Aku pun mencoba membuka lebar pintu lemari tersebut.
“Klek”
Ketika pintu lemari itu terbuka sembilan puluh derajat, suara itu berbunyi nyaring. Semakin mencurigakan saja. Aku pun bergegas kembali ke gudag kecil dan membuka pintu lemari tersebut sembilan puluh derajat.
“Klek”
“Jegreg”
Salah satu sekat di bagian kanan terbuka. Sekat yang paling bawah. Aku pun mencoba masuk sekat tersebut dan seperti yang sudah kuduga sebelumnya, lemari itu memang menyimpan rahasia, yaitu menghubungkan gudang kecil dengan kamar Pak Demang.
Dengan begitu, kasus ini bukanlah pembunuhan ruang tertutup. Pelaku datang ke kamar Pak demang, membunuhnya, lalu kabur lewat lemari rahasia ini. Pelaku itu pasti tahu keberadaan lemari rahasia ini. Tapi siapakah yang melakukan pembunuhan ini? Pak Mardi? Dia memiliki kemungkinan terbesar bahwa dialah pelakunya. Setelah membunuh Pak Demang, ia kabur dan berpura-pura meminta tolong setelah tuannya meninggal.
Aku kembali ke gudang kecil dan mencari sesuatu agar bisa dijadikan petunjuk atau bukti kejahatan pelaku. Di sekitar lemari terdapat dua benda yang menarik perhatianku. Kancing baju dan sebuah cincin.
“Bapak Briptu Agung, tolong kumpulkan ketiga tersangka. Sepertinya pelakunya memang salah satu diantara mereka bertiga.”
…………………………..
"Semua teka-teki ini telah dipecahkan dan misteri ini sudah tak lagi menjadi misteri. Kasus ini bukanlah pembunuhan ruang tertutup.”
Ketiga pelaku tersentak mendengar penjelasanku. Baik Pak Jono, Pak Mardi, maupun Dedi kaget dengan ucapanku. Sial, kenapa mereka bertiga kaget sih, masa mereka bertiga bersekongkol membunuh Pak Demang. Setahuku hanya pelakulah yang kaget jika triknya ketahuan. Tapi ya sudahlah. Mungkin mereka kaget karena aku sedikit berteriak sambil memukul tembok yang tak bersalah.
“Mana mungkin, semua akses keluar kamar ini tertutup.”
“Iya benar, jendela tertutup, pintu juga tertutup.”
“Memangnya ada orang yang bisa menembus tembok.”
“Yang mencurigakan justru karena semua ruangan tertutup rapat. Jendela itu seharusnya terbuka,” jelasku.
“Apa maksudmu?”
“Anak kecil, jangan bicara yang tidak-tidak.”
“Memangnya kau tahu apa?”
"Jendela itu memang tidak dibuat untuk bisa tertutup. Jendela itu ditutup paksa oleh pelaku agar semakin meyakinkan bahwa ini adalah pembunuhan ruang tertutup. Buktinya adalah adanya kain yang mengganjal jendela itu tertutup."
"Bisa saja Pak Demang yang menutupnya."
"Iya benar, bisa saja Pak Demang sendiri yang menutupnya."
"Memangnya kalau bukan Pak demang, siapa lagi?"
"Yang membuatku yakin ada orang lain yang menutupnya adalah, tidak adanya sidik jari di kain tersebut. Aneh kan kalau Pak Demang sengaja menggunakan sarung angan saat menutup jendela."
Ketiga tersangka mulai terdiam.
"Jadi pelaku membuat kesan tertutup pada ruangan ini. Akan tetapi, jendela iu bukanlah pintu masuk yang digunakan pelaku untuk masuk kedalam ruangan ini. Pintu masuk ruangan ini, ada pada lemari itu."
Tak sesuai harapanku, ketiganya justru memasang wajah sedikit marah.
"Apa kamu gila! tadi aku hampir percaya ceritamu, sekarang kamu meracau lagi."
"Daritadi kamu cuma asal bicara ya!"
"Memangnya ada apa dengan lemari itu?"
"Lemari itu memiliki sambungan dengan lemari di sebelah gudang dibaik ruangan ini. Jika kedua lemari itu dibuka lebar, maka ..." aku berbicara sambil membuka lemari setelah sebelumnya membiarkan lemari di gudang kecil terbuka lebar.
"Jegreg"
"... terbukalah 'pintu' rahasia dari sekat lemari tersebut. Dari situlah pelaku muncul dan meloloskan diri dari ilusi ruangan tertutup ini."
"Dari tadi kau bicara begini, memangnya kau punya bukti."
"Benar, kamu hanya asal-asalan bicara kan pemuda sok tahu."
"memangnya kau sudah tahu pelakunya siapa?
"Bukti ya." Aku sedikit membetulkan kacamataku sebelum meneruskan kalimatku. "Karena pelaku menggunakan kemeja dan harus merayap, ada kemungkinan kancing baju itu jatuh saat pelaku melewati 'pintu' rahasia itu. Dan aku menemukan kancing baju yang ditinggalkan pelaku."
"Kamu bodoh?"
"Atau idiot?"
"Memangnya kau tak lihat kami bertiga memakai kaus"
Sejenak ku terdiam. Sial, karena semangatnya menjelaskan, aku tak pernah melihat mereka bertiga memakai kaos. Memang ada kemungkinan mereka mengganti kemeja dengan kaos. Tapi bagaimana caranya aku membuktikan hal tersebut.
"Likur, kau masih punya cincin kan," tiba-tiba Avena berbisik. Aku pun merinding karena geli. Cincin, cincin apa? Ah, benar juga. Selain kancing baju, aku menemukan cincin. Cincin dengan ukiran mirip huruf M.

"Selain kancing baju, aku memiliki bukti yang lain. Yaitu cincin ini."
Ketiga tersangka mulai terdiam lagi.
"Huruf yang seperti huruf "M" ini menunjukkan identitas sang pelaku."
"Aku? Aku tak pernah punya cincin seperti itu." Pak Mardi langsung menyela ucapanku.
"Bukan anda pelakunya Pak Mardi. Pelakuya adalah kau, pemuda yang dibutakan oleh cinta," (yang terlarang, dalam hatiku menambahkan). "Meski terlihat seperti huruf M yang aneh, tapi itu bukanlah huruf M, melainkan dua huruf yang digabungkan menjadi satu. Yaitu 'N' dan 'D'. Inisial dari Nafiati dan Dedi"
"Mengapa aku? Bukankah alibiku sudah jelas. Aku sedang kencan dengan Nafiati di restoran, dan buktinya ada di struk parkir."
"Boleh ku lihat dompetmu?"
Dia sedikit tertegun mendengar pertanyaanku sebelum akhirnya menyerahkan dompetnya.
"Dalam struk parkir ini, plat mobil yang yang tertera adalah 'R 2023 AL' sedangkan dalam STNK di dalam dompetmu 'R 6363 GE'. Bisakah anda menjelaskanya?"
Dia tetap bergeming.
"Mungkin, anda telah saling pinjam mobil kepada teman anda, dan akan mengembalikannya pada hari ini di restoran tersebut. Tapi karena anda yang terburu-buru, saat bertukar kunci mobil, anda tak sempat bertukar STNK karena anda sudah ditunggu oleh Nafiati yang telah dibiarkan menunggu lama di restoran itu."
"Aku terpaksa melakukannya. Ayahku takkan pernah menyetujui pernikahanku selamanya. Apa salahku, apa salah Nafiati sehingga kami tak boleh bersatu. Aku yang kesal tiba-tiba dirasuki pikiran setan yang membuat aku melakukan hal yang seharusnya tidak kulakukan."
"Dedi, sepertinya alasan ayahmu melarang pernikahan ini ada hubungannya dengan kematian ibumu. Aku sudah bertanya kepada polisi tentang kasus kematian ibumu. Saat itu kamu memang sedang tidak ada disini, dan pihak keluarga menutup-nutupi alasan ibumu bunuh diri. Sepertinya kamu harus tahu bahwa Ibumu bunuh diri setelah mendapati ayahmu berselingkuh dengan ibu Nafiati. Itulah alasan ayahmu melarang keras hubunganmu dengan Nafiati. Karena kamu dan dia mempunyai hubungan sedarah."
Tangisan keras dari Dedi memecah suasana saat itu.
......................................................
"Terimakasih nak Likur, dengan bantuan anda kami bisa menemukan pelaku."
"Sama-sama Bapak Briptu. Tanpa informasi dari polisi, saya juga tidak bisa mengungkap kejadian yang sebenarnya."
.....................................................
"Avena, terimakasih ya sudah mengingatkanku tentang cincin. hampir saja aku lupa ."
"Kamu sih pelupa, masa detektif pelupa. hahaha"
"Kan sudah kubilang. Aku Kalikur, bukan detektif."
"Apanya yang misteri sudah bukan misteri kalau di tengah-tengah malah lupa."
"Iya deh maaf. Sebagai ucapan terima kasih, ku traktir es krim deh, rasa stroberi, kesukaanmu."
"Ah, kamu bisa saja."
---
Selanjutnya Side-Story ya :D
0 comments:
Post a Comment