Pages

Draft Enigmaze - Chapter 3 (middle) - Igniter

Tanpa kusadari Z mengikuti di belakangku. Aku memang gegabah, hampir saja aku tertimpa reruntuhan atap panggung, namun Z dengan tangkasnya mendorong tubuhku. Keadaan di panggung sungguh mengenaskan, beberapa kru ada yang melarikan diri. Ada pula yang kebingungan karena Sri Wahyuni yang tiba-tiba menghilang.
Aku edarkan pandanganku dan menemukan sesosok manusia diantara reruntuhan atap gedung. Aku dan Z menghampiri dan menolong orang yang ternyata adalah Sri Wahyuni yang sedang tergolek tak sadarkan diri.
Dengan bantuan beberapa kru yang masih ada di atas panggung, Sri Wahyuni berhasil diselamatkan dan segera dibawa ke rumah sakit. Pemadam kebakaran pun datang sesaat setelah ambulance mengantar Sri Wahyuni ke rumah sakit Sangilta, rumah sakit yang sama ketika aku ditikam perempuan misterius dalam kasus di desa Karambing.

Setelah api padam, kami kembali ke panggung untuk mencari tahu penyebab kebakaran yang terjadi. Setelah beberapa saat, tiba-tiba aku melihat Z tersenyum. "Z, Kau kenapa? Tiba-tiba tersenyum" tanyaku penasaran.

"Kasus ini sepertinya menarik," katanya sambil tersenyum.

"Kasus apaan sih? Bisa saja ini kecelakaan biasa kan."ucapku cuek.

"Kalau ini kecelakaan biasa, tidak mungkin ada igniter disini. Pasti hal ini sudah direncanakan,” katanya sambil menunjuk suatu benda yang sudah terbakar itu.





Aku pun melihat ke arah yang ditunjuk Z. Memang terlihat seperti sebuah igniter walau sudah rusak parah. Igniter atau yang bisa disebut pemantik api adalah alat ini dikendalikan dengan suatu remote yang ketika tombol pada remote itu ditekan maka muncul api pada alat itu. Dengan adanya ledakan yang terjadi, besar kemungkinan igniter itu diisi dengan bubuk mesiu. Ada dua igniter yang kami temukan. Pertama, di bagian kiri panggung, yang reruntuhannya hampir menimpaku. Kedua, di bagian tengah panggung, tempat dimana Sri Wahyuni ditemukan pingsan setelah reruntuhan jatuh di sebelahnya.

Kami pun yakin bahwa kasus ini memang direncanakan.Kami pun segera mencari informasi tentang panggung dan konser ini. Orang yang pertama kami temui adalah penyelenggara konser ini, Pak Sumitra.

...........................................................................................................................................................

“Permisi pak, menganggu sebentar. Perkenalkan, saya Kalikur, dan ini teman saya Z. Saya ingin sedikit bertanya mengenai panggung ini, siapa yang mengonsep panggung?”

“Oh ya tidak apa-apa. Saya memang penyelenggara konser ini, namun Sri Wahyuni lah yang membuat konsep tentang panggung ini. Aksesoris yang kebanyakan berwarna emas ini, beliau sendiri yang mengonsepnya.”

“Lalu siapa pihak yang menyewakan panggung?”

“PT Karyadhi. Pengusaha baru di kota Sangilta ini. Kami memilihnya karena biaya sewanya tidak terlalu tinggi, dan Sri Wahyuni juga tidak ingin panggung yang terlalu mewah.”

“Oh, begitu. Lalu siapa saja yang memasang panggung dan bagaimana proses pemasangan panggung?”

“PT Karyadhi mengirimkan empat orang pekerja untuk menyelesaikan panggung ini. Panggung ini dibuat selama 3 hari. Pada hari pertama, panggung dikerjakan dengan menata panggung sesuai konsep dari Sri Wahyuni. Kemudian pada hari kedua mulai memasang aksesoris. Sedangkan pada hari terakhir adalah pemasangan atap panggung dan penyelesaian panggung.”

Setelah mendengar keterangan tersebut, kemungkinan yang paling logis adalah, salah satu diantara pekerja pembuang panggunglah tersangkanya. Terlalu aneh kalau Sri Wahyuni sendiri yang melakukaannya, walaupun bisa saja dilakukannya dengan harapan membuat sensasi agar albumnya terkenal nantinya.

“Bolehkah kami tahu siapa empat pekerja itu, dan bisakah anda membawa mereka kemari. Sebentar lagi polisi datang dan kami berpikir mereka akan berbuat hal sama setelah mendengar cerita anda.”

“Baiklah, saya akan menghubungi PT Karyadhi dan membawa keempat pekerja tersebut.”

...........................................................................................................................................................

Setelah beberapa saat polisi datang, dan tidak lama setelah itu keempat pekerja yang telah dihubungi Pak Sumitra datang ke tempat kejadian perkara. Polisi menginterogasi keempat pekerja tersebut.

Aku bertanya kepada salah satu polisi, polwan lebih tepanya, setelah proses interogasi selesai. Polwan yang di seragamnya tertulis 'Wulandari' tersebut pun menjelaskan beberapa hal yang didapat dari interogasi tadi.

“Pengerjaan panggung ini dilakukan oleh empat orang pekerja yang baru saja kami interogasi. Berdasarkan pengakuan mereka, Mereka saling berbagi tugas satu sama lainnya. Yono, pemuda tambun itu mengerjakan bagian dasar panggung. Barok, pemuda ceking dengan rambut keriting itu mengerjakan sound system. Aziz, pemuda yang berkacamata itu mengursi aksesoris panggung. Sedangkan Simon, pemuda dengan tato di tangan kirinya itu mendapat bagian pemasangan atap panggung.

Walaupun demikian, mereka saling bantu. Tapi hanya pemasangan atap yang dilakukan sendiri oleh Simon. Yaitu pada hari ketiga pengerjaan, atau kemarin. Saat terjadi insiden, mereka mengaku berada di rumahnya masing-masing. Dan seketika mendapat telepon untuk berkumpul mereka datang dengan urutan kedatangan Aziz sebagai orang pertama, Barok, Yono, dan Simon yang paling akhir.”

Kecurigaan pun tertuju pada Simon. Dialah orang terakhir yang menyentuh atap panggung, dan hanya dia sendiri yang mengerjakan. Namun tidak secepat itu, ada yang masih mengganjal pikiranku. Igniter hanya bekerja pada jarak dekat, dengan demikian pelaku yang berada di sekitar panggung saat kejadianlah yang paling mungkin sebagai pelakunya. Kedatangan Aziz sebagai orang pertama yang datang pun terbilang wajar karena diantara mereka berempat rumah Aziz merupakan yang terdekat.

Setelah berpikir beberapa saat, aku pun mengambil keputusan.

“Briptu Wulan, ijinkan aku menyampaikan pendapatku, kumpulkan semua pelaku untuk datang ke tempat ini.”

“Sepertinya darah keturunan mengalir lancar ke dalam dirimu, melihat gayamu, aku jadi teringat kepada almarhum Budi Suraja, mantan Kapolres Sangilta,” ucapnya sambil tersenyum.

0 comments:

Post a Comment