"Sebaiknya kalau kamu belum tahu tak usah sok jadi detektif, nanti kamu bisa kena batunya."
"Ya mau gimana lagi. Namanya juga usaha."
"Tadi sebenarnya kau belum tahu pelaku sebenarnya saat mengumpulkan ketiga tersangka kan?"
"Iya sih. Tapi yang aku pikirkan satu-satunya cara memancing pelaku supaya bisa menemukan bukti kuat ya cuma itu."
"Ya sudah, lain kali jangan seperti itu lagi."
Dasar,
walaupun sempat marah-marah, akhirnya tersenyum juga. Setelah makan es
krim bareng dengan Avena, aku pun pulang. Di tengah perjalanan, aku baru
ingat kalau aku lupa ke toko buku gara-gara kasus Pak Demang kemarin.
Ya sudahlah lain kali saja, pikirku dalam hati.
Malamnya, aku pergi ke rumah Z. Hanya ingin bercerita tentang kasus yang kuhadapi tadi siang.
"Kamu berani sekali menuduh walau belum yakin seratus persen?"
"Sudah-sudah, aku sudah kenyang diomelin Vena. Ngomong-ngomong kenapa hari ini kau terlambat? Tumben sekali"
" Ceritanya panjang"
"Ya sudah cerita saja "
"Ini beneran panjang lho"
"Udah cerita aja"
---
"Baiklah
kalau kamu maunya begitu. Hari ini alarm telepon genggam tak mempan
lagi di telingaku sehingga 15 menit sebelum KBM dimulai aku masih
terbaring di sofa tempatku tidur semalam. Ditambah lagi rumahku kosong
karena Ayah dan Ibu sedang berlibur.
Dengan secepat
kilat ―tanpa mandi, sarapan, dan merapikan buku hari ini― aku sudah
siap di depan pintu rumah dengan seragam lengkap. Kupakai sepatu roda
mesin yang diberikan professor FAQ minggu lalu. Sempat takut memang,
terakhir kupakai hampir saja kandang ayam milik salah satu penduduk
desa Karambing tertabrak.
Kusingkirkan ketakutan
sejenak dan langsung kutembus angin dengan kecepatan 60 mil per jam.
Sengaja kulalui jalan sepi agar tak terjadi kecelakaan dan kemungkinan
dikejar polisi. Dalam perjalanan, aku melewati rumah yang halaman
depannya penuh dengan bunga mawar, aromanya sungguh menusuk hidung.
Tiba-tiba saja aku melihat kilasan dalam pikiranku yang memperlihatkan
sesosok wanita beraroma mawar yang menodongkan pistol ke arahku.
Pikiranku
buyar begitu saja, sehingga aku tak menyadari ada seseorang yang
sedang berjalan di depanku dengan tergesa-gesa sambil membawa map.
Sudah sangat dekat jaraknya, masihkah sempat aku menghindar? Tak
mungkin sempat jika aku menggunakan rem. Dengan waktu sesingkat itu,
aku berusaha memiringkan tubuh berharap tak terjadi turbulensi.
Sialnya, meski tak terjadi tabrakan, aku masih menyerempet orang itu
sehingga dia jatuh dan pingsan.
Dengan segera aku
menghampirinya dan menganalisis hal terbaik yang bisa dilakukan. Melihat
seragamnya, ia bersekolah di SMA Sangilta. Tanpa berpikir lama,
langsung saja kugendong orang itu dan kubawa ke UKS SMA Sangilta.
Kebetulan Avena sedang tugas menjaga UKS.
"Z, siapa itu? Apa dia terluka?"
"Saat
menuju sekolah, tanpa sengaja aku menabraknya hingga pingsan. Aku belum
tahu siapa dia, tapi dia siswa SMA ini kan? Tolong rawat dia ya Vena?
Sepertinya aku sudah terlambat masuk kelas."
"Baiklah. Dia akan baik-baik saja disini."
"Terimakasih, Vena."
Jam
tanganku menunjukkan pukul 7 lewat 5 menit, aku sudah terlambat masuk
kelas, ditambah lagi kelasku ada di lantai 2 SMA Sangilta. Tapi
ternyata aku melilhat guru pelajaran pertama, matematika, masih
terlihat sibuk mencari sepatunya yang sebelah. “Ah, itu pasti kerjaan
Likur” pikirku sambil tersenyum.
.......................
Teeetttttt
Bel
istirahat pertama berbunyi. Dengan cepat aku berlari menuju klinik,
ingin memastikan keadaan orang yang kuserempet tadi. Di sana, aku
mendapatinya sedang duduk di pinggir jendela sambil memandang ke luar.
Kepalanya diperban, blazer dan rok birunya masih sama seperti yang
dipakainya tadi pagi. Sekilas terlihat tulisan ISP di lengan kirinya.
Mukanya yang putih bersih tampak bersinar di bawah cahaya matahari
pukul sembilan pagi. Dengan langkah yang sangat pelan, kuhampiri gadis
berambut hitam sepundak itu.
'Fille salut, j’ai peut savoir votre nom?'
[hai, boleh tahu namamu?]
Dia pun berbalik.
'Salut,bien sur. Je m’appelle Hana Yasmini,' jawabnya sambil tersenyum manis.
[hai juga, tentu saja. Namaku Hana Yasmini]
'Wah, nama yang indah, seindah dan seharum bunga melati' kubalas senyumannya.
'Merci. Kalau boleh tahu juga , siapa namamu?'
[terimakasih]
'Oh,
bisa bahasa Indonesia juga ternyata. Namaku Z, tak usah dipertanyakan
mengapa namaku seperti itu karena aku pun tak tahu mengapa. Kau baru
pindah dari Perancis ke sekolah ini ya?'
'Ya, kenapa kau bisa tahu? Sepertinya aku tak pernah mengatakan sesuatu pada siapa pun di negara ini.'
'Aku
pernah ke Paris waktu liburan keluarga. Ah, terlalu panjang kalau
dijelaskan, nanti bisa-bisa tambah sakit kepalamu,' jawabku.
Perkenalan
ini singkat dan tak berlangsung lama karena keterbatasan waktu
istirahat. Tapi aku sempat mengatakan kalau aku yang membuatnya berada
di klinik."
---
*Original version -> https://www.facebook.com/notes/deniz-yanuardi/enigmaze-side-story-z-chapter-root-of-negative-2-bunga-melati/10150195715116393
---
"Hey Likur, kau masih dengar kan?"
"........"
"Sudah cerita panjang lebar malah tidur"
"Ada apa? sudah selesai ya ceritanya, maaf aku ngantuk."
"Ya sudah, masih ingat sepatu roda dari Profesor FAQ?"
"Iya, kenapa?"
"Dulu kamu bilang tidak suka, kan? Boleh ku minta?"
"Silakan saja, aku memang tak berminat dengan barang itu. Jalan kaki jauh lebih sehat."
"Bilang saja kau tak bisa menggunakan sepatu roda."
"Terserahlah. Sepatu roda itu mau kamu berikan ke orang yang baru kamu ceritakan tadi?"
"Mau tahu saja kamu ini."
"Ya
sudah kalau tak boleh tahu. Eh kata ketua kelas, sabtu depan kan ada
final Sangilta Cup, kejuaraan sepakbola di sekolah kita. Kebetulan si
Alan sedang cedera, kau bisa menggantikannya sebagai kiper?"
"Kiper? Hmm. Baiklah akan kucoba."
"Ya sudah, aku pulang dulu ya, ntar kalau kelamaan disini malah ketiduran seperti tadi."
"Okelah, hati-hati di jalan"
Dalam
perjalanan pulang, aku sendiri heran dengan Z. Saat di sekolah, ketika
berinteraksi dengan teman lainnya, ia cenderung diam. Ia hanya berbicara
banyak saat bersamaku atau profesor FAQ saat berbicara mengenai kasus.
Tapi kalau tak salah dengar (karena tadi mengantuk), dia berbicara
dengan orang yang baru pertama ia temui. Ya sudahlah, mungkin karena dia
merasa bersalah atau apa. Sekarang yang penting aku harus segera pulang
ke rumah dan tidur nyenyak.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment