Jenjet...
Mataku terbuka, dan mendapati diriku
terbaring di suatu tempat yang berbeda dari sebelumnya. Semua serba
putih. Terakhir kali ku ingat bahwa aku tertusuk pisau dari belakang
oleh seseorang yang aku rasa adalah seorang perempuan dengan parfum
berbau bunga mawar. Saat itu aku sedang mengejar pelaku pembunuhan
misterius di desa Karambing.
Aku adalah seorang anak
polisi yang saat ini hidup bersama kakek di desa Sangilta. Ibuku adalah
seorang Dosen yang sekarang tinggal di luar negeri. Saat ini ayahku
sudah tiada. 3 bulan yang lalu, aku melihat nama dan foto beliau
terpampang jelas di televisi dan koran dengan headline 'Kepala Polisi
Sangilta Meninggal". Beliau ditemukan meninggal di sebuah gedung
kosong. Kejadian inilah yang membuatku ingin menjadi detektif karena
ingin mengungkap kasus yang membuat ayahku meninggal.
Flash back ke seminggu sebelum aku berada di tempat yang nantinya aku sadari adalah rumah sakit.
Seperti
biasa aku terbangun di pagi yang biasa saja. kulihat jam dinding tua di
kamar menunjukkan pukul 6 pagi. Pikiran kosong saat bangun tidur
membuatku terdiam beberapa saat dan akhirnya berteriak.
"Ha??? Udah jam setengah tujuh, sial, ini hari pertama masuk sekolah pula."
Segera
ku beranjak dari tempat tidur dan mandi sekenanya dan tak sempat
menyantap sarapan pagi itu. Segera ku berlari menuju sekolah yang
berjarak enam ratus meter dari rumah kakekku.Saat tiba di sekolah, aku
terkejut melihat banyak bangku kosong di kelasku. Kukira aku salah masuk
kelas, namun pandanganku yang terarah pada dinding belakang menjawab
semua.
"Sial, jam di kamarku kan memang sudah lama mati. Jebakan psikologis."
Setelah itu akupun dengan tenangnya menuju bangku dan merebahkan tubuh dengan malas.
Selang
beberapa saat, bel berdentang masuk. Pak Nurdin segera memasuki kelas
dan mengabarkan bahwa kelasku XI IPA 1, kedatangan murid baru. Murid itu
bernama Z. Perkenalan berlangsung singkat. Z hanya mengucapkan salam
seraya memperkenalkan namanya dan langsung diakhiri dengan 'terima
kasih'. Sorot matanya yang aneh membuatku tertarik untukk berteman
dengannya. Kurasa Z sebenarnya adalah orang yang baik. Z duduk di
sebelahku karena memang hanya itulah tempat duduk yang tersisa.
Hubungan
yang awalnya beku, lama kelamaan berujung pada persahabatan yang
hangat. Entah sejak kapan akhirnya kami bisa akrab. Z mulai bisa
menerimaku sebagai sahabat, bahkan Z ingin membantuku menyelesaikan
kasus kematian ayahku suatu hari nanti.
Suatu ketika kami
mendapatkan tugas biologi. Tugas inilah yang mengantarkanku berhadapan
dengan kasus pertamaku dan juga Z tentunya. Kasus ini tidak lazim
sebenarnya. Kasus itu kami namai 'Psikambing'
To Be Continued...
kumpulan kisah sang penulis dan kebodohannya dan ambisinya menulis novel/komik detektif
0 comments:
Post a Comment