Pages

Draft Enigmaze - Chapter 0 part 3 - Psy-Goat-Path


Kami pun menyampaikan kesimpulan kepada kepala desa, dan akhirnya kami dipertemukan dengan keempat tersangka tersebut.

"Kasus ini memang menarik, dan entah mengapa jawaban dari kasus ini berbeda dengan apa yang kami simpulkan pada awal mengetahui kasus ini. Semua teka-teki ini telah dipecahkan. Dan misteri ini sudah tak lagi menjadi misteri." ucapku yakin.
"Pak Pardi, jelas andalah yang paling bisa melakukan hal tersebut dengan mudah."

Semua tegang, dan aku langsung melanjutkan pembicaraanku yang belum sampai akarnya.

"Namun, itu hanyalah dugaan sebelum semuanya terkuak."
"Kambing-kambing itu telah menuntun kami untuk menemukan siapa pelaku sebenarnya."
"Dan Pak Pardi pun takkan tega membunuh kambing yang dulu dia anggap sebagai keluarganya sendiri."

"Pertama, Keterangan dari anak-anak adalah benar adanya. Sepatu dari keempat tersangka ini sedikit kotor jika dibandingkan dengan warga lain, karena hutan itu sedikit basah. Kedua, setelah kami meneliti, ternyata pelaku meninggalkan sedikit jejak berupa lambang burung hantu. Yang memang tak begitu tampak diantara darah kambing tersebut.Palupi, bolehkah aku pinjam tasmu?"

"Baik"

Kukeluarkan sebuah pengaris dari tas tersebut.
"Dan lambang itu adalah "OWL RULER". Penggaris yang terbuat dari bahan yang cukup tajam. dengan mengasahnya sedikit, pengaris itu sudah bisa menjadi  pedang."

"Untuk membuktikannya, aku yang kebetulan membawa alat dari ayahku, tabung untuk melakukan reaksi luminol, akan membuktikan bahwa apakah kau bersalah atau tidak, Palupi."
Ku semprotkan tabung tersebut pada penggaris yang terlihat bersih tersebut. Muncul cahaya biru yang mengindikasikan adanya darah yang bereaksi dengan luminol.

Palupi yang merasa terdesak tiba-tiba keluar kabur dari ruangan tersebut. Dia berlari dengan cepatnya. Namun Aku tak tinggal diam. Aku pun turut mengejar Palupi. Palupi melewati hutan dan Aku terus mengejarnya. Semakin lama, Palupi yang mencapai ujung hutan, namun aku tetap mengejarnya. Di dekat jalan besar setelah melewati hutan, Aku berhasil menubruknya. Namun, begitu aku berhasil membekuknya, tusukan pisau tertuju pada punggungku. Aku pun mulai kehilangan kesadaran. Dalam sadar dan tidak, aku mendengar percakapan mereka.

"Bodoh sekali, bagaimana jika aku tak ada disini."
"Maaf boss, aku tak menyangka aku bakal ketahuan oleh cecunguk seperti dia, padahal mukanya terlihat bodoh."
"Sudah, ayo kita pergi sebelum ada orang yang melihat."

Di sisa tenagaku yang terakhir, ku mencoba tuk menengok ke belakang. Dan ternyata, teman dari Palupi tersebut adalah seorang perempuan berambut panjang dengan senyum yang dingin.

............

Itulah yang menyebabkan aku berada disini, di rumah sakit yang serba putih ini.

....
Continued...???

0 comments:

Post a Comment