Pages

Draft Enigmaze - Chapter 2 (mid) - Lemari Misterius


Setelah mengetahui adanya kasus yang sepertinya pembunuhan, aku pun segera masuk ke rumah Pak Demang yang luas itu. Aku bertanya kepada orang-orang untuk mengetahui apa yang mungkin bisa sebagai petunjuk untuk memecahkan kasus pembunuhan ini. dan aku pun terkejut karena Pak Demang terbunuh di kamarnya, dalam keadaan kamar terkunci dari dalam.

Waktu pembunuhan terjadi kurang lebih pukul 14:00 s/d 14:30  berdasarkan keterangan tim forensik. Pisau menancap jelas ke jantung Pak Demang yang terbujur kaku. Hanya ada sidik jari dari Pak Demang dalam pisau tersebut. Jendela terkunci, lemari tertutup, lantai yang bersih, kamar Pak Demang pun terlihat rapi. Bunuh diri ataukah pembunuhan? Yang jelas berdasarkan keterangan yang didapat polisi, ada tiga orang yang memiliki motif melakukan pembunuhan tersebut.

.....................................

Yang pertama adalah Pak Jono, tetangga Pak Demang yang hari ini datang untuk membicarakan tentang proyek peternakan ayam.. Menurut penyelidikan polisi, Pak Jono memiliki motif untuk membunuh Pak Jono. Dulu mereka berdua adalah rival dari adu ayam yang sering digelar di desa tersebut. Pada suatu ketika, Pak Demang meracuni ayam Pak Jono sehingga ia bisa mewujudkan ambisinya memenangi lomba adu ayam tersebut.

“Kejadian itu kan sudah lama. Aku saja sudah tidak mengingatnya. Aku dulu memang kesal dengan dia. Tapi aku sudah memaafkannya” 

Pada waktu kejadian Pak Jono sedang menuju ke rumah Pak Demang. Begitulah yang ia kemukakan saat ditanya oleh para polisi. Alibi yang kurang kuat karena tidak ada saksi yang menguatkan keberadaan Pak Jono kala itu.

.....................................


Terduga kedua adalah Pak Mardi, penjaga kebun Pak Demang yang memiliki hubungan yang kurang baik dengan beliau, apalagi sejak meninggalnya istri Pak Demang, sebulan yang lalu, karena bunuh diri. Pak Mardi yang dulunya merupakan mantan kekasih istri Pak Mardi menyalahkan Pak Demang yang tidak bisa menjaga istrinya.

“Dia pasti bunuh diri karena dihantui oleh arwah dari istrinya. Ia selalu mengurung diri di kamar sejak istrinya bunuh diri.”

Pak Mardi berada di kebun belakang rumah saat terjadinya pembunuhan. Ia pula orang yang pertama kali mendekati TKP karena dia medengar teriakkan terakhir Pak Demang. Hal ini membuat Pak Mardi sangat mencurigakan. Apalagi kalau ia berbohong.

.....................................


Yang ketiga adalah Dedi, putra dari Pak Demang. Keinginannya menikah dengan kekasihnya, Nafiati tidak direstui oleh ayahnya.

“Aku memang kesal dengan ayahku, tapi apakah mungkin aku yang sedang berkencan dengan kekasihku bisa membunuhnya dari jarak jauh. Saat kejadian aku sedang makan di restoran”

Restoran yang dimaksud memang jauh. Sekitar 30 menit menggunakan mobil. Dedi pun menunjukkan struk parkirnya yang tertulis waktu saat dia memarkirkan mobilnya. “14:11:21”. Itulah yag tercetak dalam struk parkir.

.....................................


Dengan ketiga keterangan itu, hanya Dedi yang memiliki alibi yang sempurna. Jika pun kejadian terjadi pukul 14:00, tak mungkin waktu yang hanya sebelas menit dilakukan untuk berpindah dari rumah Pak Demang ke Restoran tersebut. Tidak mungkin juga jika setelah parkir, Dedi pulang ke rumah untuk menghabisi nyawa ayahnya, dan kembali lagi ke restoran. Butuh waktu kurang lebih 1 jam untuk melakukan hal tersebut.

Dugaanku mengarah kepada penjaga kebun yang juga merupakan orang pertama yang menyadari adanya pembunuhan tersebut. Tapi apa buktinya? Aku tak bisa berpikir bagaimana trik ruang tertutup itu.

“Likur, kamu mau ke mana?”

“Cari angin, disini panas.”

.....................................


Aku berjalan keluar kamar Pak Demang, diikuti Vena. Aku melangkah ke kamar di sebelah Pak Demang. Sebuah gudang kecil. Di dalam gudang itu banyak berserakan barang-barang yang telah rusak dan sebuah lemari. Lemari itu menarik perhatianku. Ukurannya tak jauh beda dengan lemari di kamar Pak Demang. Posisinya pun salng membelakangi satu sama lain. Aku pun mencoba mendekati lemari tersebut dan membukanya. Lemari itu kosong. Aku segera berlari kembali menuju kamar Pak Demang.

“Likur, kamu gimana sih? Kok tiba-tiba balik lagi kesana”

Aku tak sempat menjawab pertanyaan Vena. Aku segera menghampiri lemari yang di kamar Pak Demang. Aku membukanya, dan ternyata lemari itu juga kosong. Aku pun berpikir, apa guna lemari besar itu jika isinya tidak ada. Sangat mencurigakan. Jangan-jangan ada sesuatu dengan lemari itu.

0 comments:

Post a Comment