Sangilta Cup telah usai. Kami kembali beraktifitas di sekolah seperti
biasa. Hari ini hampir semua anak ribut. Sri Wahyuni, penyanyi yang
sedang naik daun, dikabarkan akan melakukan konser dan launching album perdananya di Alun-alun Sangilta. Konser itu terbuka untuk umum dan gratis. Apa? Hari gini masih ada yang gratis?
"Sri
Wahyuni lahir di Sangilta. Karena alasan itulah dia rela menggelar
konser tanpa memungut bayaran. Dia mengatakannya dalam konferensi pers
baru-baru ini. Dia ingin berterimakasih kepada tanah kelahirannya,"
terang Avena. "Minggu, kita datang ya?" pintanya dengan muka yang yah
begitulah, tak bisa kujelaskan.
"Boleh deh. Kebetulan memang sedang tidak ada acara."
"Syukurlah. Jangan lupa pulangnya traktir es krim lagi. Kamu dapat gelar MVP kan di final Sangilta."
"Iya deh, kalau bukan karena keajaiban di detik akhir itu mungkin si Sukro yang jadi MVP-nya. Kelasmu memang tangguh dan cerdas. Taktik kelasku bisa dibaca dengan baik."
"Walau
badannya besar, main bolanya jago. Aku sempat kagum dengan kelihaiannya
mengolah bola. Beda denganmu yang mengandalkan analisis yang belum
pasti. Hahaha."
*Teettttt*
"Wah sudah
masuk pelajaran berikutnya," ucap Avena. Kami pun segera keluar dari
perpustakaan. "Sampai nanti ya, Likur. Belajar yang bener lho."
"Iya kamu juga, Ven. Sukses ulangannya."
...........................................................................................................................................................
Saat
aku berlari aku tersandung batu. Tiba-tiba saja ada uluran tangan yang
membantuku untuk bangun. Terkejut aku saat melihat siapa yang
menolongku.
"Kau?"
"Sudah lama kita tak bertemu."
"Kenapa kau bisa berada disini? Apa kau membuntutiku?"
"Hahaha. Anak ingusan yang memergoki kejahatanku memutilasi kepala kambing. Apa kau takut denganku?"
Entah
mengapa jalanan sepi. Hanya ada Palupi dan aku disitu. Kulihat ia
memegang penggaris yang dulu ia gunakan dalam kasus Psikambing.
"Kau sudah membuka kedokku. Kau harus mati. Hahaha."
Aku
tercekat dan tubuhku tak bisa digerakkan. Kulihat dia mengayunkan
penggarisnya hendak menebas leherku. Aku sempat menghindar, tetapi
penggaris itu mengenai kepalaku.
*Splak*
"Likur!
Jangan tidur di pelajaran saya!" bentak Pak Sadi sambil memukul
penggaris kayu ke kepalaku. "Bagaimana mau pintar kalau sekolah cuma
tidur."
Sambil memegang kepalaku, aku terbangun dari
mimpi burukku. Kulihat sekelilingku dan semua orang tertawa kecuali Z.
Sial, kenapa Z tidak membangunkanku.
"Maaf Pak. Tidak akan syaa ulangi lagi"
"Cepat kerjakan soal di papan tulis. Kalau sampai tidak bisa, kamu saya skors dari pelajaran saya sampai akhir semester."
Akupun
maju ke depan, mengerjakan soal tentang trigonometri. Soal yang dijawab
dengan mantra, begitu kata teman-temanku. Sijum Sikojumkosi lah, Simin
Sikominkosi lah, Cojum Cocominsisi lah, Comin Cocojumsisi lah, begitulah
hapalan mantra mereka. Namun, Pak Sadi bukanlah orang yang suka cara
tersebut, beliau merupakan orang yang lebih suka jika orang memahami
sesuatu dengan cara yang wajar, bukan dengan nyanyian ataupun mantra
seperti tadi.
[NB: Sin Jumlah (A+B) = Sin A Cos B + Cos A Sin B
Sin Minus (A-B) = Sin A Cos B - Cos A Sin B
Cos Jumlah (A+B) = Cos A Cos B - Sin A Sin B
Cos Minus (A-B) = Cos A Cos B + Sin A Sin B]
Setelah
beberapa saat, semua soal di depan sudah kukerjakan. Pak Sadi merasa
kalah saat aku berhasil mengerjakan semuanya dengan tepat.
"Ya sudah, duduk. Lain kali jangan tertidur lagi."
...........................................................................................................................................................
Minggu
pagi, aku berangkat ke Alun-Alun Sangilta. Suasana ramai sekali.
Bagaimana tidak ramai, kan gratis. Dari kejauhan aku melihat dua sosok
yang sedang memakai sepatu roda mendekat.
"Z? Katanya kamu tidak tahan dengan bisingnya musik?"
"Yasmin, kamu datang juga akhirnya?"
Ucapku dan Avena nyaris bebarengan.
"Kebetulan
saja lewat sini kok," Jawab Z dan Yasmin, kompak. "Mumpung disini,
mampir sebentar juga tidak apa-apa. Kalau aku sudah tak kuat dengan
musiknya, ya maaf, aku harus segera pergi," lanjut Z.
Akhirnya
kami berempat masuk ke dalam panggung yang sederhana. Tempat
diluncurkannya album perdana Sri Wahyuni yang bertajuk "Masa Keemasan".
Saat pembawa acara mulai membuka acaranya, semua penonton berteriak
gembira.
"Marilah kita sambut, Sri Wahyuni"
Sri Wahyuni memasuki panggung dan mulai menyapa.
"Apa kabar Sangilta?"
"Baik"
Setelah
menyapa penonton, Sri Wahyuni mulai membawakan single dari album
perdananya "Persahabatan Emas", lagu yang mengisahkan tentang dua orang
sahabat yang selalu bersama dan saling menghormati satu sama lainnya
walau berbeda. Lagu baru saja akan mulai memasuki reffrain,
tapi tiba-tiba saja bagian atap panggung roboh setelah sebelumnya
terdengar ledakan dan tiba-tiba saja api berkobar tanpa ada peringatan
sebelumnya. Penonton mulai panik dan suasana pun menjadi kacau. Aku
tanpa berpikir justru mengkhawatirkan orang yang sedang berada di atas
panggung itu, Sri Wahyuni.
"Z, Vena, Yasmin, panggil polisi dan pemadam kebakaran, aku segera kembali," perintahku sambil berlalu begitu saja.
kumpulan kisah sang penulis dan kebodohannya dan ambisinya menulis novel/komik detektif
0 comments:
Post a Comment