Pages

Draft Enigmaze - Chapter 2 (begin) - Brownies


"Jadi sebenarnya mereka itu siapa, Prof?"

"Mereka adalah organisasi misterius yang sedang aku, mendiang ayahmu dan seorang temannya lagi yang bernama Phiocus Ramanez selidiki. Kami berusaha mencari tahu seluk beluk organisasi tersebut. Bahkan Phiocus sampai melibatkan dirinya untuk masuk ke dalam organisasi tersebut. Mungkin ayahmu berpesan bahwa kau harus bertemu Phiocus, namun sayang dia juga meninggal."

"..."

Aku kembali terdiam. Kemarin psikopat, sekarang organisasi yang tidak jelas, entah besok apa yang harus aku hadapi. Mungkin alien yang akan menginvasi bumikah?

Aku menghela nafas.

"Kalikur, aku kemarin iseng membuat sepatu roda yang menggunakan mesin yang memungkinkan penggunanya berlari sampai kecepatan 40km/jam. Hati-hati menggunakannya."

"Sial, aku jadi kelinci percobaan ni?"

....................................

Seminggu setelah kejadian itu, aku semakin akrab dengan Z. Kami saling berkomunikasi satu sama lain dan membahas tentang organisasi aneh itu sambil terkadang bercanda. Aku heran, mengapa organisasi itu memakai warna emas sebagai kebanggaannya, namun anehnya, hal itu tak terlihat mencolok, dan tidak pernah ada berita yang memuat, seorang om-om atau tante-tante aneh berpakaian emas terlihat mengitari kota. Yah, aku tak tahu cara kerja mereka, dan sekarang adalah waktunya mencari tahu.

Z berasumsi bahwa emas mungkin merupakan lambang dari kemuliaan bagi para anggotanya. Anggota organisasi itu adalah orang-orang "mulia" sehingga untuk mencari jejaknya saja susah. Apapun itu, saat ini aku mencari refreshing agar tak terlalu gila menangani kasus yang entah bisa disebut kasus ataupun tidak.

.....................................

Ting-Tong

Avena membuka pintu rumahnya. Di depan rumahnya aku dengan wajah yang apa adanya menyambut dengan senyum.

"Likur, tumben kamu kesini, sini-sini masuk, silahkan duduk."

Aku pun masuk "Ya, iseng aja main."

"Beneran? Bentar ya, kebetulan aku lagi buat brownies bareng sama ibu."

"Iya-iya. Jadi laper nih."

"Bisa aja kamu," ucapnya sambil berlalu menuju dalam rumahnya.

Setelah beberapa saat, bronis pun terhidang di depanku. Baunya harum, membangkitkan selera untuk makan.

"Maaf ya kalau tidak enak, sebenarnya aku sendiri yang buat. Ibu hanya memberitahu langkah-langkahnya."

"Ooh. Jadi ingat waktu kamu ngasih aku bekal. Kata-katamu sama. 'maaf ya kalau tidak enak' tapi nyatanya enak" ucapku sambil mengiris brownies.

"Iya, aku kan sedang belajar masak. Jadi maklum kalau ada yang kurang." ucapnya sambil tersenyum.

Aku menicipi bronis tersebut. "Enak kok, kamu memang berbakat. Buat makanan apa aja enak."

"Haha, bisa aja. Kamu kesini mau apa sebenarnya? Jujur?" tanyanya

"Kalo lagi ngga sibuk, temenin aku jalan-jalan ke toko buku."

"Mau beli buku?"

"Ya, kalau ada yang cocok beli."

"Yaudah, kamu tunggu bentar ya, mau ganti baju sama ijin ke ibu dulu." katanya sambil segera kembali ke dalam rumahnya.

...............................

Aku berjalan kaki bersama Vena. Vena sendiri tak merasa keberatan. Jalan kaki kan lebih sehat, begitulah alasan yang tidak bisa dipertangungjawabkan sebenarnya.

Ketika melewati sebuah komplek, tiba-tiba ada kerumunan orang. Naluriku bangkit, segera ku berlari dan membuat Vena kaget karena tiba-tiba berlari.

"Apa-apaan si? tiba-tiba lari tidak bilang-bilang dulu." keluhnya

"Maaf, itu ada kerumunan orang. mencurigakan. jangan-jangan ada sesuatu."

Ketika mendekat aku bertanya kepada salah seorang.

"Pak Demang, meninggal dunia dengan luka tusukan yang mengenai jantungnya."

0 comments:

Post a Comment