Pages

Draft Enigmaze - Chapter 1 (begin) - Hospitalized

Aku masih membayangkan peristiwa saat itu. Disaat rasa sakit yang mendalam karena tak berhasil menangkap pelaku, tiba-tiba aku melihat sesosok bayangan mendekatiku. Pandanganku yang sedikit samar, melihat orang tersebut membawa pisau. Aku langsung terbayang kepada peristiwa saat itu. Apa mereka tak puas sebelum aku mati, mencariku hingga ke rumah sakit yang aku saja belum tahu rumah sakit mana. Namun jika sedikit menebak, ini pasti Black Hospital yang merupakan RSUD di kota Sangilta.

"Sial, aku tak mungkin untuk berlari, aku tak tahu bagaimana cara keluar dari sini,", gumamku dalam hati.
"Jika aku berteriak, walaupun ada yang datang, bisa saja dibunuh oleh psikopat ini, jadi aku mengorbankan nyawa orang lain yang seharusnya tak terlibat. Wahai Yang Maha Kuasa, ampuni dosa-dosaku selama ini."

Orang tersebut samakin mendekat...

....
....
....
....

"Likur, kamu sudah sadar?'

"Sial, kau Z, kukira kaulah psikopat yang tak puas sebelum memastikanku mati."

"Tega sekali kau menyamakanku dengan orang jahat?"

"Bagaimana aku tak mengiramu sebagai pembunuh, pisau di tanganmu itu, untuk apa coba?"

"Ah, iya. Aku sedang mengupas buah apel. tiba-tiba melihat kau mulai sedikit bergerak, dan aku mendekatimu."

...
Aku mulai sedikit tenang. Ternyata lukaku tak separah yang kuduga. Aku sudah bisa unuk duduk. Memakan apel yang tadi diiris oleh Z.

"Bagaimana bisa aku disini? Siapa yang membawaku?"

"Aku pertama kali menemukanmu tergeletak di dekat jalan. Kemudian warga datang. Kau diantar dengan mobil ambulans rumah sakit ini setelah aku menelponnya."

"Terima kasih Z. Berapa lama aku disini?"

"Sudah dua hari kau tak sadarkan diri disini. Oh, ya. Kau mendapatkan ucapan terimakasih oleh Pak Pardi, karena setelah pengungkapan kasus itu, hubungan Pak Pardi dengan tetangganya menjadi baik kembali. Sebelumnya hampir seluruh desa menganggapnya sebagai pelaku dan warga ketakutan bahwa suau hari bisa saja Pak Pardi melampiaskan kepada siapa saja karena dulunya Pak Pardi juga mantan preman pada saat dia muda."

"Oh, begitu. Pantas sepertinya warga menjaga jarak dengan Pak Pardi."
"Z, tahukah kau bahwa Palupi memiliki teman lain. Dia seorang perempuan. Aku menggambar simbol venus saat aku hampir tak sadarkan diri. Siapa tahu aku meninggal dan kau melanjutkan penyelidikanku terhadap kematian ayahku ditambah dengan misteri kematianku."

"Ah, jadi gambar yang tidak jelas itu maksudnya itu? Kau menggambar dengan sangat buruk. Walaupun aku tahu kau tak bisa menggambar, paling tidak gambar kode secara jelas."

"Yah, maaf ya. Aku memang tak bisa menggambar. Ayahku juga begitu, bahkan kakekku pun juga tak bisa menggambar. Hahaha. Bagaimana Nasib Palupi?"

"Setelah polisi melakukan penyidikan, ternyata dia menggunakan dokumen palsu dan di Universitasnya tak ada yang mengenal Palupi."

"Sial, berarti dia memang orang yang berbahaya"

Setelah berbicara panjang lebar. Tiba-tiba terdengar langkah kaki yang terdengar seperti terburu-buru. Aku memasang telinga baik-baik. Suara tersebut berhenti di depan kamarku.
...
...
...

Ternyata, Vena, temanku menjengukku.

*PLAKK

Tamparannya mengenai tepat di pipi kananku yang tak sempat menghindar.

"Bodoh"
"Jangan libatkan dirimu dalam bahaya."
"Bagaimana seandainya Z tak dapat mengejarmu?"

"Maaf. Vena, aku tak bisa diam melihat kejahatan terlintas di depanku. Seperti mengerjakan soal matematika, kita harus tahu caranya, tak bisa langsung menjawabnya begitu saja, walaupun benar. Walau kita tahu siapa pelakunya, semua tiada artinya jika tak menangkapnya."

Kulihat Vena mengusap sedikit air matanya. Kurasa, baru pertama kali aku melihatnya menangis.
Hatiku juga merasa tidak nyaman melihatnya menangis. Apalagi dia menangis karena aku yang ceroboh, tak memikirkan pelaku memiliki teman atau membawa senjata.

Z, hanya bisa diam termenung. Dia tak tahu harus memihak siapa. Apalagi watak asli Z (pendiam) selalu muncul jika ada orang selain aku,

"Aku tak suka melihatmu menangis, seperti bukan dirimu sjaa yang selalu ceria. Vena, tersenyumlah. Aku tak terluka parah kok."

Vena pun tersenyum. Entah terpaksa, ataukah memang dia telah tenang.

Sheilavena Amaryllis - Vena 
Sheilavena Amaryllis - Vena
....
....
....

Hari ini, sekolahku libur. Aku dan Z pun menggunakan waktu ini untuk berdiskusi tentang kemungkinan adanya kelompok yang beranggotakan para psikopat yang kemarin menyerangku. Kami menamainya "X" karena, dalam matematika, sesuatu yang tidak diketahui dilambangkan dengan X.

Ketika sedang berdiskusi di rumah kakekku. Terdengar klakson mobil. Mobil Putih terlihat di depan rumah. Seorang separuh baya dengan kumis dan jenggot yang panjang dan sangat kontras dengan rambutnya mengucap salam. Aku menjawabnya dan mempersilahkan masuk.

"Kalikur, kan? Aku Fajar Aulia Qomar, atau bisa dipanggil Professor Faq. Aku teman dari ayahmu. Aku tak menyangka kau sudah sebesar ini sekarang. Kau mirip juga dengan ayahmu."

Aku gugup mendapati ucapannya yang tiba-tiba menyebut kata 'ayah'. Aku, ingat. Beliau adalah teman ayahku, seorang profesor yang hebat kata ayahku.Beliau lahir di Jogja, namun dibesarkan di Sangilta. Beliau merupakan teman dekat ayahku dan aku sering melihatnya bersama ayahku. Aku sebenarnya heran, bagaimana bisa polisi berhubungan dengan profesor. Namun itulah persahabatan ayahku.

Fajar Aulia Qomar - Prof.FAQFajar Aulia Qomar - Prof.FAQ
...
...
...

"Likur, sebenarnya ada titipan dari ayahmu. Ini adalah sebuah kode yang dia tulis dengan bahasa yang aneh. Dia hanya berpesan "Jika kau ingin memecahkannya, ingatlah tempat pertamamu di dunia"

Aku melihatnya, sebuah tulisan dengan aksara jawa, namun terbaca aneh.

"te mu ng nyu dhi ng hu r tho nye r go"

....

To Be Continued ...

0 comments:

Post a Comment