjadi tabrakan, aku masih menyerempet orang itu sehingga dia jatuh dan pingsan.
Dengan segera aku menghampirinya dan menganalisis hal terbaik yang bisa dilakukan. Melihat seragamnya, ia bersekolah di SMA Sangilta. Tanpa berpikir lama, langsung saja kugendong orang itu dan kubawa ke UKS SMA Sangilta. Kebetulan Avena sedang tugas menjaga UKS.
"Z, siapa itu? Apa dia terluka?"
"Saat menuju sekolah, tanpa sengaja aku menabraknya hingga pingsan. Aku belum tahu siapa dia, tapi dia siswa SMA ini kan? Tolong rawat dia ya Vena? Sepertinya aku sudah terlambat masuk kelas."
"Baiklah. Dia akan baik-baik saja disini."
"Terimakasih, Vena."
Jam tanganku menunjukkan pukul 7 lewat 5 menit, aku sudah terlambat masuk kelas, ditambah lagi kelasku ada di lantai 2 SMA Sangilta. Tapi ternyata aku melilhat guru pelajaran pertama, matematika, masih terlihat sibuk mencari sepatunya yang sebelah. “Ah, itu pasti kerjaan Likur” pikirku sambil tersenyum.
.......................
Teeetttttt
Bel istirahat pertama berbunyi. Dengan cepat aku berlari menuju klinik, ingin memastikan keadaan orang yang kuserempet tadi. Di sana, aku mendapatinya sedang duduk di pinggir jendela sambil memandang ke luar. Kepalanya diperban, blazer dan rok birunya masih sama seperti yang dipakainya tadi pagi. Sekilas terlihat tulisan ISP di lengan kirinya. Mukanya yang putih bersih tampak bersinar di bawah cahaya matahari pukul sembilan pagi. Dengan langkah yang sangat pelan, kuhampiri gadis berambut hitam sepundak itu.
'Fille salut, j’ai peut savoir votre nom?'
[hai, boleh tahu namamu?]
Dia pun berbalik.
'Salut,bien sur. Je m’appelle Hana Yasmini,' jawabnya sambil tersenyum manis.
[hai juga, tentu saja. Namaku Hana Yasmini]
'Wah, nama yang indah, seindah dan seharum bunga melati' kubalas senyumannya.
'Merci. Kalau boleh tahu juga , siapa namamu?'
[terimakasih]
'Oh, bisa bahasa Indonesia juga ternyata. Namaku Z, tak usah dipertanyakan mengapa namaku seperti itu karena aku pun tak tahu mengapa. Kau baru pindah dari Perancis ke sekolah ini ya?'
'Ya, kenapa kau bisa tahu? Sepertinya aku tak pernah mengatakan sesuatu pada siapa pun di negara ini.'
'Aku pernah ke Paris waktu liburan keluarga. Ah, terlalu panjang kalau dijelaskan, nanti bisa-bisa tambah sakit kepalamu,' jawabku.
Perkenalan ini singkat dan tak berlangsung lama karena keterbatasan waktu istirahat. Tapi aku sempat mengatakan kalau aku yang membuatnya berada di klinik."
---
*Original version -> https://www.facebook.com/notes/deniz-yanuardi/enigmaze-side-story-z-chapter-root-of-negative-2-bunga-melati/10150195715116393
---
"Hey Likur, kau masih dengar kan?"
"........"
"Sudah cerita panjang lebar malah tidur"
"Ada apa? sudah selesai ya ceritanya, maaf aku ngantuk."
"Ya sudah, masih ingat sepatu roda dari Profesor FAQ?"
"Iya, kenapa?"
"Dulu kamu bilang tidak suka, kan? Boleh ku minta?"
"Silakan saja, aku memang tak berminat dengan barang itu. Jalan kaki jauh lebih sehat."
"Bilang saja kau tak bisa menggunakan sepatu roda."
"Terserahlah. Sepatu roda itu mau kamu berikan ke orang yang baru kamu ceritakan tadi?"
"Mau tahu saja kamu ini."
"Ya sudah kalau tak boleh tahu. Eh kata ketua kelas, sabtu depan kan ada final Sangilta Cup, kejuaraan sepakbola di sekolah kita. Kebetulan si Alan sedang cedera, kau bisa menggantikannya sebagai kiper?"
"Kiper? Hmm. Baiklah akan kucoba."
"Ya sudah, aku pulang dulu ya, ntar kalau kelamaan disini malah ketiduran seperti tadi."
"Okelah, hati-hati di jalan"
Dalam perjalanan pulang, aku sendiri heran dengan Z. Saat di sekolah, ketika berinteraksi dengan teman lainnya, ia cenderung diam. Ia hanya berbicara banyak saat bersamaku atau profesor FAQ saat berbicara mengenai kasus. Tapi kalau tak salah dengar (karena tadi mengantuk), dia berbicara dengan orang yang baru pertama ia temui. Ya sudahlah, mungkin karena dia merasa bersalah atau apa. Sekarang yang penting aku harus segera pulang ke rumah dan tidur nyenyak.
"Ya mau gimana lagi. Namanya juga usaha."
"Tadi sebenarnya kau belum tahu pelaku sebenarnya saat mengumpulkan ketiga tersangka kan?"
"Iya sih. Tapi yang aku pikirkan satu-satunya cara memancing pelaku supaya bisa menemukan bukti kuat ya cuma itu."
"Ya sudah, lain kali jangan seperti itu lagi."
Dasar, walaupun sempat marah-marah, akhirnya tersenyum juga. Setelah makan es krim bareng dengan Avena, aku pun pulang. Di tengah perjalanan, aku baru ingat kalau aku lupa ke toko buku gara-gara kasus Pak Demang kemarin. Ya sudahlah lain kali saja, pikirku dalam hati.
Malamnya, aku pergi ke rumah Z. Hanya ingin bercerita tentang kasus yang kuhadapi tadi siang.
"Kamu berani sekali menuduh walau belum yakin seratus persen?"
"Sudah-sudah, aku sudah kenyang diomelin Vena. Ngomong-ngomong kenapa hari ini kau terlambat? Tumben sekali"
" Ceritanya panjang"
"Ya sudah cerita saja "
"Ini beneran panjang lho"
"Udah cerita aja"
---
"Baiklah kalau kamu maunya begitu. Hari ini alarm telepon genggam tak mempan lagi di telingaku sehingga 15 menit sebelum KBM dimulai aku masih terbaring di sofa tempatku tidur semalam. Ditambah lagi rumahku kosong karena Ayah dan Ibu sedang berlibur.
Dengan secepat kilat ―tanpa mandi, sarapan, dan merapikan buku hari ini― aku sudah siap di depan pintu rumah dengan seragam lengkap. Kupakai sepatu roda mesin yang diberikan professor FAQ minggu lalu. Sempat takut memang, terakhir kupakai hampir saja kandang ayam milik salah satu penduduk desa Karambing tertabrak.
Kusingkirkan ketakutan sejenak dan langsung kutembus angin dengan kecepatan 60 mil per jam. Sengaja kulalui jalan sepi agar tak terjadi kecelakaan dan kemungkinan dikejar polisi. Dalam perjalanan, aku melewati rumah yang halaman depannya penuh dengan bunga mawar, aromanya sungguh menusuk hidung. Tiba-tiba saja aku melihat kilasan dalam pikiranku yang memperlihatkan sesosok wanita beraroma mawar yang menodongkan pistol ke arahku.
Pikiranku buyar begitu saja, sehingga aku tak menyadari ada seseorang yang sedang berjalan di depanku dengan tergesa-gesa sambil membawa map. Sudah sangat dekat jaraknya, masihkah sempat aku menghindar? Tak mungkin sempat jika aku menggunakan rem. Dengan waktu sesingkat itu, aku berusaha memiringkan tubuh berharap tak terjadi turbulensi. Sialnya, meski tak terjadi tabrakan, aku masih menyerempet orang itu sehingga dia jatuh dan pingsan.
Dengan segera aku menghampirinya dan menganalisis hal terbaik yang bisa dilakukan. Melihat seragamnya, ia bersekolah di SMA Sangilta. Tanpa berpikir lama, langsung saja kugendong orang itu dan kubawa ke UKS SMA Sangilta. Kebetulan Avena sedang tugas menjaga UKS.
"Z, siapa itu? Apa dia terluka?"
"Saat menuju sekolah, tanpa sengaja aku menabraknya hingga pingsan. Aku belum tahu siapa dia, tapi dia siswa SMA ini kan? Tolong rawat dia ya Vena? Sepertinya aku sudah terlambat masuk kelas."
"Baiklah. Dia akan baik-baik saja disini."
"Terimakasih, Vena."
Jam tanganku menunjukkan pukul 7 lewat 5 menit, aku sudah terlambat masuk kelas, ditambah lagi kelasku ada di lantai 2 SMA Sangilta. Tapi ternyata aku melilhat guru pelajaran pertama, matematika, masih terlihat sibuk mencari sepatunya yang sebelah. “Ah, itu pasti kerjaan Likur” pikirku sambil tersenyum.
.......................
Teeetttttt
Bel istirahat pertama berbunyi. Dengan cepat aku berlari menuju klinik, ingin memastikan keadaan orang yang kuserempet tadi. Di sana, aku mendapatinya sedang duduk di pinggir jendela sambil memandang ke luar. Kepalanya diperban, blazer dan rok birunya masih sama seperti yang dipakainya tadi pagi. Sekilas terlihat tulisan ISP di lengan kirinya. Mukanya yang putih bersih tampak bersinar di bawah cahaya matahari pukul sembilan pagi. Dengan langkah yang sangat pelan, kuhampiri gadis berambut hitam sepundak itu.
'Fille salut, j’ai peut savoir votre nom?'
[hai, boleh tahu namamu?]
Dia pun berbalik.
'Salut,bien sur. Je m’appelle Hana Yasmini,' jawabnya sambil tersenyum manis.
[hai juga, tentu saja. Namaku Hana Yasmini]
'Wah, nama yang indah, seindah dan seharum bunga melati' kubalas senyumannya.
'Merci. Kalau boleh tahu juga , siapa namamu?'
[terimakasih]
'Oh, bisa bahasa Indonesia juga ternyata. Namaku Z, tak usah dipertanyakan mengapa namaku seperti itu karena aku pun tak tahu mengapa. Kau baru pindah dari Perancis ke sekolah ini ya?'
'Ya, kenapa kau bisa tahu? Sepertinya aku tak pernah mengatakan sesuatu pada siapa pun di negara ini.'
'Aku pernah ke Paris waktu liburan keluarga. Ah, terlalu panjang kalau dijelaskan, nanti bisa-bisa tambah sakit kepalamu,' jawabku.
Perkenalan ini singkat dan tak berlangsung lama karena keterbatasan waktu istirahat. Tapi aku sempat mengatakan kalau aku yang membuatnya berada di klinik."
---
*Original version -> https://www.facebook.com/notes/deniz-yanuardi/enigmaze-side-story-z-chapter-root-of-negative-2-bunga-melati/10150195715116393
---
"Hey Likur, kau masih dengar kan?"
"........"
"Sudah cerita panjang lebar malah tidur"
"Ada apa? sudah selesai ya ceritanya, maaf aku ngantuk."
"Ya sudah, masih ingat sepatu roda dari Profesor FAQ?"
"Iya, kenapa?"
"Dulu kamu bilang tidak suka, kan? Boleh ku minta?"
"Silakan saja, aku memang tak berminat dengan barang itu. Jalan kaki jauh lebih sehat."
"Bilang saja kau tak bisa menggunakan sepatu roda."
"Terserahlah. Sepatu roda itu mau kamu berikan ke orang yang baru kamu ceritakan tadi?"
"Mau tahu saja kamu ini."
"Ya sudah kalau tak boleh tahu. Eh kata ketua kelas, sabtu depan kan ada final Sangilta Cup, kejuaraan sepakbola di sekolah kita. Kebetulan si Alan sedang cedera, kau bisa menggantikannya sebagai kiper?"
"Kiper? Hmm. Baiklah akan kucoba."
"Ya sudah, aku pulang dulu ya, ntar kalau kelamaan disini malah ketiduran seperti tadi."
"Okelah, hati-hati di jalan"
Dalam perjalanan pulang, aku sendiri heran dengan Z. Saat di sekolah, ketika berinteraksi dengan teman lainnya, ia cenderung diam. Ia hanya berbicara banyak saat bersamaku atau profesor FAQ saat berbicara mengenai kasus. Tapi kalau tak salah dengar (karena tadi mengantuk), dia berbicara dengan orang yang baru pertama ia temui. Ya sudahlah, mungkin karena dia merasa bersalah atau apa. Sekarang yang penting aku harus segera pulang ke rumah dan tidur nyenyak.
Draft Enigmaze - Chapter 2 (end) - Cincin "M"
Lemari kosong itu memiliki struktur satu sekat vertikal membagi
lemari menjadi dua bagian, kiri dan kanan. Di bagian kiri tak ada sekat
yang membuat bagian tersebut luas. Sedangkan di bagian kanan terdiri
dari tiga sekat horizontal yang simetris.
Aku pun mencoba membuka lebar pintu lemari tersebut.
“Klek”
Ketika pintu lemari itu terbuka sembilan puluh derajat, suara itu berbunyi nyaring. Semakin mencurigakan saja. Aku pun bergegas kembali ke gudag kecil dan membuka pintu lemari tersebut sembilan puluh derajat.
“Klek”
“Jegreg”
Salah satu sekat di bagian kanan terbuka. Sekat yang paling bawah. Aku pun mencoba masuk sekat tersebut dan seperti yang sudah kuduga sebelumnya, lemari itu memang menyimpan rahasia, yaitu menghubungkan gudang kecil dengan kamar Pak Demang.
Dengan begitu, kasus ini bukanlah pembunuhan ruang tertutup. Pelaku datang ke kamar Pak demang, membunuhnya, lalu kabur lewat lemari rahasia ini. Pelaku itu pasti tahu keberadaan lemari rahasia ini. Tapi siapakah yang melakukan pembunuhan ini? Pak Mardi? Dia memiliki kemungkinan terbesar bahwa dialah pelakunya. Setelah membunuh Pak Demang, ia kabur dan berpura-pura meminta tolong setelah tuannya meninggal.
Aku kembali ke gudang kecil dan mencari sesuatu agar bisa dijadikan petunjuk atau bukti kejahatan pelaku. Di sekitar lemari terdapat dua benda yang menarik perhatianku. Kancing baju dan sebuah cincin.
“Bapak Briptu Agung, tolong kumpulkan ketiga tersangka. Sepertinya pelakunya memang salah satu diantara mereka bertiga.”
…………………………..
"Semua teka-teki ini telah dipecahkan dan misteri ini sudah tak lagi menjadi misteri. Kasus ini bukanlah pembunuhan ruang tertutup.”
Ketiga pelaku tersentak mendengar penjelasanku. Baik Pak Jono, Pak Mardi, maupun Dedi kaget dengan ucapanku. Sial, kenapa mereka bertiga kaget sih, masa mereka bertiga bersekongkol membunuh Pak Demang. Setahuku hanya pelakulah yang kaget jika triknya ketahuan. Tapi ya sudahlah. Mungkin mereka kaget karena aku sedikit berteriak sambil memukul tembok yang tak bersalah.
“Mana mungkin, semua akses keluar kamar ini tertutup.”
“Iya benar, jendela tertutup, pintu juga tertutup.”
“Memangnya ada orang yang bisa menembus tembok.”
“Yang mencurigakan justru karena semua ruangan tertutup rapat. Jendela itu seharusnya terbuka,” jelasku.
“Apa maksudmu?”
“Anak kecil, jangan bicara yang tidak-tidak.”
“Memangnya kau tahu apa?”
"Jendela itu memang tidak dibuat untuk bisa tertutup. Jendela itu ditutup paksa oleh pelaku agar semakin meyakinkan bahwa ini adalah pembunuhan ruang tertutup. Buktinya adalah adanya kain yang mengganjal jendela itu tertutup."
"Bisa saja Pak Demang yang menutupnya."
"Iya benar, bisa saja Pak Demang sendiri yang menutupnya."
"Memangnya kalau bukan Pak demang, siapa lagi?"
"Yang membuatku yakin ada orang lain yang menutupnya adalah, tidak adanya sidik jari di kain tersebut. Aneh kan kalau Pak Demang sengaja menggunakan sarung angan saat menutup jendela."
Ketiga tersangka mulai terdiam.
"Jadi pelaku membuat kesan tertutup pada ruangan ini. Akan tetapi, jendela iu bukanlah pintu masuk yang digunakan pelaku untuk masuk kedalam ruangan ini. Pintu masuk ruangan ini, ada pada lemari itu."
Tak sesuai harapanku, ketiganya justru memasang wajah sedikit marah.
"Apa kamu gila! tadi aku hampir percaya ceritamu, sekarang kamu meracau lagi."
"Daritadi kamu cuma asal bicara ya!"
"Memangnya ada apa dengan lemari itu?"
"Lemari itu memiliki sambungan dengan lemari di sebelah gudang dibaik ruangan ini. Jika kedua lemari itu dibuka lebar, maka ..." aku berbicara sambil membuka lemari setelah sebelumnya membiarkan lemari di gudang kecil terbuka lebar.
"Jegreg"
"... terbukalah 'pintu' rahasia dari sekat lemari tersebut. Dari situlah pelaku muncul dan meloloskan diri dari ilusi ruangan tertutup ini."
"Dari tadi kau bicara begini, memangnya kau punya bukti."
"Benar, kamu hanya asal-asalan bicara kan pemuda sok tahu."
"memangnya kau sudah tahu pelakunya siapa?
"Bukti ya." Aku sedikit membetulkan kacamataku sebelum meneruskan kalimatku. "Karena pelaku menggunakan kemeja dan harus merayap, ada kemungkinan kancing baju itu jatuh saat pelaku melewati 'pintu' rahasia itu. Dan aku menemukan kancing baju yang ditinggalkan pelaku."
"Kamu bodoh?"
"Atau idiot?"
"Memangnya kau tak lihat kami bertiga memakai kaus"
Sejenak ku terdiam. Sial, karena semangatnya menjelaskan, aku tak pernah melihat mereka bertiga memakai kaos. Memang ada kemungkinan mereka mengganti kemeja dengan kaos. Tapi bagaimana caranya aku membuktikan hal tersebut.
"Likur, kau masih punya cincin kan," tiba-tiba Avena berbisik. Aku pun merinding karena geli. Cincin, cincin apa? Ah, benar juga. Selain kancing baju, aku menemukan cincin. Cincin dengan ukiran mirip huruf M.

"Selain kancing baju, aku memiliki bukti yang lain. Yaitu cincin ini."
Ketiga tersangka mulai terdiam lagi.
"Huruf yang seperti huruf "M" ini menunjukkan identitas sang pelaku."
"Aku? Aku tak pernah punya cincin seperti itu." Pak Mardi langsung menyela ucapanku.
"Bukan anda pelakunya Pak Mardi. Pelakuya adalah kau, pemuda yang dibutakan oleh cinta," (yang terlarang, dalam hatiku menambahkan). "Meski terlihat seperti huruf M yang aneh, tapi itu bukanlah huruf M, melainkan dua huruf yang digabungkan menjadi satu. Yaitu 'N' dan 'D'. Inisial dari Nafiati dan Dedi"
"Mengapa aku? Bukankah alibiku sudah jelas. Aku sedang kencan dengan Nafiati di restoran, dan buktinya ada di struk parkir."
"Boleh ku lihat dompetmu?"
Dia sedikit tertegun mendengar pertanyaanku sebelum akhirnya menyerahkan dompetnya.
"Dalam struk parkir ini, plat mobil yang yang tertera adalah 'R 2023 AL' sedangkan dalam STNK di dalam dompetmu 'R 6363 GE'. Bisakah anda menjelaskanya?"
Dia tetap bergeming.
"Mungkin, anda telah saling pinjam mobil kepada teman anda, dan akan mengembalikannya pada hari ini di restoran tersebut. Tapi karena anda yang terburu-buru, saat bertukar kunci mobil, anda tak sempat bertukar STNK karena anda sudah ditunggu oleh Nafiati yang telah dibiarkan menunggu lama di restoran itu."
"Aku terpaksa melakukannya. Ayahku takkan pernah menyetujui pernikahanku selamanya. Apa salahku, apa salah Nafiati sehingga kami tak boleh bersatu. Aku yang kesal tiba-tiba dirasuki pikiran setan yang membuat aku melakukan hal yang seharusnya tidak kulakukan."
"Dedi, sepertinya alasan ayahmu melarang pernikahan ini ada hubungannya dengan kematian ibumu. Aku sudah bertanya kepada polisi tentang kasus kematian ibumu. Saat itu kamu memang sedang tidak ada disini, dan pihak keluarga menutup-nutupi alasan ibumu bunuh diri. Sepertinya kamu harus tahu bahwa Ibumu bunuh diri setelah mendapati ayahmu berselingkuh dengan ibu Nafiati. Itulah alasan ayahmu melarang keras hubunganmu dengan Nafiati. Karena kamu dan dia mempunyai hubungan sedarah."
Tangisan keras dari Dedi memecah suasana saat itu.
......................................................
"Terimakasih nak Likur, dengan bantuan anda kami bisa menemukan pelaku."
"Sama-sama Bapak Briptu. Tanpa informasi dari polisi, saya juga tidak bisa mengungkap kejadian yang sebenarnya."
.....................................................
"Avena, terimakasih ya sudah mengingatkanku tentang cincin. hampir saja aku lupa ."
"Kamu sih pelupa, masa detektif pelupa. hahaha"
"Kan sudah kubilang. Aku Kalikur, bukan detektif."
"Apanya yang misteri sudah bukan misteri kalau di tengah-tengah malah lupa."
"Iya deh maaf. Sebagai ucapan terima kasih, ku traktir es krim deh, rasa stroberi, kesukaanmu."
"Ah, kamu bisa saja."
---
Selanjutnya Side-Story ya :D
Aku pun mencoba membuka lebar pintu lemari tersebut.
“Klek”
Ketika pintu lemari itu terbuka sembilan puluh derajat, suara itu berbunyi nyaring. Semakin mencurigakan saja. Aku pun bergegas kembali ke gudag kecil dan membuka pintu lemari tersebut sembilan puluh derajat.
“Klek”
“Jegreg”
Salah satu sekat di bagian kanan terbuka. Sekat yang paling bawah. Aku pun mencoba masuk sekat tersebut dan seperti yang sudah kuduga sebelumnya, lemari itu memang menyimpan rahasia, yaitu menghubungkan gudang kecil dengan kamar Pak Demang.
Dengan begitu, kasus ini bukanlah pembunuhan ruang tertutup. Pelaku datang ke kamar Pak demang, membunuhnya, lalu kabur lewat lemari rahasia ini. Pelaku itu pasti tahu keberadaan lemari rahasia ini. Tapi siapakah yang melakukan pembunuhan ini? Pak Mardi? Dia memiliki kemungkinan terbesar bahwa dialah pelakunya. Setelah membunuh Pak Demang, ia kabur dan berpura-pura meminta tolong setelah tuannya meninggal.
Aku kembali ke gudang kecil dan mencari sesuatu agar bisa dijadikan petunjuk atau bukti kejahatan pelaku. Di sekitar lemari terdapat dua benda yang menarik perhatianku. Kancing baju dan sebuah cincin.
“Bapak Briptu Agung, tolong kumpulkan ketiga tersangka. Sepertinya pelakunya memang salah satu diantara mereka bertiga.”
…………………………..
"Semua teka-teki ini telah dipecahkan dan misteri ini sudah tak lagi menjadi misteri. Kasus ini bukanlah pembunuhan ruang tertutup.”
Ketiga pelaku tersentak mendengar penjelasanku. Baik Pak Jono, Pak Mardi, maupun Dedi kaget dengan ucapanku. Sial, kenapa mereka bertiga kaget sih, masa mereka bertiga bersekongkol membunuh Pak Demang. Setahuku hanya pelakulah yang kaget jika triknya ketahuan. Tapi ya sudahlah. Mungkin mereka kaget karena aku sedikit berteriak sambil memukul tembok yang tak bersalah.
“Mana mungkin, semua akses keluar kamar ini tertutup.”
“Iya benar, jendela tertutup, pintu juga tertutup.”
“Memangnya ada orang yang bisa menembus tembok.”
“Yang mencurigakan justru karena semua ruangan tertutup rapat. Jendela itu seharusnya terbuka,” jelasku.
“Apa maksudmu?”
“Anak kecil, jangan bicara yang tidak-tidak.”
“Memangnya kau tahu apa?”
"Jendela itu memang tidak dibuat untuk bisa tertutup. Jendela itu ditutup paksa oleh pelaku agar semakin meyakinkan bahwa ini adalah pembunuhan ruang tertutup. Buktinya adalah adanya kain yang mengganjal jendela itu tertutup."
"Bisa saja Pak Demang yang menutupnya."
"Iya benar, bisa saja Pak Demang sendiri yang menutupnya."
"Memangnya kalau bukan Pak demang, siapa lagi?"
"Yang membuatku yakin ada orang lain yang menutupnya adalah, tidak adanya sidik jari di kain tersebut. Aneh kan kalau Pak Demang sengaja menggunakan sarung angan saat menutup jendela."
Ketiga tersangka mulai terdiam.
"Jadi pelaku membuat kesan tertutup pada ruangan ini. Akan tetapi, jendela iu bukanlah pintu masuk yang digunakan pelaku untuk masuk kedalam ruangan ini. Pintu masuk ruangan ini, ada pada lemari itu."
Tak sesuai harapanku, ketiganya justru memasang wajah sedikit marah.
"Apa kamu gila! tadi aku hampir percaya ceritamu, sekarang kamu meracau lagi."
"Daritadi kamu cuma asal bicara ya!"
"Memangnya ada apa dengan lemari itu?"
"Lemari itu memiliki sambungan dengan lemari di sebelah gudang dibaik ruangan ini. Jika kedua lemari itu dibuka lebar, maka ..." aku berbicara sambil membuka lemari setelah sebelumnya membiarkan lemari di gudang kecil terbuka lebar.
"Jegreg"
"... terbukalah 'pintu' rahasia dari sekat lemari tersebut. Dari situlah pelaku muncul dan meloloskan diri dari ilusi ruangan tertutup ini."
"Dari tadi kau bicara begini, memangnya kau punya bukti."
"Benar, kamu hanya asal-asalan bicara kan pemuda sok tahu."
"memangnya kau sudah tahu pelakunya siapa?
"Bukti ya." Aku sedikit membetulkan kacamataku sebelum meneruskan kalimatku. "Karena pelaku menggunakan kemeja dan harus merayap, ada kemungkinan kancing baju itu jatuh saat pelaku melewati 'pintu' rahasia itu. Dan aku menemukan kancing baju yang ditinggalkan pelaku."
"Kamu bodoh?"
"Atau idiot?"
"Memangnya kau tak lihat kami bertiga memakai kaus"
Sejenak ku terdiam. Sial, karena semangatnya menjelaskan, aku tak pernah melihat mereka bertiga memakai kaos. Memang ada kemungkinan mereka mengganti kemeja dengan kaos. Tapi bagaimana caranya aku membuktikan hal tersebut.
"Likur, kau masih punya cincin kan," tiba-tiba Avena berbisik. Aku pun merinding karena geli. Cincin, cincin apa? Ah, benar juga. Selain kancing baju, aku menemukan cincin. Cincin dengan ukiran mirip huruf M.

"Selain kancing baju, aku memiliki bukti yang lain. Yaitu cincin ini."
Ketiga tersangka mulai terdiam lagi.
"Huruf yang seperti huruf "M" ini menunjukkan identitas sang pelaku."
"Aku? Aku tak pernah punya cincin seperti itu." Pak Mardi langsung menyela ucapanku.
"Bukan anda pelakunya Pak Mardi. Pelakuya adalah kau, pemuda yang dibutakan oleh cinta," (yang terlarang, dalam hatiku menambahkan). "Meski terlihat seperti huruf M yang aneh, tapi itu bukanlah huruf M, melainkan dua huruf yang digabungkan menjadi satu. Yaitu 'N' dan 'D'. Inisial dari Nafiati dan Dedi"
"Mengapa aku? Bukankah alibiku sudah jelas. Aku sedang kencan dengan Nafiati di restoran, dan buktinya ada di struk parkir."
"Boleh ku lihat dompetmu?"
Dia sedikit tertegun mendengar pertanyaanku sebelum akhirnya menyerahkan dompetnya.
"Dalam struk parkir ini, plat mobil yang yang tertera adalah 'R 2023 AL' sedangkan dalam STNK di dalam dompetmu 'R 6363 GE'. Bisakah anda menjelaskanya?"
Dia tetap bergeming.
"Mungkin, anda telah saling pinjam mobil kepada teman anda, dan akan mengembalikannya pada hari ini di restoran tersebut. Tapi karena anda yang terburu-buru, saat bertukar kunci mobil, anda tak sempat bertukar STNK karena anda sudah ditunggu oleh Nafiati yang telah dibiarkan menunggu lama di restoran itu."
"Aku terpaksa melakukannya. Ayahku takkan pernah menyetujui pernikahanku selamanya. Apa salahku, apa salah Nafiati sehingga kami tak boleh bersatu. Aku yang kesal tiba-tiba dirasuki pikiran setan yang membuat aku melakukan hal yang seharusnya tidak kulakukan."
"Dedi, sepertinya alasan ayahmu melarang pernikahan ini ada hubungannya dengan kematian ibumu. Aku sudah bertanya kepada polisi tentang kasus kematian ibumu. Saat itu kamu memang sedang tidak ada disini, dan pihak keluarga menutup-nutupi alasan ibumu bunuh diri. Sepertinya kamu harus tahu bahwa Ibumu bunuh diri setelah mendapati ayahmu berselingkuh dengan ibu Nafiati. Itulah alasan ayahmu melarang keras hubunganmu dengan Nafiati. Karena kamu dan dia mempunyai hubungan sedarah."
Tangisan keras dari Dedi memecah suasana saat itu.
......................................................
"Terimakasih nak Likur, dengan bantuan anda kami bisa menemukan pelaku."
"Sama-sama Bapak Briptu. Tanpa informasi dari polisi, saya juga tidak bisa mengungkap kejadian yang sebenarnya."
.....................................................
"Avena, terimakasih ya sudah mengingatkanku tentang cincin. hampir saja aku lupa ."
"Kamu sih pelupa, masa detektif pelupa. hahaha"
"Kan sudah kubilang. Aku Kalikur, bukan detektif."
"Apanya yang misteri sudah bukan misteri kalau di tengah-tengah malah lupa."
"Iya deh maaf. Sebagai ucapan terima kasih, ku traktir es krim deh, rasa stroberi, kesukaanmu."
"Ah, kamu bisa saja."
---
Selanjutnya Side-Story ya :D
Draft Enigmaze - Chapter 2 (mid) - Lemari Misterius
Setelah mengetahui adanya kasus yang sepertinya pembunuhan, aku pun segera masuk ke rumah Pak Demang yang luas itu. Aku bertanya kepada orang-orang untuk mengetahui apa yang mungkin bisa sebagai petunjuk untuk memecahkan kasus pembunuhan ini. dan aku pun terkejut karena Pak Demang terbunuh di kamarnya, dalam keadaan kamar terkunci dari dalam.
Waktu pembunuhan terjadi kurang lebih pukul 14:00 s/d 14:30 berdasarkan keterangan tim forensik. Pisau menancap jelas ke jantung Pak Demang yang terbujur kaku. Hanya ada sidik jari dari Pak Demang dalam pisau tersebut. Jendela terkunci, lemari tertutup, lantai yang bersih, kamar Pak Demang pun terlihat rapi. Bunuh diri ataukah pembunuhan? Yang jelas berdasarkan keterangan yang didapat polisi, ada tiga orang yang memiliki motif melakukan pembunuhan tersebut.
.....................................
Yang pertama adalah Pak Jono, tetangga Pak Demang yang hari ini datang untuk membicarakan tentang proyek peternakan ayam.. Menurut penyelidikan polisi, Pak Jono memiliki motif untuk membunuh Pak Jono. Dulu mereka berdua adalah rival dari adu ayam yang sering digelar di desa tersebut. Pada suatu ketika, Pak Demang meracuni ayam Pak Jono sehingga ia bisa mewujudkan ambisinya memenangi lomba adu ayam tersebut.
“Kejadian itu kan sudah lama. Aku saja sudah tidak mengingatnya. Aku dulu memang kesal dengan dia. Tapi aku sudah memaafkannya”
Pada waktu kejadian Pak Jono sedang menuju ke rumah Pak Demang. Begitulah yang ia kemukakan saat ditanya oleh para polisi. Alibi yang kurang kuat karena tidak ada saksi yang menguatkan keberadaan Pak Jono kala itu.
.....................................
Terduga kedua adalah Pak Mardi, penjaga kebun Pak Demang yang memiliki hubungan yang kurang baik dengan beliau, apalagi sejak meninggalnya istri Pak Demang, sebulan yang lalu, karena bunuh diri. Pak Mardi yang dulunya merupakan mantan kekasih istri Pak Mardi menyalahkan Pak Demang yang tidak bisa menjaga istrinya.
“Dia pasti bunuh diri karena dihantui oleh arwah dari istrinya. Ia selalu mengurung diri di kamar sejak istrinya bunuh diri.”
Pak Mardi berada di kebun belakang rumah saat terjadinya pembunuhan. Ia pula orang yang pertama kali mendekati TKP karena dia medengar teriakkan terakhir Pak Demang. Hal ini membuat Pak Mardi sangat mencurigakan. Apalagi kalau ia berbohong.
.....................................
Yang ketiga adalah Dedi, putra dari Pak Demang. Keinginannya menikah dengan kekasihnya, Nafiati tidak direstui oleh ayahnya.
“Aku memang kesal dengan ayahku, tapi apakah mungkin aku yang sedang berkencan dengan kekasihku bisa membunuhnya dari jarak jauh. Saat kejadian aku sedang makan di restoran”
Restoran yang dimaksud memang jauh. Sekitar 30 menit menggunakan mobil. Dedi pun menunjukkan struk parkirnya yang tertulis waktu saat dia memarkirkan mobilnya. “14:11:21”. Itulah yag tercetak dalam struk parkir.
.....................................
Dengan ketiga keterangan itu, hanya Dedi yang memiliki alibi yang sempurna. Jika pun kejadian terjadi pukul 14:00, tak mungkin waktu yang hanya sebelas menit dilakukan untuk berpindah dari rumah Pak Demang ke Restoran tersebut. Tidak mungkin juga jika setelah parkir, Dedi pulang ke rumah untuk menghabisi nyawa ayahnya, dan kembali lagi ke restoran. Butuh waktu kurang lebih 1 jam untuk melakukan hal tersebut.
Dugaanku mengarah kepada penjaga kebun yang juga merupakan orang pertama yang menyadari adanya pembunuhan tersebut. Tapi apa buktinya? Aku tak bisa berpikir bagaimana trik ruang tertutup itu.
“Likur, kamu mau ke mana?”
“Cari angin, disini panas.”
.....................................
Aku berjalan keluar kamar Pak Demang, diikuti Vena. Aku melangkah ke kamar di sebelah Pak Demang. Sebuah gudang kecil. Di dalam gudang itu banyak berserakan barang-barang yang telah rusak dan sebuah lemari. Lemari itu menarik perhatianku. Ukurannya tak jauh beda dengan lemari di kamar Pak Demang. Posisinya pun salng membelakangi satu sama lain. Aku pun mencoba mendekati lemari tersebut dan membukanya. Lemari itu kosong. Aku segera berlari kembali menuju kamar Pak Demang.
“Likur, kamu gimana sih? Kok tiba-tiba balik lagi kesana”
Aku tak sempat menjawab pertanyaan Vena. Aku segera menghampiri lemari yang di kamar Pak Demang. Aku membukanya, dan ternyata lemari itu juga kosong. Aku pun berpikir, apa guna lemari besar itu jika isinya tidak ada. Sangat mencurigakan. Jangan-jangan ada sesuatu dengan lemari itu.
Subscribe to:
Posts (Atom)