Pages

Draft Enigmaze - Chapter 1 (end) - Temung Nyudhing Hurthonyergo


"Profesor, apakah anda dulu lahir di Jogja?" kataku.

"Ya benar"

"Kakaka, kalo begitu misteri ini sudah tak lagi menjadi misteri"

"Maksudmu? kau sudah mengetahui arti pesan ini?"

"Kuncinya sederhana. Orang jawa memiliki sandi yang unik. Sandi yang menukar bait pertama aksara jawa dengan bait yang ketiga, sementara yang kedua menajdi yang keempat. Itulah mengapa DAGANYU slogannya adalah MATAKU."

Z yang melihat Professor FAQ kebingungan mungkin di dalam hatinya meragukan apakah orang ini benar-benar Professor. Dia segera menambahkan ucapanku.

" Ha Na Ca Ra Ka disusun menjadi Pa Dha Ja Ya Nya
Da Ta Sa Wa LA disusun Ma Ga Ba Tha Nga
Jadi Temung Nyudhing Huythonyergo adalah Gedung Kuning Purwokerto"

"Wah, anak muda memang semangat ya. Dulu waktu aku seumuran kalian, pasti juga bisa menebak kode ini."

Aku dan Z hanya tersenyum sinis, tak percaya dengan perkataan beliau.

"Kalo begitu, ayo kita segera menuju ke Gedung Kuning itu, siapa tahu kita menemukan petunjuk tentang kematian ayahmu."

Hatiku berdebar, apakah aku akan berhasil mengungkap kasus 3 bulan yang lalu. Ataukah aku terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan bahwa aku mulai mendekati kebanaran 3 bulan yang lalu.

Dengan mobilnya, Professor segera meningalkan kota Sangilta menuju ke Purwokerto. Gedung Kuning terletak di bagian barat kota tersebut. Tempatnya tak terlalu ramai, cocok sebagai gedung rahasia, pikirku. Gedung Kuning mulai terlihat. 5 menit lagi mobil akan sampai.


:::::::
BOOOOOOMMMM!!!!!!
:::::::

Tak disangka, gedung itu meledak.

Aku sangat terpukul dibuatnya. Harapan mendekati kebenaran kasus 3 bulan yang lalu pupus begitu saja. Hatiku semakin kalut, dan merasa tak berguna. Aku merasa gagal dua kali. Namun, Professor FAQ berusaha untuk menenangkanku.

"Semua ada waktunya, Likur, kita baru memulai, lawan kita bukanlah lawan yang sembarangan. Mereka terorganisir dan bergerak dengan rapi, nyaris tanpa celah, namun suatu saat kita pasti bisa mengikuti gerakan tersebut dan mengungkap semua ini."

"Terimakasih Prof, aku akan berusaha bangkit dari rasa terpuruk ini."

:::::::::::

Seminggu setelah ini, aku masih saja terpikir dengan dua kejadian yang sedikit tak termaafkan. Kaburnya Palupi dan meledaknya Gedung Kuning itu. Namun, dukungan yang diberikan Avena membuatku malu untuk terus menerus bersedih. Aku mulai menjalani hidup dengan normal.

:::::::::::

Ketika aku sedang berjalan-jalan di dekat indomarket, aku tak sengaja menangkap pembicaraan orang yang mengenakan baju warna kuning-keemasan. Dengan lammbang seperti bunga matahari di lengan kanannya.

"Bos kita memang aneh, mengapa kita menunggu hingga kemarin untuk meledakkan Gedung Kuning itu."
"Bukankah Phiocus sudah dieksekusi tiga bulan yang lalu?"

"Dasar bodoh kau. Kita menunggu tiga bulan karena mengambil informasi dan menghapus jejak di gedung itu terlebih dahulu. Banyak peninggalan Phioucus yang membahayakan organisasi kita."

::::::::::::

Aku tak mengikuti mereka lagi. Aku ingat pesan Avena. aku tak boleh gegabah, aku belum tahu siapa yang aku hadapi saat ini. Aku aktifkan jam tangan pemberian Professor FAQ yang memungkinkan untuk saling terhubung dan bisa berkomunikasi asalkan dalam jarak 50km.

"Prof, sepertinya kita harus bertemu."

"Ada apa?"

"Kujelaskan nanti, Kutunggu di rumah kakekku."


Continued Soon...

0 comments:

Post a Comment