Kambing yang hilang, lalu kepala kambing pun sudah hilang saat
ditemukan warga. Kasus yang aneh.Begitu pikirku. Ada tiga tersangka.
Bukan, empat. Pak Aji adalah orang pertama yang menuju ke tempat
kejadian setelah diberi tahu oleh anak kecil tersebut. Pak Aji yang
merupakan pemilik kambing bisa saja menjadi pelaku. Namun apa motifnya.
Kakek
Hadi memeliki hubungan yang buruk bisa saja dendam dan melampiaskan
kepada kambing. Pak Pardi juga memiliki motif kepada Pak Aji. Sedangkan
Palupi, seorang mahasiswa, apa yang dilakukannya di hutan itu?
Setelah menanyai mereka berempat aku mendapat keterangan sebagai berikut :
-
Kakek Hadi : Seperti biasa, beliau mengunjungi makam anaknya yang
meninggal setahun lalu. Kakek Hadi mengetahui bahwa penabrak adalah Pak
Aji. Namun Kakek Hadi tak bisa berbuat apa-apa karena percuma melawan
orang kaya.
- Pak Pardi : Beliau mencari kayu bakar untuk
dijual lagi. Beliau berkata bahwa Pak Aji telah merampas hidupnya.
Beliau merasa dibohongi oleh Pak Aji. Pak Aji membeli semua kambing
dengan seperempat harga setelah meyakinkan penduduk bahwa kambing itu
telah terkontaminasi penyakit. Pak Aji kemudian mendapat untung besar
dengan menjualnya lagi. Pak Pardi yang tidak begitu mengerti tentang
penyakit pun percaya saja dengan Pak Aji.
- Palupi : Dia
berkata bahwa ada objek penelitian di hutan untuk tugas kuliahnya.
Jawaban yang sangat singkat. Dan kami juga tak bisa bertanya lebih jauh
lagi karena dia yang paling tidak ada hubungan apapun dengan korban.
-
Pak Aji : Setelah mendengar informasi dari anak kecil, beliau segera
menuju hutan dan mendapati kambingnya telah tewas. Beliau membantah
tuduhan Pak Pardi dan tidak tahu menahu tentang kematian putra dari
Kakek Hadi.
Setelah itu Aku dan Z terus berpikir tentang
siapa dan apa motifnya. Keempat orang tersebut masih memeliki persentase
yang sama sebagai pelaku. Kasus yang tidak biasa ini bahkan tak mampu
membuat polisi datang. Polisi paling-paling menganggap ini sebagai kasus
yang biasa saja dan tidak membutuhkan bantuan polisi,
Aku
dan Z, akhirnya mencoba menuju ke tempat kejadian. Di tempat itu, kami
lihat bahwa ada sesuatu yang menarik. Di sebelah kambing yang sudah tak
bernyawa itu, ada sebuah gambar aneh yang terukir dalam tanah. Kami pun
segera mencari tahu dimana tempat kambing yang sebelumnya ditemukan.
Dugaan kami tidak sepenuhnya salah. Ada gambar aneh, seperti gabar
burung hantu. Aku sedikit bercanda bahwa sang kambinglah yang menulis
pesan kematian ini.
Kami kembali ke tempat kejadian tadi
siang. Kambing itu terlihat tidak mengenakkan. Tanpa kepala. Z melihat
bekas tebasan di leher kambing, dan berpikir bahwa senjata yang
digunakan bukan pisau biasa, dan juga bukan gergaji ataupun
parang/gobed. Sisa tebasannya yang terlihat seperti hanya ditebas sekali
membuat kami berpikir bahwa pelaku menggunakan pedang.
Namun,
kepala desa meyakinkan bahwa tidak ada penduduk yang mempunyai pedang.
Keempat orang tersangka pun digeledah dan memang tak terdapat pedang.
Setelah berpikir, akhirnya Aku mengerti pedang yang digunakan pelaku
untuk melancarkan aksinya. Pelaku adalah orang yang berusaha untuk
membohongi kami. Dan aku yakin bahwa dia adalah seorang psikopat yang
memiliki masa lalu yang buruk dengan kambing.
To Be Continued...
kumpulan kisah sang penulis dan kebodohannya dan ambisinya menulis novel/komik detektif
0 comments:
Post a Comment