Pages

Draft Enigmaze Chapter Negative 1 - Dawn To Detective

Jenjet...

Mataku terbuka, dan mendapati diriku terbaring di suatu tempat yang berbeda dari sebelumnya. Semua serba putih. Terakhir kali ku ingat bahwa aku tertusuk pisau dari belakang oleh seseorang yang aku rasa adalah seorang perempuan dengan parfum berbau bunga mawar. Saat itu aku sedang mengejar pelaku pembunuhan misterius di desa Karambing.

Aku adalah seorang anak polisi yang saat ini hidup bersama kakek di desa Sangilta. Ibuku adalah seorang Dosen yang sekarang tinggal di luar negeri. Saat ini ayahku sudah tiada. 3 bulan yang lalu, aku melihat nama dan foto beliau terpampang jelas di televisi dan koran dengan headline 'Kepala Polisi Sangilta Meninggal". Beliau ditemukan meninggal di sebuah gedung kosong.  Kejadian inilah yang membuatku ingin menjadi detektif karena ingin mengungkap kasus yang membuat ayahku meninggal.

Flash back ke seminggu sebelum aku berada di tempat yang nantinya aku sadari adalah rumah sakit.

Seperti biasa aku terbangun di pagi yang biasa saja. kulihat jam dinding tua di kamar menunjukkan pukul 6 pagi. Pikiran kosong saat bangun tidur membuatku terdiam beberapa saat dan akhirnya berteriak.

"Ha??? Udah jam setengah tujuh, sial, ini hari pertama masuk sekolah pula."

Segera ku beranjak dari tempat tidur dan mandi sekenanya dan tak sempat menyantap sarapan pagi itu. Segera ku berlari menuju sekolah yang berjarak enam ratus meter dari rumah kakekku.Saat tiba di sekolah, aku terkejut melihat banyak bangku kosong di kelasku. Kukira aku salah masuk kelas, namun pandanganku yang terarah pada dinding belakang menjawab semua.

"Sial, jam di kamarku kan memang sudah lama mati. Jebakan psikologis."

Setelah itu akupun dengan tenangnya menuju bangku dan merebahkan tubuh dengan malas.

Selang beberapa saat, bel berdentang masuk. Pak Nurdin segera memasuki kelas dan mengabarkan bahwa kelasku XI IPA 1, kedatangan murid baru. Murid itu bernama Z. Perkenalan berlangsung singkat. Z hanya mengucapkan salam seraya memperkenalkan namanya dan langsung diakhiri dengan 'terima kasih'. Sorot matanya yang aneh membuatku tertarik untukk berteman dengannya. Kurasa Z sebenarnya adalah orang yang baik. Z duduk di sebelahku karena memang hanya itulah tempat duduk yang tersisa.

Hubungan yang awalnya beku, lama kelamaan berujung pada persahabatan yang hangat. Entah sejak kapan akhirnya kami bisa akrab. Z mulai bisa menerimaku sebagai sahabat, bahkan Z ingin membantuku menyelesaikan kasus kematian ayahku suatu hari nanti.

Suatu ketika kami mendapatkan tugas biologi. Tugas inilah yang mengantarkanku berhadapan dengan kasus pertamaku dan juga Z tentunya. Kasus ini tidak lazim sebenarnya. Kasus itu kami namai 'Psikambing'

To Be Continued...

0 comments:

Post a Comment